Mengeja Indonesia

Pertanyaan yang Tak Bisa Dihindari dari Filsafat9 min read

Apakah Anda kadangkala bertanya, apa itu kenyataan dan apa itu penampakan lahiriah? Apakah benda materi ini, batu ini, nyata? Apakah dunia adalah benda fisik yang nyata, dunia di mana sapi-sapi digembalakan di tanah lapang yaitu di bawah langit biru musim panas? Apakah jalan-jalan kota itu nyata, toko dan gedung perkantoran antrean mobil dan bus, orang-orang yang memenuhi trotoar, pesawat besi raksasa berdesing menembus gumpalan awan kelabu di atas kepala kita?

Apakah kenyataan hanyalah partikel-partikel zat dalam gerakan tanpa makna, berakhir dalam kematian, kematian seorang individu, dan dalam kematian menyeluruh sistem tata surya ini? Atau apakah segala kenyataan fisik ini hanya permukaan yang tampak bagi indra, dan sejauh ini hanya ilusi? Apakah kenyataan itu untuk dicari di tempat lain, di alam pikiran dalam kebenaran abadi seperti pedoman hidup, atau dalam kebijaksanaan dan tujuan Tuhan? Dan bagaimana halnya dengan kenyataan Anda sendin?

Apakah Anda hanyalah tubuh, sebuah organisme material yang menghindan rasa sakit dan mencari kesenangan, kumpulan atom yang diprogram untuk tumbuh, menjadi dewasa, dan untuk merusak diri sendiri, sebuah produk lingkungan di mana Anda hidup? Namun jika Anda menolak menganggap diri Anda sebagai benda badaniah, Jaln kenyataan Anda terkandung dalam wujud Anda yakni pikiran atau jiwa? Namun, kenyataan macam apa itu?

Bagaimana mugkin akal dan jiwa mengisi sebuah jasad lahiriah? Sebagai hantukah? Metafisika merupakan cabang filsafat yang menanyakan pertanyaan-pertanyaan tentang kenyataan tersebut; apa itu kenampakan dan apa yang nyata? Kenyataan macam apa yang dimiliki semesta-apakah itu pikiran atau zat ataukah itu adalah mahkluk rohaniah? Kenyataan macam apa yang Anda miliki sebagai sesosok manusia?

Ini merupakan persoalan yang ditanyakan Metafisika. Apakah Anda kadangkala bertanya, apa yang bisa kita ketahui? Apakah ada kebenaran yang bisa kita yakini? Apakah sebuah pernyataan benar hanya jika didasarkan pada apa yang bisa ditangkap indra Anda, pada apa yang bisa Anda lihat ataukah Anda sentuh? Namun, adakah jaminan bahwa yang dirasakan indra Anda bisa menetapkan kebenaran akan dunia?

Apakah kebenaran itu abadi dan absolut, seperti yang dinyatakan oleh beberapa filsuf dan agama besar, atau-kah kebenaran itu subjek yang bisa diubah? Ilmu pengetahuan, yang secara luas didasarkan pada pengamatan pancaindra, secara konstan berubah, mengganti diri, menyangkal diri, menciptakan lebih banyak lagi angka-angka, grafik, elektron dan tikus-tikus. Apakah ilmu pengetahuan nyata?

Ataukah kita seharusnya kembali ke tradisi sebuah agama Kristen Judeo demi kebenaran? Atau kembali pada filsuf besar dunia Barat? Pembela ilmu pengetahuan mencemooh agama dan filsafat dalam pandangannnya terhadap kebenaran, dan bersikeras bahwa tak ada kebenaran selain yang ditunjukkan ilmu pengetahuan.

Agama dan filsafat, keduanya tidak hanya diserang dan disalahkan oleh para pembela ilmu pengetahuan, namun, juga saling serang. Apakah kemudian Anda bertanya apa yang bisa kita ketahui? Apakah itu kebenaran? Ini juga ditanyakan dalam filsafat. Teori-teori ilmu pengetahuan atau epistemologi bertanya: Apa yang dinamakan pendapat dan apa itu kebenaran? Apakah ilmu pengetahuan sejati bersumber pada pengamatan oleh indra atau apakah bersumber pada pemikiran manusia atau wujud supernatural? Apakah kebenaran itu pasti, abadi, absolut, atau kebenaran itu berubah dan relatif? Adakah batasan pada apa yang bisa kita ketahui?

