Mengeja Indonesia

Kursi Kosong dan Penanda Kosong13 min read

Soal berebut kursi: jabatan politik dan jabatan karir, itu biasalah. Lempar kursi juga sama-sama melinglungkan. Yang melempar kursi lagi linglung tujuh keliling, karena hajatan dan kepentingannya tidak kesampaian. Kursi yang dilempar dimaksud, yaitu kursi kosong.

Jangankan kursi kosong diminati hingga diperebutkan, apalagi kursi empuk yang jelas-jelas sudah diduduki oleh orang yang berhak, lalu orang lain pasang kuda-kuda untuk mengincarnya. Ampun kenikmatan instan! Pergerakan jalan pintas juga lain ceritanya.

Alih-alih penonton dan pembaca setia merasa linglung terhadap berita tentang kasat-kusut perebutan kursi kosong yang digonjang-ganjingkan melalui media. Daripada dilanda kelinglungan, lebih baik penonton dan pembaca mengalihkan perhatiannya pada hal-hal yang membuatnya tersenyum bahagia.

Tidak keliru, peristiwa memalukan akan dilupakan, seperti angin berlalu. Tetapi, mereka menjadi “tontonan terbuka” dan terekam dalam layar televisi dan media sosial atau layar internet. Hingar-bingar pembicaraan dalam ruangan setidak-tidaknya menyimpan rekaman jejak dan bekas melalui ingatan kita. Begitukah tingkah kita hanya perkara kursi (kosong)? Memang, nyatanya kursi tidak kosong. Rapat atau persidangan selesai, deretan kursi pun akan kosong.

Saat ia kosong, orang-orang yang berhak mendudukinya akan kembali untuk mengisi kursi kosong. Sekosong-kosongnya kursi dalam hal jabatan, orang per orang masih tetap tertarik. Mungkin, kursi kosong memiliki daya pikat tersendiri. Ia semacam “obyek pujaan” yang menyihir dan menggiur orang-orang sudah lama menantikannya.

Biasanya, para oknum politisi di parlemen, jika kehilangan akal atau tidak doyan berdebat, maka kursi pun melayang. Kasihan kan! Apa salah kursi, sudah mahal harganya, diapa-apain lagi. Tidak perduli, entah beliau “orang terhormat” atau bukan. Kasihanilah diri Anda! Rakyat tidak menunggu belas kasihan dari Anda. Terpenting, meminjam istilah Jacques Derrida, logo-pin hingga gedung terhormat menjadi “simbolisme ketidaksadaran”. Ada dorongan tersembunyi di balik benda-benda, yaitu kesenangan dan khayalan tanpa akhir.

Kursi kosong sebentar akan terisi. Ia segera digantikan, tergantung pertimbangan dan saran dari pihak berwewenang. Atau mungkin melalui uji kepatutan dan kelayakan. Jika perlu, jangan lama-lama kursi kosong. Demikian pula para penyelenggara negara lain.

Mumpung masih ada budaya patrimonial. Gara-gara sang Ayah melempar kursi, Anaknya juga ikut-ikutan. Lihatlah ulah oknum mahasiswa yang gandrung berorganisasi! Pasalnya, saya pernah menyaksikan secara langsung tanpa relay tentang purwarupa kekerasan masyarakat ilmiah. Dalam beberapa kasus, entah darimana awalnya, seorang pimpinan sidang mencoba untuk mengendalikan “hawa panas” merambat pelan-pelang dalam ruangan secara refleks melempar palu sidang. Sebuah palu melayang di udara yang disaksikan oleh tembok-tembok tebal dan kuat melengkapi ruangan gedung. Suara para peserta persidangan musyawarah pimpinan organisasi mahasiswa meledak seketika terjadi adu mulut dan debat berubah suara gedebak-gedubuk kursi. Sumber suara datang dari kursi yang melayang mengakhiri sumber suara dari pimpinan sidang. Di sini, kursi kosong di lempar. Di luar itu, kursinya tidak kosong. Cuma ia berada dalam tahapan peralihan, kursi pimpinan sedang kosong itulah diwanti-wanti dan diserahkan pada pemegang amanah selanjutnya.

