Mengeja Indonesia

Potret Orang Pinggiran (Kota Besar) dari Lirik Lagu Iwan Fals5 min read

Lagu oleh sebagian besar kalangan musisi dijadikan sebagai media untuk menyampaikan gagasan, pikirian dan bahkan perasaan kepada para pendengar atau para penikmat music. Di samping sebagai hiburan, lagu juga bisa dijadikan sebagai media untuk memberikan informasi atau bahkan opini terkait fenomena-fenomena baik social, budaya, dan politik yang terjadi di dalam masyarakat.

Begitupun selanjutnya dengan salah satu maestro music indonesia, iwan fals. Dengan bermodal kepekaan social yang terbangun sejak kecil, iwan fals telah mampu menciptakan banyak lirik lagu yang terkesan ceplas-ceplos dan berani yang pada akhirnya memeberinya predikat sebagai musisi yang berani mengemukakan kritik social lewat bait-bait lagu.

Lagu-lagunya adalah buah dari pikiran dan imajinasinya sebagai penuangan ekspresi tentang segala hal dan segala apa yang telah ia lihat, ia dengar, dan ia alami sejauh perjalanan hidupannya hingga sampai saat ini.

Pada tulisan sebelumnya penulis sudah sedikit-banyak menuliskan tentang iwan fals, musik, dan sikap politik. Termasuk di dalamnya bagaimana redup-terang kehidupan seorang iwan fals sebelum menjadi yang seperti sekarang ini. kiranya tulisan kali ini tidak akan banyak mengulas tentang seorang iwan falsnya, namun penulis akan lebih fokus pada lirik-lirik lagu iwan fals yang banyak menggambarkan tentang kritik social dan masyarakat miskin kota.

Oke next. Sejak awal iwan menyatakan kehadirannya sebagai pencipta lirik lagu maupun sebagai penyanyi dengan lirik-lirik lagu yang “nakal” dan berani. Melihat dari diri seorang iwan fals, hal yang paling utama dari penciptaan lagunya adalah penyampaian pesan-pesannya dan bahkan ia pun tidak pernah tergoda untuk merubah kata dan syair sebagai hasil meditasinya.

Dalam salah satu wawancara pada acara tv, iwan menyatakan komitmennya terkait dengan penciptaan lagu, bahwa dia tidak pernah terbebani dengan selera komersil atau bahakan permintaan pasar, lagu yang ia ciptakan adalah merupakan hasil observasinya tentang kehidupan sehari-hari yang kemudian dituangkan ke dalam lirik lagu.

Kemiskinan, kehidupan rakyat kecil, masyarakat pinggiran kota besar, dan kritik social, semuanya terlihat begitu dominan dalam setiap lirik lagunya. Kehidupan rakyat kecil, masyarakat pinggiran kota besar dan kemiskinan bagi iwan merupakan hal yang sangat menarik untuk ditampilkan pada lirik lagu, sebagai bukti kepedulian terhadap nasib mereka.

Akan tetapi bukan berarti bahwa dalam setiap lirik lagu iwan fals rakyat kecil disini adalah rakyat kecil yang digambarkan sebagai kelompok tertindas, diasingkan, dan selalu menderita. Tidak seperti itu, tetapi mereka yang memiliki cara sendiri untuk menunjukkan kebahagiaan dan usaha dalam menghadapi kerasnya hidupan.

Jika kita perhatikan setiap lirik lagu iwan, hal yang menonjol dari sebuah lirik lagu iwan fals tentu adalah tentang rakyat kecil dan kepedulian social, namun ada satu hal lagi yang sangat menonjol yaitu adalah tentang kepekaannya dalam menangkap suatu peristiwa yang kemudian diabadikan dalam sebuah lirik lagu.

Peristiwa-peristiwa yang ditangkap yang kemudian diabadikan dalam sebuah lirik lagu tidak hanya terbatas peristiwa-peristiwa yang terjadi di Negara kita Indonesia, namun juga peristiwa-peristiwa dibelahan dunia lainnya yang menyangkut kesengsaraan masyarakat bawah atau masyarakat miskin.

Bencana kelaparan yang melanda Afrika, yang dituangkan dalam lirik lagu yang berjudul “Ethiopia” bahkan peristiwa bencana gempa bumi yang terjadi di benua Amerika, tepatnya di Columbia yang banyak menelan ribuan korban jiwa, juga diungkapkan dalam sebuah lirik lagu yang berjudul “Columbia.”

