Mengeja Indonesia

Antonio Gramsci: An Introduction of Life14 min read

Ketertarikan terhadap pemikiran Marxis selalu mendapat tempatnya sendiri disetiap waktu dan kalangan untuk berbagai tujuan diantaranya menyangkut pengenalan sistem ekonomi, pengelolaan masyarakat basis dan gerakan politik ataupun sekedar mengikuti trend pemikiran. Bagi sebagian kalangan aktivis kampus ataupun aktivis sosial, Pemikiran Marxis bagaikan api yang membakar semangat untuk melakukan “pemberontakan” demi keluar dari “penjara” kapitalisme dalam berbagai lini kehidupan ekonomi, sosial, politik dan pemerintahan.

Diantara banyak pemikir Marxis, Antonio Gramsci adalah salah satu pemikir Marxis yang dinilai sangat penting bagi gerakan politik. Kehidupan Gramsci berkaitan pada rentangan periode aktivitas revolusi di seluruh Eropa pasca Perang Dunia I terutama di Rusia sampai kebangkitan Fasisme tahun 1922 di Italia namun lebih dari separuh perjalanan politiknya dihabiskan di dalam penjara. Kondisi tersebut dinilai oleh para peneliti mengakibatkan kajian terhadap pemikiran Gramcsi begitu sukar terrefleksikan dengan baik dan terstruktur.

Pemikiran politik Gramsci setidaknya dapat ditemukan dan dibagi menjadi beberapa fase sesuai dengan aktivitas kesehariannya yakni artikel-artikel koran semasa kegiatan awalnya sebagai jurnalis dan editor, dokumen-dokumen organisasi yang ditulis semasa aktif dalam Partai Sosialis Italia dan catatan-catatan singkat yang di tulis semasa di penjara. Para peneliti menilai bahwa ada semacam evolusi dan ketidaksinambungan gagasan sepanjang tulisan-tulisan Gramsci.

Evolusi dan ketidaksinambungan gagasan Gramsci disinyalir dikarenakan apa yang dialaminya semasa di penjara yakni adanya sensor atau pelarangan bahan bacaan tertentu dan pembatasan kunjungan yang diputuskan otoritas penjara dibawah arahan pemerintahan Fasis Italia. Disamping itu, kondisi kesehatannya juga banyak mempengaruhi rutinitas dan keseimbangannya.

Keseluruhan kendala tersebut juga pada akhirnya menghambat penghimpunan pemikiran Gramsci dikemudian hari, ditambah adanya kemungkinan pemotongan, penambahan ataupun manipulasi editorial yang dilakukan oleh penghimpun tulisannya dengan arah yang lain demi tujuan-tujuan tertentu. Lebih dari 30 tahun setelah kematiannya, karya-karya Gramsci masih belum dihimpun dalam sebuah edisi kritis yang utuh dan seluruh artikel yang ditulis pada tahun 1923-1926 sempat dinyatakan hilang.

Meskipun demikian, tumpukan ide yang telah terpublikasi baik dengan transkrip asli, terjemahan ataupun penelaahan mampu menunjukkan Gramsci sebagai pemikir besar. Gramsci akan memperlihatkan kepada kita sebagai seorang manusia yang hidup dalam masanya, dalam sebuah relasi dialektis yang sangat komplek dan rumit, namun penuh pencerahan dan penuh buah pelajaran yang bisa dipetik. Pada kesempatan ini, kita akan berkenalan terlebih dahulu dengan sosok kepribadian dan keseharian Antonio Gramsci. Pada kesempatan lain kita akan memaparkan poin-poin penting pemikirannya.

Antonio Gramsci adalah anak keempat dari tujuh bersaudara yang dilahirkan pada 22 Januari 1891 di Ales, Sardinia, Cagliari, Italia. Ayahnya adalah seorang pekerja di Kantor Pencatatan Tanah di Ghilarza sedangkan ibunya hanyalah seorang ibu rumah tangga yang berasal dari Sardinia. Saat balita, Gramsci pernah terjatuh karena lepas dari lengan pengasuhnya hingga menyebabkan cacat pada tulang punggungnya yang membuatnya bungkuk dan menderita gangguan syaraf kambuhan.