Sebagian oknum pesohor negeri ini masih senang memainkan sebuah permainan “tingkat tinggi”, diantaranya wilayah kursi kosong. Dari sini, skenario cukup tersusun rapih dibuat. Ada kursi kedudukan dan jabatan tidak heran disengaja dikosongkan, lalu diisi sesuai selera dan kepentingan. Terdengar di luar tembok gedung pesohor, ada orang menguping dan membisik pada temannya agar berkemas-kemas untuk mengisi kursi kosong. Sampai di situ saja tujuan dan sasarannya, maka di situ pula yang dia dapat. Apa yang didapat? Tidak lain, kenikmatan yang menggebu-gebu persis kursi kosong melayang-layang di udara saat terjadi kegiatan dalam ruangan yang diwarnai keributan.

Mereka punya hak untuk bebas memilih. Jadilah pemangku kepentingan, penonton, pembaca, penulis, tokoh, dan penggiat masyarakat yang mampu menikmati hidup. Saya tidak punya beban dan kepentingan besar dengan orang-orang yang memilih kedudukan dan jabatan. Silahkan masing-masing mencari kesenangannya!

Menyangkut kedudukan, gengsi, status, dan jabatan, sebuah kursi kosong memiliki titik koordinat sangat dekat dengan para penyantol atau peminatnya. Sebaliknya, kursi kosong dinilai dan digambarkan sebagai bayangan peristiwa berbahaya atau wabah maut, saya kira, orang-orang lebih baik memilih pada titik koordinat terjauh dengannya.

Untuk orang-orang yang gemar menyaksikan pertandingan olahraga, maka mereka akan menentukan pilihannya. Apakah menyaksikan langsung di tempat pertandingan olahraga ataukah menyaksikan di rumah lewat layar media digital atau televisi? Bagi orang-orang yang terpisah daratan yang jauh dari pusat pertandingan olahraga sudah tentu pilihannya jatuh pada pilihan menonton di rumah. Kita mencoba untuk memilih jenis tontonan pertandingan olahraga paling menarik dan bergengsi tingkat dunia (sekalipun sebagian orang tidak tertarik).

Foster Klug melaporkan mengenai secuil gambaran ‘kursi kosong’ dengan relasi-relasi yang muncul di sekitarnya seperti dimuat dalam The Washington Post. Berikut petikan laporannya.

“Naomi Osaka menaiki tangga untuk menyalakan kuali Olimpiade saat upacara pembukaan di Stadion Olimpiade pada Olimpiade Musim Panas 2020, Jumat, 23 Juli 2021, di Tokyo, Jepang. …

Berawal dari upacara, cahaya biru halus menyinari kursi kosong saat musik keras meredam teriakan pengunjuk rasa yang merangsek di luar yang menyerukan agar Olimpiade dibatalkan. Sebuah panggung berbentuk segi delapan dimaksudkan untuk menyerupai Gunung Fuji yang ada di negeri dongeng. Kemudian, medley lagu-lagu orkestra dari video game Jepang yang ikonik menjadi soundtrack untuk pintu masuk para atlet.

