Mengeja Indonesia

Rumah Sebagai Kenangan Tidak Terlupakan Bagi Rocky Gerung: Sengketa Lahan atau Hal Lain?9 min read

Diantara pentolan non partisan, Rocky Gerung patut bersuara kritis dalam ruang yang berbeda.  Sosok seperti Rizal Ramli, Refli Harun, dan Said Didu tidak lebih menarik, ketimbang Rocky Gerung. Mungkin tidaklah berlebihan jika menyebutkan demikian.

Meminjam istilah warganet, dia tidak asal banyak bacot atau asal bunyi. Satu sisi, demi perubahan, suara kritisnya diharap membuat ‘enak tenang’, malah suguhan guyonan sekaligus “kuping panas, memerah” bagi tidak sepaham dengannya. Terlepas bahwa ada diksi yang sering dilontarkannya membuat tidak enak kedengaran, seperti kata ‘dungu’.

Sisi lain, dia diundang kemana-mana, bak selebritis. Dia terlibat dalam menyemarakkan diskursus intelektual dan blantika perpolitikan di tanah air. Selebihnya, saya kira biasa-biasa saja.

Jika kita menyimak betul kata-kata dan argumennya, dimana dia membahas secara tangkas mengenai peristiwa atau hakikat realitas yang terjadi di tanah air, yang rujukannya dari pernyataan dan ulah para pesohor negara hanyalah cara dia untuk menolak setiap pandangan konvensional. Sumber kebenaran menghilang dalam ketidakbecusan memandu kehidupan bangsa melebihi negara setelah dipisahkan dari tujuan bersama melalui konstitusi. Kata-kata dan penalarannya tidak berada diantara Epikurean dan Stoisean. Dia seakan-akan mencari kembali semua sumber pengetahuan.

Beberapa pemikiran kontemporer, realitas menunjukkan dirinya di hadapan Rocky Gerung, betapa rapuhnya kehidupan dan pemikiran. Sesungguhnya dia juga menunjukkan betapa kuatnya harapan masa depan. Dia ingin membuka tabir bagaimana cara dunia bekerja di atas panggung kuasa. Dia tidak membiarkan orang-orang larut dalam kegalauan menghadapi pemikiran modern, ilmiah, tercerahkan, dan termaterialiskan. Dia menentang dirinya sendiri tatkala menemukan kata-kata dan argumen yang berbelit-belit dan tidak koheren di luar dirinya. Untunglah lekas-lekas kita bertanya pada diri sendiri. Dimanakah semua anak bangsa ini akan menempatkan kedunguan berlarut-larut dalam dunia virtual? Tetapi, penalaran Gerungian terdapat kesesuaian antara Tugu Proklamasi dan Dunia Fantasi Ancol, Kota Dunia dan ‘Rumah Kenangan’ di zaman sibernetika, yang berbeda dalam mengungkap dirinya saat dihubungkan dengan perkembangan kehidupan mutakhir.

Ketika dia ditanya, Rocky Gerung tidak selamanya menjawab sesuai dengan benak seseorang. “Aku baik-baik saja di sini. Aku sendiri membaca buku logika hingga semalam suntuk. Aku tidak tinggal diam saja ketika aku melihat dan mendengar permasalahan yang sedang kita hadapi. Lalu, sejak pagi, sebelum aku sarapan, aku lebih memilih untuk tidak mengasingkan diri dari pengetahuan tentang makna, simbol, dan tanda. Hari-hari seperti aku lalui, aku sulit untuk mengisolasi dan memisahkan diriku dari gelumbung suara ketidakberdayaan, dari pengalaman-pengalaman spontan di sekitar diri kita sendiri. Aku mencoba untuk memahami melalui gaya dan cara mereka sendiri, sehingga aku sendiri mampu membaca jejak dan tanda, menelusuri relung-relung jiwa dan pikiran, mengupayakan cara pengorganisasian tubuh dan perilaku diri atau dari mereka, sehingga akan terbentuk perubahan diri secara bertahap ke arah kebijaksanaan, kerasionalan, dan kebahagian bersama. Kita tentu mengetahui perbedaan mulut atau kata-kata kasar dan peringai yang tidak tertib nalar.” Semuanya kita melihat sebagai bagian dari cara berpikir yang berlainan antara satu sama lain.

