Mengeja Indonesia

Suara Masih Senyap, Ayah Berbicaralah Tentang Diskursus Kuasa!18 min read

Pembentukan wilayah obyek-obyek yang tidak sepenuhnya baru pada kemungkinan bahwa relasi kuasa bisa mengungkap ucapan, teks, dan adegan yang cukup menggelikan, dimana sebagian datang darinya.

Kemunculan wilayah obyek-obyek di sini sebagai sebuah wilayah lebih dipusatkan pada relasi-relasi dan proses-proses, memungkinkan kita mencoba untuk mendeskripsikan dan menelaah secara khusus tetapi singkat mengenai peristiwa pandemi corona melanda di negeri ini dan di bagian bumi lain dalam ‘relasi kuasa’, yang suaranya muncul lebih awal dari teks.

Apa saja suara yang muncul di luar, diantaranya pernyataan-pernyataan. “Jika menampilkan skenario terburuk, maka kita telah siap mengantisipasi kemunculannya”. “Jika tidak ada efek penurunan penularan virus secara signifikan selama sekian hari, maka kita perlu pembatasan mobilitas”.[1] “Selama tidak jelas apa dampak yang ditimbulkan oleh pembatasan kegiatan masyarakat, kita akan revisi kebijakan lama menjadi kebijakan baru.” Kita percaya pada sesuatu yang terjadi secara ajek, ketika kebijakan berubah-ubah karena perkembangan mutakhir dan kondisi berbeda yang melatarinya.

Setiap pernyataan yang keluar dari kekuatan penampilan tubuh, pengambil kebijakan tidak harus memberi pengaruh pada kehidupan kolektif atau individual dan pelaksana kebijakan itu sendiri secara institusional.

Dalam konteks kuasa administratif, kita mengetahui bahwa kelompok pernyataan sebagai gema, yang dimungkinkan diterima atau ditolak menjadi kebijakan, yang dimuat dalam regulasi yang tertulis secara resmi.

Dari orang-orang yang berada di luar rezim kuasa negara, mengatakan: “Pandemi corona tidak lebih dari rekayasa.” “Penyakit itu tidak ada.” “Orang lebih takut pada corona, daripada yang lain.” Begitulah perbedaan dengan pilihan mode berpikir yang cenderung pada kenampakan penampilan lahiriah atau benda-benda tampak dari dunia indera, dibandingkan sudut pandang apriori atau intelek manusia. Semuanya berada dalam lingkaran hirarki ujaran, sebelum dan setelah regulasi tersusun mengenai daftar sektor pembatasan[2] dibuat sedemikian rupa menariknya. “Katakanlah kebenaran pada kita!” Kegaguman pada ‘hirarki ujaran’ hanya melahirkan kepatuhan sekaligus pelanggaran batas-batas.

Kadangkala, jejak-jejak kasus penyakit mematikan seperti pandemi corona terlacak di tempat lain adalah jejak-jejak yang menimbulkan kontak lain[3]. Paling tidak, jejak-jejak yang dimaksudkan perlu dipertanggungjawabkan kebenaran ilmiahnya di hadapan kita dan di hadapan kelahiran kuasa administratif dalam prakteknya di seluruh sendi kehidupan. Kuasa negara memiliki tiruan dirinya yang mesti dipatuhi oleh penyelenggara negara untuk mengurusi emigrasi, agama hingga fakir miskin. Aparatur negara seperti polisi, militer, dan aparatur pemerintahan lain sebagai institusi negara atau pelayan-pelayan sipil untuk mengurusi dan mengintervensi hal-hal dari organisasi kemasyarakatan, ritual keagamaan hingga unit kegiatan produksi skala kecil, dari kehidupan intelektual hingga akses jalan, jalan raya, sarana, dan prasarana umum lain. Di sini, tiruan kreatif dan produktif dari setiap aparatur negara menjadi cara untuk mengubah dari sistem administrasi ke disiplin sebagai keseluruhan tampak tidak nyata, tetapi nyata pada bagian tugas dan fungsi kontrol dan pengawasan atas tubuh individual, baik saat keadaan normal maupun dalam keadaan krisis atau kenampakan dalam kehidupan yang tidak tertib.