Sebagian besar atlet memakai masker melambaikan tangannya nampak antusias ke ribuan kursi kosong dan pada dunia yang lapar untuk menyaksikan mereka bersaing tetapi pasti bertanya-tanya apa gerangan yang harus dilakukan dari semua itu. Beberapa atlet berbaris layaknya menjaga jarak secara sosial, sementara yang lain berkerumun dengan cara yang sangat bertentangan dengan harapan penyelenggara. Republik Ceko masuk dengan negara lain, meskipun delegasinya sejak tiba telah memiliki beberapa tes positif COVID.”[1]

The Washington Post melansir berita dengan judul amat jelas:

“Empty seats, muddled messaging and a botched ‘Imagine’ make for a lackluster Olympic Opening Ceremonies” (Kursi kosong, pesan tidak karuan, dan ‘membayangkan’ kegagalan membuat Upacara Pembukaan Olimpiade tidak bersemangat).[2]

Ketika rangkaian peristiwa penting sedang berlangsung yang didukung dengan kenampakan teknik dan gaya memukau sembari penyelenggara kegiatan menyediakan kursi dalam keadaan masih kosong sesungguhnya tidak dipengaruhi oleh keberadaan lingkungan dan keadaan awan gelap atau langit cerah. Suatu pertimbangan logis mengapa terjadi ketidakhadiran kursi terisi ditandai oleh keengganan orang-orang untuk mendudukinya selama berlangsung pandemi. Seluruh pertimbangan yang diajukan bukanlah karena alasan keadaan dan kondisi yang tidak memungkinkan kegiatan perayaan maupun permainan olimpiade, melainkan “konsekuensi” yang membuatnya tetap berjalan secara terbatas. Selain itu, permainan olimpiade terselenggara berkat dorongan hasrat dan pengetahuan tentang jati diri dan esensi olahragawan tanpa disekat oleh pandangan dan sikap yang berbeda dari spesies manusia. Justeru tontonan yang menarik perhatian di sini adalah kehadiran kursi kosong di tengah ancaman dan marabahaya.

Berlapis-lapislah kenampakan wujud kursi kosong dalam stadium kosong. Pemandangan cukup langkah sulit dihindari dalam arena, yang melibatkan banyak orang, tetapi permainan olimpiade dijejaki oleh hari-hari sepi dari penonton tidak secara langsung lagi menyaksikan dari dekat karena hanya ketersediaan kursi kosong.

Demi memutuskan rantai penularan virus, tidak ada lagi tepuk tangan atau sorak sorai dari penonton yang tampil di stadium. Kursi kosong lebih dibiarkan menghuni ruang nampak berteman sepi hingga satu masa akan menandai pemulihan keadaan yang ditunggu kemunculannya.

Kehadiran penonton memiliki tantangan tersendiri tentang bagaimana kursi kosong menyertai sebuah kenampakan pergerakan sosial global saat olimpiade dianggap sebagai “penyebar peristiwa besar”[3] ditandai dukungan masyarakat terhadap penyelesaian krisis kesehatan. Kehadiran orang-orang menandai ketidakhadiran permainan ketika kelengahan menguasai dirinya. Ketidakhadiran permainan tertentu bukan berarti menjadi penanda kosong. Batas akhir dari kelengahan bermain dalam wujud lahiriah menjadi penanda kosong. Jadi, bukan lantaraan keadaan memaksa kita untuk memisahkan jarak antara satu penonton dengan lain di masa pandemi, sehingga membuat kursi kosong dalam setiap jenis kegiatan. Karena itu, kursi kosong selalu tidak mirip dengan penanda kosong, kecuali perbedaan dalam dirinya sendiri.

Dalam kegegap-gempitaan dunia lahiriah yang diserap oleh lorong peristiwa melalui keseharian pengalaman akan menghilang dalam sesuatu yang kosong. Sementara, saat kelahiran kursi kosong akan mengatasi jarak tatapan nyata dan imajiner dalam masyarakat penonton, tetapi bersifat sementara.

Kursi kosong juga tidak lebih dekat dengan kelenyapan makna dalam sebuah permainan olahraga maupun bidang kehidupan lain. Kelenyapan makna saling mendekati dengan penanda kosong yang terjadi dalam peristiwa berdasarkan pengalaman keseharian. Keadaan kosong dilipatgandakan dengan penanda kosong dari tanda kesenangan dalam keseharian kita. Ia tidak kosong akibat kelenyapan makna atau titik akhir pergerakan benda-benda yang melindungi diri dari ancaman dan bahaya kematian yang membayangi kita. Misalnya, orang-orang tidak duduk di atas kursi atribun tertutup di sebuah stadium olahraga  tidak serta merta membuat sirna kegemarannya untuk menonton sepak bola atau tenis lapangan.