Kondisi ekonomi keluarganya yang tidak stabil setelah ayahnya dipenjara karena persoalan administrasi di kantornya, membuat Gramsci sempat berhenti sekolah (setelah lulus Pendidikan Dasar) dan bekerja selama 2 tahun di Kantor Pencatatan Tanah di Ghilarza. Ia mengisahkan dalam sebuah surat yang ditulisnya dari penjara untuk Tatiana bahwa ia mulai bekerja ketika berumur 11 tahun dan memperoleh penghasilan 9 Lira per bulan atau setara dengan 1 kilo roti sehari, dengan 10 jam kerja setiap harinya termasuk minggu pagi. Sering kali ia menangis secara diam-diam karena merasakan sakit pada tubuhnya setelah mengangkat beban yang melebihi berat badannya. Dari kondisi itu, ia mengenal aspek pahit dari kehidupan dan mengajarkannya untuk mampu mengelola hidup dalam segala situasi.

Kehidupan yang keras tidak membuat Gramsci menyerah dalam urusan pendidikan, setelah belajar secara otodidak ia kemudian mengambil kelas-kelas sekolah tata bahasa di Santa Lussurgiu dan mulai mengenal bacaan sosialis melalui koran dan majalah seperti Avanti!, ia kemudian menyelesaikan pendidikan menengahnya pada tahun 1911. Setelah bersaing untuk mendapatkan beasiswa sebesar 700 Lira setiap tahunnya yang ditawarkan oleh Carlos Alberto College di Turin untuk pelajar miskin yang berasal dari Sardinia, pada Oktober 1911 ia kemudian pindah ke Turin dan kemudian masuk Fakultas Seni. Disana ia tinggal bersama dengan Angelo Tasca, seorang pemimpin gerakan Pemuda Sosialis.

Meskipun berada di Turin, Gramsci tetap mengikuti perkembangan di Sardinia terutama menyangkut pergulatan politik. Diperkirakan pada akhir tahun 1913, ia semakin akrab dengan sosialisme dan mulai terlibat aktif dengan partai Sosialis di Turin. Pada 31 Oktober 1914, Gramsci menulis sebuah artikel pada koran Il Grido del Popolo yang berjudul Neutralita Attiva ed Operante yang berisikan tesisnya mengenai sikap yang harus diambil oleh Partai Sosialis menyangkut keterlibatan Italia pada Perang Dunia Pertama. Ia saat itu memilih posisi serupa dengan Mussolini yang saat itu masih menjadi anggota Partai Sosialis.

Pada tanggal 12 April 1915, Gramsci melaksanakan Ujian Akhir mengenai Sastra Italia di Universitasnya meskipun dijalaninya dengan kondisi kesehatan yang terbatas dan tingginya tingkat aktivitas sehari-harinya. Setelah menyelesaikan pendidikannya, Gramsci semakin aktif didalam dunia jurnalisme proletarian dan mulai dikenal karena ketajaman analisis dan argumen-argumennya yang memicu polemik pada Il Grido del Popolo dan terutama pada kolom mingguan majalah sosialis Sotto la Mole milik Avanti!. Disamping aktivitasnya sebagai staf redaksi, Gramsci juga memberikan pendidikan mengenai Revolusi Prancis, Marx dan Romain Rolland.

Dalam sebuah tulisan berjudul Falce e Martello untuk menjawab tuduhan terhadap dirinya, Gramsci mengatakan bahwa ia lebih memilih menjadi staf redaksi Avanti! dengan gaji 90 Lira per bulan pada tahun pertama dan selanjutnya menerima gaji 150 Lira per bulan hingga 31 Desember 1920, dibandingkan tawaran menjadi kepala sekolah sastra di Oulx yang digaji 2.500 Lira per tahun dengan 3 bulan penuh libur (270 Lira per bulan). Hal ini menegaskan komitmen Gramsci terhadap gerakan revolusi. Pada tahun yang sama, ia menjadi sekretaris cabang Partai Sosialis di Turin setelah banyak tokoh sosialis ditangkap menyusul kondisi kehidupan masyarakat yang semakin menderita dengan tingginya biaya hidup, kelangkaan roti dan terus berlangsungnya perang.

Pada Oktober 1918 Il Grido del Popolo berhenti terbit dan Avanti! Khusus edisi Turin mulai diterbitkan dimana Gramsci dan beberapa tokoh sosial lainnya menjadi wakil redaksi sedangkan kepala redaksinya adalah Ottavio Pastore. Beberapa minggu kemudian, Amadeo Bordiga, salah seorang yang paling berseteru secara intelektual dengan Gramsci dikemudian hari meskipun sebelumnya dekat dengan pemikirannya, mendirikan koran bernama Il Soviet di Naples dan menjadi rumah bagi sebagian faksi reformis dari Partai Sosialis Italia.