Diantara tugas dan fungsi kuasa negara ditunaikan untuk menghadapi kritisisme, yaitu dengan jalan bagaimana melayani dan mengelola ucapan dan teks atau diskursus, yang bergerak dari politik kesehatan ke mekanisme kontrol, pengawasan, dan pembatasan aliran masuk warga negara asing hingga desas-desus segala macam teori konspirasi atau ada jenis produk vaksin berbahaya, yang bisa mendatangkan tawa dari luar dirinya sendiri. Demi ketertiban, keamanan, dan pertahanan negara di tengah krisis kesehatan disitulah peran polisi dan militer pun turut terlibat untuk menanganinya. Obyek pelayanan dan pengelolaan yang dijalankan oleh kuasa negara dengan segala perangkat aparaturnya adalah manusia, secara individual dengan seluruh relasi kehidupan sosialnya. Kata lain, Individu yang tersosialkan menjadi kuasa atas dirinya sendiri untuk mematuhi peraturan dalam hubungannya dengan kuasa lain.

Sebagai disiplin akademik, kuasa dalam pemerintahan memiliki kemampuan untuk menganalisis, mengklasifikasi, dan mengelola perbedaan internal, tatkala terjadi pandemi. Perbedaan yang ada hanyalah perbedaan teknik dan prosedur atau strategi penanganan akumulasi konsep, akumulasi penularan, dan hingga akumulasi kematian. Peristiwa krisis dan malapetaka saat ini telah melampaui teori, termasuk seluruh analisis yang menyertainya.

Sejauh ini, kuasa negara memainkan dirinya dan secara diam-diam mengambil sasaran di luar dirinya. Berkat kuasa bukan hanya mekanisme dan efek yang melekat padanya, tetapi juga memiliki kemampuan untuk mereplikasi tiruan dalam realitas atau mereproduksi sel-sel kehidupan melalui koordinasi, sosialisasi, kontrol, dan pengawasan yang terpadu, maka ambang batas kebebasan individu selama bisa dilacak keberadaannya diubah menjadi proses pendisiplinan melalui relasi kuasa. Meskipun terdapat sisi terbalik menurut esensinya, pembentukan kemiripan, identitas, dan perbedaan relasi antara organik dan non organik juga terjadi dalam virus dengan cara membiakkan ulang dirinya melalui jaringan mutasi di tengah lingkaran alam.

Kita mengetahui, kuasa negara tidak luput untuk mengurusi atau mengatasi penyakit, pandemi, epidemi, dan permasalahan kesehatan lain, termasuk melayani dan mengelola wilayah dampak-dampak yang ditimbulkannya seperti pembelajaran anak-anak sekolah, perkantoran, pasar, tempat rekreasi, hiburan, sarana, dan prasarana kebutuhan dasar lain, kamacetan lalu lintas hingga menurunnya daya beli masyarakat. Semuanya itu diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan atau kebahagian hidup bersama. Suatu pencapaian ketidakhadiran pandemi berarti menopang kebahagian hidup melalui kuasa disipliner diri, keluarga, antar individu dan antar kelompok masyarakat dalam sejumlah wilayah.

Paling penting juga bagaimana syarat kedisiplinan dalam relasi kuasa antara organik (pengambil kebijakan, mesin pengawas-pengontrol) dan non organik (pengetahuan, administrasi) terlebih dahulu terbangun dalam kuasa negara, akhirnya akan mengarah pada apa yang disebut ‘otodisipliner penyelenggara negara’. Dalam kemunculan sistem pengelolaan pandemi, ditandai dengan pembentukan disiplin administrasi pencatatan, pemantauan, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan kebijakan pemberlakuan pembatasan secara lahiriah dengan memerhatikan nama, usia, seks, tempat tinggal, dan gender melalui tubuh selama kurun waktu sepekan atau lebih, dan bisa jadi kemungkinannya berlanjut pada kasus atau mutasi virus baru muncul ke permukaan, sehingga kemampuan aparatur harus diuji dengan membuat skenario dan langkah antisipatif, sekalipun dalam kondisi terburuk. Disitulah pembentukan mekanisme disipliner disusun dan dijalankan dalam sebuah sistem yang terpadu dan bersifat abstrak mengiringi perjalanan kebijakan.

