Mengeja Indonesia

Mahasiswa Harus Berontak Terhadap Komersialisasi Pendidikan4 min read

Tulisan ini berangkat dari keresahan pikir dan diskusi-diskusi sekelompok mahasiswa dalam beberapa hari terakhir ini menggeluhkan pembayaran UKT Dan SPP yang setiap tahunnya harus di tunaikan sebagai kewajiban menuntut pendidikan di Perguruan Tinggi.

Akhir-akhir ini kita kembali di kejutkan dengan berbagai situasi kebijakan kampus yang mencekam mahasiswa. Persisnya tentang mahalnya biaya kuliah mahasiswa meski di tengah kondisi Covid, nama ini tak ding dari sebagian mahasiswa komersialisasi pendidikan namanya dalam perguruan tinggi, namun tak bisa ku sebutkan dari mana universitas itu berada tinggal mahasiswa sendiri melihat, membaca dan menganalisis terkait Biaya Kuliah yang setiap semester kian memuncak di tambah lagi kondisi perekomian orang tau yang kian merosot di tengah badai Covid 19.

Urusannya tak jauh dari mahalnya biaya kuliah hingga kian sulitnya mendapatkan pembayaran setiap semesternya. Pada kasus itulah lembaga kemahasiswaan mengambil sikap berontak atau bisa memediasi berbagai keluhan mahasiswa agar kampus tak bisa dikuasai oleh segelintir pecandu duit.

Duel untuk melawan komersialisasi pendidikan tak bisa di elukan bahkan tak hanya terjadi kali ini saja di dalam kampus, banyak taktik dan strategi yang kian di sajikan untuk melumpuhkan kebijakan tersebut. Secara wacana memang terus dikembangkan opini yang melucuti kelemahan komersialisasi pendidikan. Tampil pula para korban langsung dari kebijakan sadis ini. Tak jarang para aktivis mahasiswa itu turun untuk melakukan demo besar-besaran. Sikap mereka jelas yakni komersialisasi bukan solusi, perguruan tinggi bukan ladang untuk mencari laba dan keuntungan. Rakyat kian menjerit akibat kebijakan yang tak berpihak kepada mahasiswa.

Tapi ini bukan pertarungan heboh yang selalu kita gembor-gemborkan sebagai mahasiswa. Serangan itu diarahkan pada kebijakan bukan personal pimpinan birokrasi hanya saja kita semua mesti rasional menanggapi segala aturan dan kebijakan yang ada. Sasaran kutukan dan pemberontakan itu ada pada peraturan yakni harus di sesuaikan dengan keadaan perekonomian mahasiswa. Tulisan yang menyengat memang diperlukan untuk menghantam badai siapapun yang menghalangi perjuahan itu sendiri.

Sayangnya tak selamanya pula segala tulisan dan agitasi untuk membuat marah mahasiswa tidak bisa memacu gerakan. Itu sebabnya di beberapa perlawanan pada komersialisasi pendidikan maupun kebijakan kampus yang tak berpihak kadang-kadang kehilangan orientasi dan tujuan utamanya yakin bagaimana bisa menjawab keluhan dan masalah-masalah mahasiswa.

Meski perlawanan itu hanya berputar pada wacana yang habis di jajakan di atas meja kopi pada setiap malamnya selalu menjadi topic perdebatan dan kemudian tak ada aktualisasi diri dan implemetasi yang nyata di lapangan, bagian sebagian orang mahasiswa seperti ini di sebut lebih banyak ngomong dari pada tindakan. Aliran dukungan massa pun tak ada henti-hentinya pada setiap aksi demonstrasi hanya mengulang apa yang jadi keluhan: kampus kian mahal.

Simpati dari beberapa kalangan memang turut berdatangan tapi tak hanyut di dalamnya untuk bisa bergerak bersama, emosi tidak jadi gumpalan aksi yang keras. Darah juang dan lagu buruh tani tak lagi di gaungkan yang menjadi seruan dan pertanda perlawanan.

