Mengeja Indonesia

Diluar Phalogosentris: Ibu Jujur Itu, Pemikat yang Tersisa12 min read

Jika ada maling teriak maling, bentangkanlah dunia dalam kehilangan cahaya yang menyilaukan. Jika ada pribadi yang jujur, biarkanlah dunia dalam kegilaan yang memikat. Luar biasa! Sosok ibu itu tercatat sebagai kisah dari sisi terang. Sejatinya, ibu dengan segala suka duka senantiasa memancarkan sisi terang. Jasa ibu sepanjang masa tidak terbalas oleh anak-anaknya.

Sebesar apapun uluran tangan secara lahiriah dari anak-anaknya, kasih ibu tidak terhingga dan anak-anaknya tidak mampu membalas segala pengorbanannya. Walaupun tidak seviral kisah pilu ibu Trimah, yang dititip oleh tiga orang anaknya di panti jompo, ibu jujur itu menawarkan kehidupan yang terang, pasti, dan jelas.

Saat ibu jujur itu tampil beberapa langkah ke depan, entah apa yang tertanam dan tumbuh dalam benaknya. Dirinya ternyata tidak memungkiri nurani; terbersit pun tidak untuk mengambil jalan pintas.

Halimah nama ibu jujur itu. Dia tidak terpengaruh dengan perangai peristiwa lawas, gaya bertahan hidup, ujaran kebencian, selubung kepentingan, produsen hoaks hingga doktrin filsafat yang seakan-akan menjejalinya. Ibu jujur yang hebat! Aura keanggunan dari ibu Halimah bukan semata-mata terpancar dibalik sosok petugas cleaning service di Bandara Internasional Soekarno Hatta[1], tetapi juga ketekunan dan kesabaran.

Nilai tanda yang dimiliki ibu Halimah ternyata jauh lebih kuat dibandingkan kenampakan permukaan. Berbahagialah bagi anak-anaknya, yang dikandung, dilahirkan, dan dibesarkan oleh ibu Halimah! Ibu seperti Bumi, yang kembali cerah ceria setelah muram dan pucat.

Sementara, kemunculan pernyataan tentang ‘ketidakhadiran logosentrisme’, mencakup akhir dari subyek melalui kesadaran, sabda, dan petanda. Ia berubah menjadi ‘phalogosentrisme’, yaitu pengetahuan tentang pergerakan hasrat dari rangkaian penanaman, pertumbuhan, perkembangan, dan penyebaran secara luas. Penandaan phalogosentris menerobos taraf simbol “lingga di bawah perut” dalam pemikiran Derrida[2]. Di atas semua hal yang diungkapkan, kejujuran sebagai tanda yang dipersembahkan oleh Halimah tidak sekedar ucapan dan teks atau bersifat verbal, tetapi juga teknik penyampaian yang terbuka.

Tetapi, seseorang tidak membaca dan menulis atau sengaja menghindari tentang peristiwa kebenaran phalogosentris; ia disimbolkan dengan sosok ibu pembuat simfoni kehidupan melalui tanda kejujuran di satu kesempatan. Keterlibatan suatu penandaan phalogosentris bersifat anonim dalam kaitannya dengan tema kebenaran tidak pernah eksis dihadapan tanda kejujuran. Satu sisi, phalogosentris bukanlah ancaman. Di sisi lain, ia masih tetap anonim sebagai kebenaran.

Kita mencoba keluar dari penandaan phalogosentris menyangkut peristiwa suka cita dari sosok ibu Halimah, yang direpresentasikan dari tanda kejujuran dibalik sisi kehidupan. Petuah agung dari sosok ibu saat ruang pengetahuan tidak terjatuh dalam ruang kosong ditandai dengan petuah yang tertulis tidak lagi betul-betul menyuratkan apa yang sesungguhnya yang tersirat.

Setiap orang akan diuji melalui cara berpikir dan kehidupan bermula dari pergerakan secara mekanis, selanjutnya muncul pergerakan secara psikis. Meletakkan sebuah barang atau benda-benda berharga dalam unsur kesengajaan dan ketidaksengajaan untuk mengetahui atau menguji seseorang apakah berada dalam atau di luar nilai tanda kejujuran.

Ibu Halimah mencapai nilai tanda dalam kespontanan yang tidak terkira, yang berbeda dari banyak orang di suatu tempat yang ramai dengan hilir mudik. Tetapi lengah di tempat itu sedikit bisa mendatangkan penyesalan besar. Mengikuti bentuk kespontanan diri seraya mengokohkan cara berpikir paling awas jauh lebih teliti dibandingkan dalam ketergesa-gesaan.