Alangkah naifnya jika sistem terpadu dan bersifat abstrak tidak disertai dengan kekuatan penampilan tubuh dalam keserempakan antara penanaman disiplin dan sirkulasi protokol kesehatan, mekanisme disipliner dan ketersediaan alokasi sumber daya, yang memungkinkan bisa diamati setiap titik dalam ruang yang terbagi-bagi dan lengkap.

Sejak awal, registrasi kesehatan sebagai bentuk kebijakan kuasa administratif pada orang-orang yang terkonfirmasi kasus Covid, kematian, dan kesembuhan. Selanjutnya, mereka dicatat dalam daftar rincian sekecil-kecilnya dan dirangkum dalam sebuah rekapitulasi. Pencatatan kebutuhan dan pelibatan petugas kesehatan juga dibangun dalam keserempakan relasi antara kuasa disipliner dan masyarakat disiplin, disiplin aparatur negara dan disiplin ilmiah ditandai oleh penggunaan prosedur penilaian atas kesahihan data kasus penyakit atau pandemi. Perpaduan disiplin aparatur negara dan disiplin ilmiah ditandai oleh penggunaan kerangka berpikir logis-teknokratis dan rasional, observasi, bukti lapangan, verifikasi, dan uji laboratorium. Misalnya, relasi antara setiap individu yang sakit, sembuh, dan meninggal dengan penanganannya menurut patokan-patokan pelayanan umum juga sesuai disiplin medis dan disiplin lain melalui representasi kuasa.

Pemisahan antara pasien yang terpapar, mana yang sakit, dan sehat bisa saja bercampur aduk satu sama lain. Untuk itu perlu ditopang oleh ‘kuasa yang berlipat ganda’ dari rangkaian relasi-relasi kuasa disipliner, meliputi kuasa negara, kuasa medis, kuasa biologis, kuasa psikiatris, kuasa sosiologis, kuasa demografis, dan kuasa lain yang terbagi-bagi seperti keluarga hingga kuasa orang per orang.

Kuasa lintas disipliner termasuk keluarga dan orang per orang bisa bersama-sama untuk menangani kebijakan pembatasan secara hirarkis maupun non hirarkis dalam sistem relasi yang kita kenal selama ini.

Suatu mekanisme disipliner yang ditekankan dalam kebijakan pembatasan mobilitas tidak terletak pada seberapa banyak lonjakan kasus corona maupun ketersediaan masker, cuci tangan, alat perlindungan diri lain, jaga jarak, atau menjauhi kerumunan, melainkan pada rincian sekecil-kecilnya sosialisasi, kontrol, dan pengawasan atas tubuh individual. Disamping itu juga terletak pada gejala-gejala dini kemunculan pandemi berada dalam tanda peringatan yang terukur dan terpadu dibalik sesuatu yang jelas dan terpilah dalam pengetahuan manusia.

Dalam perkembangan selingan analisis, pergerakan kolektif dan individual masih banyak di beberarpa wilayah seiring dengan pergerakan virus ada dimana-mana memasuki celah-celah klaster baru dan kelompok usia anak-anak. Pembentukan relasi antara kuasa negara dan kuasa epidemiologis-virologis, bentuk pengawasan dan pencegahan penularan virus dari varian baru menyediakan peringatan ekstra diarahkan pada kelompok usia anak-anak melalui vaksinasi, yang mengindikasikan ruang terbuka bagi virus untuk melintasi batas atau kelompok usia manusia betul-betul menjadi obyek pengetahuan. Kemungkinan lebih sedikit tertular dari orang mengontrol dirinya agar sering berada di rumah, dibandingkan orang yang memiliki pikiran kusut jika tidak ke luar dari rumahnya dalam sehari saja, tanpa tujuan yang jelas.

