Sebuah Ringkasan “Teologi Pembebasan: Kritik Marxisme & Marxisme Kritis”

Judul bukuTeologi Pembebasan: Kritik Marxisme & Marxisme Kritis
PenulisMichael Löwy
PenerbitINSISTPress, Yogyakarta
Tahun TerbitCetakan ke-II, Maret 2013
Diterjemahkan dariMichael Löwy, Marxisme et Thèologie de la Libèration
Penerjemah & PenyuntingRoem Topatimasang
Dimensi bukuviii+155 halaman, 13×19 cm, sampul kertas

Karl maɐ̯ks (logat Jerman), sesuai akta kelahirannya tertulis Carl Heinrich Marx (Karel, Carlos atau Charles dalam logat lain) atau lebih dikenal dengan Karl Marx adalah seorang pemikir berdarah Yahudi-Jerman yang lahir pada 5 Mei 1818 di Trier sebuah wilayah dalam Kerajaan Prusia. Pada usia 17 tahun (1835), Marx masuk Universitas Bonn untuk belajar filsafat dan sastra namun kemudian pindah ke fakultas hukum di Universitas Berlin pada tahun 1836 atas desakan ayahnya dan beberapa alasan lainnya. Ketertarikan dengan filsafat membuatnya mencoba memadukan filsafat dan hukum kemudian membawanya bergabung dengan doktorklub yakni sebuah kelompok pelajar yang membahas gagasan atau pemikiran Hegel. Disana ia bertemu dengan Ludwig Feuerbach dan Bruno Bauer yang mempengaruhi pemikirannya terhadap sosialisme meskipun pada akhirnya ia mengkritik gagasan-gagasan filsafat Bauer (sempat bekerjasama dalam penerbitan filsafat agama karya Hegel pada tahun 1840) dan meninggalkan materialisme Feuerbach.

Pada tahun 1842, Marx menjadi jurnalis pada Rheinische Zeitung di Koln dan mulai menuliskan pandangan awalnya tentang sosialisme sembari mengamati perkembangan ekonomi yang sedang terjadi, sayangnya surat kabar tersebut dicekal pada 1843 setelah mengkritik monarki Rusia. Marx kemudian pindah ke Paris dan menjadi penyunting surat kabar Deutsch-Französische Jahrbücher dan memperkenalkan keyakinannya bahwa proletariat adalah pasukan revolusioner.

Pada tahun 1844, Marx bertemu dengan Friedrich Engels yang kemudian menjadi sahabatnya sepanjang hidup. Engels menunjukkan karyanya The Condition of the Working Class in England in 1844 yang baru diterbitkan. Engels menyatakan kepada Marx bahwa kelas tenaga kerja akan menjadi agen dan instrument dari revolusi. Hal ini yang kemudian membuat keduanya mampu berkolaborasi secara apik salah satunya adalah menghasilkan karya The Holy Family yang mengkritik Bruno Bauer. Pada tahun inilah rintisan gagasan Marx mulai berdiri seiring dengan semakin intensifnya kajian yang dilakukannnya terhadap ekonomi politik, perkembangan sosialis dan sejarah Prancis.

 Pada tahun 1844 ini pula Marx menulis Economic and Philosophic Manuscripts of 1844 yang dipengaruhi oleh gagasan Ludwig Feurbach yang akhirnya dia kritik melalui Tesis on Feurbach. Marx berargumen bahwa dunia berubah hanya dengan praktik dan kegiatan material (fisik dan actual) bukan hanya dalam gagasan sebagaimana selama ini dilakukan oleh para filsup materialis.

Bersama Engels, Marx berhasil membangun dasar-dasar filsafat materialisme sejarahnya atau Materialisme Dialektika Historis yang secara tegas ingin membedakan diri dari kalangan sosialis utopis. Marx menganggap bahwa setiap orang akan bertindak sesuai dengan kepentingan ekonominya oleh karena itu kelas tenaga kerja adalah penggerak revolusi yang berbeda kepentingan dengan pemilik modal. Untuk menjelaskan hal tersebut, ia kemudian menuliskan buku barunya berjudul The German Ideology (1846) lalu kemudian Manifesto of the Communist Party (terbit tahun 1848)yang melahirkan partai komunis setelah sebelumnya merupakan perhimpunan rahasia dengan tujuan utamanya adalah menggulingkan masyarakat kapitalis dan menggantinya dengan sosialisme.

Pada pertengahan tahun 1848 ia menerbitkan surat kabar harian Neue Rheinische Zeitung yang ia biayai melalui sisa warisan ayahnya, namun akhirnya juga dicekal oleh para politikus kontra-revolusi setelah hampir 1 tahun beroperasi (hingga Mei 1849). Hal itu juga membuat Marx harus hengkang dari Jerman menuju Paris namun ditolak sehingga akhirnya mengungsi di London sejak Juni 1849 kemudian bekerja sebagai koresponden Eropa pada New-York Daily Tribune hingga tahun 1861. Pada periode 1849-1861 inilah Marx (tentu saja bersama Engels) dinilai mencapai kedewasaan pemikirannya yang berbeda dengan idealisme Hegelian sebagaimana masa mudanya dengan kontribusi hampir 500 artikel.

Pada tahun 1859, Marx menerbitkan a Contribution to the critique of political economy sebagai karya kajian ekonomi yang mendalam. Karya tersebut kemudian menjadi landasan awal lahirnya Das capital yang merupakan karya monumental Marx yang terdiri 3 volume. Volume pertama diterbitkan pada 1867 sedangkan 2 volume lainnya diterbitkan 1893 dan 1894 setelah Marx meninggal dunia pada tahun 1883 (64 tahun).

Demikianlah sekelumit perkenalan kita dengan salah seorang yang paling banyak dihujat di muka bumi ini (terutama banyak dari masyarakat beragama), hanya karena dia menemukan apa yang kita kenal sebagai komunisme.

Buku yang sedang kita ringkas ini adalah risalah atau kumpulan materi perkuliahan yang disampaikan Michael Löwy pada IIRF, Paris, pada tahun 1985-1987. Pada tahun 1988 mulai disunting dan digabungkan oleh Pierre Rousset, Redaktur Cahiers d’ Etude et de Recherche, yang juga menulis pengantar pada buku ini. Buku yang terdiri dari 8 bagian termasuk kesimpulan ini secara singkat dan padat memaparkan fenomena sosial yakni hubungan antara agama dan Marxisme yang terjadi di Amerika Latin, apa yang kemudian dikenal sebagai Teologi  Pembebasan. Terakhir, terdapat sebuah lampiran berupa terjemahan langsung atas esai Frei Betto (1986) berjudul Cristianismo e Marxismo.

Ringkasan atau review atas buku ini ditulis dengan memperhatikan beberapa hal:

  1. Ringkasan ini memuat profil singkat beberapa tokoh sentral seperti Karl Marx, Gustavo Gutiérrez dan Frei Betto sebagai tokoh revolusioner dan teolog pembebasan serta Michael Löwy sebagai penulis. 
  2. Buku ini terdiri dari sub-sub bagian pada masing-masing bagian pembahasan. Pada Ringkasan ini tidak disusun berdasarkan hal tersebut karena untuk keringkasan tulisan. Akan tetapi tetap dibuat runut dan memperhatikan poin-poin penting pada setiap sub bagian.
  3. Dalam Ringkasan ini ditambahkan penjelasan dari referensi lain untuk menambah pengayaan pembahasan.
  4. Pada bagian contoh kasus mengenai peranan teologi pembebasan pada gerakan revolusioner di Amerika Latin hanya mengambil 1 contoh yakni peranan Gereja Brasilia, hal ini dikarenakan: pertama, gereja Brasilia adalah gereja Katolik terbesar di dunia. Kedua, gereja Brasilia mewakili pandangan umumnya gereja yang berubah dari sebelumnya konservatif dan penentang keras komunisme. Ketiga, gereja Brasilia merupakan rumah dimana gagasan-gagasan kaum kiri muncul pertama kalinya dan satu-satunya tempat dimana teologi pembebasan memiliki pengaruh yang sedemikian luas. Keempat, gerakan revolusioner di benua Amerika Latin terjadi dalam rentang waktu yang bersamaan sehingga gambaran lapangannya hampir serupa (dengan tidak bermaksud mengesampingkan lokalitas gerakan, model perjuangan dan tantangan yang dihadapi). Pada bagian 4-6 buku ini dipaparkan 3 contoh kenyataan sejarah terkait gerakan revolusioner dan hubungannya dengan kekristenan yakni peranan Gereja Brasilia, kemenangan Sandinismo di Nikaragua dan konsolidasi Front Pembebasan Nasional Farabundo Marti (Frente Farabundo Marti de Libercion Nasional, FMLN) di el-Salvador.
  5. Bagian kesimpulan dari buku ini disajikan sesuai bentuk aslinya agar kesinambungan pemikiran penulisnya tetap terrefleksi dengan baik.
  6. Disajikan pula esai karya Frei Betto sebagaimana adanya yang juga merupakan lampiran dalam buku yang kita Ringkas.
  7. Bagian akhir Ringkasan ini akan memuat pengembangan wacana terkait relevansi teologi pembebasan di Indonesia.

Marxisme & Agama: Candu Rakyat?

Bagian ini memaparkan pandangan beberapa tokoh sentral dalam Marxisme seperti Marx (pra Marx dan pasca 1846), Engels, Kautsky, Lenin, Luxemburg, Gramsci, Bloch dan Goldmann. Sebagai seorang filsup (atau lebih sering dikenal sebagai seorang sosiolog) tentu Marx juga bersinggungan dengan seluruh bidang yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat salah satunya adalah hubungan antara kalangan agamawan dan kalangan kapitalis.

Telah lazim di kalangan masyarakat bahwa salah satu inti sari dari konsepsi Marxis (sebuah pelekatan abjektif oleh kalangan yang mengikuti gagasan Marx) adalah menganggap agama sebagai candu rakyat. Oleh karena itulah, bagi kalangan tersebut, Marxis bukan hanya harus ditolak tapi juga harus dibasmi.

Penyataan bahwa agama adalah candu rakyat bukanlah pernyataan khas Marxis. Ungkapan yang sama kita temukan (dengan berbagai konteks) dalam tulisan-tulisan Kant, Herder, Feuerbach, Bauer dan juga Heinrich Heine. Menurut Löwy, jika dibaca secara lebih bersungguh-sungguh keseluruhan kalimat dalam ungkapan tersebut maka terlihat gambaran ganda dari agama itu sendiri.

“kenestapaan keagamaan, pada saat yang sama merupakan ungkapan kesengsaraan nyata dan sekaligus protes melawan penderitaan nyata tersebut. Agama adalah keluh kesahnya makhluk yang tertindas, jantungnya dunia yang tidak punya hati, karena itu ia merupakan roh dari suatu keadaan yang tak memiliki roh sama sekali. Ia adalah candu rakyat.”

Menurut Löwy, pandangan Marx ketika mengunggkapkan pernyataan tersebut sebenarnya lebih mengarah ke aliran kiri neo-Hegelian yang melihat agama sebagai alienasi hakikat manusia dan tidak seperti aliran filsafat pencerahan abad XVIII yang secara sederhana menganggap agama sebagai suatu persekongkolan para pendeta saja. Dengan demikian penyataan tersebut sebuah analisis pra Marxis namun bersifat dialektis karena memaparkan gambaran ganda gejala keagamaan yang saling bertentangan.

Kajian Marx tentang agama baru lebih mendalam dan tajam seiring dengan kenyataan bahwa agama adalah bagian dari hubungan-hubungan sosial dan sejarah, terutama dikemukannya dalam the German Ideology (1846). Kajian ini menyertakan suatu analisis tentang agama sebagai salah satu dari berbagai bentuk ideologi (produk kerohanian suatu masyarakat, hasil dari gagasan-gagasan, perlambang-perlambangan dan alam kesadaran) yang semuanya jelas dibentuk oleh produksi material dan berkaitan erat dengan hubungan-hubungan sosial yang ada dalam masyarakat.

Ketimbang Marx, Engels menampakkan minat yang lebih besar terhadap gejala keagamaan dan perannya dalam sejarah. Engels sebagai kolaborator Marx, memberikan kontribusi utama dalam kajian Marxis yakni terkait dengan hubungan antara simbol-simbol keagamaan dan perjuangan kelas. Agama (dalam konteks lingkungan saat itu adalah Kristen) merupakan suatu bentuk kebudayaan yang mengalami perubahan-perubahan (transformasi) dalam berbagai periode sejarah yang berbeda.

Pada mulanya, agama ada untuk para budak belian, kemudian menjadi ideologi Negara Kekaisaran Romawi lalu masuk ke dalam masyarakat feodal dan terakhir terserap ke dalam masyarakat borjuis. Pada posisi ini, agama hanya dinilai sebagai komponen sejarah yang mempunyai ruang kontradiksinya sendiri. Hal ini akan tampak ketika muncul pertentangan kelas atau konflik sosial. Pada satu sisi, kalangan borjuis dapat saja menjadikan agama (gereja) sebagai alat keabsahan dominasi. Sedangkan disisi lain, agama juga dapat hadir sebagai simbol perlawanan yang kritis dari rakyat jelata.

Pada sisi kedua inilah (agama sebagai simbol perlawanan) sebagian besar kajian-kajian Engels terpusat yang dikenal kemudian sebagai Kristen Primitif yakni agama kaum jelata dan papa, orang-orang buangan, yang dikutuk oleh penguasa dan yang teraniaya. Kristen awal memang berasal dari lapisan masyarakat paling bawah (budak belian, orang kebanyakan yang dirampas hak-haknya dan petani kecil yang bangkrut oleh hutang).

Engels menggambarkan adanya beberapa kesejajaran antara agama dan sosialisme modern dengan asumsi yang pertama, keduanya (agama dan sosialisme modern) merupakan gerakan massa. Kedua, agama dan sosialisme merupakan gerakan orang-orang yang tertindas. Dan ketiga, keduanya meramalkan adanya pembebasan dari perbudakan dan penderitaan yang segera akan tiba.

