Mengeja Indonesia

Anak Muda Indonesia Telah Membuka Mata Pada Society 5.08 min read

Jepang telah menunjukkan diri bahwasanya negaranya memang akan slalu berusaha terdepan di bumi ini, pada 21 januari 2019 yang lalu pemerintah Jepang oleh Federasi Bisnis Jepang memperkenal Era Masyarakat 5.0 atau Society 5.0 sebagai tanggapan dari Revolusi Industri 4.0 yang di anggap akan menimbulkan degradasi manusia, kemudian pandangan manusia ketika itu bahwa tidak akan terjadi lagi perubahan dan kemajuan setelah muncul Revolusi Industri 4.0. Ternyata pandangan  itu di bantahkan dan singkirkan dengan kehadiran society 5.0. jika kita kategorikan pada konsep perubahan sosial society 5.0 termasuk pada sebuah “revolusi” yang termasuk pada Perubahan yang di kehendaki juga revolusi industri lainnya.

Kita lihat kembali ke belakang pada deretan abad yang membuat manusia terus menghendaki perubahan, pada abad ke 18 terjadi Revolusi Industri 1.0 dengan di buktikan atas penemuan mesin uap untuk meningkatkan produktivitas industri tekstil kemudian di jadikan alat tenun mekanis di Britania Eropa. Kemudian pada abad 19 sampai awal abad ke 20 pada tahun 1913 terjadi Revolusi Industri 2.0 dengan di tandai penemuan tenaga listrik di lanjutkan memproduksi mobil secara massal pada akhir tahun 1800-an, penemuan sistim telegraf, jaringan kereta api, senjata dan lain-lain pada awal abad 20 di jerman, inggris, Italia dan Amerika Serikat. Lalu pada abad ke 20 di awal tahun 1970 muncul Revolusi Industri 3.0 dengan di tandai mesin bergerak dengan sistim otomatisasi menggunakan komputer dan robot tanpa kendali manusia, kemudian di lanjutkan pada awal abad 21 tahun 2011 negara Jerman dengan German Industry-Science Research Alliance memperkenalkan revolusi industri 4.0 yang memiliki konsep mengubah cara hidup, cara bekerja, dan cara berkomunikasi dengan orang lain

Sudah 5 kali terjadi revolusi industri di bumi, keinginan tertinggi manusia sampai saat ini adalah meninggalkan atau menggantikan tenaga manusia dan hewan dengan teknologi atau mesin agar semua aktivitas manusia mudah akan tetapi ketika manusia sudah menikmati revolusi industri tersebut selalu akan mengalami titik lejit (tipping point). Tipping point adalah sebuah peristiwa yang membawa kita terbang melesat jauh dari masa lalu. Sebuah momen yang datang tiba-tiba dan mengubah hidup kita untuk selama-lamanya.Sebuah Sudut yang merekonstruksi cara pandang kita dalam melihat diri kita dan dunia. Sebuah titik yang jika kita melaluinya maka kita bukanlah diri kita yang dulu lagi, hingga lupa diri dan melupakan kekurangan diri, melupakan ada sesuatu yang lebih penting dari manfaat Revolusi Industri.

Maka manusiapun akan mengalami Future shock (kejutan masa depan), ialah Alvin Toffler yang membuat istilah tersebut memberikan arti tekanan yang mengguncangkan dan hilangnya orientasi yang dialami oleh individu-individu jika mereka dihadapkan dengan terlalu banyak perubahan dalam waktu singkat. Maka bisa saja kita katakan akibat dari future shock adalah tipping point.

Membedakan Revolusi Industri 4.0 Dengan Society 5.0

Revolusi Industri 4.0 dan society 5.0 sangat menitikberatkan pola digitalisasi dan otomasi disemua aspek kehidupan manusia. Respon baik manusia sangat di butuhkan agar semua rangkaian kehidupan manusia yang selalu menggunakan instrumen revolusi industri 4.0 dan society 5.0 bisa berjalan dengan kesesuaian kehidupan manusia. Perbedaan mendasar antara revolusi industri 4.0 dan society 5.0 adalah :

  1. Fakta bahwa revolusi industri 4.0 fokus pada aspek melakukan pekerjaan secara otomatis. Sementara itu, era society 5.0 lebih menekankan pada perluasan prospek kerja serta mengoptimalkan tanggung jawab jam kerja dalam menyelesaikan pekerjaan
  2. Revolusi industri 4.0 menggunakan kecerdasan buatan (artificial intellegent) sedangkan society 5.0 memfokuskan kepada komponen manusianya.
  3. Revolusi industri 4.0 memungkinkan kita untuk mengakses juga membagikan informasi
  4. di internet. Society 5.0 adalah era di mana semua teknologi adalah bagian dari manusia itu sendiri. Internet bukan hanya sebagai informasi melainkan untuk menjalani kehidupan. Sehingga perkembangan teknologi dapat meminimalisir adanya kesenjangan pada manusia dan masalah ekonomi pada kemudian hari.
  5. Revolusi industri 4.0 dan society 5.0 Sama-sama bertujuan untuk menyejahterakan kehidupan manusia, namun dengan pendekatan yang berbeda.
  6. Revolusi Industri 4.0 ditandai dengan bersatunya berbagai teknologi yang memanfaatkan Internet of Things (alat yang dapat mengirim data melalui internet), lalu di simpan ke dalam Big Data (data yang terhimpun dalam jumlah sangat besar), yang kemudian diproses oleh Artificial Intelligence(kecerdasan buatan). Hal ini dapat melahirkan “pabrik cerdas” dan “robot cerdas” yang memaksimalkan fungsi internet.