Namun demikian, pada satu sisi, tidak semua hal bisa disebabkan oleh virus, di sisi lain, sebagian hal tidak harus berada dalam wilayah teka-teki filosofis. Kita bisa melihat bahwa mengambang bebasnya mekanisme disipliner atau kontrol atas tubuh sama mengambang bebasnya virus. Kita masih berhubungan dengan rezim nilai tukar saling berinteraksi dengan pasar yang dihubungkan dengan realitas luar. Tetapi, kita tidak mengerti jika rezim mutasi virus berhubungan dengan realitas luar melalui sensasi rasa sakit atau persepsi indera tentang kesembuhan, kecuali kita yang bermain dalam pemberlakuan pembatasan kedalaman ruang mutasi virus yang tidak terduga dan pembatasan atas permukaan tampilan tubuh yang tidak jelas. Pada alur yang sama, seluruh mekanisme disipliner, kontrol atau pengawasan atas tubuh bisa berubah menjadi bahan jenaka, yang ditawarkan oleh realitas baru dengan menyelipkan relasi antara kekuatan pencegahan virus corona dan virus komputer membentuk sebuah aliran bio-mesin (hasrat, mimpi, imajinasi, ilusi, ingatan) ( kembali dalam relasi kuasa.

Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat, yang berlangsung dari awal Juli 2021 secara parsial dalam wilayah Jawa dan Bali sebagaimana telah ditetapkan pada hari sebelumnya. Praktek diskursus PPKM darurat di bawah pemerintahan Jokowi tidak terlepas dari tujuan untuk mengidentifikasi permasalahan, kendala, dan sekaligus evaluasi mengenai sejauh mana perkembangan penanganan dan seberapa dampak pandemi Covid-19 bagi masyarakat.

Menurut Worldometer, kasus coronavirus di Indonesia meningkat, dibandingkan di bulan dan hari sebelumnya[4]. Salah satu faktor pendorong lahirnya kebijakan PPKM karena angka-angka korban corona yang terkapar melonjak seperti laporan atau berita dari media lain. Kurva pertumbuhan positif corona menunjukkan pergerakan menanjak. Dari situlah tanda peringatan datang dari pemerintah untuk segera melakukan penangan secara serius atas gelombang penyebaran virus corona berikutnya, berbarengan peringatan World Health Organization (WHO) terhadap varian Delta yang sementara terdeteksi di 98 negara[5]. Penilaian ahli menyatakan bahwa varian Delta berbahaya, karena itu ia mampu bermutasi. Untuk mencegahnya secara medis, kita perlu melakukan vaksinasi cepat dan lambat, yang tidak lebih cepat dari kecepatan penularan varian virus baru, dimana kemunculannya tidak dinantikan sebelumnya, kecuali gelombang penularannya.

Bagi korban atau pasien, tidak ada yang nyata, tidak ada yang imajiner, kecuali pada jarak tertentu di tengah pandemi. Apa yang terjadi ketika jarak ini, termasuk jarak antara yang nyata dan yang imajiner, cenderung menghapuskan dirinya sendiri, untuk diserap kembali atas nama model disiplin? Dari satu urutan penanganan sistemik ke yang lain, terdapat kecenderungan kuat menuju pembatasan yang tidak tersyaratkan, karena ia memiliki celah bagi masyarakat yang tidak terbangun tatanan disiplin, yang mengakhiri penundaan kelahiran nalar dalam kekosongan gambar proyeksi penurunan jumlah terpapar virus corona.

Kekuatan penampilan tubuh yang dibentuk oleh kuasa melalui mekanisme disipliner dalam kebijakan untuk meningkatkan penanganan pandemi. Pembentukan tanda-tanda kelahiran kuasa disipliner dan masyarakat disiplin merupakan syarat untuk menghindari kelahiran mutasi virus corona baru di Indonesia. Model mekanisme disipliner yang dijalankan oleh kuasa negara dengan instrumen kebijakan dimungkinkan menciptakan kebijakan baru seiring tidak efektifnya pemberlakuan pembatasan aktivitas secara kolektif dan individual selama kurun waktu yang telah ditetapkan sebelumnya.