Selanjutnya, golongan yang termasuk ke dalam kelompok masyarakat kecil yang memiliki status social yang rendah dan tidak mempunyai kedudukan secara structural di dalam masyarakat, hampir tidak lepas dari perhatian iwan fals. Cerita tentang penjual Koran eceran di pinggir jalan yang tertuang dalam lirik lagu “Sore Tugu Pancoran”

Iwan Fals – Sore Tugu Pancoran

Si Budi kecil kuyup menggigil
Menahan dingin tanpa jas hujan
Di simpang jalan Tugu Pancoran
Tunggu pembeli jajakan Kora

Menjelang magrib hujan tak reda
Si Budi murung menghitung laba
Surat kabar sore dijual malam
Selepas isya melangkah pulang

Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu
Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu
Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu
Dipaksa pecahkan karang lemah jarimu terkepal

Cepat langkah waktu pagi menunggu
si Budi sibuk siapkan buku
tugas dari sekolah selesai setengah
sanggupkah si Budi diam di dua sisi

Lagu yang menceritakan seorang anak kecil penjual Koran eceran yang tidak sempat menikmati waktu layaknya anak kecil seumurannya, namun sudah harus bergulat dengan kerasnya hidup dan nasib sebagai anak yang terlahir dari keluarga yang kurang berada.

Iwan Fals – Aku Berjalan

Aku berjalan di atas jembatan
Waktu hari siang
Tengah keramaian kota

Kupandang kebawah
Berhimpit gubuk liar
Tempat tinggal gelandangan

Tampak anak kecil gundul
Tenang menggaruk koreng
Di tepi sungai yang kotor

Di seberang sana aku melihat
Seorang ibu duduk
Sedang melamun

Kan adakah masa depan yang cerah?
Bagi orang seperti dia
Kan tegakah melihat saudara kita?
Hidup menderita

Lewat irik lagu di atas iwan ingin menyampaikan sebuah gambaran keadaan masyarakat pinggiran kota besar, dimana banyak keluarga yang hidup di bawah kolong jembatan, di pinggir sungai yang kotor, dan terkadang kesehatan dan kehidupan mereka pun bisa dibilang sangat tidak layak. Kan adakah masa depan yang cerah? bagi orang seperti dia, kan tegakah melihat sodara kita? hidup menderita.

Selanjutnya lirik lagu yang menarik tentang rakyat kecil dan tentu menarik untuk diamati adalah judul lagu “Gali Gongli” lirik lagu ini menunjukan kepekaan iwan fals dalam menangkap setiap permasalahan rakyat kecil.

Iwan Fals – Gali Gongli

Lelaki kecil usia belasan
Rokok di tangan depan kedai tuak
Di sela gurau tiga temannya
Di atas koran asyik main domino

Di lokalisasi pinggiran kota
Yang nama dosa mungkin tak bicara
Neraka poster indah kamar remang
Engkau lahir lelaki kecil malang

Gali Gongli bocah karbitan
Besar dari belaian ribuan bapak
Gali Gongli anak rembulan
Hidup dari bibir yang iklankan
Tubuh mulus ibunya

Lelaki kecil usia belasan
Usai berjudi pagi habis subuh
Kembali ia ditelan sepi
Entah esok apa lagi
Hari depan
Hari depan

Gali Gongli…

Dalam lirik lagu ini jelas ada pesan yang ingin disampaikan, yaitu pesan berupa pertanyaan bagaimana masa depan seorang anak yang lahir dan besar di daerah lokalisasi. Dunia malam atau masyarakat umum menyebutnya dengan “dunia hitam” yang identik dengan dengan perjudian dan minuman keras, diwakili denagan kedua frase ini di atas Koran asik main domino dan rokok di tangan depan kedai tuak.

Selanjutnya frase Besar dari belaian ribuan bapak dan Hidup dari bibir yang iklankan tubuh mulus ibunya jelas menunjukan bahwa seorang anak yang dilahirkan dari seorang perempuan pekerja seks komersial, dan tanpa diketahui siapa bapaknya.

Lingkungan dan kehidupannya yang keras menjadikan si anak tidak sempat memikirkan dunia remajanya, dikarenakan pergaulannya yang justru dengan orang-orang yang tidak sesuai dengan anak seusianya. Artinya, dalam usianya yang semuda itu, ia harus hidup dalam dunia yang tidak sesuai dengan perkembangan jiwanya, sehingga pada akhir lagu dikatakan Entah esok apa lagi, hari depan. Pada akhirnya bahwa, permasalahan rakyat kecil atau masyarakat miskin kota tidak hanya tentang kemiskinan, penderitaan, penindasan dan an-an yang lainnya. Akan tetapi jauh lebih kompleks seperti yang tertuang dalam lirik lagu “Gali Gongli,” problem yang harus mereka hadapi dan tentu harus diselesaikan.

 90 total views,  4 views today

Sofyan Sururi

Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Div. Humas BPKel Oi Pondokku Ciwaringin-Cirebon

2 comments

Highlight option

Turn on the "highlight" option for any widget, to get an alternative styling like this. You can change the colors for highlighted widgets in the theme options. See more examples below.

Flag Counter