Bersama Tasca, Togliatti dan Terracini, Gramsci mendirikan sebuah majalah mingguan baru dengan tema sentral menyangkut kebudayaan Sosialis yang diberi nama L ’Ordine Nuovo (The New Order) dengan terbitan pertamanya pada 1 Mei 1919 yang berkedudukan di Piedmont, dimana ia menjadi sekretaris dewan redaksi sekaligus editor. Gramsci semakin populer dan lebih berpengaruh terutama di kalangan kaum buruh di Turin sebagaimana terlihat pada pemogokan dan penutupan pabrik-pabrik metalurgi di Turin pada akhir 1920.

Popularitas dan pengaruh yang dimilikinya justru membuat Gramsci tertekan, ia takut sekali menjadi idola dan tidak bermaksud menggurui terutama jika dilihat dari usianya yang masih sangat muda saat itu, 28 tahun. Baginya, pengidolaan bisa berubah menjadi semacam penyakit atau kebiasaan buruk yang menggangu kebebasan dan merubah sang idola menjadi semacam hiasan dinding.

Gramsci sendiri berjuang dengan kegigihan berpolemik dan kejernihan analisa yang mendalam seraya berseloroh “Kita harus melakukan segalanya dengan berdikari (mandiri dan memaksimalkan perangkat yang ada), dengan kekuatan kita sendiri, dengan kebesaran kita sendiri: generasi Sosialis Italia saat ini adalah anak dari dirinya sendiri”. Motivasi inilah yang menjadi pembeda Gramsci dengan tokoh Sosialis yang lainnya.

Pada bulan Oktober 1919, Kongres Partai Sosialis di Bologna memperdebatkan persoalan penggabungan partai ke dalam Komunis Internasional, Gramsci mendukung Serrati yang merupakan pihak mayoritas dalam kongres tersebut. Dalam periode yang sama, L ’Ordine Nuovo menggagas ide tentang pembentukan dewan-dewan pabrik dan diperdebatkan secara luas dan mendalam oleh pers sosialis dengan penuh pertentangan.

Pada April 1920, L ’Ordine Nuovo secara terbuka mendukung aksi pemogokan buruh di Turin namun ditolak dan ditentang oleh pemimpin Partai Sosialis dan Konfederasi Buruh. Aksi tersebut berakhir dengan kegagalan dipihak kaum buruh, namun menumbuhkan semangat baru bagi L ’Ordine Nuovo. Pada 8 Mei, L ’Ordine Nuovo menerbitkan sebuah editorial penting yang ditulis oleh Gramsci yang berjudul Per un Rinnovamento del Partito Socialista (Menuju Pembaharuan pada Partai Sosialis).

Editorial tersebut, meskipun diabaikan oleh Partai Sosialis Italia karena dianggap sebagai provokator dalam mengeliminir faksi-faksi intern Partai Sosialis Italia yang reformis (Gramsci acap kali dituduh oleh faksi reformis sebagai intervensionisme, penganut Voluntarisme dan Bergsonisme), namun editorial tersebut dalam pandangan Lenin justru merupakan sebuah dokumen mendasar yang sepenuhnya cocok dengan segenap prinsip-prinsip fundamental Komunis Internasional sebagaimana disampaikannya pada Kongres Kedua Komunis Internasional tertanggal 19 Juli-7 Agustus 1920 tentang syarat-syarat tegas keanggotaan partai Komunis. Setelah berlangsungnya kongres tersebut, Gramsci membentuk sebuah kelompok kecil yang berperan sentral dalam pendidikan komunis.

Pada September 1920, para pekerja industri logam berjuang dan menduduki tempat-tempat kerja mereka selama hampir sebulan penuh setelah kaum industrialis mengancam akan melakukan penutupan pada pabrik-pabriknya. Perjuangan tersebut meluas ke seluruh Italia, Gramsci mengingatkan mereka untuk tidak terlena dan gegabah dalam ilusi (bahwa pendudukan pabrik-pabrik itu akan bisa memecahkan semua problem politik yang muncul dihadapan kelas buruh sebagai buah dari revolusi). Pada akhir November 1920, dengan berbekal keyakinan atas kuatnya reaksi dari aksi September tersebut, Gramsci berpartisipasi dalam pembentukan secara resmi faksi komunis pada pertemuan di Imola mengingat akan dilangsungkannya Kongres Partai Sosialis Italia.