Maka kita akan setuju mengatakan bahwa kehadiran Masyarakat 5.0 adalah bentuk transformasi Revolusi Industri 40 menjadi society 5.0. era masyarakat 5.0 dapat diartikan sebagai suatu konsep masyarakat yang berpusat pada manusia (human centered) yang berbasis teknologi (technology based). Perkembangan teknologi yang begitu pesat, termasuk adanya peran-peran manusia yang tergantikan oleh kehadiran robot cerdas. Maka dari itu peran gen Milenial dan gen Z sebagai kelompok muda atas Society 5.0 akan menjadi peluang besar untuk menyiapkan generasi yang benar-benar membuka mata untuk perubahan pada segala lapisan hidup di bumi ini.

Menjadi Masyarakat 5.0 Ada Di Tangan Gen Millenial Dan Gen Z

Anak muda dan teknologi memiliki kedekatan yang sangat,  karena anak muda mempunyai daya analisa dan daya tanggap yang cepat, memiliki gagasan yang cemerlang, terbiasa berpikir out of the box, percaya diri, pandai bersosialisasi serta berani menyampaikan pendapat di depan publik melalui media sosial. kemudian penduduk Indonesia pada generasi Z dan Milenial memiliki banyak jumlah. Berdasarkan sensus Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020, jumlah generasi Z mencapai 75,49 juta jiwa (27,94 persen). Sementara jumlah generasi Milenial mencapai 69,90 juta jiwa (25,87 persen).

Pendidikan adalah komponen penting untuk membentuk anak muda berkapasitas yang berkualitas dan siap menjadi SDM atau human capital. Di tengah zaman yang sudah berada pada gelombang Society 5.0 anak muda yang sudah memiliki pendidikan sudah layak menjadi human capital yang mempelopori society 5.0 untuk menuju masa depan. Di Indonesia program peningkatan kemampuan sumber daya manusia melalui pendidikan telah dilakukan, pemerintah mencanangkan wajib belajar 6 tahun di era presiden Soeharto (1984) dan di lanjutkan wajib belajar 9 tahun pada tahun 1994. Artinya, adanya perhatian pemerintah untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia dengan mewajibkan belajar sampai dengan 9 tahun atau tingkat sekolah menengah pertama. Adanya kebijakan ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Indonesia.

Kemudian keinginan untuk memperoleh pendidikan tinggi sudah menjadi kesadaran bagi masyarakat indonesia, Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) pada tahun 2017 indonesia yang merupakan memiliki penduduk terbanyak nomor 4 terbanyak di dunia memiliki 8,5 persen yang sudah mengenyam pendidikan perguruan tinggi. Artinya terjadi peningkatan jumlah sarjana yang cukup signifikan di indonesia, ini menjadi perkembangan human capital yang cukup berarti sekali bagi negara indonesia. Lalu Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pengembangan (OECD) menyatakan Indonesia bakal menjadi negara dengan jumlah sarjana muda terbanyak kelima di masa depan. Situasi ini telah terwujud awal tahun 2020 yang lalu.

Peluncuran Metaverse untuk rebranding nama facebook pada oktober 2021 membuat Mark zuckerberg berambisi menjadikan metaverse sebagai platform media sosial yang memanfaatkan dunia digital bagi manusia dan pengguna bisa saling berinteraksi secara “real time” dengan beraktivitas sehari-hari ke dalam dunia virtual. Peristiwa ini sudah menjadi tanda-tanda society 5.0 akan hadir, dengan waktu kurang lebih 3 tahun sampai negara Jepang meluncurkan society 5.0 pada 21 januari 2019. Lalu juga hadir blockchain yang semakin populer di Indonesia belakangan ini. Blockchain adalah teknologi yang digunakan sebagai sistem penyimpanan atau bank data secara digital yang terhubung dengan kriptografi. Penggunaannya tidak terlepas dari Bitcoin dan Cryptocurrency lainnya. Semenjak tingginya keingintahuan masyarakat terhadap dunia cryptocurrency, semakin tinggi juga pencarian mengenai teknologi blockchain. Ide tentang penggunaan blockchain sendiri dibentuk pada tahun 1991 oleh dua orang yang menulis dan menerbitkan sebuah jurnal yang berjudul Journal of Cryptography : How to Time Stamp a Digital Document yaitu Stuart Haber dan W. Scott Stornetta. Kemudian berkembang pada sekitar tahun 2009 oleh seorang berkebangsaan Jepang yang bernama Satoshi Nakamoto

Di tengah semakin kuatnya penetrasi internet di tengah-tengah masyarakat membuat anak muda Indonesia memiliki semangat yang tinggi bergerak menciptakan start up untuk memproduksi, distribusi, komsumtif secara digital bayangkan  jumlah startup Indonesia saat ini sebanyak 2.319. Dari jumlah tersebut terdapat delapan perusahaan unicorn dan satu decacorn. Di antaranya gojek, tokopedia, traveloka, bukalapak, ovo, JNT, xendit dan ajaib.