Sejak era milenial, sosok Rocky tidak menyangka dirinya menjadi sosok publik. Kehidupan sosial dan intelektual sama pentingnya dalam dirinya. Sampai saat ini, belum ada data berapa banyak followers dari kaum milenial. Padahal dia adalah sosok berpengaruh. Hal yang cukup membuat kita gregetan, ketika dia berkata: “Aku bukanlah Juru Selamat, aku adalah   sang Adil, aku adalah Nabi. Anda semua penduduk cukuplah mendengar dan mematuhiku.” Kita akan bersabar untuk menunggu bagaimana cara berpikir, bernalar, dan bertindak Rocky Gerung saat permasalahan menimpa dirinya.

Sebelum permasalahan datang, dia dianggap telah terlatih, dalam tempaan hidup yang membingungkan. Wajar-wajar dan sah-sah saja dalam alam demokrasi, perbedaan tajam antara Mukhtar Ngabalin dan Rocky Gerung, yang tampil di layar televisi, YouTube, dan kanal media sosial lain. Kita akan menunggu tanggal mainnya lagi.

Kita melihat, hal itu terjadi karena kita terbiasa atau alasan lain untuk menggunakan bahasa halus yang dibentuk oleh “hirarki ujaran” dari pusat kuasa. Lebih seru lagi, penilaian atas Rocky Gerung hanya   perbedaan sudut pandang atau cara berpikir.

Yang aneh, jika kita tidak ingin berpikir lagi. Sesuai penelaannya, dia nampaknya tidak terpikat pada sesuatu yang formalistik. “Ijazah menandakan seseorang bersekolah, bukan menandakan dia berpikir”, kurang lebih begitu ungkapnya.

Reaksi pembaca di grup WA pun bermunculan. Sebagian tidak setuju menjadi hal yang biasa saja, sama halnya dengan anggota grup hanya menyimak alias tidak berkomentar apa-apa tentangnya.

Sepak terjang atau pandangan berseberangan jalan dengan rezim kuasa tidak lantas kita terburu-buru untuk membuat kesimpulan bahwa ada kaitannya dengan kekuatan politik yang berada dibelakangnya. Cara berpikir demikian akan lama kelamaan mengarah pada apa yang disebut ‘cancel culture’. Agar tidak terus berkicau di luar dan bisa memengaruhi banyak warganet di media sosial, lebih disingkirkan dari realitasnya.

Begitulah, siapapun rezim yang tidak adil, sang penyuara kritis mesti tampil. Membungkamnya berarti kesia-siaan.

Tetapi, jika rezim kuasa menghidupkan kehidupan dan pemikiran,  memihak pada rakyat kecil, apa salahnya bersama-sama kita mendukungnya.

Pikiran bebas dan suara kritis diantara sebagian orang mengambil posisi tiarap tetap masih diperlukan agar perubahan perlahan-lahan menjadi kenyataan. Sebaliknya, kita mengangkat pandangan yang lain dan aneh terhadap otokritik dari Rocky Gerung sama pentingnya dalam ruang yang berbeda.

Waktu akan berbicara lain. Sang Profesor yang dijuluki oleh penggemar Rocky Gerung diuji dengan permasalahan. Melansir salah satu laman media daring, bahwa kepemilikan rumah dan lahannya terancam digusur[1]. Menurut pembaca atau warganet, perkara itu pertama kali dihadapinya.

Rumah nalar yang dia bentuk ternyata lebih cocok untuk kaum yang sepaham dengan alur berpikirnya. Bangunan pemikiran yang dia coba dialogkan antar anak bangsa rupanya ada ‘jurang diskursus’ yang cukup dalam. Lebih-lebih lagi, artikulasinya bertentangan dengan logika dan selera kuasa.

Kita tidak mengetahui dimana ujung pangkalnya, yang jelas kuasa negara dan Rocky Gerung menempuh jalan kebenaran masing-masing dengan logika dan seleranya.

Paling penting, kita dan Rocky Gerung atau siapalah perlu membebaskan dirinya dari egoisme, yaitu merasa dirinya paling benar, yang lain tidak. Kata lain, memonopoli kebenaran sesungguhnya bukanlah kebenaran, melainkan ilusi dan prasangka mengenai rumah sebagai tempat tinggal itulah banyak dipahami oleh orang-orang yang perlu apa sesungguhnya untuk diketahui tentangnya.