Perbedaan hakiki antara kedua gerakan itu, menurut Engels adalah bahwa pembebasan melalui agama (Kristen awal) berorientasi kehidupan dunia-sana (akhirat) sedangkan sosialisme menempatkan dunia-sini sebagai orientasi pembebasannya. Engels mengakui potensi protes dari agama dan membuka jalan ke arah suatu pendekatan baru dalam hubungannya antara agama dan masyarakat.

Menurut Löwy, banyak kajian Marxis abad XX tentang agama malah membatasi diri mereka sendiri dari mengembangkan gagasan-gagasan Marx dan Engels termasuk terkait penerapannya. Demikian misalnya pada kajian sejarah oleh Karl Kautsky yang mengecilkan peran agama terkait gerakan perlawanan. Kautsky menilai bahwa hal tersebut hanya sekedar kulit ari yang menyembunyikan muatan sosial mereka sesungguhnya. Hal demikian selajur dengan kenyataan bahwa Kautsky (dan kalangan Marxis umumnya) adalah atheis yang menolak ide metafisika sebagaimana yang dianut oleh kaum beragama.

Contoh selanjutnya adalah Lenin yang menyebut agama sebagai kabut mistik sehingga tidak terlalu memperhitungkan peranannya namun juga tidak menekankan atheisme sebagai bagian dari program Partai Komunis, yang terpenting baginya adalah persatuan dalam perjuangan revolusioner. Pada pandangan ini dapat kita lihat bahwa kalangan masyarakat beragama dapat dijadikan sekutu tetapi bukan sekutu sesungguhnya, karena iman dan hubungan mereka dengan lembaga gereja.

Cara terbaik untuk bersekutu dengan mereka adalah cukup terbatas pada wilayah praktis saja, jangan sampai ketingkat teori dimana pertentangan (antara iman gereja dan paham materialisme) memang bersifat menyeluruh. Pandangan ini dikenal sebagai pandangan ortodoks kuno Marxis-Leninisme.

Rosa Luxemburg juga mengiyakan pendapat tersebut dan mengembangkannya pada suatu pendekatan yang berbeda dan lebih luwes. Baginya, kaum sosialis modern lebih percaya pada asas-asas asli gereja daripada lembaga kependetaan konservatif yang ada saat ini. Oleh karena itu kaum sosialis yang berjuang untuk menegakkan keadilan, kemerdekaan dan persaudaraan maka para agamawan tentu seharusnya menyambut baik gerakan kaum sosialis. Namun tampaknya pandangan seperti itu tidak mendapat tempat di kalangan Marxis umumnya.

Selanjutnya menurut Löwy, Diantara para pemimpin dan pemikir gerakan komunis, Gramsci mungkin satu-satunya yang memperlihatkan minat terbesar dalam soal-soal agama. Dia jugalah satu-satunya yang mencoba memahami peran terkini dari gereja katolik dan bobot budaya keagamaan di kalangan rakyat jelata. Kecamannya yang sangat tajam dan bernada ironis terhadap bentuk-bentuk konservatif agama tidak menghalanginya untuk melihat adanya utopia dari ajaran keagamaan.

“Agama adalah utopia paling raksasa, metafisika terbesar yang pernah dikenal oleh sejarah, karena agama adalah upaya terbesar yang pernah ada yang merukunkan pertentangan-pertentangan nyata dan sejarah kehidupan dalam bentuk mitologi. …Karena demikianlah ia (manusia) diciptakan oleh Tuhan sebagai anak, karena itu merupakan saudara bagi orang lain, sama dan sederajat dengan orang lain dan merdeka diantara dan sebagai orang lain. Tetapi agama jugalah yang menegaskan bahwa semua itu tidak wujud di dunia ini tetapi di dunia yang lain (utopia). Oleh karena itu, ajaran persamaan, persaudaraan dan kebebasan itu telah meragi (membusuk) diantara umat manusia. …Demikianlah yang terjadi dalam setiap peristiwa mengkhalayak yang radikal dan menggemparkan, dalam satu atau lain cara, dalam bentuk-bentuk tertentu dan ideology-ideologi yang khas maka kebutuhan akan ajaran tersebut (agama) selalu muncul kembali.”

Dalam sebuah catatan dari Sotto la Mole tahun 1916, Gramsci membahas problem aliansi antara kaum Katolik dan Sosialis. “beberapa orang katolik ingin menunjukkan manfaat dari aliansi politik atau paling tidak pendekatan simpatik antara kekuatan-kekuatan Katolik dan proletariat. Hal itu disatu sisi adalah blunder besar dan disisi lain merupakan tujuan-tujuan yang takkan mungkin teralisir.”

Gramsci menjelaskan panjang lebar dalam catatan-catatannya mengenai sejarah Azione Cattolica, mengenai kaum Jesuit dan mengenai kaum modernis. Pendirian Azione Cattolica menurutnya menjadi daya tarik khusus bagi setiap orang. Upaya-upaya untuk menghubungkan pengalaman keagamaan dan militansi sekuler dengan gerakan-gerakan yang telah ada sebelumnya tampak tidak menghasilkan apa-apa dan tidak memiliki justifikasi historis apapun. Namun keberadaan Azione Cattolica ini menjadi tanda bagi awal dimulainya sebuah epos baru dalam sejarah Katolik Italia yaitu gereja menanggalkan sebuah konsepsi dunia yang bersifat totalitarian dan menciptakan partainya sendiri.

Ernst Bloch adalah penulis Marxis pertama yang secara radikal merubah kerangka kerja teoritisnya tanpa menghapuskan pandangan Marxis dan revolusionernya. Menurutnya, dalam berbagai bentuk perlawanan dan protesnya, agama adalah salah satu dari banyak bentuk penting kesadaran utopia, salah satu bentuk ungkapan yang amat kaya tentang asa pengharapan.

Bloch mengenal adanya watak ganda gejala keagamaan, yang pertama adalah unsur-unsurnya yang menindas dan yang kedua adalah potensinya untuk memberontak. Atas dasar itulah, Bloch memimpikan suatu persekutuan murni antara ajaran Kristen dan revolusi.

Tokoh terakhir yang dibahas pada bagian pertama buku ini adalah Lucien Goldmann. Dalam bukunya the Hidden God (1955), dia mengembangkan suatu analisis sosiologi yang tajam dan berdaya cipta mengenai ajaran pembaru para penganut Jansenis (termasuk teaternya Racine dan filsafatnya Pascal) sebagai suatu pandangan dunia yang tragis, mengungkapkan keadaan aneh dari suatu lapisan sosial (bangsawan berjubah) di Prancis abad XVII.

Bagian yang paling asli dan mengejutkan dari karyanya adalah usaha untuk membandingkan antara iman agama dan kepercayaan Marxis, bahwa keduanya memiliki persamaan menolak tegas individualisme murni (yang rasional maupun yang empiris),dan keduanya percaya pada nilai-nilai trans-individual yakni Tuhan dalam ajaran agama dan masyarakat manusia dalam sosialisme.

Sebagai seorang sosialis humanis, Goldmann berpendapat bahwa Marxisme sedang dalam krisis parah (sekitar tahun 1950-1960an) dan harus mengubah dirinya secara radikal jika ingin bertahan. Menurutnya, pemikiran Marx dan Engels tentang peran perlawanan (subversive) agama adalah sesuatu di masa silam yang tidak lagi bermakna apa pun dalam perjalanan sejarah perjuangan kelas zaman modern kini.

Baginya persamaan iman agama dan kepercayaan Marxis mengisyaratkan kemungkinan perpaduan dalam gerakan perlawanan. Ramalan ini kurang lebih telah terbukti selama seabad terakhir diantaranya gerakan sosialis Kristen tahun 1930an, gerakan para pendeta kaum buruh tahun 1940-an ataupun gerakan sayap kiri dari Serikat Buruh Kristen Prancis (Confederation Francaise des Travailleurs Chrétiens) pada tahun 1950an.

Popularitas Goldmann sendiri tidak begitu bersinar dikalangan sosialis (apalagi sosialis radikal) karena pemikirannya tersebut. Meskipun Jean Piaget dan Alasdair Maclntyre menyebutnya sebagai Marxis terbaik dan paling cerdas.

Teologi Pembebasan

Pada bagian kedua buku ini, kita disuguhkan dengan penjelasan singkat mengenai apa itu teologi pembebasan itu. Suatu teologi yang bukan hanya menimbulkan perhatian besar di Vatikan namun juga di Pentagon serta militer di seluruh Amerika Latin.

Teologi pembebasan sebagai tantangan praktis melawan kekuasaan dapat dilihat dalam 2 sudut pandang yakni sebagai suatu gerakan dan sebagai suatu doktrin. Sebagai suatu gerakan, teologi pembebasan adalah pengungkapan atau pengabsahan suatu gerakan sosial (praksis) yang amat luas yang muncul pada awal 1960an. Tanpa praktik gerakan sosial tersebut kita tidak dapat memahami gejala social dan sejarah penting yang membangkitkan revolusi di Amerika Tengah atau kemunculan gerakan-gerakan buruh baru di Brasilia.

Gerakan-gerakan tersebut melibatkan sektor-sektor penting dari gereja, gerakan kepemudaan, keterlibatan pastoral yang merakyat dan kelompok-kelompok basis masyarakat gereja. Keterlibatan sektor-sektor itulah yang mungkin ditentang keras oleh Vatikan dan Konferensi para Uskup se-Amerika Latin. Mereka semua menghimpun diri menentang seba-sebab penghisapan atas dasar nalar moral dan kerohanian yang diilhami oleh budaya keagamaan mereka, iman Kristen dan tradisi Katolik, inilah faktor utama yang menggerakan semangat tersebut.

Sebagai suatu doktrin, Teologi Pembebasan adalah sebuah refleksi teoritis atas iman yang ditujukan untuk menjawab tantangan zaman dengan segala permasalahan sosialnya terutama masalah kemiskinan (kesenjangan ekonomi dan sosial).

Sedikitnya ada 8 point penting yang dapat dikemukakan sebagai doktrin teologi pembebasan (dalam iman Kristen baik Katolik maupun Protestan):

  1. Gugatan moral dan sosial yang sangat keras terhadap ketergantungan pada kapitalisme sebagai suatu sistem yang tidak adil dan tidak beradab, sebagai suatu bentuk dosa struktural.
  2. Penggunaan alat analisis Marxisme dalam rangka memahami sebab musabab kemiskinan, pertentangan-pertentangan dalam tubuh kapitalisme dan bentuk-bentuk perjuangan kelas.
  3. Pilihan khusus bagi kaum miskin dan kesetiakawanan terhadap perjuangan mereka menuntut kebebasan.
  4. Pengembangan basis kelompok-kelompok masyarakat Kristen di kalangan orang miskin sebagai bentuk baru gereja. Dan sebagai suatu alternatif terhadap cara hidup individualis yang dipaksakan oleh sistem kapitalis.
  5. Suatu pembacaan baru pada al-Kitab yang memberikan perhatian penting pada bagian kitab Keluaran (sebagai paradigma perjuangan pembebasan rakyat yang diperbudak).
  6. Perlawanan menentang pemberhalaan sebagai musuh utama agama yakni menentang berhala-berhala baru yang disembah oleh Fir’aun-Fir’aun baru, kaisar-kaisar baru dan Herodes-Herodes baru berupa uang, kekayaan, kekuasaan, keamanan nasional, Negara, militer dan “peradaban Kristen Barat”.
  7. Sejarah pembebasan manusia adalah antisipasi akhir dari penyelamatan Kristus, Kerajaan Tuhan.
  8. Kecaman terhadap teologi tradisional yang bermuka ganda sebagai hasil dari filsafat Yunani Platonis, bukan dari tradisi murni Injil (sejarah kemanusiaan dan ketuhanan memang berbeda tapi tidak dapat dipisahkan satu sama lain).

Dengan kecenderungan menguatnya teologi pembebasan, Vatikan mengambil sikap lebih moderat dengan menolak tekanan dari Konferensi Keuskupan di Brasilia. Akibatnya gereja Amerika Latin muncul sebagai satu kesatuan yang heterogen yang tidak hanya berbeda namun juga saling bertentangan.

Dari perbedaan tersebut paling tidak ada 4 kecenderungan utama dalam tubuh gereja-gereja Amerika Latin, yaitu:

  1. Kelompok kecil kaum fundamentalis yang mempertahankan pemikiran-pemikiran ultrareaksioner.
  2. Kelompok konservatif dan tradisionalis yang paling berkuasa, sangat memusuhi teologi pembebasan dan secara organic punya hubungan erat dengan kelas penguasa (termasuk Roma).
  3. Kelompok modernis dan pembaharu yang bersedia mempertahankan hak-hak asasi manusia dan mendukung tuntutan-tuntutan sosial tertentu dari rakyat miskin.
  4. Kelompok kecil tapi sangat berpengaruh dari kaum radikal yang bersimpati pada teologi pembebasan dan mampu melakukan aksi kesetiakawanan dengan gerakan-gerakan rakyat, kaum buruh dan para petani.

Dengan demikian hal tersebut diatas mengisyaratkan bahwa ada mereka yang bergerak dari bawah (gerakan kerakyatan sosial Kristen) melawan mereka “yang diatas” (penolak gerakan).

Asal Muasal & Perkembangan Teologi Pembebasan

Bagian ketiga ini memaparkan asal muasal dan perkembangan teologi pembebasan. Ada beberapa usaha analisis untuk menjelaskan asal muasal teologi pembebasan. Diantaranya adalah analisis Thomas C. Bruneau, seorang pakar Gereja Brasilia. Menurutnya, gereja di Amerika Latin mulai melakukan pembaharuan karena ingin mempertahankan pengaruh mereka.

Dihadapkan pada kemunculan Kristen Protestan dan berbagai alirannya serta adanya gerakan politik sayap kiri, juga kemunduran usaha menggalang romo-romo baru serta krisis keuangan, lapisan elite gereja lantas menganggap wajar bahwa mereka harus segera menemukan suatu cara baru dan segera bergeser ke lapisan masyarakat kelas bawah.

