Mengeja Indonesia

Karl Marx: Pembebasan Manusia Secara Radikal Melalui Kerja7 min read

Karya-karya awal Marx menampilkan filsafat kerja, yakni pandangan Marx tentang kerja manusia sebagai aktualisasi diri. Bagi Marx, ciri pembeda manusia dari makhluk hidup lainnya ialah bahwa manusia, dan hanya manusia, adalah makhluk yang bekerja. Berbeda dengan filsafat tradisional yang mendefinisikan manusia sebagai “makhluk politik” (zoon politikon) atau filsafat Abad Pertengahan mendefinisikan manusia sebagai makhluk yang diikat bersama, makhluk sosial, dan makhluk yang beragama/ makhluk yang berdoa (ens sociale dan homo religiosus/homo orans).

Marx melihat manusia sebagai makhluk yang bekerja atau makhluk ekonomi (homo laborans atau homo economicus). Bagi Marx, kerja menyatakan hakikat manusia, maka ekonomi harus menjadi basis masyarakat. Dengan kerja, manusia membebaskan diri dari alam karena kerja merupakan bentuk pencurahan diri manusia yang menghasilkan karya sebagai ciptaan dan gambaran dirinya. Jadi, kerja menjadi pernyataan identitas, aktualisasi diri, dan perkembangan sebagai individu. Individuasi membutuhkan medianya dalam kerja dan dengan demikian manusia berinteraksi dengan sesamanya sebagai makhluk sosial.

Bagi Marx, kerja merupakan ungkapan liberalisme radikal kare dengan kerja manusia menjadi dirinya sendiri dan memberi arti manusiawi pada dunia. Kerja harus menjadi media transformasi diri dari keadaan yang tercerabut dari kodrat menjadi tercakup atau teremansipasi. Karena kerja merupakan media emansipasi, Marx secara khusus membahas pekerjaan sebagai: (1) sarana manusia menciptakan diri sendiri, (2) kegiatan khas manusia, (3) objektivasi manusia, dan (4) pernyataan sosialitas manusia.

Marx mengatakan bahwa kerja sebagai sarana manusia menciptakan diri sendiri merupakan tindakan manusia yang paling mendasar sebagaimana dalam pekerjaan manusia membuat dirinya nyata. Kerja merupakan kegiatan khas manusia karena hampír seluruh kebutuhan hidup manusia diperoleh dengan mengubah alam agar sesuai dengan kebutuhannya. Binatang cukup hidup dalam alam pertama, sedangkan manusia harus menciptakan alam kedua bagi pemenuhan kebutuhan hidupnya melalui kerja. Dengan kerja, manusia memberi makna objektif pada alam sebagai ciptaannya.

Pematung menjadikan wadas kenyataan objektif dengan memahatnya menjadi patung. Dengan itu, apa yang tadinya hanya ada dalam pikiran manusia kini menjadi kenyataan melalui pekerjaan si pemahat. Akhirnya, Marx menyebut pekerjaan berdimensi sosial dan historis karena dalam pekerjaan orang menyatakan relasi sosial. Pematung bisa saja langsung mengambil wadas dari alam, tetapi ia membutuhkan pahat dan gerinda dari hasil karya orang lain. Patung yang bernilai seni tinggi dari bahan yang berkualitas menjadi bukti historis mengenai kreativitas seni yang dapat dinikmati turun-temurun[1].

Apabila pekerjaan tidak mencakup empat aspek di atas dalam kesatuan dengan penciptanya maka pekerja mengalami keterasingan terhadap diri sendiri dan orang lain. Pekerja terasing atau teralienasi dari diri sendiri karena pekerja tidak memiliki hasil kerjanya. Kebanggaannya sebagai pencipta musnah kalau itu menjadi pekerjaan upahan karena di sana uang menggantikan klaim pekerja atas hak untuk memiliki hasil pekerjaannya. Uang bagi Marx hanyalah alat tukar. Oleh karena itu, pekerja yang melakukan karyanya demi uang mengasingkan diri dan tujuan kerja untuk memperoleh hanya uang bukanlah kebanggaan.

la menurunkan derajatnya dari tujuan pada dirinya sendiri menjadi semata- mata alat untuk memenuhi kebutuhan nafkah. Jadi, kerja tidak memperkaya harga diri dengan kebanggaan, tetapi memiskinkan manusia dari perolehan tujuan hidupnya. Keterasingan dari diri sendiri mengindikasikan keterasingan dari sesama. Apabila pekerjaan upahan ditelisik lebih mendalam maka kerja menjadi medan persaingan yang dapat dimainkan oleh pemodal melaluí pembatasan tenaga kerja, pengendalian upah, dan perlakuan buat pekerja saling bersaing, dan bahkan saling membunuh untuk memperoleh kesempatan kerja dan perhatian majikan lebih dari yang lainnya[2].