Sejak 24 Desember 1920, L ’Ordine Nuovo menghentikan penerbitannya karena kemudian menjadi koran harian dari faksi Komunis dalam Partai Sosialis sejak 1 Januari 1921 dan mempercayakan keredaksiannya kepada Gramsci yang kemudian dibantu oleh kontributor lamanya seperti Togliatti, Pastore, Leonetti dengan kolaborasi pekerja muda seperti Mario Montagnana dan Pietro Gobetti. Pada tanggal 15-21 Januari 1921 dilaksanakan kongres ke-17 Partai Sosialis Italia di Lenghorn. Kongres ini merupakan kongres yang bersejarah mengingat didalamnya terdapat perdebatan mengenai kelompok faksi komunis.

Disatu sisi, terdapat faksi komunis unitarian yang dibawa oleh Serrati sedangkan disisi lain terdapat faksi komunis tulen yang didukung Komunis Internasional. Namun, faksi komunis unitarian yang berekecenderungan demokratis reformis pada kesempatan tersebut memperoleh mayoritas suara. Setelah kekecewaan dan kekalahannya pada kongres, kaum komunis tulen akhirnya memutuskan untuk membentuk Partai Komunis Italia sejak tanggal 21 Januari 1921 yang merupakan cabang dari Komunis Internasional. Didalamnya Gramsci menjadi anggota Central Committee.

Pada periode inilah polemik yang tajam dan sekterian dimulai antara kekuatan-kekuatan sosialis dan komunis, ditambah intimidasi tajam oleh kaum Fasis yang dilakukan dengan dukungan terbuka dari seluruh aparatus pemerintah dan negara. Gramsci secara tajam dan tidak toleran menyerang aparatus serikat buruh dari Konfederasi Buruh dan para pemimpin Partai Sosialis karena paham reformis yang mereka anut.

Bagi Gramsci, mereka lamban dan cenderung mengutamakan obrolan politis ketimbang gerakan progresif. Disisi lain, Gramsci juga menganalisa secara tajam dan mendalam mengenai struktur kelas dan orientasi gerakan fasis dan dominasi kekuatan politiknya. Bagi Gramsci, Fasisme memiliki struktur kelas yang ambigu namun kompleks sehingga perlu diteliti secara detail. Polemik ini kemudian merambah sisi pribadi, dimana Gramsci dihina dengan tuduhan yang menyakitkan, aksi balas dendam dan serangan-serangan personal yang picik lainnya. Sepanjang tahun ini, Gramsci aktif terlibat dan aktivitas politik dan pematangan ideologi Partai Komunis.

 Pada 20-24 Maret 1922 berlangsung Kongres Pertama Partai Komunis Italia atau kongres Kedua setelah Kongres ke-17 Partai Sosialis. Disana Gramsci berbicara tentang persoalan Serikat Buruh dan mendesak penerimaan taktik “kesatuan front” pada level serikat buruh namun usulan tersebut ditolak. Gramsci kemudian ditunjuk untuk mewakili partai dalam Komite Eksekutif Komunis Internasional di Moskow namun ia tak bertahan lama dan mengundurkan diri karena faktor kesehatannya yang memburuk. Kondisi tersebut memaksanya untuk dirujuk ke fasilitas medis, disanalah kemudian ia bertemu dengan Julia Schuct, isterinya kelak.

Pada 28 Oktober 1922 di Roma, kalangan fasis berhasil merebut kekuasaan dan kemudian merubah pandangan mayoritas partai-partai kelas buruh secara radikal. Meskipun terdapat upaya untuk menyatukan kekuatan sosialis dan komunis, hal tersebut berjalan penuh dengan kesalingcurigaan karena memang keduanya memupuk benih permusuhan sebelumnya. Pada awal tahun 1923, polisi Italia mulai menangkapi para pemimpin Partai Komunis termasuk surat perintah penangkapan terhadap Gramsci namun saat itu ia selamat karena berada di Moskow. Pada periode ini pula konflik-konflik internal Partai Komunis Italia mulai mengemuka. Situasi ini memaksa Bordiga dan Grieco untuk mengundurkan diri dari Central Committee dan Gramsci menjadi pemimpin utama partai dengan dukungan terbuka Komunis Internasional. Gramsci kemudian menggagas fondasi baru dan menyuarakan adanya aliansi kaum buruh proletarian di Utara dan petani di Selatan.