Masih berbicara tentang kursi kosong yang terjadi dalam arena permainan olimpiade. Nick Kyrgios, bintang tenis Australia tidak menyesal berada di hadapan kursi kosong yang berjejer-jejer. Terlepas tidaknya dia bermain dengan modal percaya diri dan bersemangat ketika berada dalam keadaan kursi kosong. “Tetapi saya juga mengetahui diriku sendiri. Berpikir untuk bermain di hadapan stadium kosong justeru tidak enak duduk bersamaku. Ia tidak pernah punya apa-apa,” ujarnya.[4] Tanda-tanda kebahagian dan kecemberutan secara umum menyifati manusia akan menggiring dirinya dalam penanda kosong. Sesuatu yang dikejar mati-matian tidak dapat, juga diam membisu begitu saja pada nasib tidak dapat apa-apa. Keduanya sama-sama menggantang asap. Semakin kuat dia memegang pada kegemaran dan kesenangan lahiriah tertentu yang memuncak, maka semakin dekat mereka pada sesuatu yang kosong. Kursi kosong bersama kerahasiaan karena esensinya bisa dibandingkan dengan tatapan kosong, kesadaran kosong atau pikiran kosong sebagai tanda terbuka untuk diungkapkan ke permukaan. Sedangkan penanda kosong mengikisnya dari dalam, dari kemunculan pertamanya setelah ditampilkan ke permukaan.

Itulah mengapa kecurangan olahragawan (jika ada), petugas, pedagang, dan lain-lain tidak membawanya dalam tanda ketenangan, kecuali tanda menjadi kosong. Tidak samar-samar, ketika kita mencoba untuk memilih yang mana kecurangan dan sportifitas. Kata lain, kecurangan berbeda deangan sportifitas. Jika tidak keberatan, saya mengajukan dua hal, yaitu “penanda yang memencar” dan “penanda yang menengahi” diantara “penanda kosong”, “penanda yang mengambang”, dan penanda lain. Semua penanda tersebut tidak saling berlawanan. Sebagaimana kursi kosong, ia tidak bisa dipengaruhi oleh perubahan keadaan dan pergeseran nilai, baik dalam masa pandemi maupun dalam masa pulih seperti kehidupan biasa kita jalani sebelumnya.

Sebagian orang bukan mustahil akan menyumpah-serapahi keadaan. Anggapan orang-orang terhadap kursi kosong seakan-akan muncul sebagai akibat dari wabah penyakit atau bahaya serupa. Ia akhirnya menjadi kenampakan wujud yang menyebalkan sekaligus menyenangkan menuju penanda kosong dibalik keterbatasan untuk menduduki kursi di stadium atau arena olahraga lain. Bersama hal-hal kekinian yang kita geluti tanpa ditentukan oleh seberapa lama kursi kosong dan penanda kosong bercokol atau bertahan dalam relung-relung pemikiran dan kehidupan yang kadangkala membingungkan.

Ernesto Laclau dalam Contingency, Hegemony, Universality mengungkapkan bagaimana penanda kosong bermain dalam ranah hegemoni yang dihubungkan dengan proses kontaminasi secara khusus. Disamping itu pula, keterlibatan proses kontaminasi bergerak saling mengarah satu sama lain.[5] Mungkin dianggap terlalu mewah atau mengawang-ngawang untuk ukuran Indonesia, jika konsep kursi kosong dan penanda kosong diperhadap-hadapkan dengan tataran hegemoni dunia. Kecuali satu model kontaminasi yang dimaksudkan adalah kemunculan peristiwa pandemi,[6] karena keberadaannya lintas benua di bumi. Sedikit saja droplet menempel di kursi, tangga, meja, gelas, piring, mobil, dan sebagainya menjadi permukaan yang terkontaminasi dalam hitungan waktu. Jika hanya sekedar membicarakan penanda, simbol, dan xenopobia masih mendingan, ketimbang kita mengimpikan sebuah dunia, yang bebas dari kursi kosong dalam keseharian dan dalam kurun waktu tertentu.