“gereja adalah suatu lembaga yang berubah tidak seluruhnya atas dasar alasan-alasan oportunistik kecuali demi mempertahankan pengaruh mereka, dalam hal ini mereka sendiri mengartikannya dengan cara mengubah pandangan-pandangan normatif mereka.”

Menurut Löwy, analisis ini bukan saja tidak bebas nilai namun juga tidak memadai sama sekali. Karena, pada satu sisi, analisis ini masih menyisakan suatu perdebatan yang berputar-putar. Gereja berubah karena ingin mempertahankan atau memperluas pengaruh mereka, tetapi pengaruh itu pada gilirannya sudah dirumuskan terlebih dahulu dengan pandangan-pandangan normatif baru (yang memihak pada kelas-kelas yang dikuasai).

Pertanyaannya adalah dimana pandangan-pandangan yang berubah itu bermula? Mengapa gereja tidak kuat lagi mempertahankan pengaruh mereka dengan cara-cara tradisional (melalui hubugan-hubungan erat mereka dengan kekuasaan elite sosial dan politik)?

Penjelasan lain yang cukup berguna, meskipun menurut Löwy masih tetap terlalu sepihak adalah yang pernah diajukan oleh beberapa orang pakar sosiologi yang punya hubungan erat dengan golongan Kristen kiri di Amerika Latin. Diantaranya menurut Luis Alberto Gomez de Souza bahwa gereja berubah karena rakyatnya sendiri memang telah “mengambil alih” lembaga tersebut, mengubahnya dan menjadikannya berpihak pada kepentingan-kepentingan mereka. Analisis ini hanya menyentuh salah satu aspek saja dan memunculkan pertanyaan, mengapa pada saat itu rakyat kelas bawah mampu mengubah gereja untuk memihak pada mereka?

Menurut Löwy, pendekatan yang lebih efektif untuk memahami kemunculan gerakan sosial Kristen Pembebasan dan ungkapan teologisnya di Amerika Latin adalah yang dimulai dari perpaduan analisis perubahan-perubahan yang terjadi di internal dan eksternal gereja menjelang tahun 1950an.

Secara internal ada beberapa hal yang mempengaruhi perubahan gereja Katolik secara keseluruhan yakni: perkembangan aliran-aliran teologis baru sejak perang dunia II terutama di Jerman (Bultmann, Moltmann, Metz, Rahner) dan Prancis (Calvez, Congar, Lubac, Chénu, Duquoc), perkembangan bentuk-bentuk ajaran sosial Kristen seperti keberadaan para romo kaum buruh ataupun para romo ekonom humanis serta tumbuh kembangnya sikap lebih terbuka untuk mengkaji filsafat dan ilmu-ilmu sosial modern.

Pada saat yang sama sedang berlangsung (sebagai faktor eksternal) perubahan sosial dan politik di Amerika Latin, yakni: pertama, sejak tahun 1950an, industrialisasi di seluruh Amerika Latin dibawah arahan modal multinasional ternyata telah “membangun keterbelakangan” yang hanya semakin memperbesar ketergantungan, memperdalam pertentangan-pertentangan sosial, mendorong laju urbanisasi, memacu pertumbuhan kota-kota besar, menciptakan suatu pemusatan kelas pekerja baru dan yang paling penting membengkakkan jumlah kaum terlunta-lunta (pau pertariat) di daerah perkotaan.

Kedua, meletusnya revolusi Kuba tahun 1959, sebagai suatu babak sejarah baru di Amerika Latin yang ditandai oleh semakin meningkatnya perjuangan sosial, munculnya gerakan-gerakan gerilya, pergantian pemerintah melalui kudeta militer, dan krisis keabsahan sistem politik.

Perpaduan dari perubahan-perubahan internal dan eksternal itulah yang menciptakan keadaan yang memungkinkan munculnya Church for the poor (gereja orang miskin) yang baru, yang asal muasalnya memang sudah ada sebelum Konsili Vatikan II. Secara simbolis, orang dapat mengatakan bahwa aliran Kristen radikal lahir pada Januari 1959 ketika Fidel Castro, Che Guevara dan para kameradnya berbaris memasuki gerbang kota Havana dan saat bersamaan, di Roma, Paus Johannes XXIII mengumumkan seruan pertamanya untuk menyelenggarakan Konsili.

Gerakan sosial baru ini muncul pertama kali di kalangan kelompok-kelompok yang berada pada lintas silang dari 2 perubahan diatas, yakni di kalangan para petugas awam gereja (dan beberapa anggota lembaga kepastoran) yang aktif di kalangan mahasiswa muda, kelompok kerukunan tetangga, serikat-serikat butuh perkotaan maupun pedesaan serta kelompok-kelompok masyarakat basis.

Dengan kata lain, proses radikalisasi budaya Katolik Amerika Latin tidak dimulai dari atas lapisan tertinggi hierarki gereja seperti analisis kaum fungsionalis. Juga tidak dimulai dari bawah sebagaimana dikemukakan oleh beberapa analis kerakyatan. Tetapi gerakan tersebut lahir dari bagian tengah kelas yang bersentuhan langsung pada kedua sisi (dari pinggir ke tengah).

Kalangan pinggiran gereja diantaranya adalah para imam dan pengkhotbah biasa, para pakar awam, para romo asing (romo dari luar Amerika Latin) dan para penganut ordo-ordo keagamaan. Sedangkan dari bawah ke tengah diantaranya adalah kelompok-kelompok masyarakat basis, federasi Petani Kristen, gerakan penuntut pembagian tanah, gerakan pendidikan masyarakat, pemuda buruh Katolik dan Pemuda Perguruan Tinggi Katolik. Inilah yang membuat gerakan ini sangat mudah berbaur dengan aliran sosial, politik dan budaya yang ada di sekitarnya.

Kelompok orang awam lainnya yang juga memainkan peran kunci dalam pembentukan dasar-dasar Kristen Pembebasan adalah kelompok para pakar yang bekerja membantu para uskup dan konferensi-konferensi keuskupan, yang mempersiapkan makalah-makalah dan usulan-usulan rencana kepastoran dan sering kali juga mempersiapkan pernyataan-pernyataan umum lembaga keuskupan.

Kelompok pakar ini merupakan kaum cendikia lintas bidang seperti ekonomi, sosiologi, perencanaan kota, teologi dan pengacara yang pengaruhnya sangat menentukan dalam perumusan banyak risalah penting keuskupan Brasilia, dalam persiapan Konferensi Medellin (1968) dan dalam proses kelahiran teologi pembebasan pada awal 1970an.

Faktor penting lainnya adalah tingkat pendidikan tinggi yang diperoleh para romo ordo/mazhab, pengenalan mereka yang baik pada pemikiran dan ilmu-ilmu sosial modern, kontak langsung mereka dengan pemikiran teologi mutakhir seperti yang berkembang di Louvain, Paris dan Jerman. Beberapa mazhab tertentu, seperti Jesuit dan Dominikan, benar-benar merupakan suatu jaringan kerja para “intelektual organik” dalam tubuh gereja, yang terlibat dalam dialog dan pertukaran informasi yang intens dengan kalangan masyarakat akademis dan kaum cendikiawan Marxis.

Kelompok terakhir yang tidak kalah penting adalah para petugas gereja dan romo-romo asing terutama yang berasal dari Spanyol, Prancis dan Amerika Utara. Banyak petugas misi dari Prancis yang datang ke Amerika Latin adalah mereka yang berpengalaman atau sebelumnya memperoleh pengetahuan langsung dari para room masyarakat buruh. Sementara itu, para romo dari Spanyol ternyata cukup banyak yang berasal dari Basque, suatu daerah dimana gerejanya memiliki bentang sejarah sebagai penentang pemerintah. Selain karena minat terhadap masalah kemiskinan, faktor perbedaan kondisi negara asal dan Amerika Latin yang mereka saksikan miskin akhirnya menggerakkan mereka secara moral untuk turut serta dalam gerakan pembebasan.

Terbunuhnya romo Camilo Torres yang mengorganisir suatu gerakan rakyat militant dan bergabung dengan Tentara Pembebasan Nasional (ELN, tentara gerilyawan Castrois) pada tahun 1966 di Kolombia, menyisakan dampak emosional maupun politik yang sangat mendalam bagi orang-orang Kristen Amerika Latin dan mengilhami munculnya berbagai gerakan rakyat sebagai warisan sang martir.

Hal tersebut juga memicu terbentuknya organisasi-organisasi yang menghimpun para romo, diantaranya adalah Sacredotes para el Tercer Mundo (organisasi romo-romo untuk Dunia Ketiga) di Argentina tahun 1966, Organisasi Nasional untuk Integrasi Sosial di Peru tahun 1968 dan Golconda di Kolombia tahun 1968. Pada organisasi-organisasi tersebutlah mereka mulai menafsirkan ulang injil sesuai dengan praktik-praktik kehidupan nyata mereka dan menemukan bahwa Marxisme merupakan kunci untuk memahami kenyataan yang mereka hadapi dan sebagai panduan bagi aksi-aksi pembebasan mereka.

Baca Juga:  Atas Nama Kecewa Kami Tujukan Kepada DPR

Karena ketergantungan ekonomi yang parah dan kemiskinan rakyatnya kemudian dipadukan dengan dampak kemenangan Revolusi Kuba, telah menjadi sumber arus gelombang perjuangan sosial dan revolusioner di seluruh benua yang tak pernah ahbis-habisnya sejak tahun 1960an sampai saat ini. Di tengah keadaan semacam itulah, gereja seringkali harus memutuskan untuk bergandengan tangan dengan rakyat miskin dan membantu perjuangan mereka menuju pembebasan.

Konsili Vatikan II (pertemuan keagamaan terpenting abad ke-20) turut merespon kenyataan gerakan tersebut dengan menegaskan perlunya penyingkapan batas-batas dari suatu proses modernisasi yakni perlunya suatu aggiornamento, suatu keterbukaan diri terhadap dunia. Keterbukaan ini juga meluruhkan berbagai kekakuan dogmatis kuno dan membuat budaya Katolik menjadi mudah berbaur dengan gagasan-gagasan baru. Pada konteks inilah, teologi pembebasan dapat dinilai telah lahir dan diterima menjadi doktrin baru.

Hugo Assmann, seorang teolog Brasil, yang menyelesaikan pendidikan di Frankfurt, adalah yang memainkan peran penting merintis penjabaran unsur-unsur pokok dari kritik Kristen dan paham Pembebasan terhadap desarrollismo (ideologi pembangunan) pada tahun 1970. Namun barulah pada tahun 1971, dengan terbitnya Liberation Theology: Perspectives karya Gustavo Gutiérrez, teologi pembebasan benar-benar lahir.

Gustavo Gutiérrez adalah seorang Jesuit Peru kelahiran 8 Juni 1928 di Monserat, sebuah kawasan kumuh di Lima, Peru. Gutiérrez menderita osteomiletis yakni penyakit yang membuatnya pincang permanen, ia juga berasal dari keluarga yang relatif miskin. Kondisi yang dialaminya secara pribadi menumbuhkan kepekaannya terhadap sesamanya. Ia mengenyam pendidikan filsafat dan teologi di Seminari Santiago de Chile setelah sebelumnya menekuni farmasi di Universitas San Marco. Pada tahun 1951-1955, melanjutkan pendidikannya di Louvain dan memperoleh gelar master bidang Filsafat dan psikologi. Kemudian hingga tahun 1959 memperoleh gelar doctoral dibidang teologi Universitas Lyons, Prancis.

Pokok pikirannya adalah bahwa orang tak perlu menunggu datangnya penyelamatan dari atas. Dalam konteks Amerika Latin, dibutuhkan iman yang bersifat praksis yakni iman yang menggerakan orang untuk membebaskan diri dari belenggu kemiskinan. Baginya, di Amerika Latin bukan sekedar kemiskinan melainkan juga orang dibuat miskin. Dalam pandangan ini, orang-orang miskin tidak boleh teru-terusan menjadi sasaran belas kasihan dan kedermawanan, tetapi harus menjadi pelaku yang memperjuangkan kebebasan diri mereka sendiri.

Menurut Gutiérrez, rakyat miskin di seluruh Amerika Latin adalah orang-orang terbuang di tanah mereka sendiri, tetapi saat bersamaan berada dalam suatu pawai Keluaran (Kitab Keluaran) ke arah penebusan mereka.

Tidak lama setelah penerbitan buku tersebut, april 1972, pertemuan pertama gerakan orang-orang Kristen untuk Sosialisme se-Amerika Latin yang diilhami oleh 2 orang Jesuit Chile, teolog Pablo Richard dan pakar ekonomi Gonzalo Arroyo, didukung oleh uskup Meksiko, Sergio Mendez Arceo, diselenggarakan di Santiago, Chile.

Gerakan tersebut terdiri dari orang-orang Katolik dan Protestan yang mendorong maju dasar-dasar pemikiran teologi pembebasan sampai ke batasnya yang terakhir, yakni upaya memadukan antara ajaran Kristen dan Marxisme, yang mengakibatkan lembaga keuskupan Chile kemudian menerima ganjaran pembekuan.

Pada konferensi para Uskup Amerika Latin di Puebla pada tahun 1979, terjadilah suatu usaha nyata untuk mengendalikan semua perkembangan tersebut. CELAM, organisasi penyelenggaran konferensi itu, melarang para teolog pembebasan menghadiri konferensi tersebut karena adanya intervensi dari para uskup yang konservatif dan menganggap teologi pembebasan adalah teologi yang berbau Marxis yang atheis.

Akhirnya pada tahun 1981, teolog Fransiskan dari Brasilia, Leonardo Boff, melepas tali kekang prahara, dalam bukunya Church, Charisma and Power, ia mengecam sistem otoriter dalam tubuh pemerintahan gereja, sikap tidak toleran dan dogmatism kaku lembaga-lembaga seperti Kongregasi Suci untuk Doktrin dan Iman (Congregatio pro Doctrina Fidei, CDF), pemujaan Kristen kepada pribadi para Paus serta oportunisme lembaga gereja kepada para pemegang kekuasaan, siapa pun mereka. Karya yang menentang pendewaan ini pun membuatnya menerima hukuman dari Vatikan berupa harus tutup mulut selama setahun.