Berkenaan dengan sosok ibu teristimewa dalam kehidupan dan pemikiran. Kita mengalami berbagai kenangan tidak terlupakan sejak kecil, seperti kala tidur di ayunan, yang bergantung di dahan sebuah pohon atau di tempat yang dianggap nyaman dan aman lain. Terbayang sosok ibu sedang mengisahkan tentang tokoh besar atau orang-orang saleh di abad-abad yang lampau atau menyenandungkan lagu pengantar tidur yang bermuatan petuah kebajikan. 

Di zaman sekarang, kita mesti menundukkan tanda kejujuran di luar phalogosentris sebagai sesuatu yang merangsang dan menantang, ketika orang-orang beranggapan kebenaran menjadi anonim pada saat tertentu. Bagaimana sosok ibu ideal atau sosok anonim lain diletakkan dalam sebuah lipatan peristiwa ketemporalan, yang sulit menemukan kembali kebenaran atau mungkin kebenaran itu hanya diselipkan begitu saja, agar wajah seseorang tidak terpisah dengan sosok ibu idealis atau sosok anonim lain.

Sebuah perubahan kecil dalam kurun waktu tertentu ditemukan melalui bentuk-bentuk yang terpuji, dimana seluruh kebenaran yang berada dalam zaman yang berbeda atau rangkaian peristiwa yang terekspresikan. Ada pula pandangan Spinoza, ‘manusia apa adanya’ (homo natura), yang belum jelas dimana kira-kira diselipkan kata-kata kejujuran. Namun demikian, kini permasalahan bukan lagi seputar tema ideal dari proses pergantian zaman, melainkan berkaitan dengan ketenangan diri dalam lingkaran bahasa dan diskursus. Jika bahasa yang tertulis betul-betul dipercaya sebagai seperangkat susunan epistemologis, yang setiap saat berbicara dengan seseorang yang tidak dikenal. Dompet, cek, dan seterusnya seperti teks tertulis yang siap dibaca secara santai, tetapi teliti.

Sosok ibu menunjukkan bahwa bagaimana menyusun kebenaran seorang diri yang diajarkan pada anak-anaknya selama ini, seakan-akan sosok ibu bisa menjadi subyek idealis saat menyampaikan nilai tanda kejujuran yang memikat. Mungkin sosok ibu Halimah dianggap sebagai peristiwa kecil sehingga tidak begitu menarik dan menyebar luas. Tetapi, ibu akan menyampaikan hal yang sama terhadap anak-anaknya tentang seksualitas, yang bertujuan untuk menghindari mereka dari bentuk kenakalan, akhirnya bisa merusak masa depan mereka, sekalipun lebih merangsang dan menantang.

Sedangkan diskursus dianggap sebagai satu kekuatan yang menjelma bentuk teror yang halus dan ringan menurut satuan fungsional. Ketika bahasa belum membahasnya kata-demi kata, maka diskursus mampu mengungkapnya. Pertalian dari diskursus kebenaran dengan bentuk yang tidak jelas dan pasti; terhadap individualitas atau sosok ibu ideal karena kejujurannya ditandai dengan penghargaan atau penghormatan tersendiri. Seseorang bisa jadi untuk menundukkan tanda kejujuran agar ketidakjujuran menjelma menjadi bentuk kebenaran yang lain. Pada saat tertentu, bagaimana seseorang menjadi pemain yang lihai ketika ketidakjujuran menjadi kebenaran yang berlindung dibelakang kejujuran.

Jadi, bukan saat seseorang berada dalam kepantasan untuk menerima penghargaan atau penilaian khas, melainkan suara yang riuh bergejolak dalam sosok ideal sekaligus rasional dalam satu sisi kehidupan. Hari-hari lain menjadi saksi bisu tatkala seseorang dalam titik akhir keriuhan diskursus kebenaran, sisi lain dari kebenaran yang diragukan dibalik ketidakjujuran yang lazim.

Ibu Halimah mungkin tidak terngiang atas pembicaraan tentang bahasa dan ontologi-ruang ketidaksadaran, kerangka epistemik dari ledakan kejujuran dalam ketidaklaziman. Sesuatu yang nyata, simbolik, dan manipulasi ketidakjujuran dari kejujuran yang menukik tajam. Belum lagi, apa makna bagi ibu Halimah mengenai grounding theory of truth (pendasaran teori kebenaran), koherensi atau korespondensi atas kejujuran. Bayangan kegilaan menghampiri irasionalitas yang rasional, yang tertunda dalam kejujuran. Tanda ganda, berarti kegilaan yang menandai kejujuran yang nyata dan jelas antara pikiran dan hasrat.

