Mengeja Indonesia

Tetralogi Buru: Gagasan Indonesia Pramoedya Ananta Toer6 min read

Realitas hidup tidak semanis mimpi, seperti yang dialami penulis novel “Tetralogi Buru” yang terkenal di dunia. Telah melalui berbagai rezim hijah harus terjun jatuh ke pelukan penjara. Dia telah mengalami sejarah, politik, dengan penindasan yang tidak manusiawi. Di awal karirnya, kisah hidupnya diawali dari seorang tokoh non politik, sayangnya ia harus membayar mahal untuk ikut serta dalam politik. Dia dituduh menenggelamkan keterampilan menulisnya untuk tujuan politik.

Setelah melalui berbagai penahanan, Pram diasingkan di Pulai Buru. Dalam masa penahanannya, Pram menyampaikan kritiknya dengan menghasilkan cerita romantis tentang seorang bangsawan cilik sebagai tokoh dalam pergerakan nasional. Pram mengatakan bahwa novel adalah bentuk revolusi ideal yang mengungkapkan kontradiksi sosial.

Pram mengisahkan dengan rinci bagaimana sebuah nasionalisme dapat mengubah bangsamu. Dinamisme kekuatan revolusioner dapat di rekam dalam narasi. Karena narasi novel dalam pengungkapannya berada diantara epik kuno dan jurnalisme modern. Namun sayang setelah buku itu terbit Pram dituduh menuliskan pesan Marxisme yang dianggap tersirat dalam kisahnya. Padahal seorang penulis berusaha menanamkan pemikirannya melalui sebuah jalinan cerita. Pram berusaha menanamkan pengertian kepada pembaca tentang masalah kehidupan yang terjadi melalui tokoh-tokoh didalamnya. Disini Pram memperlihatkan rasa keadilannya yang kritis dan bahkan cenderung fanatik serta kebencian mendalam terhadap segala macam ketidakadilan.

Melalui karyanya, Pram memperjuangkan nilai ke-Indonesia. Disini, Pram berusaha membangun Indonesia dengan nilai yang kuat seperti negara Eropa lainnya. Menurutnya, ciri khas nasionalisme adalah rasa kemandirian. Tetralogi Buru mempromosikan kemerdekaan ini secara luas. Kemerdekaan adalah syarat dasar untuk menyingkirkan penjajahan atau kolonialisme.

Meski terasing di negaranya sendiri, Pram telah memenangkan berbagai penghargaan. Setiap tudingan dan protes yang datang kepadanya bersifat kasual. Larangan yang ada menambah nilai karyanya, dan pihak berwenang tidak menyadarinya. Tetralogi Buru adalah ruang bagi Pram untuk mengungkapkan pemikiran nasionalisnya. Baginya, menulis adalah kewajiban nasional, sekalipun karyanya ditinggalkan dan semangatnya dilarang.

Tetralogi Buru

Roman ini mengekspresikan kekuasaaan, politik kolonial, kehidupan sosial, ekonomi, budaya, dan kesenian di Hindia Belanda. Lebih khusus lagi, interaksi antara priyayi pribumi dan Belanda. Hal ini dapat dilihat dari situasi budaya di Indonesia dan keberadaan kelompok masyarakat bahwa adanya ketimpangan telah menyebabkan kemunduran masyarakat adat.

Wacana Barat yang memberikan identitas hibrida ini merupakan salah satu bentuk arsitektur kolonial, yang membedakan identitas kolonial dengan tingginya budaya diskriminatif. Relasi terjajah dan penjajah serta perlawanan terjajah terhadap penjajah sebagai kontradiksi ideologi kolonialisme.

Karya ini memperlihatkan gambaran nyata tentang orang pribumi dan kaum priyayi yang mengalami modernisasi di bidang pendidikan dan organisasi pemerintahan dengan gaya Barat. Pribumi dihadirkan sebagai manusia biasa sedang priyayi menjadi sorotan karena meniru pola dan gaya hidup Belanda salah satunya penggunaan bahasa Belanda.

Pram menulis karyanya ini saat berada dalam pengasingan di Pulau Buru. Pram diasingkan karena dianggap sebagai simpatisan Partai Komunis Indonesia, vonis pengasingan ini dijatuhkan tanpa proses peradilan. Mulai tahun 1973, Pram menulis karya monumentalnya ini dengan perlengkapan yang sangat terbatas. Bahkan, para penjaga tahanan Pulau Buru kerap menyita tulisan-tulisan Pram.

Novel pertama yang diterbitkan adalah Bumi Manusia pada tahun 1980. Pada mulanya, banyak respon positif mengiringi terbitnya novel pertama dari Tetralogi Pulau Buru ini. Bahkan Wakil Presiden Republik Indonesia saat itu, Adam Malik mengapresiasi terbitnya novel bertema nasionalisme tersebut.

Sayangnya, Kejaksaan Agung saat itu berpendapat lain. Novel Bumi Manusia dilarang terbit pada tahun 1981. Kejaksaan Agung berpendapat bahwa Novel Bumi Manusia mengandung ajaran Komunisme dan Marxis-Leninisme. Novel-novel Tetralogi Pulau Buru selanjutnya dilarang terbit oleh Kejaksaan Agung beberapa bulan setelah penerbitan pertamanya. Tradisi ini terhapus setelah reformasi terjadi di tanah air. Tetralogi terdiri dari Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca.