Dalam rangka menjawab semua tantangan tersebut, pada tahun 1984, Roma menerbitkan surat gembala, Instructions on Some Aspects of Liberation Theology yang isinya mengutuk teologi pembebasan sebagai suatu bentuk ajaran menyimpang yang didasarkan pada konsep-konsep Marxis. Para teolog dan beberapa kelompok penting lainnya dalam tubuh gereja Amerika Latin (terutama Brasilia) mendesak Vatikan untuk menarik kembali pernyataan tersebut. Akhirnya pada tahun 1985, suatu pernyataan baru yang tampaknya lebih bernada positif diterbitkan dengan judul Christian Liberty and Liberation, yang menyetujui beberapa tema teologi pembebasan, tetapi dengan lebih “merohaniahkan-nya” dan membatasi kandungan sosialnya yang revolusioner.

Melalui pengangkatan secara sistematis sejumlah uskup konservatif untuk menggantikan para uskup yang meninggal atau pension, Vatikan mengambil langkah taktik yang halus untuk mengurangi pengaruh aliran-aliran radikal dan mengukuhkan kembali kendalinya atas konferensi-konferensi keuskupan yang sudah terlanjur lepas jauh.

Jadi, apa yang terjadi sesungguhnya adalah pertentangan politik dan kerohanian yang sangat menentukan masa depan gereja yang dengan tidak mengesampingkan adanya konsensi-konsensi tertentu antara kedua pihak (Amerika Latin dan Vatikan) karena keduanya memang tidak ada yang ingin menempuh risiko terjadinya perpecahan habis-habisan.

Dengan kondisi tersebut diatas, hal yang tidak dapat dibantah adalah Kristen Pembebasan telah menjadi sumber suatu pergolakan keras bukan hanya dibidang keagamaan melainkan juga dalam dunia sosial dan politik Amerika Latin.

Namun yang menarik perhatian gereja adalah perubahan besar yang terjadi dengan kemunculan kelompok-kelompok basis masyarakat gereja (Comunidades Eclesiales de Base, CEB) terutama di Brasilia dimana anggotanya berjumlah jutaan orang Kristen dan pada skala yang kecil, tersebar pada hampir seluruh pelosok benua.

CEB adalah suatu kumpulan kecil kerukunan tetangga (beberarapa RT) yang bermukim pada suatu kawasan permukiman, perkampungan kumuh, desa atau dusun tertentu yang bertemu secara berkala untuk membaca Injil dan membahasnya berdasarkan pengalaman nyata mereka sendiri.

Pada semua tingkatan, perkembangan pesat perjuangan kaum tertindas dan terhisap di Amerika Latin yang berusaha mencapai pembebasan mereka, memang harus banyak berterimakasih pada sumbangsih yang telah diberikan oleh gerakan CEB dan teolog pembebasan.

Gereja Brasilia

Gereja Brasilia adalah satu kasus khusus di Amerika Latin karena merupakan satu-satunya gereja dimana teologi pembebasan dan para jemaatnya memenangkan pengaruh yang sangat menentukan.

Secara tradisional, gereja Brasilia sebenarnya sangat konservatif dan merupakan kubu yang sikap keras terhadap komunisme (anti-komunisme). Namun, pada awal tahun 1960an, muncullah suatu kecenderungan yang baru sama sekali, yang kemudian dikenal sebagai Katolik Kiri.

Dibawah pengaruh teologi Prancis mutakhir, ilmu ekonomi humanis Romo Lebret, sosialisme personalisnya Emmanuel Mounier dan revolusi Kuba membuat gerakan mahasiswa Katolik, Pemuda Buruh Katolik (JUC), lantas menjadi radikal dan bergerak dengan cepat kea rah gagasan-gagasan sosialis dan kekiri-kirian. Dalam some guidelines of a historical ideas for Brazilian people (semacam garis haluan mengenai cita-cita masyarakat Brasilia) yang diterbitkan pada tahun 1960, menyatakan:

“kita harus mengatakan, tanpa ragu dan rasa sungkan, bahwa kapitalisme, sebagaimana terbukti dalam sejarah, memang hanya patut memperoleh kutukan dari alam kesadaran Kristen. Perlukah membenarkan hal ini? Cukuplah kalau ditegaskan kembali disini beberapa keterasingan watak manusiawi oleh situasi nyata kapitalis: pemerosotan tenaga kerja manusia menjadi barang dagangan semata-mata, kediktatoran pemilik pribadi yang ditujukan pada pemenuhan barang-barang kebutuhan pokok bersama, penyalahgunaan kekuasaan ekonomi, persaingan tanpa kendali pada satu sisi dan segala macam praktik monopoli pada sisi lainnya, yang dorongan kehendak utamanya adalah semangat cari untung belaka.”

Kira-kira bersamaan dengan itu, para pegiat Katolik didukung oleh gereja membentuk Gerakan Pendidikan Dasar (MEB) yang merupakan upaya pertama Katolik dalam praktik kepastoran radikal dilapisan kelasa rakyat jelata. Dibawah bimbingan pedagogi Paulo Freire, MEB bukan hanya membuat rakyat miskin menjadi melek huruf tetapi juga menumbuhkan kesadaran dan membantu mereka menjadi para pelaku sejarah mereka sendiri. Pada tahun 1962, para pegiat JUC dan MEB membentuk Aksi Kerakyatan (Ação Popular, AP), suatu gerakan politik yang bertekad pada perjuangan sosialisme dan menggunakan cara-cara Marxis.

Kudeta militer pada tahun 1964, merupakan usaha mempertahankan tatanan kapitalis yang terancam oleh munculnya gerakan-gerakan sosial dibawah pemerintahan terpilih dan pada Juni 1964, Konferensi Para Uskup Brasilia (Conferencia National dos Bisops Brazileiros, CNBB) mengeluarkan pernyataan yang malah mendukung kudeta militer tersebut. Namun, sekelompok kecil yang cukup berarti dari para romo (dan beberapa orang uskup) juga kaum awam, menentang keras kediktatoran militer tersebut. Beberapa diantaranya malah semakin radikal dan selama tahun 1967-1968, sekelompok besar pengikut ordo Dominikan bahkan mendukung pemberontakan bersenjata, membantu kelompok gerilya Aksi Pembebasan Nasional (Ação Liberacion Nacional, ALN) pimpinan Carlos Marighella, yakni dengan cara menyembunyikan para gerilayawan atau membantu mereka melarikan diri ke luar negeri.

 Pada tahun 1970, Dom Paulo Evaristo Arns, menjadi pengecam paling gencar terhadap penguasa militer dan menjadi salah seorang pendukung kuat kelompok-kelompok masyarakat basis (CEB), padahal pemimpin gereja sebelumnya, Don Agnello Rossi bersikap acuh dan masa bodoh dengan apa yang sedang berlangsung. Pada waktu yang sama, CNBB, dibawah kepemimpinan Dom Ivo Lorscheider, juga mulai memunculkan suara menentang penindasan kejam hak asasi manusia oleh penguasa dictator militer.

Selama dasawarsa 1970an, setelah gerakan-gerakan gerilya dikalahkan dan sebelum gerakan-gerakan kaum buruh baru muncul, gereja menampilkan diri sebagai penentang utama kediktatoran dan karenanya dicap oleh para pemimpin militer sebagai kekuatan makar yang diilhami oleh paham Marxis. Pada masa itulah, CEB-CEB mulai tumbuh menjamur berkat dorongan sejumlah besar romo serta penganut ordo keagamaan dan dukungan beberapa uskup radikal.

Salah satu tokoh kunci dalam pengembangan kesadaran politik rakyat anggota kelompok-kelompok masyarakat basis (CEB) adalah Frei Betto, seorang penganut ordo Dominikan kelahiran 1944 di kota Belo Horizonte. Ia adalah pemimpin Pemuda Pelajar Katolik (JEC) pada awal tahun 1960an. Ketika penindasan rakyat semakin menjadi-jadi pada tahun 1969, Betto menolong menyembunyikan banyak pegiat revolusioner atau membantu mereka menyeberangi perbatasan secara diam-diam ke Uruguay atau Argentina. Kegiatan inilah yang membuatnya disekap dalam penjara rezim militer pada tahun 1969-1973.

Segera setelah dibebaskan dari penjara pada tahun 1973, Betto memutuskan untuk ikut mengorganisir kelompok-kelompok masyarakat basis dan pada tahun-tahun selanjutnya, ia menerbitkan sejumlah pamflet yang menjelaskan dalam bahasa sederhana dan mudah dipahami tentang makna teologi pembebasan serta peran penting CEB-CEB. Pada tahun 1980, dia mengorganisir Kongres Internasional ke-IV para Teolog Dunia Ketiga (Sacredotes para el Tercer Mundo).

Berbeda dengan para teolog pembebasan lainnya, Frei Betto tidak menganggap Marxisme sebagai sekedar suatu alat analisis, suatu metode dalam ilmu-ilmu sosial. Lebih dari itu, dia memandang kekayaan menyeluruh Marxisme sebagai suatu ilmu sekaligus utopia, suatu teori sekaligus praktik. Inilah yang membuatnya dapat menempatkan perpaduan ajaran Kristen dan Marxisme pada bidang yang paling menentukan yakni tekad revolusioner.

Teologi Pembebasan & Marxisme

Kita telah menyaksikan bagaimana teologi pembebasan berkembang dan memasuki gelanggang pertentangan dengan Roma pada tahun 1980an. Tidak diragukan lagi bahwa Marxisme adalah salah satu pokok utama pertikaian dalam perdebatan mengenai teologi pembebasan. Kecaman utama yang dinyatakan dalam risalah resmi Instructions on Some Aspects of Liberation Theology ini menyerang para teolog baru Amerika Latin karena mereka menggunakan “dalam suatu cara yang sangat tidak memadai” konsep-konsep “yang dipinjam dari berbagai aliran pemikiran Marxis”.

Rumusan instruksi tersebut benar-benar memancing perdebatan, meskipun memang tidak dapat dipungkiri bahwa para teolog pembebasan telah menggunakan berbagai analisis, konsep dan pandangan-pandanfan dari kubu teoritis Marxis yang memainkan peran penting dalam pemahaman mereka atas kenyataan sosial di Amerika Latin. Karena sedikit sekali sumber-sumber kepustakaan acuan yang tersedia tentang berbagai aspek Marxisme maka teologi pembebasan telah menjadi sumber suatu pergolakan luas dalam bidang politik dan budaya.

Budaya Katolik dalam sejarahnya telah memungkinkan adanya keterbukaan terhadap gagasan-gagasan Marxis. Begitu pula yang terjadi pada Marxisme, telah terjadi pematahan atas kekakuan pandangan Stalinisme segera setelah Kongres ke-XX Partai Komunis Uni Soviet dan setelah perpecahan China-Soviet. Marxisme telah terhenti sebagai suatu sistem yang kaku dan tertutup, yang mengabdi pada kekuasaan ideologi Moskow, dan sekali lagi menjadi suatu pemikiran yang terus bergerak, terbuka terhadap berbagai penafsiran dan karena itulah mampu menjangkau pada suatu penafsiran baru Kristen terhadapnya.

Dalam kenyataannya, minat para teolog pembebasan pada Marxisme memang lebih besar dan jauh lebih dalam dari sekedar meminjam secuil konsep-konsep analitis dengan maksud mencari apa-apa yang dikehendaki. Seperti pandangan Gutiérrez yang menganggap Marxisme bukan hanya menyediakan suatu analisis ilmiah, tetapi juga suatu kehendak perubahan sosial yang utopis. Penekanannya terletak pada beberapa tema Marxis tertentu seperti humanisme, alienasi, praksis dan utopia, sembari menolak tema lainnya seperti materialisme dan atheisme.

Pangkal tolak pertemuan teologi pembebasan dan Marxisme adalah mengenai suatu kenyataan yang tak dapat dipungkiri di Amerika Latin yakni kemiskinan. Bagi teolog pembebasan, Marxisme tampak sebagai suatu penjelasan yang sistematis, padat dan menyeluruh mengenai sebab-sebab kemiskinan dan merupakan satu-satunya kesimpulan radikal yang memenuhi syarat untuk memberantas kemiskinan tersebut.

Keprihatinan kepada orang miskin memang sudah menjadi tradisi gereja selam hampir 2000 tahun, mengacu pada sejarah penyebaran agama Kristen yang asli. Tetapi, para teolog pembebasan memecahkan suatu bagian kunci dari tradisi tua itu yakni orang-orang miskin tidak boleh lagi terus-terusan menjadi sasaran kedermawanan, tetapi sebagai pelaku dari upaya pembebasan mereka sendiri. Disinilah terletak keterkaitan pokok mereka dengan suatu asas politik Marxis yang paling mendasar bahwa pembebasan kelas pekerja harus merupakan hasil kerja dari kaum buruh itu sendiri.

Perubahan inilah yang mungkin merupakan sumbangsih politik baru yang paling penting dari para teolog pembebasan. Bagi para teolog pembebasan Amerika Latin, pengertian tentang orang miskin adalh satu konsep yang memiliki bobot moral, keagaman dan keinjilan sekaligus oleh karena itu tidak hanya mencakup kelas pekerja namun juga kelas-kelas masyarakat lainnya yang terhisap (tertindas) seperti suku-suku yang dianggap hina beserta kebudayaan-kebudayaan yang tersingkirkan (dalam beberapa karya Gutiérrez yang menambahkan kaum perempuan sebagai kelompok masyarakat yang menderita penghisapan ganda).

Penafsiran konsep materialis atas orang miskin oleh para teolog pembebasan tersebut juga mendapat kecaman oleh kalangan Marxis yang menganggap penafsiran tersebut tidak jelas, emosional dan tidak tepat semacam itu. Dalam kenyataannya, istilah tersebut memang terutama dikaitkan dengan keadaan khas Amerika Latin dengan dipengaruhi oleh Mariategui (seorang Marxis Amerika Latin) dan kritik ketergantungan yang dirintis Fernando Henrique Cardoso, André Gunder Frank, Theotonio dos Santos dan Anibal Quijano.