Pembicaraan mengenai rumah Rocky Gerung dan seputar lahannya. Orang-orang atau warganet tidak merasa perlu untuk mengetahui serinci-rinci sekecil mungkin apa persis rumahnya.

Daya minat yang kuat dari Rocky Gerung dalam kehidupan dan kerja sosial dan intelektual adalah mengisi ruang kosong yang belum dikerjakan oleh orang lain.

Boleh jadi, perkara rumah dan lahan dihadapinya menjadi rangkaian biografi yang akan dituliskan kelak. Jika mereka sudah mengetahui apa celah darinya, maka dia akan menalar dan ditulis oleh pihak lain.

Jika mereka tahu apa ending dari perkara rumah atau lahan yang akan ditulis oleh orang, adakah minat Anda untuk membacanya? Bagaimana jalan ceritanya sehingga muncul perkara itu hingga terbit tulisan dan apa kaitannya antara sepak terjang dari pemilik rumah dan kewibawaan simbol negara? Kita tidak perlu berminat menulis mengenai rumah dan lahan, kecuali ada sesuatu yang menyelimutinya. Kita juga ambil pusing memikirkan lalu menuliskannya jika belum terjadi di masa akan datang. Yang perlu digaris dibawahi, kepentingan dan permainan apa sehingga beritanya bernilai, sampai kita mengetahui kapan akan berakhir kisah rumahnya.

Rumahnya tidak sekedar tempat tinggal atau hunia biasa. Di sanalah pikiran, imajinasi, kesenangan, dan mimpi diasah. Perpaduan antara rumah material dan imaterial menggairahkan pemilikinya. Sesuatu yang imaterial dimaterialisasi berupa harga, gugatannya dalam bentuk ganti rugi, berupa uang satu trilyun rupiah. Sesuatu yang bersifat kuantitatif yang dikualitatifkan di balik kenangan rumahnya.

Tanda kenangan yang mengakhiri nilai nominal, dipertegas oleh kunjungan beberapa tokoh nasional, diantaranya Fadli Zon dan Fahri Hamzah. Karena kenangan, rumah menjelma menjadi kata dan benda-benda sensitif. Jadi, sensitif melebihi sensasi darinya, jika memang ada. Perbincangan intelektual menghidupkan rumahnya  sebagai nilai tanda, yaitu tanda kenangan. Jalinan intelektual bersifat imaterial menerobos rumah bersifat material-lahiriah.

Mengubah cara berpikir manusia lebih berat itulah tugas dan peran intelektual, ketimbang membangun hingga menggusur rumah bersifat material atau bendawi belaka.

Semuanya akan terlupakan karena cara mereka berpikir selalu dibenturkan antara oposan dan yang bukan. Cara berpikir orang tentu saja berbeda-beda; mereka memiliki cara berpikir dalam kaitannya dengan politik, sosial, sejarah, ekonomi, hukum, dan filosofis. Di samping juga berkaitan dengan kategori universal dan bersifat umum justeru mengarah pada sesuatu paling menarik untuk dibahas. Mengapa ada kecenderungan orang dan termasuk Rocky Gerung tertarik membicarakan kategori umum dan universal? Sebesar apapun perbedaan sudut pandang dengannya tidak lebih dari perkara cara berpikir.

Pernyataan Rocky Gerung berhadap-hadapan dengan kekuatan berpikir logis dari seseorang. Wajarlah ada ada saatnya dia menjadi sosok sentris yang siap diguliki.

Menjadi sosok kritis mesti bersedia pula untuk dikritisi. Ada orang dan setiap orang sepatutnya bersedia dinilai dan dikritisi, bahwa Rocky Gerung jelas oposan yang menyebalkan untuk sebagian pihak. Dia lebih memilih mengobral duka cita, menampilkan dirinya sebagai orang yang tidak bertanggungjawab, berlagak kekanak-kanakan, merasa paling benar saat tersudutkan dan menyalahkan orang lain.

Dia dinilai sebagai sosok yang melontarkan pernyataan yang menjemukan. Dunia dipandangnya adalah dunia narasi yang luntang-lantung.