Kemunculan bentuk ucapan ‘terima kasih’ karena kejujuran tidak bisa disangkal sebagai tanda reward. Balas jasa ditandai dengan kedudukan yang setimpal dinaikkan karena kejujuran sebagai ‘tanda keberkahan’ dalam kehidupan. Tanda kejujuran, akhirnya melintasi permukaan retorika dan hirarki ujaran. Berkat kespontanannya yang murni, ia selalu terhindar dari hal-hal yang terselubung dalam kebenaran.

Kehidupan sejati begitu nyata dalam kejujuran. Sebaliknya, sama masuk akalnya mengenai kebohongan selalu ada dalam bayang-bayang ‘kebenaran yang bertopeng’ sebagai sisi lain dari kehidupan. Dalam kejujuran, seseorang bisa saja tidak dikejar oleh bayangan yang menghantui kehidupan dirinya. Sebaliknya, dalam kebohongan yang menyiksa, seseorang akan dikejar setiap saat oleh bayangannya sendiri.

Tanda kejujuran saling menyilang dan saling menetralisir dengan ilusi kebenaran (dusta yang dimanipulasi melalui pembenaran terhadap realitas dan kebebasan untuk memilih).

Nilai tukar berupa uang milyaran menggoda dan menantang nilai tanda kejujuran. Disitulah tuntutan hidup dipertaruhkan melebihi kebenaran matematika atau kebenaran universal. Nilai tanda kejujuran searah dengan a priori sintesis dari akal budi Kant. Keduanya tidak lebih dari aliran gairah secara imaterial tidak saling berlawanan dan tanpa hirarki antara satu sama lain. Lebih dari itu, nilai tanda kejujuran merupakan a priori kreatif, yang aliran gairah kehidupan yang dipercikkan atau digelorakan dari dalam melalui perbedaan dirinya dengan yang lain.

Sudut pandang a priori kreatif dalam kejujuran adalah perpaduan antara nilai tanda dan titik tanpa akhir, yang membuat kita baru mulai berpikir mengenai tantangan, tuntutan, celah, selipan, dan buaian dalam kehidupan. Tanda kejujuran lahir dalam dirinya sendiri tanpa suara azali yang bersyarat. Dari berbagai lekukan dan lengkungan kehidupan dibalik suara-tanda paling dalam tanpa bilik suara yang secara bendawi digunakan dalam peristiwa praktis.

Katakanlah sebagai contoh, ketika ada seseorang memilih calon wakil rakyat atau calon pemimpin masa depan di negerinya, maka dia memilih berdasarkan pilihan rasional, yang tentunya tidak terlepas dari syarat-syarat ditentukan sebelumnya. Sebuah pilihan rasional yang bersyarat dengan berlindung di belakang kebenaran nurani. Seseorang percaya bahwa pilihan rasional yang bersyarat berbeda dengan a priori kreatif dalam kejujuran intelektual.

Ketika seseorang memilih sesuatu karena tuntutan hidup atau ada imbalan, sejak itu berakhir pula titik kebenaran yang disisipkan bagi pilihan obyektif. Dalam kasus ibu Halimah, dompet berisi cek senilai uang milyaran bukanlah sebuah obyek pengetahuan kita tentang tanda kejujuran, yang ditandai dengan pengembalian benda berharga tersebut pada pemiliknya. Nilai tanda kejujuran yang dimaksud adalah kespontanan yang agung tanpa basa-basi dan tidak terkira.

Di sini, kita bisa melihat alur pergerakan nampak bersifat mekanis saat ibu Halimah berada dalam proses pengembalian dompet bersama isinya pada pemiliknya dan di ruang tertentu. Hal menarik, tatkala kasus ini melibatkan kespontanan antara pergerakan secara mekanis dan psikis, yang mampu mengantarkan nilai tanda kejujuran menjadi berlipat ganda.

Ruang terpendam dan muncul kembali untuk menyentuh permukaan tubuh yang menambah penilaian atas tanda kejujuran yang spontan melalui kekuatan penampilan wajah seseorang, yang terlibat dalam peristiwa interaktif tanpa selubung sedikit pun di sekitarnya.

Pada intinya, tanda kejujuran dalam diri seseorang bukan lagi kategorisasi berdasarkan proposisi melalui relasi antara subyek dan predikat. Apa itu tanda kejujuran? Apa yang disebut dengan tanda kejujuran sebagai infinite spot (titik tidak terhingga) yang kreatif, partikuler, dan menubuh. Dompet, cek, ruang, dan individu merupakan permukaan seiring kedalaman godaan nafsu, selera, makna, dan nurani. Tanda kejujuran mesti muncul ke permukaan benda-benda agar tergiring dalam kata-kata kosong atau hambar dalam kehidupan.