Alienasi dan Perjuangan Kelas

Marx memberikan perhatian yang besar juga pada apa yang menjadi sumber keterasingan pekerja, yakni masalah hak milik pribadi. Pemikiran mengenai hak milik pribadi tidak dianalisis secara mendalam dalam naskah-naskah Paris, tetapi konsep hak milik pribadi sudah dilihat Marx sebagai akibat perbedaan kelas sosial antara pemilik alat-alat produksi (kapitalis) dan pekerja (buruh) sehingga menjadi sumber alienasi.

Dalam pembahasannya, Marx mengatakan bahwa alienasi yang ditimbulkan oleh klaim hak milik pribadi terkena baik bagi buruh maupun majikan. Buruh terasing dari pekerjaanya karena tidak bisa mengklaim milik atas apa yang dihasilkannya. Sebaliknya, majikan terasing karena menikmati secara pasif apa yang tidak dikerjakannya. Buruh teralienasi karena pembedaan dengan hasil kerja yang sesungguhnya miliknya, sedangkan majikan terasing karena pe- nyamaan milik yang dirampas dari kerja orang lain sebagai hasil kerjanya. Buruh menikmati empedu alienasi, sedangkan majikan menikmati madu alienasi[3].

Jadi, hak milik pribadi sebagai sumber alienasi bersifat niscaya dan harus disiasati tahapannya untuk diatasi. Dalam masyarakat primitif, belum ada pembagian kerja maka tidak ada masalah alienasi. Dalam masyarakat yang telah mencapai tahap pembagian kerja, seperti sekarang ini, masyarakat sekaligus sudah berada pada tahap hak milik pribadi dan tahap keterasingan.

Dalam masyarakat komunis nanti, masyarakat mencapai tahap kebebasan melalui penghapusan hak milik pribadi. Marx mau menunjukkan bahwa hak milik pribadi, dengan demikian alienasi, merupakan hal yang niscaya dalam sejarah, dalam perjalanan manusia menuju kebebasan. Masalah hak milik pribadi dan alienasi merupakan keadaan yang tak terelakkan, meskipun negatif, karena adanya pembagian kerja dalam masyarakat modern.

Harus disadari pula bahwa melalui pembagian kerja dan hak milik pribadi, manusia meningkatkan produksi melebihi kebutuhan langsung. Pemaksaan kelas membuahkan kebudayaan melalui tangan-tangan produktif kaum buruh, dalam bentuk monumen dan artefak seni lainnya. Penghancuran paksa monumen-monumen yang menjadi simbol kekuasaan kelas atas dan simbol alienasi kelas bawah tidak perlu terjadi karena sejarah akan mencapai pemenuhannya dalam penghapusan hak milik pribadi berdasarkan syarat dan kondisi objektif. Penghapusan hak milik pribadi tidak terjadi secara emosional dan moral, tetapi secara objektif.

Apabila kondisi objektif ini sudah terpenuhi, hak milik pribadi akan dihapus dan keterasingan manusia akan berakhir. Inilah komunisme, yakni semua memiliki semua bersama-sama. Bagi Marx, ini merupakan pemecahan nyata atas teka-teki sejarah masyarakat berkelas, yang akan membuat manusia utuh kembali dengan alam dan sesamanya. Inilah komunisme yang diartikan Marx sebagai “naturalisme utuh” atau “humanisme utuh“, yakni hilangnya pertentangan manusia dan alam[4].

Sesudah membahas pekerjaan dan keterasingan yang diakibat- kan oleh perbedaan kelas dan hak milik pribadi, Marx memulai karya-karya transisi (1847-1858) dari humanisme kepada anti humanisme atau sosialisme ilmiah untuk akhirnya beralih kepada pemikirannya yang definitif dalam karya-karya Marx Tua (1858- 1883).

Peran Kelas Sosial dalam Perubahan Sosial Politik

Perubahan pemikiran politik Marx dari humanisme yang ber- pusat pada manusia sebagai pekerja individu ke humanisme yang berpusat pada kelompok sosial merupakan masa transisi (1847- 1858) dari pemikiran humanis ke antihumanis. Dalam transisi dari humanisme kepada antihumanisme, Marx mengambil pemikiran tentang kelas sosial sebagai pokok bahasannya, meskipun definisi mengenai kelas sosial baru diberikan Lenin kemudian, yakni golongan sosial dalam sebuah tatanan masyarakat yang ditentukan oleh posisi tertentu dalam proses produksi[5].