Oleh karena itu, rakyat miskin merupakan suatu rumusan yang menggabungkan penafsiran makna (bantuan sosial) tradisional oleh gereja yang moderat dan konservatif dengan penafsiran yang sangat radikal dari para teolog pembebasan dan aliran-alirankepastoran yang lebih maju (suatu pemihakan pada organisasi dan perjuangan rakyat miskin untuk pembebasan mereka sendiri). Dengan kata lain, perjuangan kelas Marxis bukan Cuma menjadi suatu panduan untuk bergerak tetapi sudah menjadi suatu bagian terpadu yang hakiki dari gereja orang miskin (Church for the poor) yang baru.

Untuk berjuang secara efektif menghapuskan kemiskinan, kita mesti memahami sumber-sumber penyebab utamanya. Kemiskinan bagian terbesar rakyat dan kecabulan kekayaan sekelompok orang-orang yang memiliki hak-hak istimewa pada hakikatnya bersumber pada satu landasan ekonomi yang sama yakin sistem kapitalis. Kecaman moral terhadap ketidakadilan kapitalisme dan sikap menentang watak kejamnya yang dingin dan tidak manusiawi memang sudah merupakan suatu tradisi tua gereja sebagaimana pernah digambarkan Max Weber yang menegaskan adanya pertentangan mendasar antara jalan pikir etika Katolik dan jalan pikir ekonomi kapitalisme.

Pada tahun 1960an, tradisi tersebut diatas mulai dinyatakan kembali oleh kaum Marxis tentang kapitalisme (yang juga mencakup suatu pengutukan moral terhadap ketidakadilan), khususnya dalam rumusan-rumusn teori ketergantungan yang memperlihatkan bahwa sebab-sebab utama penderitaan, keterbelakangan, suburnya ketidakadilan dan kediktatoran militer bukanlah sisa-sia feodalisme atau modernisasi yang tak memadai, melainkan justru tatanan ketergantungan pada kapitalisme. Hasilnya, mereka berpendapat bahwa bentuk-bentuk perubahan sosialis akan mampu mencegah bangsa-bangsa Amerika Latin dari ketergantungan dan kemiskinan.

Gereja untuk orang miskin (Church for the poor) diilhami oleh pandangan-pandangan etik dan keagamaan, yang menampilkan sikap-sikap antikapitalisme yang lebih radikal dan lebih teguh ketimbang pandangan partai-partai komunis yang ada di benua itu, yang masih percaya akan adanya kebajikan dalam masyarakat industri (kapitalis).

“kita harus menghapuskan kapitalisme; ia adalah iblis terbesar, suatu dosa yang bertumpuk, akar yang membusuk, pohon yang menghasilkan buah yang kita sudah tahu semuanya yakni kemiskinan, kelaparan, penderitaan dan kematian. …untuk itu, kita harus melihat jauh apa yang ada dibalik pemilikan pribadi dan alat-alat produksi (pabrik-pabrik, tanah, lembaga perdagangan dan bank-bank)….” (The Cry of Churches, tangisan gereja-gereja, 1973).

“ketidakadilan yang dihasilkan oleh masyarakat kita saat ini adalah buah dari hubungan-hubungan proses produksi kapitalis yang memang menciptakan suatu kelas masyarakat yang ditandai adanya pembeda-bedaan dan ketidakadilan. …kelas tertindas tidak punya pilihan lain ke arah pembebasan mereka kecuali menempuh jalan panjang dan sulit (yang sebanrnya sudah dimulai) ke arah pemilikan sosial dari alat-alat produksi. …injil menyerukan kepada seluruh umat Kristen dan semua umat manusia yang memiliki tujuan-tujuan luhur agar bergabung ke dalam arus yang bernubuat ini….” (Declaration of the Bishops of the North East of Brazil, 1973).

Kutipan risalah-risalah tersebut adalah suatu bentuk kesetiakawanan pada rakyat miskin yang mengarah pada pengutukan kapitalisme dan kehendak ke arah sosialisme. Tetapi, sosialisme yang seperti apa? Dalam hal ini, ada beberapa pertanyaan menarik yang dapat dikemukakan, baik dari sudut pandang teoritis maupun praktis. Diantaranya:

  1. Apa masih ada kalangan Marxis yang menganggap (sesuai dengan “buku-buku teks Marxisme-Leninisme) bahwa pertentangan antara “materialisme” dengan “idealisme (metafisika)” masih merupakan suatu permaslahan mendasar dalam filsafat?
  2. Mengapa tidak mungkin teologi pembebasan ini dapat membantu kita memerangi kecenderungan-kecenderungan ekonomistik, reduksionis dan materialis kasar yang ada dalam tradisi Marxis sendiri? Kita harus mempertimbangkan pula peran dorangan-dorongan moral dan kerohanian jika kita ingin memahami dengan baik mengapa suatu lapisan besar cendikiawan kelas menengah dan pribadi-pribadi tertentu (para petugas lembaga kependetaan yang menjadi radikal) memutuskan hubungan kelas asal mereka dan kemudian mendukung penuh perjuangan rakyat tertindas.
  3. Apakah kepekaan anti kekuasaan otoriter dan kehendak pada demokrasi murni dapat menjadi landasan dari suatu sumbangsih yang sangat menentukan bagi kebutuhan swaorganisasi kaum tertindas dan dasar yang kukuh bagi penataan kembali gerakan kaum buruh yang tidak birokraktis? Pandangan kerakyatan dan kejelataan teolog pembebasan sering kali mengambil bentuk naif dan serba berlebihan tetapi hal itu dapat dipahami sebagai suatu bentuk tanggapan menentang praktik-praktik anti demokrasi, korupsi dan manipRingkasi dari oknum-oknum Stalinis atau kalangan sok merakyat.
  4. Bagaimana cara yang tepat menafsirkan semboyan kaum Jesuit “tujuan menghalalkan segala cara”? dalam semua kasus orang-orang Jesuit revolusioner ternyata tidak pernah terlibat dalam tindakan bergaya Machiavellisme.
  5. Dapatkah teologi pembebasan memaksa kaum Marxis untuk menguji kembali pemikiran tradisional mereka mengenai agama, sementara di banyak tempat agama memang masih memainkan peran sebagai “candu rakyat”. Tetapi bukankah agama telah berperan sebagai “obat penawar candu rakyat”, sebagai lonceng penggugah bagi rakyat, sebagai suatu seruan bagi kaum tertindas untuk bangkit dari tidur mereka, dari sikap serba pasrah, sikap mereka yang serba menerima, agar sadar akan hak-hak, kekuatan dan masa depan mereka?

Diskusi paling mendesak yang harus dilakukan dengan orang-orang Kristen yang berjuang untuk pembebasan itu bukanlah perdebatan mengenai materialisme, keterasingan keagamaan atau mengenai sejarah gereja (atau bahkan tentang ada atau tidaknya Tuhan), tetapi jauh lebih penting adalah persoalan-persoalan menantang dari praktik-praktik kehidupan nyata saat ini.

Beberapa Kesimpulan Sementara

Soal persekutuan taktis dengan mereka yang disebut sebagai kekuatan-kekuatan Kristen Kiri, sudah menjadi bagian keprihatinan gerakan kaum buruh dan Marxis di Amerika Latin (dan dimana saja) dalam jangka waktu yang cukup lama. Selama lawatannya ke Chile pada tahun 1971, Fidel Castro menyatakan kemungkinan untuk melewati tahap persekutuan taktis ke tahap persekutuan strategis antara kaum Marxis dan umat Kristen.

Namun, sekarang, setelah contoh-contoh pengalaman nyata Brasilia, Nikaragua dan el Salvador, kita tak perlu lagi bicara dalam istilah persekutuan, tetapi lebih dalam pengertian kesatuan organik. Karena, orang-orang Kristen sudah membuktikan diri mereka sebagai unsur hakiki dari gerakan revolusioner (bahkan lebih dari pejuang Marxisnya sendiri) di banyak negara di Amerika Latin.

Kita dapat menghabiskan banyak waktu untuk memperdebatkan atas dasar pertanyaan filosofis (atau pertanyaan teoritis tertentu) apakah kekristenan yang Marxis macam itu memang mungkin ada dari sudut pandang materialisme dialektis? Tetapi, apa yang menjadi pokok persoalan sebenarnya adalah apa yang sebenarnya terjadi dalam kenyataan. Dan, kenyataannya adalah bahwa orang-orang Kristen Marxis itu memang ada: mereka telah menjadi suatu kenyataan politik dan sosial yang tak terbantahkan. Mereka bukan cuma memang ada, tetapi bahkan telah menyumbangkan kepada para pejuang revolusioner suatu kepekaan moral, pengalaman bekerja di lapisan akar rumput rakyat jelata, dan juga suatu utopia yang hanya dapat dicapai dalam pengharapan.

Kemungkinan bahwa kekuatan-kekuatan umat Kristen yang bersifat massal dapat bergabung dalam jalan revolusioner juga bergantung pada sikap kaum Marxis yang tidak beriman: apakah mereka juga mau bersikap terbuka atau sektarian, selalu curiga atau mau mendengarkan? Dalam hal ini juga kaum Sandinista memberikan kepada kita suatu teladan yang baik. Dalam suatu wawancara pada bulan Agustus 1985, Comandante Luis Carron, salah seorang pendiri dan anggota Dewan Kepemimpinan Nasional FSLN, berucap:

“saya melihat tidak ada halangan sama sekali yang akan menghentikan orang-orang Kristen, tanpa meninggalkan iman mereka, untuk menciptakan semua perangkat konseptual Marxis versi mereka sendiri yang dibutuhkan untuk memahami secara ilmiah proses-proses sosial dan pandangan revolusioner dalam praktik-praktik politik. Dengan kata lain, seorang Kristen dapat menjadi seorang Kristen yang teguh sekaligus menjadi Marxis yang tegar….

Dalam pengertian ini, pengalaman kita dapat memberikan banyak pelajaran yang berharga. Banyak orang Kristen telah dan masih tetap aktif dalam Front Sandinista, bahkan beberapa orang diantaranya adalah romo. Saya tidak bicara disini hanya mengenai orang-orang Kristen awam yang militan: beberapa diantara mereka adalah anggota Majelis Sandinista dan memegang jabatan politik tingkat tinggi….

Saya kira ada beberapa pejuang Marxis tertentu yang cenderung menganggap orang-orang Kristen progresif dan revolusioner tersebut sebagai kekuatan saingan yang membentuk satu kelompok politik sendiri dalam tubuh keseluruhan Front. Saya pikiranggapan ini keliru sama sekali. Mencegah terjadinya kekeliruan semacam itulah yang merupakan salah satu prestasi terbesar FSLN. Kami memiliki hubungan erat dengan lapisan akar rumput gereja, tetapi untuk memadukan mereka ke dalam Front Sandinista sebagai suatu tahap dalam perkembangan politik mereka.

Tanpa pengertian semacam ini, kita justru akan menentang sepenuhnya peran serta mereka dalam lembaga-lembaga agama Kristen. Sebaliknya, kita membiarkan mereka tetap berada dalam lembaga-lembaga tersebut, sehingga keberpihakan mereka yang lebih tinggi dapat disalurkan ke dalam tindakan politik dalam lingkungan mereka yang seperti itu. Kami sama sekali tak akan pernah mengatakan kepada mereka untuk melebur ke dalam FSLN, karena itu berarti akan memperhadapkan mereka pada kesulitan dengan iman Kristen mereka atau dengan kegiatan mereka dalam Front. Kalau kita memaksakan hal semacam itu, maka kita sebenarnya hanya akan tersisa sebagai satu kelompok kecil pegiat saja.”

Memang sulit meramalkan apa hasil pertentangan antara Vatikan dan teologi pembebasan, antara gereja konservatif dan gereja orang miskin. Hal ini tidak mengesampingkan kemungkinan bahwa Roma berubah lagi dan semakin memperketat kendali mereka, terutama di negara-negara seperti Brasilia dimana gereja telah melepaskan diri sedemikian jauh dari Takhta Suci. Tetapi, sungguh tidak diharapkan bahwa jutaan anggota jemaat basis Kristen, ribuan romo, para penganut ordo keagamaan, para teolog, petugas-petugas lembaga kepastoran, dan para pegiat awam yang diilhami oleh teologi pembebasan nantinya justru meninggalkan keberpihakkan mereka dan meninggalkan gelanggang perjuangan pembebasan bagi orang miskin, kaum tertindas dan rakyat yang terhisap.

Dalam semua kasus yang ada, orang justru akan menyimpulkan di banyak negara di Amerika Latin, revolusi hanya akan terjadi dengan peran serta umat Kristen atau tidak sama sekali!

Kekristenan & Marxisme (Cristianismo e Marxismo, Frei Betto, 1986)

Konsep-konsep mengundang beragam pengertian. Mengorek hubungan antara sosialisme dan ajaran Kristen dapat menumbuhkan dalam benak orang tentang dua pandangan yang saling bertentangan di dunia: yang satunya adalah pandangan serba kebendaan (materialis), yang menekankan kehidupan bersama (kolektivitas) dan sekaligus sering dipersamakan dengan pandangan yang tidak percaya pada Tuhan (atheistis); sementara yang satunya lagi adalah pandangan yang serba kerohanian (spiritualis), bersifat pribadi (personalis) dengan gereja memainkan peran penting dalam hubungan-hubungan sosial.

Mendasari pengertian tersebut, sungguh terdapat suatu kekeliruan besar (kekeliruan mengartikan suatu tatanan sosial dengan pesan-pesan pembebasan yang disampaikan Yesus). Meskipun Injil mengandung beberapa asas tertentu yang dapat mengilhami suatu kegiatan politik untuk suatu kehidupan bersama dalam masyarakat, tetapi pesan-pesan tersebut tak dapat dikesampingkan atau sebaliknya disertakan begitu saja dalam batas-batas suatu tatanan sosial tertentu yang, dengan sifat kesejarahannya yang khas, pastilah bersifat sementara dan tidak sempurna. Masih banyak orang yang tegas-tegas menolak bahwa kapitalis (dimana kerja kolektif dibawahi oleh keuntungan perseorangan yang diperoleh melalui proses penghisapan) sebagai suatu sistem yang Kristiani. Padahal kenyataannya, dalam sistem kapitalislah gereja menikmati kemerdekaan yang tampaknya tak akan dinikmatinya dalam suatu sistem sosialis. Tetapi, apa bayarannya?