Pada Januari 1924, Gramsci mengajukan proposal penerbitan majalah triwulan dalam format besar dan termasuk dalam seri terbaru L ’Ordine Nuovo yang diberi judul Critica Proletaria mengenai studi-studi Marxis. Pada 12 Februari, terbitlah untuk pertama kali harian partai bernama L ‘Unita. Pada bulan Mei, Gramsci terpilih menjadi anggota Dewan Perwakilan untuk daerah pemilihan Veneto dan membuatnya dapat kembali ke Italia setelah 2 tahun. Pada bulan tersebut pula, Gramsci memberikan sebuah pidato di Dewan Perwakilan menentang Undang-Undang perkumpulan rahasia yang diajukan oleh Mussolini dan Alfredo Rocco.

Tahun 1925 adalah periode yang berat bagi Gramsci. Sementara ia mempersiapkan diri untuk Kongres ke-3 Partai Komunis Italia pada awal tahun 1926 di Lyons, Polisi fasis juga sedang memburu seluruh oposisi termasuk menggeledah rumah Gramsci. Pada awal bulan November, Gramsci yang berencana melakukan rapat rahasia akhirnya terhenti ditengah perjalanan dan dipaksa untuk kembali ke Roma. Pada tanggal 8 November, ia ditangkap oleh polisi bersama dengan para wakil Partai Komunis lainnya. Penangkapan ini murni bersifat politis mengingat Gramsci memiliki hak kekebalan sebagai anggota Dewan Perwakilan. Keesokan harinya, Dewan Perwakilan baru menyetujui pengambilalihan mandat dari seluruh wakil Aventine (kelompok anti fasis yang terdiri dari wakil Partai Demokrat, Sosialis dan Komunis).

Sejak Desember, ia kemudian ditempatkan di Ustica bersama-sama dengan tahanan politik lainnya termasuk Bordiga, seorang yang pernah berkonflik secara tajam dengan Gramsci. Tentang Bordiga, Gramsci menilainya sebagai orang yang teguh pendirian dan tak kenal kompromi. Namun justru, dengan peniliaian tersebut Gramsci memilih untuk bersikap searah dengan Bordiga mengingat Bordiga memiliki pengikut setia yang banyak, Gramsci “hanya” mengkritik Bordiga secara terbuka ketika menyampaikan pidatonya di Konferensi pertama Partai Komunis Italia di Como dan mencapai puncaknya ketika Bordiga mengajukan prakarsa pembentukan faksi sayap kiri di dalam tubuh partai. Masa-masa di penjara tersebut, Gramsci dan Bordiga kemudian memperbaharui persahabatan dan bekerjasama mendirikan sebuah sekolah untuk kalangan tahanan. Gramsci mengajarkan sejarah sastra dan Bordiga mengajar sejarah sains.

Januari 1927, Pengadilan Khusus yang dibentuk oleh Negara memulai aktivitas Pembelaan Negara. Gramsci dibawa ke Milan dan dipenjarakan di San Vittorio serta beberapa kali diinterogasi oleh hakim pemeriksa setelahnya pembatasan kontak dengan dunia luar pun diberlakukan. Masa-masa menunggu sidang membuat Gramsci gelisah mengingat ketidakpastian waktu dan provokasi oleh polisi. Gramsci beserta para komunis lainnya kemudian dipindahkan ke penjara Regina Coeli di Roma. Sidang pengadilan tersebut baru dimulai pada 28 Mei 1928 (lebih dari 1 tahun kemudian) dan memutuskan bahwa ia dijatuhi hukuman 20 tahun 4 bulan dan 5 hari penjara. Waktu yang benar-benar cukup untuk menghentikan otak agar tidak berfungsi lagi.

Tahun 1929 Gramsci mulai menulis Prison Notebooks sebagai sarana untuk menyibukkan diri, tentunya setelah mendapatkan ijin untuk menulis dan membaca di dalam penjara. Sebelumnya pada tahun 1927 ketika di penjara San Vittorio, Gramsci juga berniat untuk menuliskan beberapa tema bidang pengetahuan terkait kaum intelektual Italia, perbandingan bahasa, studi atas karya Pirandello menyangkut cita rasa drama di Italia dan terakhir mengenai novel-novel kerakyatan.