Meski tiap-tiap orang lalu merasa sudah berjuang total: padahal perseteruan diawali dari situ yang merasa mendominasi dari kawan seperjuangan yang lain. runyamnya lagi, gerakan mahasiswa dilumpuhkan melalui prosedur dan intervensi dari senior-senior maupun pejabat kampus yang berafialiasi dengan birokrasi. Perjuangan dan pergerakan selalu menjadi siklus bahwa yang tertindas akan kembali menindas dan itu tergambar dari beberapa mahasiswa maupun senior yang bermental feodalisme, bermental penjajah . Pernak-pernik dan realitas itu yang kadang masih tumpul dibaca oleh mahasiswa.

Seperti pengamatan penulis meski dia juga berstatus sebagai mahasiswa sangat menyadari bahwa polarisasi gerakan demonstrasi mahasiswa sudah merambah pada lingkaran-lingkaran akademik apa lagi di tambah dengan sikap pragmatisme dan apatis tak bisa terhindarkan di segerombolan mahasiswa. Hal tersebut akan selalu melumpuhkan dan melemahkan setiap gerakan yang di bangun.

Hal di atas setiap kali terjadi dalam tubuh mahasiswa itu sendiri, di atas krisis legitimasi dan kepercayaan lembaga kemahasiswaan menuntut kita harus ambil bagian dari setiap persoalana yang ada, taka da lagi saling mengharapkan ataupun hanya berlapang dada menerima keadaan tersebut. Pada mulanya ini adalah berangkat dari keresahan pikir yang terwakili dari beberapa kalangan mahasiswa. pergulatan dengan isu gerakan mahasiswa dan komersialisasi pendidikan yang penulis geluti nyaris setiap semestrer sebagai mahasiswa tetap di perhadapkan dengan masalah tersebut.

Perlawanan tak lagi menjadi bahasa bersama dalam setiap persoalan mahasiswa maupun masalah rakyat yang tertindas. Begitupun pamflet dan seruan agitasi tak lagi menggugah mahasiswa untuk bergerak dan berjuang, hanya bersikap pasrah dan menungguh ratu adil untuk menyelesaikan segala pernak pernik mahasiswa itu sendiri. Kontas sekali dengan kenyataan yang kian menjajah mahasiswa.

Pendidikan tak lagi sama seperti yang di inginkan mahasiswa di awal masuk kampus. Tanggung jawab negara dalam memenuhi anggaran pendidikan dipangkas sedemikian rupa untuk memenuhi kepentingan jangka pendek mereka, Membingkan. Berbagai regulasi dikeluarkan untuk menghilangkan tanggung jawab tersebut. Pendidikan dijadikan komoditas dan pasar untuk meraup keuntungan sebanyak-banyaknya . Kapitalisme pendidikan kian berhasil menjajah dan merampas hak-hak mahasiswa itu sendiri. Lalu harus bagaimana ? Sedang memberontak di jadikan sebagai buih di tengah perjuangan sedang yang lain duduk dan mencari aman.

Di momentum seperti ini harus di butuhkan seluruh uluran tangan mahasiswa untuk menyelesaikan segala persoalan yang ada, Di butuhkan alternative konsolidasi dan mobilisasi gerakan yang harus massif jika memang di perlukan. Namun upaya-upaya mediasi dan persuasif mesti harus lebih di ke depankan. Penulis juga adalah bagian dari actor konsolidasi gerakan dalam memperjungkan masalah-masalah mahasiswa di ddalam kampus maupun rakyat di luar kampus.

Semoga Bermanfaat.

 1,259 total views,  2 views today

Rasmin Jaya

Mahasiswa Universitas Haluoleo Sulawesi Tenggara , Demisioner Ketua Kesatuan Pemuda Mahasiswa Maperaha Muna Barat , Mantan Pengurus BEM UHO periode 2019-2020 Dan Saat ini menjabat sebagai ketua Dewan Pimpinan Komisariat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia FISIP-UHO.

1 comment

Highlight option

Turn on the "highlight" option for any widget, to get an alternative styling like this. You can change the colors for highlighted widgets in the theme options. See more examples below.

Flag Counter

View My Stats