Kemunculan syarat pemulihan kondisi kesakitan dan penurunan angka kematian ditengahi oleh jumlah kesembuhan pasien dari corona menandai babakan baru dalam kehidupan kolektif rumah sakit, tempat dimana isolasi atau karantina sekaligus dinantikan sebagai hari-hari yang mengkuatirkan dan mencekam diakhiri menjadi momentum harapan hidup bisa dirahi kembali. Zaman isolasi adalah tanda kehidupan dipertaruhkan hingga kelahiran dibatasi oleh kematian, dalam bayang-bayang pasien yang meregang nyawa dan di luar dirinya banyak pula berjuang untuk menentukan nasib terakhir demi keselamatan jiwa di bawah relasi kuasa dengan mekanisme disipliner, pengawasan, dan sosialisasi. Zaman isolasi dari bahaya corona menandakan suatu dunia yang menyediakan hospitalisasi dalam kondisi kedaruratan yang melimpah. Ruangan atau bangsal rumah sakit tidak cukup menampung pasien corona. Penampakan ruangan yang menegangkan dalam rumah sakit dilipatgandakan menjadi ruangan khusus pasien terindikasi atau tertular virus. Penggunaan ruangan dalam dan di halaman rumah sakit berubah menjadi deretan gambar duka, laksana pertunjukan besar yang sedang kita saksikan dari dekat.

Kita bisa bayangkan, apa jadinya jika orang-orang menganggap remeh atau acuh dan panik luar biasa terhadap virus corona. Ke luar rumah tanpa protokol kesehatan atau membawanya tetapi sekali-sekali, tergantung situasi dan nanti digunakan saat timbul dorongan dari dalam dirinya. Sedangkan pengetahuan yang bersumber dari data dan informasi pandemi coronandirilis oleh institusi resmi, yang digunakan demi kepentingan publik kadangkala ditelan mentah-mentah begitu saja tanpa teliti, sehingga sebagian orang  membawa dirinya dalam rasa panik. Jika hal itu terbawa-bawa oleh kondisinya bisa menimbulkan tingkat imunitas seseorang menurun. Padahal untuk menghadapinya, kita perlu berada dalam ketenangan yang utuh.

Banyak hal muncul dan melintasi permukaan tubuh tidak begitu kuat pada mekanisme disiplin, terkuak dari kedalaman yang dangkal dibalik kesadaran kita bernama pikiran juga mundur ke samping untuk menghadapi bahaya yang mengancam di luar eksistensi dirinya. Permukaan tubuh yang tidak disiplin, terkesan dianggap enteng dan kurang peduli datang dari ruang ekspresi kita yang meminggirkan representasi dari cara berpikir. Disinilah tantangan dunia dalam menghadapi cara berpikir kolektif dan individual, yang menempatkan oposisi dirinya antara pengetahuan dan kepercayaan, mitos dan realitas terhadap permasalahan pandemi, secara disiplin ilmiah melihat mikroorganisme tidak tampak oleh mata telanjang, tetapi ada dan nyata hadir di sekitar kita.

Kita melihat beberapa tayangan gambar dalam televisi, yang memberitakan masih banyak penyedia makanan dan pengguna jalan yang tidak tertib, sehingga para petugas sibuk untuk mengatur dan mengarahkan pada peraturan yang diberlakukan. Kemunculan aktivitas keseharian dari orang-orang untuk memenuhi kebutuhan dasarnya masih tetap tidak terelakkan di kawasan perkotaan, di daerah perbatasan antar kota. Mekanisme disiplin yang ditegakkan oleh petugas melalui pemeriksaan surat keterangan bebas Covid-vaksin, surat keterangan lain, dan pemeriksaan masker ganda bagi penduduk yang berlalu-lalang.

Ditambah para petugas putar balik kendaraan karena melawan arus lalu lintas atau melakukan penyekatan kendaraan. Memang sejauh peristiwa disipliner berlangsung, kita belum melihat kemajuan signifikan dari PPKM dalam sepekan berdasarkan kedisiplinan maupun penurunan jumlah yang terpapar corona. Begitulah kemunculan-kemunculannya berbeda daripada ketergesa-ketergesaan tindakan, kenekatan, dan kekeraskepalaan terhadap penerapan kebijakan dan bahkan penolakan padanya. Kita juga mengakui, keketatan pengaturan  pembatasan ruang pergerakan memiliki dampak tersendiri seperti fenomena kemacetan sejumlah jalan dan penghasilan menurun.