Pada Juli 1930, Gramsci mengetahui kondisi kesehatan isterinya, Julia, yang dibawa ke fasilitas medis karena sakit mental. Kondisi kesehatan Gramsci sendiri tidak lebih baik, dengan penyakit syaraf yang dideritanya sejak bayi terkadang menyerang secara tiba-tiba. Pada Agustus 1931, Gramsci mengalami serangan penyakit yang membuatnya batuk-batuk dan muntah darah. Meskipun begitu ia masih memiliki minat tinggi terhadap diskusi dan penulisan ketika beberapa rekan-rekan dan keluarganya mengungunjungi. Namun aktivitasnya terlalu banyak dan tak bisa dilanjutkan. Saudara ipar perempuannya mengajukan petisi kepada Mussolini agar Gramsci bisa diperiksa oleh seorang dokter.

Pada tahun 1932, dengan didasarkan pertimbangan atas kondisi kesehatannya, Gramsci memperoleh pengurangan masa tahanan menjadi 12 tahun 4 bulan namun tidak serta merta membuatnya bebas dari penjara. Rekan-rekannya mengajukan permohonan agar Gramsci diberikan pembebasan bersyarat namun pemerintah menegaskan bahwa permohonan haruslah diajukan oleh tahanan itu sendiri. Namun Gramsci menolak dengan keras mengajukan permohonan tersebut bahkan ketika Profesor Umberto Arcangeli yang membujuknya dengan melihat kondisi kesehatan yang dialami oleh Gramsci pada Maret 1933. Diakhir tahun 1932, ibu Gramsci meninggal dunia di Ghilarza. Kabar tersebut tidak langsung diberitahukan kepada Gramsci karena khawatir akan memperparah kondisinya.

Hasil pemeriksaan Profesor Arcangeli terhadap kondisi Gramsci yang kemudian dimuat dalam koran L ’Humanité membuat gelombang opini publik Eropa bermunculan. Sebuah tim dibentuk bagi pembebasan Gramsci dengan inisiasi oleh Romain Roland dan Henri Barbusse. Dari gerakan tersebut, pada 25 Oktober Gramsci disetujui untuk mendapatkan kebebasan bersyarat hingga tahun 1937.

Pada 19 November 1933, Gramsci dipindahkan ke Rumah Sakit penjara di Civitavechchia untuk menjalani perawatan di klinik Cusumano di Formia sesuai arahan polisi negara. Sejak itu sampai pertengahan tahun 1934 Gramsci banyak mengajukan pemindahan klinik satu ke klinik lainnya, pada bulan Juli, Gramsci baru memperoleh ijin untuk diperiksa oleh Profesor Vittorio Puccinelli dari Roma.

Pada awal-awal tahun 1935, kondisi Gramsci semakin parah dan pada bulan Juni serangan baru menimpanya. Atas intervensi Profesor Vittorio Puccinelli, ia diijinkan untuk pindah dari klinik Cusumano ke klinik Quisisana pada bulan Agustus dan masih dapat menerima kunjungan dari beberapa kerabatnya. Penurunan kondisi kesehatan tersebut membuat Gramsci sepanjang tahun 1936-1937 tidak menulis kecuali beberapa surat yang lebih ditujukan untuk anak dan istrinya.

Pada bulan April 1937, masa pembebasan bersyarat Gramsci berakhir namun kondisi kesehatannya semakin bertambah parah. Pada tanggal 25 April, Gramsci mengalami pendarahan otak dan 2 hari kemudian ia beberapa kali terjatuh hingga mengalami kelumpuhan pada sisi kiri tubuhnya. Gramsci dinyatakan meninggal dunia di klinik Quisisana tanggal 27 April dalam usia 46 tahun sekitar dini hari, kabar tersebut menjadi pemberitaan yang tersebar secara cepat dan meluas di Eropa.

Padli Ahmad

Pemuda kelahiran Samarinda 36 tahun silam. Disela-sela kesibukannya sebagai karyawan sebuah perusahaan milik pemerintah daerah Kalimantan Timur masih menyempatkan diri untuk menuliskan pandangan terutama menyangkut budaya, seni, sosiologi, politik, filsafat dan agama.

Add comment

Highlight option

Turn on the "highlight" option for any widget, to get an alternative styling like this. You can change the colors for highlighted widgets in the theme options. See more examples below.

Flag Counter