Akhirnya, dia dianggap telah menyamarkan keberadaan program sertifikasi tanah beserta kegunaannya. Bahkan perolehannya secara gratis, orang-orang hanya membayar berkisar tiga ratus ribu rupiah. Rumah yang didiaminya berkaitan dengan status kepemilikan tanah, yang ditandai oleh surat tanah atau bukti fisik dan tercatat di Badan Pertanahan Nasional[2]. Keberadaan rumah dan kepemilikan tanah dikukuhkan kesahihannya lewat administrasi. Sejak kapan dan berapa lama dimilikinya menjadi deretan pembuktian lahan, tempat dimana rumahnya berdiri.

Pernyataan lebih jelas jika terdapat sebuah jejak yang terlacak dari awal tanpa sebuah jalan setapak yang tersembunyi dan sangat sempit, tetapi tidak layak bagi dunia filsafat. Martin Heidegger yang mengantarkan betapa rumah tidak sekedar rumah, yang dihuni begitu saja. Teka-teki filosofis tentang rumah perlu disingkap oleh Rocky Gerung. Hanya dengan memperlihatkan jejak dan tanda terhadap semua pihak ternyata lebih leluasa pemilik rumah, ketimbang menerima bukti-bukti secara sah kepemilikan tanah sebagai kebenaran.

Kita mungkin akan mendengar tatkala dia betul-betul terbukti di lapangan, ternyata dia memanfaatkan keadaan dari perkara tanah atau rumahnya terancam angkat kaki, yang ditandai dengan gugatan dari perusahaan pengembang menjadi ‘panggung’ untuk dirinya. Maka tidak mustahil Rocky Gerung tidak lebih sebagai intelektual yang tidak jelas nan buram.

Seluruh kenangan dari rumah di masa lalu adalah ciri rumah nostalgik ternyata lahir dari rumah nalar yang semu dan rapuh di atas kerangka berpikir logis dan kritis. Mengapa? Saat kenangan yang menipunya, ia akan mengalami kehancuran seiring tanda waktu, yang menjelaskam batas akhir dari rumah dan lahan kita.

Tidak ada alasan lagi untuk nostalgia ketika dialiri oleh selera rasional di balik politik sesaat. Masa nostalgia kembali melayang-layang di atas realitas, dalam kenangan dari masa yang tidak mampu membuka jalan menuju cara berpikir baru, malah akan dimusuhi oleh para penggemarnya. Orang-orang yang sudah kenal dengan sang pemilik rumah yang terancam digusur dalam kenangan mulai merasa asing jika semua hal yang dikagumi darinya tidak lagi menyatu dalam kehidupan sosial dan intelektual.

Rocky Gerung tidaklah terlalu sulit dipahami bagi orang-orang yang memiliki cara berpikir memiripinya atau orang yang berpikir melesat jauh ke depan. Dia tidak seperti labirin atau teka-teki. Tidak juga kita berada dalam kondisi paling buruk terhadap cara berpikirnya tentang rumah dan lahan. Kita mencamkan baik-baik, bahwa setiap orang memiliki ‘celah’, yang bisa menelan kenangan. Dari rumah dan lahan, kita, dia atau pihak lain akan mengubur kenangan masa lalu hanya karena terdapat celah, yang setiap saat bisa terkuak.


[1] Melansir salah satu laman media daring, bahwa kepemilikan rumah dan lahannya terancam digusur. Diakses dari https://m.tribunnews.com/nasional/2021/09/10/rumahnya-terancam-digusur-rocky-gerung-kalau-saya-gugat-balik-saya-gugat-rp-1-triliun, tanggal 11 September 2021, pukul 07.27 WITA.

[2] Status kepemilikan tanah, yang ditandai oleh surat tanah atau bukti fisik dan tercatat di Badan Pertanahan Nasional. Diakses dari https://www.kompasiana.com/paulodenoven/613b65a206310e342a0751c2/profesor-rocky-gerung-dalam-sengketa-lahan-argumennya-mirip-penghuni-girli, tanggal 11 September 2021, pukul 07.13 WITA.

 183 total views,  2 views today

Ermansyah R. Hindi

ASN/PNS Bappeda Kabupaten Jeneponto/ Aktivis Masyarakat Pengetahuan

Add comment

Highlight option

Turn on the "highlight" option for any widget, to get an alternative styling like this. You can change the colors for highlighted widgets in the theme options. See more examples below.

Flag Counter