Bumi Manusia

Dalam karya Pram Bumi Manusia ini kita dapat melihat gagasannya tentang nasionalisme yang tersurat dalam setiap tulisannya. Disini terlihat nilai kehidupan dari seorang terpelajar pribumi yang mendapat didikan Belanda hingga akhirnya dia mengetahui bahwa bangsanya terus terinjak oleh kolonialisme yang dilakukan Belanda.

Kebanggaan besar terhadap Belanda membuat Minke terus terpukau dengan tindak tanduk kolonial. Hal ini tercermin dari cara berpakaian, bergaul, berbicara, dan menulis. Minke lebih senang menggunakan bahasa Belanda. Pasalnya dengan menggunakan bahasa tersebut dirinya merasa berada dalam level yang sama dengan Belanda.

Dalam novel Bumi manusia ini nasionalisme baru terlihat sebagai tanggapan terhadap kondisi politik, ekonomi, dan sosial yang terjadi kala itu. Tokoh utama dalam novel ini baru melihat dan memotret gambaran sekelilingnya. Rasa nasionalisme dalam novel pertama digambarkan Pram sebagai satu sentimen yang menunjukan keadaan pikiran dari tokoh utama.

Anak Semua Bangsa

Feodalistik beroperasi pada penjajahan mentalistik dan kolonialisme bekerja pada jalur penguasaan sumber daya alam dan politik. Praktek kolonialisme yang semena-mena dalam penguasaan sumber daya alam dan manusia disahkan melalui hukum kolonial yang rapi. Hal inilah yang menimbulkan perlawanan.

Nasionalisme digambarkan Pram sebagai ideologi perlawanan terhadap sistem kolonial. Perlawanan tersebut dipicu oleh kelompok elite priyayi Jawa. Dari merekalah cikal-bakal nasionalisme muncul. Setelah bibit nasionalisme bersemai dalam pikiran Minke di novel Bumi Manusia, proses nasionalisme selanjutnya oleh Pram digambarkan dengan turunnya Minke melihat realitas pribumi sebagai kelas rendah.

Jejak LangkahPendidikan yang hanya bisa di dapat kaum priyayi membuat sebagian besar pribumi terus terbodohi dan terkungkung dalam sistem kolonial. Mereka juga dibatasi untuk mengetahui pemberitaan yang ada. Hal ini karena surat kabar yang ada menggunakan bahasa Belanda. Pram menuliskan terbentuknya Medan Priyayi sebagai media perkabaran dan tempat pengaduan ketidakadilan yang dialami masyarakat kelas bawah. Dengan menggunakan bahasa Indonesia maka rasa kepemilikan akan bangsa semakin tumbuh.

Tidak hanya surat kabar yang terbentuk tetapi organisasi juga. Hal ini semakin menguatkan perjuangan pribumi dalam melawan ketidakadilan yang dilakukan oleh pihak kolonial. Gagasan nasionalisme semakin jelas dituangkan Pram dengan adanya ruang bagi pribumi memperjuangkan hak-haknya.

Rumah Kaca

Setelah organisasi terbentuk dan menjadi momok bagi pemerintah Belanda, maka mereka menyiapkan serangan balik agar perserikatan yang ada bubar. Sayang setelah berhasil menghancurkan pimpinan dari organisasi tersebut Belanda dibuat kalang kabut karena anggota yang bertambah begitu banyak dan dalam waktu relatif singkat.

Dalam novel Rumah Kaca ini Pram memperlihatkan dimana kebangkitan nasional menjadi sebuah gemuruh yang melanda pemerintah Belanda. Pasalnya dengan dirusaknya sistem dan kepemimpinan sebuah organisasi tidak membuat pengikutnya menjadi gentar. Mereka semakin menjadi dan membangun benteng baru untuk membuat Belanda kalang kabut.

Dalam hal ini nasionalisme Indonesia mula-mula berjuang untuk mengusir penjajah Belanda, merontokan feodalisme, primordialisme dan membentuk negara bangsa (nation state) yang merdeka, sejahtera dan demokratis, sebagai rumah bersama untuk seluruh warga bangsa dari Sabang sampai Meraoke. Negara bangsa Indonesia adalah rumah bersama di mana kebhinnekaan suku, budaya, agama dan tradisi dijamin sehingga semua warga bangsa dapat hidup damai, sejahtera dan bebas.

Simpulan

Dalam karya Tetralogi  Buru, ideologi nasionalis Pramoedya Ananta Toer adalah perjuangan pribumi melawan tindakan kolonialisme yang tidak adil terhadap bangsa Indonesia. Perlawanan fisik kepada Belanda merupakan salah satu bentuk nasionalisme mempertahankan wilayahnya. Namun, dengan pengalaman penelitian sosial yang lebih maju, Belanda mampu memetakan keadaan masyarakat Indonesia dan menggunakan politik perpecahan untuk membuat kelompok masyarakat saling berhadapan.

Dari pengalaman itu, masyarakat adat mengubah strategi perlawanannya melalui pendidikan, membangun rasa persatuan dan kesatuan, serta meningkatkan kesadaran akan perlawanan terorganisir. Melalui organisasi dan tulisan lokal, kolonialisme dibawa ke tingkat yang lebih tinggi.

 40 total views,  2 views today

Redaksi

Mengeja Indonesia adalah sebuah gerakan yang otonom dan nirlaba, mengangkat isu-isu fundamental bangsa.

Add comment

Highlight option

Turn on the "highlight" option for any widget, to get an alternative styling like this. You can change the colors for highlighted widgets in the theme options. See more examples below.

Flag Counter