Ajaran Kristen dimanipRingkasi oleh perangkat-perangkat ideologi negara dari kelas yang berkuasa, dengan cara menafsirkan secara sepenuhnya terbalik pesan-pesan Yesus, seperti dikemukakan secara sangat sinis oleh Napoleon I:

“sejauh yang saya ketahui, saya tidak melihat dalam agama adanya misteri kehidupan di akhirat, tetapi justru misteri dalam tatanan sosial di bumi saat ini mengacu pada ajaran bahwa kesetaraan hanya akan terwujud di surga, sehingga hal itu berarti agama adalah sejenis suntikan vaksin yang karena memuaskan rasa cinta kita pada segala sesuatu yang indah-indah, melindungi kita dari para dukun dan tukang sihir. Para romo jauh lebih berharga ketimbang Kant dan semua tukang mimpi dari Jerman itu. Bagaimana mungkin suatu keteraturan dapat terwujud dalam suatu negara tanpa agama?

Masyarakat tidak dapat wujud tanpa ketidaksamaan peruntungan, dan ketidaksamaan peruntungan itu tidak dapat terwujud tanpa agama. Jika seseorang mati karena kelaparan sementara seseorang lainnya hidup dalam kelimpahan yang mewah, maka orang mati itu tak rela menerima perbedaan ini kecuali ada suatu kekuasaan yang mengatakan kepadanya: Tuhan memang menghendaki demikian, mesti ada yang miskin dan ada yang kaya di dunia ini, tetapi sesudah itu dan seterusnya, segala sesuatunya akan terbagi secara merata!”

Dalam benak banyak orang lainnya lagi, pengertian konsep sosialisme sedemikian luas sampai mencakup negara-negara Utara seperti Swedia dan bahkan juga pemerintahan sosialis Spanyol. Pandangan ini persis sama kelirunya dengan pikiran Napoleon tadi tentang ajaran Kristen. Negara-negara belahan utara memang dapat menyediakan kemewahan pembagian keuntungan-keuntungan sosial yang lebih besar kepada rakyat mereka berkat hasil rampokan yang mereka peroleh dari Dunia Ketiga, melalui perusahaan-perusahaan multinasional dan bank-bank. Orang miskinlah yang membayar ongkosnya bagi orang kaya. Fakta adanya mereka yang disebut sebagai partai-partai sosialis yang memegang kekuasaan di beberapa masyarakat kapitalis jelas tidak mengubah watak dasar dari masyarakat tersebut (dimana pemilikan pribadi atas alat-alat produksi, pertentangan kelas dan aparat-aparat negara yang dikuasai oleh hegemoni kepentingan borjuias, semuanya masih tetap berlangsung.

Jika kita bicara soal ajaran Kristen, kita harus (sebelum mempertimbangkan bentuk-bentuk pengejawantahannya dalam sejarah) bertolak dari landasan-landasan pokoknya dalam injil. Sama halnya dengan berbicara soal sosialisme, kita mesti memahami dulu pengertiannya sebagai suatu tatanan masyarakat dimana pemilikan sosial atas alat-alat produksi memang terjadi, pertentangan antar kelas terhapuskan dan negara adalah ungkapan kepentingan bagian terbesar dari rakyat kelas pekerja.

Dasar-dasar ajaran Kristen dalam Injil dan perwujudannya dalam sejarah

Ajaran kristen berasal dari praktik-praktik pembebasan manusia oleh Yesus dari Nazaret bersama masyarakat kerasulannya di Palestina pada abad pertama. Di dalam wilayah yang berada dibawah kekuasaan politik, ekonomi dan militer Kekaisaran Romawi itu, Yesus menyatakan keberpihakannya kepada kaum miskin, mengabarkan Tuhan Kehidupan dan mengutuk ajaran munafik kaum Farisi dan ajaran pemujaan hak-hak pribadi kaum Sadusi yang menindas dan mengabsahkan ketidakadilan; Yesus yang menafikan kerajaan Caesar dengan menjanjikan Kerajaan Tuhan yang akan menghapuskan semua bentuk ketidakadilan dan pertentangan sosial; Yesus yang masuk ke dalam gelanggang pertentangan dengan pemerintah Yahudi-Romawi, yang akhirnya menyiksanya, memenjarakannya, menganiayanya dan membunuhnya di atas tiang salib. Murid-muridnya kemudian menyaksikan kebangkitannya dan mengenalinya sebagai Putra Tuhan yang tampil dalam sejarah umat manusia. …

Baca Juga:  Anak adalah Raja, Pembawa Obor dan Pemegang Kedaulatan Masa Depan

Berteladan pada praktik-praktik Yesus, ciri khas utama yang menandai masyarakat-masyarakat Kristen pertama adalah sungguh-sungguh suatu pembagian harta kekayaan:

“semua orang beriman adalah sama dan bersatu, membagi di antara sesamanya apa yang mereka miliki. Mereka menjual harta milik mereka dan barang-barang lainnya dan membagi uangnya kepada semua orang sesuai kebutuhannya masing-masing.” (Perbuatan Para Rasul, 2: 44-45).

Dalam suatu masyarakat yang secara ideologi bersifat teokratis dan secara sosial mengerucut ke atas, dimana penghasilan negara dan kelas-kelas penguasanya diperoleh dari pembayaran upeti yang menghisap dan pengolahan tanah secara rakus, membentuk suatu jemaat sosialistis di kalangan rakyat jelata atas nama seorang tahanan politik yang dibunuh karena dituduh sebagai suatu hasutan memnentang tatanan mapan yang berkuasa. Inilah sebabnya mengapa Friedrich Engels menyatakan dalam kata pengantar hasil kajiannya mengenai agama Kristen primitif, bahwa:

“Sejarah agama Kristen Primitf sungguh-sungguh menampilkan banyak kesamaan dengan gerakan-gerakan kelas pekerja zaman modern …”

Namun, juga merupakan perwujudan nyata dari agama Kristen [sejak saat itu], memang tidak dapat disangkal, yang terlembagakan sebagai gereja Katolik, yang sangat berpihak pada para penguasa karena memang dicaplok menjadi agama resmi negara oleh Kaisar Konstantinus pada abad IV. Sambil tetap menyisakan perkecualian rasa hormat kepada Bapak-Bapak gereja yang tetap gencar menentang ketidakadilan, maka gerakan-gerakan Abad Pertengahan akan dicap sebagai sesat jika mencoba menghidupkan kembali aspirasi-aspirasi sosialistis dari masyarakat Kristen awal, seperti teladan yang dilakukan oleh tokoh Santo Fransiskus dari Assisi.

Sejak saat itulah gereja memiliki sejarah pemusatan kekuasaan secara mutlak, dengan Bala Tentara Salib yang mengabsahkan penjarahan dan penaklukan atasa nama agama, dengan pengadilan-pengadilan pengusut kemurnian iman tanpa rasa hormat sedikit pun pada hak asasi manusia, dengan kecurigaan berlebihan pada kekuatan nalar, ilmu pengetahuan dan keindahan tubuh manusia, dengan pengekangan kehidupan dalam biara-biara, secara ideologis mendukung penguasa borjuis, yang sepenuhnya bungkam di bawah pemerintah Nazisme dan Fasisme, yang sangat anti Semit.

Namun, daftar panjang dosa-dosa gereja itu tidak menyembunyikan peranannya yang penting dalam memelihara dan mempertahankan warisan kebudayaan umat manusia, upayanya mengangkat martabat kaum perempuan melalui pemujaan kepada Bunda Maria, perhatiannya kepada anak-anak yatim, orang-orang sakit dan kaum jompo dengan cara membangun rumah-rumah sakit yang pertama dalam sejarah, memdirikan sekolah-sekolah untuk orang miskin, perjuangannya yang tak kenal lelah bagi kemerdekaan kesadaran manusia, dorongannya pada kemajuan kesenian dan belakangan ini, juga pilihan istimewanya kepada kaum tertindas di negara-negara Dunia Ketiga, nubuatnya yang mengutuk tindak kekerasan atas rakyat, pembelaannya kepada para tahanan politik dan upayanya membangun organisasi masyarakat basis gereja. Teolog Hans Kung memang benar ketika mencatat bahwa:

“sejarah egereja merupakan sejarah umat manusia sendiri: suatu sejarah yang kaya tapi juga miskin, luas tapi sempit, perpandangan luas tapi sekaligus picik!”

Hubungan antara umat Kristen dan kaum Marxis

Marxisme, diatas segalanya, terutama adalah suatu teori mengenai praxis revolusioner. Meskipun demikian, beberapa orang Marxis suka sekali memutar-balikkannya menjadi sejenis agama dengan segala dogmanya, berdasarkan karya-karya tulis kaum fundamentalis yang mencoba mengubah karya-karya Marx, Engels dan Lenin menjadi satu Injil baru.

Namun, Marxisme, seperti juga halnya dengan teori-teori lainnya, tidak dapat dibenarkan hanya dengan satu tafsiran tunggal semata-mata. Epistemologi telah mengajarkan kepada kita bahwa satu naskah akan selalu dibaca dalam konteks pemahaman yangkhas seorang pembacanya. “kacamata” itulah yang menentukan penafsiran suatu teori. Jadi, karya Marx dapat saja dibaca dengan kacamat materialisme positivistiknya Kautsky, dengan kacamata volunteristiknya Gramsci, atau Hegelianisme objektivistiknya Lukacs, dengan kacamata eksistensialismenya Sartre atau strukturalismenya Althusser, juga dengan penerangan perjuangan petaninya Mao Zedong, dengan pandangan kaum gerilya Kuba, dengan kenyataan Perunya Carlos Mariategui atau dengan pemberontakan rakyatnya kaum Sandinista.

Pokok persoalannya adalah apakah seseorang menggunakan teori Marxis sebagai suatu alat pembebasan rakyat tertindas ataukah sebaliknya justru sebagai jampi-jampi dan jimat? Sebagai buah dari perjuangan kaum papa (proletar), Marxisme harus selalu dipahami atas dasar perjuangan tersebut, karena hanya dengan cara itulah maka ia ta akan kehilangan kekuatan revolusionernya dan dapat menjadi suatu pemikiran akademis yang utuh.

Dalam pengertian tadi, maka Marxisme dan kaum MArxis tidak dapat menyepelekan peran baru umat Kristen sebagai penggerak pembebasan massa yang tertindas di Amerika Latin. Tetapi, untuk memahami potensi revolusioner orang-orang Kristen ini, Marxisme perlu melepaskan dulu baju ketat pandangan serba objektifnya dan perlu mengakui adanya peran subjektivitas manusia dalam sejarah. Sikap semacam itu akan berguna untuk mengatasi kecenderungannya yang terlalu ekonomistik dan kecenderungan “metafisika negara” pada banyak rezim pemerintah sosialis serta mengakui adanya otonomi nisbi dari suprastruktur. Praktik revolusioner meledak melalui penerobosan batas-batas dari konsep tersebut dan tidak dapat diperhitungkan semata-mata hanya dengan analisis ilmiah yang kaku, karen praktik revoluisoner membutuhkan matra etik bahkan mistik dan utopia. Kemajuan-kemajuan yang dicapai oleh negara-negara sosialis dan ideologi yang dilembagakan dalam tubuh partai tidak dapat meliputi semua aspek hubungan antar perseorangan dengan berbagai akibat sosial dan politiknya.

Dalam semua kasus, mengapa mesti ada suatu pertentangan anatara peran menentukan dari subjektivitas manusia dan materialisme sejarah?

Sebagai penentu “pada analisis terakhir”, tatanan ekonomi itu sendiri adalah hasil dari kemajemukan yang dibentuk oleh kekuatan-kekuatan produksi dan hubungan-hubungan proses produksi. Hubungan-hubungan proses produksi inilah yang menentukan sifat dari kekuatan-kekuatan produksi. Bicara soal hubungan-hubungan proses produksi adalah mengakui bahwa “pada analisis pertama” orang juga akan menemukan adanya hubungan-hubungan antar kelas, kegiatan revolusioner kelas-kelas yang dikuasai yang kesadaran dan praktik-praktik mereka adalah unsur menentukan dalam suatu tatanan ekonomi. Sebaliknya, menolak pentingnya subjektivitas manusia dan kemampuannya mencapai tujuan adalah sama saja menyederhanakan Marxisme menjadi sekedar suatu teori yang ilmiah murni, terperangkap jatuh ke dalam semacam pesoan neo-Hegelianisme yang menganggap seluruh perjalanan sejarah harus berada dibawah kendali suatu alam pikiran mutlak dan bersifat semesta.

 Kekayaan dan keaslian teori Marxis justru sebenarnya terletak dalam kaitannya dengan praktik-praktik revolusioner (yang justru karena keterbukaannya), mampu memperkuat atau malah menantang teori yang semula dirumuskannya atau diilhaminya. Tanpa hubungan dialektis antara dan praktik semacam itu, itu maka Marxisme akan menjadi beku dalam suatu ortodoksi akademis yang dengan mudah dapat dimanipRingkasi oleh mereka yang memegang kendali mesin kekuasaan.

Mengutamakan praktik inilah yang memungkinkan kaum Marxis mengakui bahwa konsepsi mereka tentang agama terlalu dogmatis, terlepas dari praktik-praktik sejarah. Untuk mencegah perangkap semacam itu dan dalam cahaya terang dari apa yang sedang berlangsung di Amerika Latin saat ini, Kongres Kedua Partai Komunis Kuba mengesahkan suatu pernyataan yang menyebutkan:

“suatu proses yang amat penting dimana organisasi-organisasi dan kelompok-kelompok umat Kristen, termasuk umat Katolik dan para anggota lembaga gereja lainnya, yang secara aktif dan pejal bergabung dalam perjuangan pembebasan nasional dan keadilan sosial bagi rakyat Amerika Latin, seperti yang terjadi di Nikaragua, El Salvador dan dimana saja, demikian juga pertumbuhan lembaga-lembaga dan pusat-pusat penyebaran ajaran agama yang melaksanakan berbagai kegiatan progresif serta menumbuhkan pemihakan politik dan kesatuan dalam perjuangan revolusioner antara umat Kristen dan kaum Marxis, atas nama perubahan sosial mendalam yang terjadi di seluruh pelosok benua, telah menunjukkan pentingnya mengupayakan keberhasilan konsolidasi utnuk membentuk barisan bersama ke arah perubahan struktural yang sangat dibutuhkan dibelahan bumi kita ini dan juga seluruh dunia.”