Sudah tentu, kebijakan kuasa-pemerintah selama tujuh belas hari dengan segenap logika instrumental dan pertimbangan rasional lain terhadap pandemi yang membayang-bayangi kehidupan kita tidak serta merta bisa menyelesaikan permasalahan krisis corona dan menciptakan pemulihan ekonomi nasional. Dalam dunia nyata, perubahan karena kedisplinan sebagai bagian dari mekanisme kuasa dan karenanya esensi kuasa ditemukan dalam regulasi atau prosedur[6]. Sebaliknya, dalam istilah orang, pencarian jalan keluar dari permasalahan krusial dan kritikal bukanlah pekerjaan satu hari satu malam.

Terlepas apakah ia semboyan atau bukan, terdapat pernyataan dalam ruang komunikasi melalui medium: “Kesehatan pulih, ekonomi bangkit.”  Tetapi, semuanya datang dari kekuatan penampilan melalui tubuh, yang darinya kita bisa melihat pengukuran kinerjanya, bukan sekedar semangat, kesadaran atau kehendak yang menggebu-gebu, yang bisa dikatakan sangat sulit diukur, dipastikan, dan dikuantitaskan sebagai obyek pengetahuan.

Dari urutan kronologis, satu hal penting patut dipertanyakan mengenai pembentukan relasi antara pernyataan dan gema akan berbeda ketika kita mengucapkan selamat tinggal pandemi sekarang juga tampaknya mulai merambat pelan-pelan kedengaran. 

Sebaliknya, kita menyambut selamat datang pandemi dan berusaha berdamai dengan pandemi, tetapi apa yang ingin kita bicarakan semalam suntuk, jika ternyata kita juga tidak ingin mundur dari pergolakan krisis ganda, yaitu krisis kesehatan dan bisa dikatakan ancaman krisis utang negara menjadi istilah krisis utang Covid. Meskipun IMF memberi ‘lampu hijau’[7] padanya, ia setidak-tidaknya pernah memiliki gema, yang kemungkinan pergerakannya menuju arah lain.

Mengapa kita mengatakan selamat datang pandemi? Terdapat tiga alasan. Pertama, re-diskontinuitas. Alam menyediakan perubahan struktur dan karakter, yang bergerak dari satu virus ke varian baru, dari varian baru ke varian lain. Pembaruan dan mutasi virus mengalir dalam kehidupannya sendiri, yang bergerak secara non dialektis. Eksistensi virus memiliki kemampuan untuk memperbarui dan memutasi dirinya, dari satu titik ke titik lain dalam ruang yang berbeda. Kedua, spekulasi. Pergolakan persepsi atas wilayah penyebaran virus bukanlah berdasarkan kuantitas, melainkan tanda indikasi pada tingkat spekulasi yang relatif tinggi. Spekulasi ‘biopolitik’ (diperkenalkan oleh Michel Foucault.

Secara harfiah, biopolitik[8] adalah relasi atau gabungan antara biologi manusia dan politik. Misalnya, ‘kesehatan’ dan ‘usia harapan hidup’ di tengah pandemi Covid. Singkatnya, bagaimana menjaminkan, melangsungkan, melipatgandakan, dan mengatur kehidupan) bertumpang-tindih dengan spekulasi pasar-perang dagang menyelimuti hegemoni global, terutama perlombaan riset ilmiah dan ragam vaksin, obat-obatan dan oksigen untuk pasien. Dan ketiga, kontinuitas-keseimbangan. Dalam sudut pandang logiko-historikal, dari peristiwa krisis menuju kontinuitas-keseimbangan. Meskipun kita tidak sama sekali mengharapkannya, akan terjadi pada diri manusia, suatu peristiwa dimana seluruh populasi di dunia tidak ada yang bisa lolos dari penularan virus. Ia akan berubah dan berganti dari pandemi ke epidemi atau bisa saja kembali dari epidemi ke pandemi dan seterusnya.

Menyangkut kuasa disipliner kembali bergerak memutar arah ke titik tolak sesuai pembatasan aktivitas yang bertujuan untuk menurunkan kasus corona. Pembatasan aktivitas yang dikontrol dan diawasi melalui tubuh adalah efek disiplin diri, bukan jumlah regulasi atau kebijakan yang banyak.

Karena itu, banyak negara yang mengalaminya. Bukan juga berarti alat justifikasi atau sikap apologis lantaran negara kita tidak sendirian di tengah pandemi.