Pengertian “kelas” sebagai posisi yang ditempati seseorang dalam proses produksi mengakibatkan setiap kelas sosial dianggap sebagai golongan sosial dalam sebuah tatanan masyarakat yang ditentukan oleh posisi tertentu dalam proses produksi. Bagi Marx, pelaku-pelaku utama perubahan sosial adalah kelas sosial, bukan individu. Oleh sebab itu, untuk memahami sejarah, kita harus memahami kelas sosial dalam masyarakat yang bersangkutan.

Menurut Marx, dalam masyarakat kapitalis ada tiga kelas sosial, yakni buruh yang hidup dari upah, pemilik modal yang hidup dari laba, dan tuan tanah yang hidup dari sewa. Alienasi terjadi pada buruh yang menjual tenaganya pada dua kelas sosial yang lain. Buruh disebut dalam masyarakat kapitalis sebagai kelas bawah dan pemilik modal serta tuan tanah disebut kelas atas karena menguasai alat dan proses produksi. Hubungan antara kelas atas dan kelas bawah sering terjadi sebagai hubungan kekuasaan.

Sebagai akibat dari perbedaan objektif di atas, sering terjadi pertentangan buruh versus pemilik modal. Pertentangan buruh versus majikan bersifat objektif karena masing-masing memiliki kepentingan kelas yang berbeda. Dengan akibat, sikap mereka terhadap perubahan sosial juga berbeda. Pemilik modal umumnya bersifat konservatif, sebaliknya buruh progresif-revolusioner. Bagi Marx, kemajuan berupa perubahan sosial di masyarakat hanya dapat diperoleh dengan jalan revolusi[6].

Dengan konsep kelas tersebut, Marx melihat negara sebagai negara berkelas, artinya negara dikuasai dan diarahkan oleh kelas- kelas sosial yang berkuasa. Negara adalah alat kekuasaan kelas penguasa. Dalam perspektif negara kelas ini, kelas sosial bawah dalam masyarakat sering menjadi korban kebijakan negara yang umumnya ditentukan oleh kelas atas. Negara semacam itu adalah negara penindas kelas bawah yang harus dilawan. Negara menjadi sebagai sebuah ideologi yang menanamkan kesadaran palsu.

Negara ideologis mengajari anggota masyarakat dengan kewajiban moral yang tidak dilakukannya sendiri, tetapi dibebankan kepada masyarakat. Negara melakukan itu semua demi pamrih. Sejarah lalu merupakan pertentangan antarkelas sosial yang masing-masing memperjuangkan kepentingan mereka. Bagi Marx, sejarah bukanlah cerita raja-raja, melainkan cerita mengenai pertentangan kelas[7]. Melalui pandangannya tentang sejarah, Marx membuat transisi dari humanisme revolusioner dan liberalisme radikal (Marx Muda) ke antihumanisme atau sosialisme ilmiah (Marx Tua).

Pembahasan terkait dengan Marx Muda dapat dilihat dalam tautan berikut:

  1. Proses Pembentukan Pemikiran Karl Marx
  2. Marx Muda Pemikiran/Filsafat Tentang Humanisme

[1] Franz Magnis-Suseno, Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme Jakarta: PT Gramedia, 2005), hlm. 87-94.

[2] Franz Magnis-Suseno, Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme Jakarta: PT Gramedia, 2005), hlm. 95-99.

[3] Franz Magnis-Suseno, Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme Jakarta: PT Gramedia, 2005), hlm. 101.

[4] Franz Magnis-Suseno, Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme Jakarta: PT Gramedia, 2005), hlm. 104.

[5] Franz Magnis-Suseno, Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme Jakarta: PT Gramedia, 2005), Bab 6, nr. 1.

[6] Franz Magnis-Suseno, Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme Jakarta: PT Gramedia, 2005), hlm. 110-119.

[7] Franz Magnis-Suseno, Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme Jakarta: PT Gramedia, 2005), hlm. 125-134.

 216 total views,  6 views today

Redaksi

Mengeja Indonesia adalah sebuah gerakan yang otonom dan nirlaba, mengangkat isu-isu fundamental bangsa.

1 comment

Highlight option

Turn on the "highlight" option for any widget, to get an alternative styling like this. You can change the colors for highlighted widgets in the theme options. See more examples below.

Flag Counter