Berkenaan dengan pemisahan antara tanda fisik dan pengalamn inderawi tidak akan pernah cukup untuk menunjukkan batas-batas eksistensi secara duniawi. Pengalaman seseorang dalam kehidupan dunia bukanlah unek-unek saja, tetapi juga pengalaman bukan sesuatu yang dikira sangat sederhana. Salah sedikit kita akan terperosok dalam dunia semu. Jacques Derrida dalam Speech and Phenomena menekankan pada pengalaman sederhana dan dalam esensinya yang bebas dari ilusi, semenjak tanda fisik dari kursi (kosong) hanya dihubungkan dengan dirinya dalam sebuah kedekatan mutlak.[7] Perhatian orang-orang akan kekosongan dunia yang sederhana bisa saja terdampar dalam lika-liku bahasa tentang kursi kosong dibalik pengertian yang tersembunyi. Penanda kosong pada akhirnya berubah menjadi “penanda yang terdampar” atau “penanda yang terpinggirkan” keluar dari wilayah kesadaran dan permukaan dari pengalaman keseharian. Tahapan kehadiran permukaan dari pengalaman pribadi berlanjut ke hal lain ketika kita berbicara pada dirinya sendiri tidak lagi mengambang di atas permukaan. Menyandarkan diri semata-mata hanya pada pengalaman untuk menggunakan kursi, yang suatu saat nanti akan lenyap, muncul, kembali, dan kosong dalam kebendaan mutlak yang jelas dan pasti.

Indera dengan beberapa pasang nongol dalam dirinya, dimana pengalaman dicapai mendahului peristiwa tontonan yang tidak lagi merefleksikan kehadiran dirinya dan dalam kekosongan yang senyap berlipat ganda. Kursi kosong sebagai tanda fisik tidak bisa dipengaruhi oleh kehadiran benda-benda dan kata-kata yang senyap, dari pengalaman lawas akan terjatuh dalam sesuatu yang kosong di tengah keluapan tontonan. Begitulah sebuah “penanda yang terpinggirkan” berjalan mengiringi “penanda kosong” bergerak di atas permukaan tubuh.

Bentuk murni dari penandaan kursi kosong dan stadium yang mengitarinya berada dalam relasi antara tata bahasa dan ruang murni. “Kursi kosong di sebelah utara, selatan, dan barat”. “Lapangan hijau adalah stadium”. Sesuatu yang kosong akan kembali pada permulaan ketika benda-benda muncul dari permulaan. Tetapi, kursi kosong sebagai tanda kebendaan bukan berarti dinilai di bawah kekuatan indera yang dihilangkan atau sesuatu yang kosong secara lahiriah dari pandangan mata kita.

Sepasang mata atau lebih yang setia pada gambar bergerak di luar dan dalam layar menandai dirinya bebas dari gaya duduk formalis di kursi. Menonton permainan olahraga tanpa duduk di kursi stadium tidak mengurangi minat penonton yang duduk di kursi lain. Minat dan selera orang berbeda dalam penulisan kursi kosong. Ada batas-batas ketersediaan a priori tentang kursi. Mata seseorang tidak tergantung pada kehadiran kursi, terisi atau kosong. Jika mereka memaksakan keinginannya untuk duduk dan agar permainan olahraga di stadium beserta kursinya lebih semarak akan menjurus pada status penanda kosong secara khusus. Kekosongan ruang menandai ketidakhadiran penonton secara khusus dan universal.