Kita tidak ingin menyerah, kita terus menerus berusaha untuk melepaskan diri kita dari bayangan gelap atau membebaskan manusia dari mimpi buruk, dari lingkaran ujaran dan teks “kemiskinan membunuh Anda”, “utang Covid memperpuruk kondisi negara Anda”. Orang-orang seakan-akan berbicara pada dunia, bahwa nalar pingsan karena alasan demi ‘pemutusan mata rantai penularan virus’, pikiran kita diambil alih oleh alasan keamanan atau kelangsungan hidup bersama. “Katakan padaku, Siapa Anda?” “Katakan padaku, mengapa aku belum berbicara?” Satu hal yang ingin kita katakan ketika kemunculan pandemi bukanlah bentuk keteledoran, melainkan langkah-langkah dari pengambil kebijakan nasional untuk memberi pernyataan tentang ketiadaan relasi logis antara kehadiran utang yang melilit dan virus yang melonjak dan bermutasi. Sama halnya dengan ketidakhadiran determinasi kesehatan atas mata pencaharian atau pekerjaan penduduk yang berdampak pandemi. Begitu pula sebaliknya, keduanya saling berinteraksi tanpa pengecualian dan tanpa berat sebelah bergerak dalam proses pevirusan antara virus organik dan non organik, seperti relasi yang terbangun antara tulisan tentang benda-benda yang tampak secara lahiriah dan benda-benda yang tidak tampak oleh mata biasa kita. Dalam pandangan yang tidak terkungkung dalam teks atau sekilas kaca mata satu arah kenampakan wujud, bahwa Covid bukanlah sumber atau akar permasalahan, biang kerok krisis, melainkan ketidakhadiran tanda kehidupan, yang membuat kita tidak mampu merenung atau mengosongkan diri dari hal-hal yang justeru terjatuh pada lubang yang sama dan kemungkinan berpindah tempat.

Mungkin ini pula yang tidak memberikan jawaban yang memadai dari permasalahan tentang urutan kronologis, peristiwa siklus dan krisis yang melanda bumi. Misalnya, paradoks antara protokol kesehatan bersifat tetap dan peraturan yang menopangnya justeru bertambah pelarangan dan pembatasannya terhadap setiap aktivitas manusia, tatkala sendirian maupun kerumunan, yang membuatnya bisa terjerumus dalam lembah pandemi virus yang lebih gawat dan akhirnya berakibat fatal. Tetapi, kefatalan itulah akan menyamarkan kegawat-daruratan keadaan kita. Tanda indikasi yang mengekspresikan keadaan luar biasa: kemungkinan ekonomi makin terpuruk dan pandemi terhambur keluar. Kelompok pernyataan dan pembicaraan santai belum lagi menjadi viral yang menjurus pada perubahan secara evolutif dengan tema-tema seputar pergerakan dari pandemi ke epidemi, seperti fenomena Flu Spanyol[9], yang sudah lama sekali terlampaui peristiwanya begitu dahsyat. Sekarang, kita sadar, suatu saat dengan kegigihan untuk keluar dari ujian berat, yang pada akhirnya kita akan berada dalam pasca-viralitas menuju virus baru, dari jenis manusia baru di bumi ini. Jadi, kadangkala peristiwa pandemi sebagai pembicaraan alam pada kehidupan manusia, bukan bersifat alami. Di sini, terdapat alasan yang disediakan oleh tanda peringatan kehidupan hasrat manusia untuk mengarungi dunia penuh lika-liku, yang memberi kita suatu indikasi bahwa manusia masih ada dalam relasi kuasa dengan pertimbangan logis, ontologis, dan fenomenologis. Pada satu titik pertemuan antara tanda peringatan akan bahaya dan ancaman eksistensi manusia, dimana tanda-tanda telah dirumuskan oleh Jacques Derrida mengenai ‘ekspresi’ dan ‘indikasi’[10] dalam rangkaian tanda-tanda, rambu-rambu dimana esensi manusia diungkapkan dalam bentuknya yang lain. Utang bisa dibawa ke wilayah ontologis sejauh hal itu menyangkut kemendesakan dan kepenuhan pilihan sebagai cara yang harus ditempuh oleh institusi negara, ketika tidak ada lagi pilihan lain, kecuali pilihan kebijakan untuk melepaskan diri dari keterpurukan, krisis atau musibah wabah yang mengepung kita dari setiap arah.