Nilai tanda kejujuran begitu jelas, ia tidak mengenal samar-samar dalam kebenaran bahasa atau tidak jelas dalam teks. Pembentukan nilai tanda kejujuran yang mengelola secara kreatif terhadap kenampakan benda-benda bersifat lahiriah seperti dompet dan uang dalam bentuk cek yang menggoda seseorang berubah menjadi aksioma. Misalnya, “Halimah adalah jujur di Jakarta” sebagai proposisi analitik dalam wilayah logika menandai kemunculan aksioma ketika ia dihubungkan dengan permukaan dan pergerakan secara mekanis, bahkan tanda kejujuran melebihi mekanisme dan vitalitas.

Tanda  kreatif secara mandiri dan a priori berbeda dari proposisi seperti contradictio in terminus, yang penggunaan istilah dipertentangkan kedudukan yang tidak terpikirkan atau tidak terbayangkan antara subyek dan predikat dalam jenis proposisi yang membingungkan, tidak runtut, dan bahkan keliru. Misalnya, “Dusta di Jakarta adalah Halimah.” Sehingga, setiap orang berbohong tidak akan pernah membuat ketenangan berpikir logis, karena lain di mulut lain pula di batin, akhirnya terjatuh dalam kebenaran yang bertopeng. Sekali berbohong, seseorang akan terperosok dalam ketidakpercayaan dari pihak lain terhadap dirinya. Begitulah ungkapan umum yang sering kita mendengar tentangnya.

Apa yang terjadi dalam ‘dunia luar’ sesuai dengan ‘dunia dalam’ selama tanda kejujuran hidup dan kreatif didalamnya. Jadi, tidak ada wilayah pertentangan, melainkan perbedaan, bahwa dia adalah manusia, yang tidak bisa dimiripkan dengan yang bukan dirinya, terutama nalar atau hasrat untuk mengetahui. Sesungguhnya, nilai tanda kejujuran adalah tanda itu sendiri, dimana kerangka berpikir logis tidak penting apalagi dipaksakan untuk memenuhi kaidah-kaidah kebenaran. Tanda kejujuran berada dalam perpaduan antara yang imaterial dan imaterial, yang dengan keduanya membuat kehidupan lebih nyata saat permukaan benda-benda menjadi tanda ekspresinya yang menantang.

Melalui tubuh atau permukaan benda-benda berguna sebagai kerangka pengetahuan yang meledak ‘dari dalam’. Cobalah kita membayangkan saat tidak ada lagi penampakan permukaan benda-benda melalui tubuh, maka sulit bagi tanda kejujuran disaksikan.

Dalam proses perkembangan, ibu yang mendidik kita bagaimana refleksi, intelek, dan sikap yang jujur sebagai sesuatu yang memikat. Perjuangan dan pengorbanan yang benar menimbulkan rasa hormat, terhadap segala hal yang disarankan untuk ditaati melalui kata-kata, ucapan, dan teks yang terucap dari mulutnya. Atas dasar keadilan dan sesuai dengan haknya, ibu menasehati anak-anak agar tidak mengenal menyerah dalam menghadapi tantangan kehidupan. Dia mampu memperkirakan gambaran masa yang akan datang, bukan hanya memberitahukan apa yang akan terjadi, tetapi juga untuk melibatkan diri diantara apa yang terjadi dalam kehidupan dan dalam takdir yang akan dijalani.

Kebenaran tertinggi dalam tanda kejujuran tidak sekedar apa adanya dan terjadi secara spontan. Masa-masa akan berlalu ketika kebenaran dibalik orang yang jujur bergerak dari kegiatan-kegiatan pernyataan yang bersifat mekanis ke arah apa yang ditampilkan itu sendiri. Seseorang mengarah pada apa yang digambarkan berupa muatan, penanda, obyek, bentuk, dan relasi kebenaran dengan apa yang tidak dirujuknya. Daripada melibatkan diri dalam pembicaraan tentang keadaan bingung sendiri dan kelengahan apa yang sementara orang-orang bicarakan, mendingan menyimak pembicaraan tentang proses penghancuran atas kebenaran yang dimanipulasi tanpa penggunaan kekerasan dan sama sekali tanpa paksaan.