Orang duduk sambil menonton bola atau salah cabang olahraga lain yang digandrungi bersifat universal. Sedangkan duduk formal di kursi stadium bersifat khusus. Tidak duduk di kursi stadium secara khusus juga tidak menelanjangi universalitas seseorang untuk memilih kursi lain yang sebelumnya juga kosong di depan permainan sepak bola. Entah menonton di rumah atau di luar, entah itu menggunakan kursi atau tidak sama sekali wujud kursi tidak tergoyahkan karena esensi yang membuatnya ada dan nyata, bukan karena masing-masing orang sesuai selera. Kursi kosong atau bukan, ia tetap netral dalam dunianya sendiri. Perbedaannya terletak pada pilihan orang ketika kursi kosong dalam jumlah yang tidak sedikit menunjukkan dirinya semakin greget setelah dihubungkan dengan suasana ruang yang sepi dan ramai permainan yang dialami orang. Dari sinilah titik rawan penanda kosong di tengah gegap gempita dan luapan kebendaan.

Kursi kosong yang menandai ketidakhadiran mata seseorang untuk menonton. Apakah kita merasa terganggu jika tidak menggunakan kursi? Sejauh manakah ketidaknyaman seseorang saat duduk dan tidak duduk di kursi agar dirinya bisa menonton permainan olahraga atau yang lain? Secara khusus, orang yang terlalu kepincet untuk duduk formal di kursi stadium hanya karena doyan sepak bola atau yang lain akan mengarahkan dirinya dalam sebuah lingkaran penanda kosong. Orang sedang tidur mendengkur akan dibayangkan di atas kursi. Ternyata setelah dia bangun dari tidurnya diiringi dengan bunyi dengkuran menjadi nikmat tidak sadar hanya mendapatkan sebuah kursi kosong. Begitulah jadinya.


[1] Foster Klug melaporkan mengenai secuil gambaran ‘kursi kosong.’ Diakses dari https://www.washingtonpost.com/sports/olympics/as-tokyo-games-open-can-olympic-flame-burn-away-the-funk/2021/07/23/bf91fa76-eb7d-11eb-a2ba-3be31d349258_story.html, tanggal 27 Juli 2021, pukul 12.18 WITA.

[2] The Washington Post melansir berita seputar judul ‘kursi kosong.’ Diakses dari https://www.washingtonpost.com/sports/olympics/2021/07/23/review-2020-olympics-ceremonies/, tanggal 27 Juli 2021, pukul 12.11 WITA

[3] Olimpiade sebagai penyebar peristiwa. Diakses dari https://www.theguardian.com/commentisfree/2021/jul/24/tokyo-olympic-sport-displacing-athletes, tanggal 26 Juli 2021, pukul 22.12 WITA.

[4] Nick Kyrgios, bintang tenis Australia. Diakses dari https://www.independent.co.uk/sport/nick-kyrgios-australian-tokyo-stadiums-fukushima-b1880852.html, tanggal 27 Juli 2021, pukul 11.46 WITA.

[5] Lihat Judith Butler, Ernesto Laclau dan Slavoj Zizek, Contingency, Hegemony, Universality, Verso, London – New York, 2000, hlm. 70.

[6] Model kontaminasi. Diakses dari https://www.nature.com/articles/d41586-021-00251-4, tanghal 27 Juli 2021, pukul 12.42 WITA.

[7] Lihat Jacques Derrida, Speech and Phenomena, Northwestern University Press, Evanston, 1973, hlm. 58.

 133 total views,  4 views today

Ermansyah R. Hindi

ASN/PNS Bappeda Kabupaten Jeneponto/ Aktivis Masyarakat Pengetahuan

Add comment

Highlight option

Turn on the "highlight" option for any widget, to get an alternative styling like this. You can change the colors for highlighted widgets in the theme options. See more examples below.

Flag Counter