Kemajuan terbesar dalam hubungan antara ajaran Kristen dan paham kerakyatan adalah apa yang kini terjadi di Nikaragua dimana, untuk pertama kalinya dalam sejarah, umat Kristen berperan serat aktif dalam proses pembebasan. Kenyataan ini saja sudah cukup menolak rumusan kaku dari orang-orang yang suka menonjolkan bahwa “agama itu candu rakyat”. Inilah pula sebab mengapa, juga untuk pertama kalinya dalam sejarah, satu partai revolusioner yang berkuasa (Front Pembebasan Nasional Sandinista) mengeluarkan suatu pernyataan tentang agama (Oktober 1980) yang menyatakan:

“beberapa orang penulis menonjolkan bahwa agama adalah suatu mekanisme keterasingan manusia yang digunakan untuk membenarkan penghisapan dari suatu kelas terhadap kelas lainnya. Penonjolan ini tak diragukan lagi memang memiliki keabsahan sejarah sejauh agama memang menyediakan dukungan teoritis kepada para penguasa politik dalam berbagai masa sejarah. Cukuplah misalnya dengan mengingatkan kembali akan peranan para petugas misi agama dalam proses penaklukan dan penjajahan orang Indian di negeri kita ini.

Meskipun demikian, kami, kaum Sandinista, berdasarkan cahaya dari pengalaman kami sendiri, menyatakan bahwa jika umat Kristen diilhami oleh cahaya iman mereka sendiri ternyata mampu menjawab kebutuhan-kebutuhan rakyat dan sejarah, maka iman mereka itu akan mampu pula membimbing mereka ke arah suatu pemihakan yang revolusioner. Pengalaman kami menunjukkan bahwa seseorang dapat menjadi seorang yang beriman danpada saat yang sama sekaligus sebagai seorang revolusioner yang teguh, bahwa memang tidak perlu ada pertentangan diantara keduanya.”

Berbagai kekeliruan tertentu, karena itu, dapat dicampakkan oleh praktik-praktik dalam sejarah. Dalam dua puluh tahun terakhir ini, di negara-negara Dunia Ketiga, terutama di Amerika Latin, agama Kristen telah membangkitkan kembali watak dasarnya yang membebaskan sebagai ungkapan perlawanan dan perjuangan kaum tertindas. Lebih jauh lagi, mementahkan semua perkiraan-perkiraan akademis yang ada selama ini, agama ternyata tidak perlu terhapuskan dalam suatu tatanan masyarakat dan pemerintahan yang sosialis.

Sebaliknya, lembaga-lembaga gereja kini menyusun suatu kekuatan penting dalam perjuangan untuk perdamaian dan dalam suasana damai (tentang hal ini, lihat risalah Konferensi para Uskup Kuba tentang perdamaian yang terbit belum lama berselang). Banyak masalah, tak dapat disangkal, memang terus berlangsung baik di dalam maupun di luar gereja, para uskup dan para romo masih belum seluruhnya memiliki kejelasan dan belum lagi mencapai suatu kesepakatan penuh tentang bagaimana keterlibatan kepastoran mereka seharusnya dilaksanakan dalam suatu tatanan masyarakat dan pemerintahan yang sosialis. Lebih dari itu, dikalangan orang-orang partai yang memerintah, juga masih ada saja yang memiliki prasangka-prasangka anti agama yang menganjurkan adanya pembedaan perlakukan yang mendesak umat Kristen ke arah arus kontra-revolusioner.

Adalah juga masih tetap merupakan kenyataan adanya berbagai pemali mengenai sosialisme yang hidup dikalangan umat Kristen. Propaganda kapitalis memang sedemikian kuat menghidupkan khayalan-khayalan yang menumbuhkan perasaan tidak aman dan ketakutan. Sektarianisme dikalangan beberapa pegiat Marxis tertentu juga tidak jarang membangkitkan bayangan tentang kaum sosialis sebagai Pasukan Salib baru yang akan menghancurkan iman keagamaan dengan cara-cara totaliter. Sementara memang sudah sangat sulit sulit sekarang untuk menemukan pernyataan anti komunis yang sangat berapi-api dari gereja Katolik masa Paus Pius XII, tetapi orang juga akan sama sulitnya kalau ingin menemukan risalah-risalah resmi gereja yang lebih bersimpati pada sosialisme. Namun, orang boleh mencatat sekarang beberapa peristiwa keterbukaan ajaran dan sikap politik Roma: pernyataan diutamakannya sifat sosial dari kemiskinan, perluanya sosialisasi kekayaan, pentingnya hak untuk menggunakan ketimbang hak untuk memiliki dan dalam bidang politik, diplomasi Vatikan yang lebih realistis untuk membangun hubungan yang lebih baik dengan hampir semua negara sosialis di dunia ini.

Salah satu contoh langka akan adanya pendekatan yang lebih baik terhadap sosialisme ini adalah yang dimulai dikalangan para uskup yang dapat ditemukan dalam beberapa risalah keuskupan wilayah yang diterbitkan dimasa kegelapan kediktatoran militer Brasilia, justru pada gereja sendiri sedang berada dibawah tekanan keras rezim pemerintah:

“kita harus mengalahkan kapitalisme. Ia adalah iblis terbesar, dosa yang bertumpuk-tumpuk, akar yang membusauj, pohon yang menghasilkan buah yang sudah kita ketahui dengan baik: kemiskinan, kelaparan, penyakit, kematian bagi bagian terbesar rakyat. Untuk itu, kita perlu menghapuskan kepemilikan pribadi atas alat-alat produksi (pabrik, tanah, lembaga-lembaga perdagangan, bank-bank). … untuk itulah kita ingin suatu dunia dengan rakyat yang satu, tidak terpecah-pecah antara yang kaya dengan yang miskin.” (ketersingkiran Rakyat, risalah Para uskup wilayah Barat-Tengah Nrasilia, 6 Mei 1973).

Meskipun kurang diketahui secara luas, pokok pikiran dari risalah berikut ini jauh lebih baik menyatakannya:

“proses sejarah dari masyarakat berkelas dan kekuasaan kapitalis memang menuju ke arah terjadinya bentrokan-bentrokan yang menghancurkan diantara kelas-kelas yang ada. Meskipun kenyataan ini sudah tampak sangat jelas dalam kehidupan sehari-hari, bentrokan semacam itu sangat dicegah terjadi oleh para penindas, tetapi pencegahan mereka itu justru semakin menegaskan adanya pertentangan tersebut. Massa kaum pekerja, para petani dan para penganggur yang tertindas semakin bertumbuh kesadarannya akan soal ini dan semakin merasakan perlunya suatu upaya pembebasan yang baru. Kelas yang dikuasai ini memang tidak punya cara lain untuk membebaskan diri mereka sendiri kecuali melangsungkan terus perjalanan yang sudah mereka mulai sekarang disepanjang jalan yang juga semakin panjang dan sulit pula kearah pemilikan sosial dari alat-alat produksi. Ini adalah landasan umum suatu babak sejarah raksasa dari upaya perubahan menyeluruh masyarakat yang ada sekarang ke arah suatu masyarakat baru dimana dimungkinkan terciptanya keadaan-keadaan objektif bagi kaum tertindas untuk merebut kembali kemanusiaan yang telah direnggut dari tangan mereka, untuk memutuskan mata rantai penderitaan mereka, untuk mengakhiri pertentangan-pertentangan kelas dan akhirnya merebut kemerdekaan.” (saya sudah mendengar tangisan rakyat, risalah para Uskup dan petinggi Ordo Keagamaan wilayah Utara-Timur Laut Brasilia, 6 Mei 1972).

Kaum Marxis dan umat Kristen sebenarnya saling membagi lebih banyak pandangan dasar yang sama ketimbang dengan filsafat duniawi kita yang penuh kesia-siaan ini. Salah satu diantaranya adalah kesamaan utopia akan kebahagiaan manusia dalam sejarah masa depan (suatu harapan yang menjadi mistik) dalam praktik banyak pegiat yang tidak gentar mengorbankan hidup dan nyawa mereka. Marx menyebut utopia semacam ini sebagai “alam nyata kemerdekaan” (the realm of freedom), sementara umat Kristen menyebutnya sebagai Kerajaan Tuhan. Dalam jilid ketiga karya puncaknya, Das Capital, Marx menulis:

“alam kemerdekaan yang sesungguhnya dimulai ketika tenaga kerja manusia tidak alagi ditentukan oleh keharusan dan tekanan dari luar; alam kemerdekaan yang sesungguhnya terletak, mutlak, dibalik batas-batas produksi material.”

 Belum pernah ada tatanan politik atau sejarah yang dapat menjamin pencapaian tujuan ini, persis sama dengan harapan keselamatan pada umat Kristen yang juga tidak punya bukti sejarah apa pun, sebagai anugerah Tuhan. Tetapi, justru disitulah letaknya, jauh di dalam diri kita sendiri, keinginan sama yang tak terhingga dari kaum Marxis dan umat Kristen yang melihat kemanusiaan kita akan mampu melenyapkan semua penghalang dan pertentangan yang telah memecah belah umat manusia. Ini adalah suatu harapan yang tak dapat dikekang, yang mendambakan masa depan ibarat satu meja perjamuan untuk semua orang, sebagai sesama saudara yang saling berbagi roti yang melimpah diatasnya dan menikmati anggur bersama-sama. Jalan yang dapat membimbing kita ke arah pencapaian harapan ini adalah dengan membuang semua prasangka dan lebih mengutamakan kesatuan, yang seharusnya tidak cuma menjadi bahan diskusi teoriti, tapi diwujudkan dalam pemihakan nyata dalam perjuangan pembebasan bagi kaum tertindas.

Tentang Penulis

Michael Löwy, kelahiran 6 Mei 1938 adalah seorang sosiolog dan pengarah penelitian pada Centre National de la Recherche Scientifique (CNRS) sebuah lembaga penelitian ilmiah di Prancis dan menjadi rekanan (peer review) Institut International de Recherche et de Formation (IIRF) sebuah lembaga penelitian dan kajian internasional. Pada usia 16 tahun, Löwy berkomitmen untuk menjadi seorang sosialis karena dipengaruhi tulisan-tulisan Rossa Luxemburg dimasa pendidikannya di Universitas Sao Paulo, Brazil. Pada tahun 1961 menerima beasiswa untuk gelar doktoral di Prancis dibawah bimbingan Lucien Goldmann, seorang filsup Marxis. Orientasi metodologis penelitiannya diilhami oleh tulisan-tulisan Lucien Goldmann (The Hidden God, 1955) yang pendekatannya, menghubungkan sosiologi dan sejarah, Marxisme heterodoks dan sosiologi Jerman. 3 tahun setelah itu, Löwy mempelajari bahasa Ibrani dan mengajar filsafat politik di Universitas Tel Aviv, Israel. Namun perbedaan pandangan politiknya menimbulkan masalah dan akhirnya tidak mendapat pembaruan kontrak mengajar disana.

Pada tahun 1969, Löwy kembali ke Prancis untuk menetap dan akhirnya mengajar sosiologi pada Universitas Paris VIII hingga 1978 dan mulai memberikan kuliah di École des hautes études en sciences sociales (EHESS) di Paris pada usia 43 tahun (1981) sembari mengisi dalam undangan-undangan kuliah di beberapa Universitas lainnya.

Komitmennya terhadap sosialis membawa seluruh karyanya selalu terkait dengan sosiologi dan historis pemikiran Marxis (terlihat dari karya doktoralnya) dimana salah topik utamanya adalah terkait hubungan kompleks antara agama dan politik, khususnya di Amerika Latin. Pengaruh Goldmann membuatnya mengkritik dan menganjurkan untuk dilakukannya perubahan radikal pada pemikiran dan bentuk-bentuk sosialis. Hal tersebut juga membawanya bergabung dengan perjuangan atas nama eko-sosialis, sebuah pendekatan baru sosialisme dengan fokus wacana dan gerakan menyangkut krisis ekologis yang dinilainya merupakan salah satu aspek keburukan industrialisasi dibawah sistem kapitalisme.  

Refleksi Wacana

Dari seluruh pemaparan diatas, setidaknya terdapat beberapa bagian penting yang dapat kita kembangkan lebih mendalam. Dalam pengertian atau penafsirannya yang luas, teologi pembebasan dapat diartikan sebagai refleksi iman yang kritis terhadap kontekstualisasi kondisi dimana terdapat kalangan tertindas dan yang menindas sehingga diperlukan suatu gerakan radikal untuk mengubah keadaan tersebut. Sebagai refleksi iman (kepercayaan pada idealisme metafisis) maka teologi pembebasan tidak hanya dapat dilekatkan pada satu agama saja namun juga dapat melingkupi berbagai bentuk spritualitas atau agama. Sedangkan kontekstualisasi harus diartikan bahwa setiap lingkungan memiliki urgensi permasalahannya sendiri, dengan penafsiran demikian, kita dituntut untuk melakukan analisis mendalam dan komperehensif sebelum mengembangkannya sebagai gerakan.

Sedikitnya analisis kontekstualisasi tersebut meliputi:

  1. Paradigma terkait permasalahan masyarakat yang paling fundamental,
  2. Paradigma terkait gerakan sosial terutama penggunaan term sosialisme,
  3. Kondisi politik dan sistem negara yang sedang berjalan,
  4. Sistem hukum dan perundang-undangan,
  5. Kondisi sosio-kultural masyarakat,
  6. Kesatuan kekuatan masyarakat,
  7. Keberadaan hierarki religio-politik,
  8. Pengelola basis masyarakat di posisi silang lintas,
  9. Posisi dan arah gerak kaum cendikia.