Jika kita sungguh-sungguh membutuhkan ketenangan dengan cara mengobati satu monster yang tidak terlihat bernama kebohongan, maka ketenangan tersebut mesti ada ujung pangkalnya. Sejauh ini, fenomena kejujuran yang melibatkan manipulasi kebenaran yang melampaui sesuatu dengan apa yang disebut dengan era pasca-kebenaran[3]. Bisa saja seseorang menganggap bahwa manusia tercekik, karena seluruh pembicaraan tentang sisi kejujuran supaya sedikit menyisakan resiko ketika oposisi antara benar dan salah, yang mengiringi relung-relung kehidupan. …..

Berkat aura kejujuran yang polos dan apa adanya memancar dari dalam, ibu Halimah dan sosok anonim lain diperhadapkan dengan ketidakhadiran metode verifikasi atau kesahihan atas penilaian berdasarkan nilai ilmiah untuk mengetahui tingkat kepura-puraan atau kebohongan yang terselubung di balik penampakan wujud dirinya. Karena itu, kejujuran diri sebagai tanda yang imanen. Pada intinya, keterlibatan disiplin ilmiah hanyalah cara untuk mengetahui sejauh mana kejujuran menandai kesehatan mental dan fisik.

Tanda kejujuran bisa diamati dan dinilai begitu adanya, tetapi tidak untuk dieksperimentasi atau dimanipulasi sedemikian rupa. Tanda kejujuran yang polos dan a priori kreatif akan berkembang menuju cara untuk melenyapkan skandal kebenaran setelah manipulasi ketidakjujuran terpenuhi, yang seakan-akan benar padahal hanya ruang kosong.

Ketika diajukan satu pertanyaan tentang tanda kejujuran sebagai sesuatu yang imanen, maka tersedia justifikasi yang tidak terburu-buru atas kemunculannya di setiap zaman dan sejarah kehidupan manusia. Perbedaan antara keduanya tidak terletak pada jaringan representasi gambar, imajinasi, dan penalaran, melainkan mode wujud dan hasrat untuk pengetahuan mengenai taraf ‘menjadi bebas’ dari beban hidup yang menumpuk atau tidak, yang memungkinkan bisa muncul di sekitar kita. Permasalahan kebenaran bukan pula terletak pada titik ketidakjelasan batas antara kejujuran dan kebohongan, murni dan polesan. Nilai tanda kejujuran dari seseorang mengakhiri pilihan untuk membangun opini lebih penting dibandingkan fakta, yang mengatasnamakan suatu kebenaran yang bertopeng justeru leluasa memberi ketidakjelasan antara bukti dan tipuan wujud penampilan kita.

Suatu rangkaian kemunculan polesan, tipuan, dan topeng dilawankan dengan hidup tanpa kebohongan. Bukankah manusia sejati lebih dekat dengan citra hidup tanpa polesan, tipuan, dan topeng? Manusia buta terhadap realitas yang memungkinkan untuk melihat sesuatu melalui titik kenikmatan berbohong, yang pada akhirnya terbebani dirinya selama dia secara otomatis berada dalam ketidakjujuran.

Kita sadar bahwa seseorang berada dalam keraguan terhadap ketidakjujuran, karena ia sama dengan ilusi dan seseorang berada dalam kekaguman luar biasa terhadap kejujuran, karena ia sesuai dengan ketenangan dalam hidup, titik dimana pikiran dan hasrat terkendali.


[1] Ibu jujur yang hebat! Aura keanggunan dari ibu Halimah bukan semata-mata terpancar dibalik sosok petugas cleaning service di Bandara Internasional Soekarno Hatta. Diakses dari https://news.detik.com/berita/d-5792993/cek-rp-359-m-dikembalikan-cleaning-service-pengusaha-biar-allah-yang-balas#top, tanggal 2 November 2021, pukul 13.10 WITA.

[2] Lihat salah satu buku karya Jacques Derrida yang memuat gambaran phalogosentris, yaitu  Dissemintaion, The Athlone Press Ltd., London, 1981.

[3] Balas jasa ditandai dengan kedudukan yang setimpal dinaikkan karena kejujuran sebagai ‘tanda keberkahan’ dalam kehidupan. Diakses dari https://news.detik.com/berita/d-5796546/halimah-cleaning-service-penemu-cek-rp-359-miliar-diangkat-jadi-duta-amanah, tanggal 6 November 2021, pukul 07.54 WITA.

 387 total views,  2 views today

Ermansyah R. Hindi

ASN/PNS Bappeda Kabupaten Jeneponto/ Aktivis Masyarakat Pengetahuan

Add comment

Highlight option

Turn on the "highlight" option for any widget, to get an alternative styling like this. You can change the colors for highlighted widgets in the theme options. See more examples below.

Flag Counter