Ben Habib dan Spiegel (1994) dalam Izushi (2004) yang mengemukakan ”bahwa stock human capital menentukan kemampuan suatu perekonomian untuk mengembangkan dan mengasimilasi teknologi sehingga menghasilkan pertumbuhan ekonomi” Sampai saat ini anak muda indonesia telah mampu mengasimilasi teknologi menjadi penggerak ekonomi melaju dengan teknologi. Kemudian tren bisnis online, pengembangan komunikasi, transportasi ekspres, internet bergerak, industri digital dan rekayasa genetika menjadikan  “manusia dan benda” dan antara “dunia nyata dan dunia maya” bernilai istimewa dengan society 5.0. Seperti yang di katakan oleh menteri Erick Tohir pada 07 februari 2022 di konvensi nasional media massa di Jakarta : “Potensi ekonomi digital Indonesia diperkirakan akan tumbuh hingga Rp 1.736 triliun pada tahun 2025, yang kontribusi tersebut berasal dari e-Commerce, transport and food, online travel, hingga online media”

Human Capital Dan Bonus Demografi Menjadi “Capital” Pada Society 5.0

Semenjak 2012, Indonesia juga telah memasuki masa Bonus Demografi. Transisi demografi ini terindikasi dari hasil Sensus Penduduk 2000 yang menunjukkan fakta signifikan tentang keberhasilan program Keluarga Berencana yang dilaksanakan pada masa lalu. Fakta yang nampak dari Sensus Penduduk 2010 memperlihatkan bahwa penduduk berusia di bawah 15 tahun hampir tidak bertambah; di mana pada periode 1970-1980-an jumlahnya sekitar 60 juta dan hingga akhir 2000 penduduk dalam kelompok usia ini hanya meningkat menjadi 6365 juta jiwa. Sebaliknya, penduduk usia 15 – 64 tahun pada 1970 jumlahnya mencapai 63- 65 juta dan telah berkembang menjadi lebih dari 133 – 135 juta, atau mengalami kenaikan dua kali lipat selama 30 tahun (Maryati, 2015).

Kita harus ketahui generasi Millenial dan generasi Z termasuk pada kategori bonus demografi, dari tahun 2020 hingga 2035 jumlah usia angkatan kerja (bonus demografi : 15-64 tahun) meningkat menjadi 70 % sedangkan 30 persen adalah penduduk non produktif (di bawah 15 tahun dan di atas 65 tahun). Bila dilihat dari jumlahnya, penduduk usia produktif mencapai sekitar 180 juta, sementara penduduk nonproduktif hanya 60 juta. Fitz-Enz (2000) mendeskripsikan human capital sebagai kombinasi dari tiga faktor, yaitu: 1) karakter atau sifat yang dibawa ke pekerjaan, misalnya intelegensi,energi, sikap positif, keandalan, dan komitmen, 2) kemampuan seseorang untuk belajar, yaitu kecerdasan, imajinasi, kreatifitas dan bakat dan 3) motivasi untuk berbagi informasi dan pengetahuan, yaitu semangat tim dan orientasi tujuan.

Jika kita fikirkan antara Bonus Demografi dan human capital di ibaratkan 2 kombinasi yang saling mengisi dan menguatkan. Ketika bonus demografi harus di kembangkan maka harus membutuhkan capital human sebagai sumber jumlah dan sumber kapasitas. Ibarat akar batang dan buah, tanpa akar sebuah pohon tidak akan berbuah. Maka dari keduanya tidak bisa di pisahkan. Apalagi keberadaan Society 5.0 sekarang sudah di kuasai dan di gerakkan mayoritas oleh anak muda yang umurnya sudah di kategorikan pada bonus demografi.

 510 total views,  6 views today

Harfani

Harfani, sekarang sedang melanjutkan pendidikan S2 Magister jurusan Ekonomi Syariah di IAIN Bukittinggi , selesai kuliah S1 di STAIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi pada tahun 2014 telah melakukan pekerjaan-pekerjaan profesional yang sesuai dengan disiplin ilmu dan passion. Hingga sampai sekarang tidak pernah berhenti bergerak pada sektor ekonomi, sosial, politik, demokrasi dan HAM lewat tulisan dan sosial untuk menguatkan aktualisasi diri. Masih terus belajar menulis dan menciptakan narasi yang berbeda dengan orang lain. Silahkan kunjungi blog pribadi harfanisme.wordpress.com untuk melihat dan membaca pemikiran saya.

Add comment

Highlight option

Turn on the "highlight" option for any widget, to get an alternative styling like this. You can change the colors for highlighted widgets in the theme options. See more examples below.

Flag Counter