Ini merupakan pertanyaan-pertanyaan cabang filsafat atau epistimologi. Apakah kadang-kadang Anda bertanya, kenapa aku harus bermoral? Apakah Anda sering kali memperhatikan, bahwa dalam masyarakat yang Anda tahu orang-orang berbudi dan baik kelihatannya menderita berbagai macam kesedihan, bahwa mereka hidup dalam frustasi dan keputusasaan, dan bahwa seringkali yang egois dan lirik hidup makmur dan bahagia?

Lalu, kenapa tidak hidup seperti yang dinamakan teori ilmu pengetahuan playboy saja, di mana kesenangan merupakan kelemahan tertinggi kenikmatan hidup yang menyenangkan dari makanan, minuman, seks, narkoba, dan segala rangsangan jika kenikmatan hidup tidak bisa lagi dianggap yang paling enak, kemudian apakah Anda bertanya kalau begitu apa yang paling enak, apa yang layak ditinggalkan, paling layak diperjuangkan? Apakah jika ada yang saat ini bisa dikatakan baik atau buruk? Standar apa tubuh yang bisa dilakukan? Namun, yang bisa kita pakai untuk menghakimi bahwa sebuah tindakan itu salah?

Banyak orang bertanya “Siapa yang berhak mengatakannya?” Mereka mengekspresikan pendapat khalayak luas bahwa kita tidak memiliki dasar penentu atas penghakiman moral, dan karenanya tak ada seorang pun yang bisa “berkata” bawah suatu tindakan itu salah. Apakah segala standar tentang yang baik dan buruk, tentang apa yang menciptakan kehidupan pribadi yang baik, atau masyarakat baik merupakan ketidakpastian belaka pada individu atau pada kelompok sosial tertentu, menambahkan tak lebih dari kebiasaan atau kecurigaan, serta hanya melayani kepentingan dan kebutuhan individu atau kelompok?

Ini merupakan pertanyaan-pertanyaan cabang filsafat yang dinamakan etika. Etika bertanya: apakah kebaikan tertinggi bagi manusia, kebaikan absolut? Apa makna baik dan buruk dalam tindakan manusia? Apa kewajiban kita tak ada tanya kenapa harus bermoral? Apakah Anda kadang-kadang bertanya, pemerintah macam apa yang terbaik? Anda tidak bisa mengelak dari pertanyaan seperti apa yang dinamakan pemerintahan yang paling baik pada saat AS bertempur dalam perang yang gagal menghentikan komunis Vietnam Utara dan mengambil alih Vietnam Selatan.

Sekarang itu telah usai dan Vietnam Selatan menjadi negara komunis. Pertanyaan yang tertinggal adalah apakah demokrasi merupakan bentuk terbaik pemerintahan di dunia ini sekarang? Apakah totalitarianisme komunis merupakan yang terburuk? Prinsip keadilan kebenaran, kemerdekaan atau kesetaraan seperti apakah yang diterapkan demokrasi dan totalitarianisme dalam rangka menetapkan bentuk pemerintahannya?

Apakah prinsip keadilan kebenaran, kemerdekaan kesetaraan memiliki makna yang kuat dan dikenal, ataukah itu hanya kata-kata keras berapi-api yang digunakan para tukang propaganda demokrasi, kediktatoran, dan pemerintahan totalitarian untuk menipu dan mengontrol kita?

Saat ini, pemerintah-pemerintah dunia Barat menghadapi masalah serius yang menghasilkan senjata nuklir, serangan komunis, peledakan penduduk , habisnya sumber-sumber alam seperti minyak dan batubara, polusi air dan udara serta inflasi ekonomi. Pemerintahan kita dihadapkan pada masalah-masalah tersebut, seperti halnya masalah perawatan kesehatan, kesejahteraan, keamanan, sosial, pendidikan, rakyat, pertahanan militer, dan struktur pajak, serta sebagai akibatnya pemerintah federal berperan amat besar dalam kehidupan kita.

Sebuah pertanyaan yang penting, yang kita takkan tahan untuk tidak menanyakannya sekarang juga adalah seberapa besar seharusnya kontrol pemerintah terhadap kehidupan warga negaranya? Apa guna pemerintah, apakah untuk menjaga kesempatan yang sama bagi kita ataukah untuk menciptakan kesejahteraan yang sama untuk semuanya?