Sebagaimana pandemi, sesuatu yang buruk dan orang-orang tidak menyetujui kehadirannya, lingkaran utang juga bukan lagi sebuah rantai ketergantungan antara satu dengan lain, bukan pula permasalahan superioritas pikiran atas tubuh, keunggulan disiplin ekonomi atas disiplin medis-pandemi atau sebaliknya. Tetapi, semuanya adalah tanda-tanda bahwa kita masih berada dalam relasi manusia, relasi kehidupan dan pemikiran sebagai satu-satunya anugerah, yang ditandai oleh tanda-tanda kuasa yang tidak terpikirkan dan tidak tergambarkan hingga ambang batas tanpa akhir masih menyimpan teka-teki dibalik perjalanan kita.

“Anda mengetahui tentang kuasa bersama relasi dan efek-efeknya”. ” Aku sendirian bersama Anda.” “Aku sendirian bersama kita dan mereka dalam dunia kuasa.” “Aku tidak jenuh berbicara tentang diri kita sendiri.” Kita menyatakan berbagai rahasia dibalik kuasa bersama atau tanpa Anda dalam dunia senyap. Rahasia terdalam dari pengetahuan tentang hasrat untuk kuasa tertulis dalam buku catatan harian. Maka, permainan pun belum berakhir. Kita baru saja memulai permulaan sebuah permainan, yang dibumbuhi dengan tawa dan senyap.



[1] Diakses dari https://news.detik.com/berita/d-5632135/mobilitas-warga-perlu-berkurang-50-untuk-turunkan-kasus-corona-delta, tanggal 6 Juli 2021, pukul 08.11 WITA. https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-5632117/ini-saran-epidemiolog-untuk-optimalkan-ppkm-darurat#top, tanggal 6 Juli 2021, pukul 08.17 WITA.

[2] Diakses dari https://www.cnbcindonesia.com/news /20210707152101-4-259028/catat-ini-daftar-sektor-esensial-kritikal-yang-boleh-wfo, tanggal 7 Juli 2021, pukul 21.33 WITA.

[3] Diakses dari https://www.abc.net.au/news/2021-07-10/covid-live-updates-coronavirus-press-conference-sydney-lockdown /100282612, tanggal 10  Juli 2021, pukul 10.15 WITA.

[4] Data kasus Covid-19 Indonesia, diakses dari https://www.worldometers.info/coronavirus/country/indonesia/, tanggal 4 Juli 2021, pukul 10.57 WITA.

[5] 98 negara yang terdeteksi virus varian Delta Covid-19, https://www.theguardian.com/society/2021/jul/03/vaccines-outpaced-by-variants-who-warns-as-delta-now-in-98-countries

[6] Regulasi dan prosedur PPKM Diakses dari https://covid19.go.id/p/regulasi/instruksi-menteri-dalam-negeri-nomor-15-tahun-2021, tanggal 5 Juli 2021, pukul 16.39 WITA.

[7] IMF memberi ‘lampu hijau’ pada utang Indonesia Diakses dari http://detik.id/VMyAeR, tanggal 6 Juli 2021, pukul 17.19 WITA.

[8] Biopolitik. Lihat Michel Foucault dalam The Birth of Biopolitics, Palgrave MacMillan, New York, 2008

[9] Flu Spanyol Diakses dari https://www.history.com/news/1918-flu-pandemic-never-ended, tanggal 6 Juli 2021, pukul 17.35 WITA.

[10] ‘Ekspresi’ dan ‘Indikasi’. Lihat Jacques Derrida dalam Speech and Phenomena, Northwestern University Press, Evanston, 1973, hlm. 17, 27, dan 70.

 80 total views,  4 views today

Ermansyah R. Hindi

ASN/PNS Bappeda Kabupaten Jeneponto/ Aktivis Masyarakat Pengetahuan

Add comment

Highlight option

Turn on the "highlight" option for any widget, to get an alternative styling like this. You can change the colors for highlighted widgets in the theme options. See more examples below.

Flag Counter