Jika analisis kontekstualisasi tersebut hendak kita bawa pada ranah ke-Indonesia-an maka teologi pembebasan perlu kiranya kita pertimbangkan dengan perhatian pada:

  1. Indonesia adalah negara berdaulat yang diakui secara internasional, tidak berada dalam bahaya disintegrasi yang signifikan, stabil dalam arti, tidak digerogoti oleh gerakan-gerakan pemberontakan, separatis, gerilyawan yang berarti.
  2. Reformasi yang telah berjalan 22 tahun mengantarkan kita pada era demokrasi yang memberikan banyak ruang untuk masyarakat berekspresi meskipun jauh dari kata ideal. Namun disamping itu juga perlu kita evaluasi telah sampai mana amanat reformasi itu dicapai.
  3. Masyarakat kita adalah masyarakat plural dan multikultur (ke-bhineka-an), disatu sisi dapat menjadi modal dasar dalam kemajuan sosial-budaya. Disisi lain, ke-bhineka-an merupakan penghambat kemajuan peradaban jika masyarakat terhinggap penyakit egois, curiga, cemburu, paranoia dan majority sindroms (sindrom kemayoritasan) sehingga mengakibatkan terjadinya segregasi dalam masyarakat. Toleransi dan kebebasan beragama, meskipun telah ada, perlu didorong kepada tahap yang lebih baik lagi.
  4. Paranoia dan majority sindroms (sindrom kemayoritasan) adalah bagian buruk dari politik identitas yang masih menjadi alat hegemoni. Hal ini diperparah dengan stigma negatif dan horor yang sengaja dilekatkan pada kata sosialisme dengan menyamakannya secara serampangan dengan komunisme. Politik identitas tersebut juga mengakibatkan terbelahnya kesatuan kekuatan massa yang harusnya mampu menjadi sentral perubahan sosial.
  5. Tidak adanya hierarki religio-politik yang absolut pada masyarakat dengan identitas mayoritas (agama atau suku) membuat kecenderungan untuk bergerak sendiri-sendiri dan akhirnya menabrak sana-sini gerakan lainnya (radikal dan main hakim sendiri). Supremasi hukum menjadi bagian penting untuk memastikan perlindungan setiap tumpah darah masyarakat dengan tidak tebang pilih (setiap orang diperlakukan dengan kedudukan dan perlakuan yang sama tanpa terkecuali). Aparat penegak hukum haruslah independen dan tidak menjadi alat politik pemerintah atau punya penguasa (berdasarakan kemayoritasan atau lainnya).   
  6. Akar rumput (masyarakat basis) yang tidak dikelola dengan baik oleh kalangan pegiat lintas silang, keterbatasan akses informasi dan pendidikan pada akar rumput mengakibatkan kecenderungan sikap apatis dan apolitik.
  7. Kaum intelektual lebih banyak yang bermain pada wilayah permukaan wacana sosial dan sedikit yang berani menyelaminya hingga melahirkan tindakan atau praksis pada akar rumput.       

Dengan memperhatikan hal-hal tersebut diatas, penggunaan istilah teologi persaudaraan kiranya dapat diketengahkan sebagai alternatif dalam masyarakat plural seperti Indonesia. Teologi persaudaraan mengetengahkan isu dan gagasan yang serupa dengan teologi pembebasan namun cenderung dapat dinilai lebih lembut dan plural (persaudaraan sendiri lebih dekat dengan kata socius dalam bahasa Latin yang berarti teman, sahabat, kemudian terserap dalam bahasa Inggris menjadi social). Term persaudaraan dalam teologi tersebut mencoba meletakkan manusia sebagai dasar perumusannya sebagaimana pada teologi pembebasan, dimana manusia menjadi subjek sekaligus objek yang melekat. Artinya teologi persaudaraan ingin mengiring kita masuk pada wilayah penghargaan setinggi-tingginya hak asasi manusia baik dalam pandangan individunya (subjek) sebagai manusia merdeka. Dan tidak ada hak asasi melainkan pengakuan atas otoritas individu (kemerdekaan individu).

Pada tahap awal, kemerdekaan individu itu dimaknai dengan memerdekakan diri sendiri dari belenggu ke-aku-an diri (self liberation). Self liberation  ini penting untuk menyatakan diri sama dan setara dengan individu lain (tanpa melihat suku, agama, ras dan lainnya) sehingga tidak layak untuk diperlakukan berbeda (diperbudak, dibawahi atau direndahkan), all humans being are born free and equal in dignity and rights. Dengan Self liberation setiap individu menjadi egaliter, terbuka, toleran, partisipatif dan penghargaan terhadap kemakhlukan.

Azas persamaan tersebut kemudian dimaknai sebagai kesamaan asal dan tujuan penciptaan yang dengan prinsip tersebut manusia memiliki nilai sederajat di hadapan Tuhan (dimensi transenden), Tuhan menjadi sumber dan orientasi kehidupan. Sedangkan azas kesetaraan dimaknai sebagai hak setiap individu untuk mengekspresikan diri dalam kesadaran pengabdian kepada Tuhan, sesama dan lingkungannya (dimensi imanen), dimana atas penggunaan hak tersebut, setiap perbuatan harus dapat dipertanggungjawabkan baik secara moral etis maupun norma agama.

Manusia oleh Islam dan juga oleh Kristianitas (sebagai agama mayoritas di Indonesia) diyakini merupakan ciptaan yang tertinggi, bahkan istimewa di dunia ini. Kristianitas mendasarkan diri pada bab pertama Kitab Perjanjian Lama di mana ditulis bahwa “manusia diciptakan menurut citra Tuhan”. Dalam Islam, manusia, dan hanya manusia, adalah wakil Tuhan. Dengan demikian setiap orang bernilai pada dirinya sendiri, itulah martabat manusia, suatu martabat yang tak terhingga dalam arti bahwa orang siapa pun bukan sekedar sarana untuk tujuan atau maksud baik lain, melainkan merupakan tujuan pada dirinya sendiri. Dengan pengakuan terhadap martabat manusia inilah kemudian hak-hak asasi manusia mendapat tempat istimewanya. Pada titik ini, teologi persaudaraan menembus sekat identitas keagamaan dan memandang keragamannya sebagai karunia Tuhan dan modal dasar membangun kehidupan dunia-sini yang lebih baik. Kesadaran diri inilah yang membentuk masyarakat plural bukan hanya pada sistem ide namun juga praksisnya. Kemanusian yang adil dan beradab menjadi buah dari ketuhanan yang Maha Esa.

Dinamika perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menggeser atau bahkan mendistorsi arti hidup dan lingkungan manusia yang sederhana. Dengan kemajuan pengetahuan dan teknologi, manusia memasuki belantara hutan industrialisasi yang kemudian merubah cara manusia untuk hidup dan merespon perubahan lingkungannya sehingga pada akhirnya mampu memisahkan manusia dengan “dirinya” sendiri, apa yang kemudian kita istilahkan sebagai alienasi atau dehumanization. Dibalik ilmu pengetahuan dan teknologi inilah penghisapan manusia dan alam dilakukan kapitalisme dengan dalih modernitas yang sebenarnya adalah upaya meningkatkan keuntungan melalui fokus pada efisiensi dan efektivitas tingkat produksi (industrialisasi). Tenaga manusia yang mempunyai daya tahan tertentu perlahan digantikan artificial intelligence, big data dan robotical instruments yang tidak kenal lelah dan emosi.

Kapitalisme membuat sikap individualistik, pasif dan oportunis tumbuh subur diiringi dengan manipulasi kesadaran, imajinasi, persepsi dan citra manusia itu sendiri. Kapitalisme menampakkan diri menggunakan wujud sains modern, namun melalui sains itu pula dapat kita mengerti mekanismenya karena sejatinya kapitalisme bergerak untuk tujuan golongan sedangkan sains dapat kita arahkan untuk bergerak dalam spektrum kemanusiaan.

Pada sisi individu, alienasi dapat dijawab dengan membangun kembali kesadaran hakikat keberadaannya di dunia ini dengan kembali menyejarah hingga menemukan kembali orientasi diri yakni asal segala kejadian kepada Tuhan. Kenyataan inilah yang sedang berlaku di Eropa, dimana masyarakatnya secara individu berbondong-bondong mencari ketenangan jiwa dengan melakukan perjalanan ke daerah Timur yang memiliki kehidupan yang masih tradisional (bersandar pada sistem harmonisasi dengan alam seperti pertanian) dan memiliki sistem spiritual (seperti yoga dan mistisisme atau mengikuti acara tradisi keagaman). Sehingga meningkatnya kepercayaan terhadap takhayul atau mitos yang irrasional di Eropa saat ini harus diartikan sebagai bukti alienasi akut yang menjangkiti masyarakat rasional.

Alienasi masyarakat menggiringnya kepada ketidakmampuan untuk berpartisipasi secara bermakna diarena politik yang pada akhirnya mengakibatkan ketidakasadaran masyarakat bahwa dirinya sedang dihisap dan tertindas. Pada kondisi ini, medan pertempuran kita ada pada perjuangan menyadarkan masyarakat akan keterhisapannya, salah satunya melalui pendidikan. Melalui pendidikanlah dialektika kesadaran dan wajah dunia dipertemukan. Pendidikan adalah saran mentransformasikan budaya kritis yang sejalan dengan prinsip-prinsip dasar kemanusiaan dan pemaknaan atas realitas kehidupan yang sedang dijalani.

Dengan demikian, pendidikan adalah tahapan selanjutnya yang diemban oleh kita semua, yang telah merdeka dari diri sendiri. Pendidikan yang berkesadaran ini digerakkan dan dikelola oleh komponen lintas silang yang berada disisi tengah antara basis masyarakat (akar rumput) dan pengampu kebijakan. Komponen lintas silang ini adalah kelompok cendikia yang tidak hanya terbatas kepada mereka yang mengenyam pendidikan formal atau akademisi tetapi siapa saja yang terpanggil untuk senantiasa belajar dan mengabdikan pengetahuannya demi meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan terbebas dari segala bentuk dominasi, inilah yang kemudian kita sebut sebagai intelektual organik. Pada posisi inilah kaum intelektual organik berperan sebagai agent of change and social development. Tanpa kaum intelektual organik maka tidak akan ada perubahan pada masyarakat, karena masyarakat tidak akan mampu mencapai kesadaran sendiri berdasarkan usahanya.      

Jika keadilan sosial adalah cita-cita yang benar-benar kita ingin wujudkan dan solidaritas sosial menjadi nyata maka seluruh jalan ideologi yang memutlakkan satu ide saja perlu dibuang. Kita memerlukan pendekatan yang canggih dan multikompleks. Seluruh keahlian ekonomis dan teknologis mutlak diperlukan (ilmu pengetahuan dan teknologi beserta agama diposisikan sebagai sarana yang harus berpihak kepada kemanusiaan dan siap bertanggung jawab secara moral etis, sejauh mana dapat dibedakan dari humanisme-natural yang bermuara pada humanisme-liberal), demikian juga diskursus dan perjuangan demokratis dimana semua golongan dalam masyarakat dapat menyatakan harapan dan kepentingan mereka, dipersatukan oleh tekad untuk menghormati hak-hak asasi sebagai ungkapan harkat kemanusiaan segenap warga masyarakat, dengan mendasarkan diri pada visi keadilan dan kemanusiaan yang berakar dalam warisan moralitas masyarakat kita.

Keadilan sosial bukan pemberian pemerintah atau orang-orang kaya, keadilan sosial harus diperjuangkan dan perjuangan itu dimungkinkan kalau hak-hak dasar orang tertindas diakui. Tak ada perjuangan tanpa persatuan, inilah ruh dari Persatuan Indonesia, rasa ke-kita-an, senasib sepenanggungan.

Referensi:

  1. Budi Hardiman, F, Humanisme dan Sesudahnya, KPG, Jakarta: 2012
  2. Gramsci, Antonio, Negara dan Hegemoni, Nezar Patria dan Andi Arief, Pustaka Pelajar, Yogyakarta:
  3. Herman, Edward. S dan Noam Chomsky, Manufacturing Consent : the Political Economy of the Mass Media, Pantheon Book, New York: tanpa tahun 
  4. Larain, Jorge, Konsep Ideologi, LKPSM, Yogyakarta: 1996
  5. Magnis-Suseno, F, Mencari Makna Kebangsaan, Kanisius, Yogyakarta: 1998 
  6. Pozzollini, A, Pijar-Pijar Pemikiran Gramsci, penerjemah: Eko PD, Resist Book, Yogyakarta: 2006
  7. Philips, Gerardette, melampaui pluralisme: integritas terbuka sebagai pendekatan yang sesuai bagi dialog Muslim-Kristen, Madani, Jakarta: 2016
  8. Rachman, Budhy Munawar, Ensiklopedi Nurcholish Madjid, Edisi Digital, Democracy Project, Jakarta: 2011
  9. Rachman, Budhy Munawar, Reorientasi Pembaruan Islam, Edisi Digital, Democracy Project, Jakarta: 2011
  10. Suryanegara, Ahmad Mansur, Api Sejarah Jilid 1 dan 2, PT. Grafindo Media Pratama, Bandung: 2012
  11. https://www.britannica.com/biography/Karl-Marx, diakses 19 Juni 2020
  12. https://www.mengeja.id/2020/06/16/noam-chomsky-sosialisme-asli-dan-palsu/, diakses 16 Juni 2020
  13. https://www.nytimes.com/2017/10/09/opinion/muslim-communism/, diakses 19 Juni 2020
  14. https://pembebasan.org/sebuah-pengantar-mengenal-lebih-dekat-teologi-pembebasan/, diakses 19 Juni 2020https://tirto.id/hos-tjokroaminoto-memadukan-islam-dan-sosialisme-cwW1, diakses 19 Juni 2020
Pemuda kelahiran Samarinda 36 tahun silam. Disela-sela kesibukannya sebagai karyawan sebuah perusahaan milik pemerintah daerah Kalimantan Timur masih menyempatkan diri untuk menuliskan pandangan terutama menyangkut budaya, seni, sosiologi, politik, filsafat dan agama.
Posts created 5

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pos Terkait

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.

kembali ke Atas