Filsafat politik merupakan cabang filsafat yang menanyakan semua pertanyaan berikut: bentuk pemerintahan seperti apa yang terbaik? Prinsip-prinsip yang memaknai pemerintahan? Siapa yang seharusnya berkuasa dan bagaimana hal ini dijelaskan? Apa fungsi yang tepat dari pemerintah? Apakah kadang-kadang Anda juga bertanya, Apakah sejarah manusia memiliki makna? Apakah sejarah manusia di dunia memiliki tujuan? Apakah sejarah tersebut menunjukkan suatu pola?

Ataukah generasi demi generasi manusia dengan segala aktivitas keyakinan dan cita-cita, hanyalah angin lalu tanpa makna, obrolan kosong, debu yang segera kembali jadi debu tak berarti? Cita-cita serta perjuangan seorang laki-laki dan perempuan akan menjadi tak bermakna (seseorang berpikir mengenai perjuangan politik Hubert Humphrey). Kebangkitan negara besar tampaknya tak bisa menghindari jalan mereka menuju kemunduran dan keruntuhannya sendiri (seorang berpikir mengenai runtuhnya peradaban suku Maya Amerika Tengah atau kejatuhan Romawi kuno).

Muslihat licik politik tampaknya melemahkan teladan kejujuran dalam pemerintahan (seorang berpikir mengenai Watergate). Bisakah Anda bisa menanggung beban siksaan pemikiran tentang kesedihan dan frustasi yakni kejadian yang berulang-ulang dari sejarah pribadi dan jari-jari dunia? Apakah sejarah memiliki makna yang bisa menjelaskan horor dan frustasi tanpa akhirnya? Apakah Anda juga bertanya tentang pertanyaan perihal sejarah? Hal ini juga merupakan pertanyaan filsafat. Tipe ini merupakan pertanyaan cabang filsafat yang dinamakan filsafat sejarah.

Apakah kadang-kadang Anda bertanya, sebagus apa argumen yang ditanyakan para ahli ekonomi, politikus, ahli teologi, filsuf, wartawan, yang berusaha meyakinkan Anda akan senang pandangan mereka? Apakah Anda juga memperhatikan seberapa bagus argumen yang Anda miliki? Apa yang menjadi prinsip-prinsip pemikiran yang benar? Apa yang menjadi kriteria pendapat yang tepat atau benar? Adakah jenis-jenis kesalahan dalam berfikir yang bisa diidentifikasi? Ini merupakan pertanyaan-pertanyaan yang ditanyakan oleh cabang filsafat yang dinamakan logika.

Anda kerap menanyakan pertanyaan-pertanyaan tadi, namun, apakah pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak selalu berada di suatu tempat di balik pikiran Anda? Apakah pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak selalu menggelegak dalam pikiran Anda? Suatu saat Anda akan mendapati bahwa pertanyaan-pertanyaan itu tak lagi menggelegak, namun, tiba-tiba menyembur seperti api. Pertanyaan ini bisa juga dipikirkan dalam cara yang lain sebagai figur yang Namun, ada saatnya ketiga figure ini maju kedepan panggung berteriak dan menjerit pada Anda.

Figur itu akan meneriakkan kepentingannya di tengah-tengah panggung. Pada saat Anda tertimpa krisis pribadi atau pada saat seluruh masyarakat Anda berada dalam krisis dan revolusi yang kelihatannya akan terjadi. Kadang-kadang figur tersebut akan datang ke tengah panggung Anda dan berteriak pada Anda ketika dalam tidak ada krisis objektif dalam hidup Anda, ataupun masyarakat sekitar Anda, kecuali ketika tiba-tiba Anda merasa telah kehilangan sikap, bahwa Anda tak tahu apa yang Anda yakini, bahwa Anda tidak punya kepastian, dan bahwa Anda mengalami kekosongan dalam diri yang kuat, ketiadaan titik pertanyaan-pertanyaan ini kemudian akan seperti kilat menyambar dan kehampaan pada diri Anda.

Tidak dalam satu kasus pun pertanyaan-pertanyaan ini akan hilang. Pertanyaan-pertanyaan itu takkan hilang. Waktu takkan menghilangkan dan menyingkirkan pertanyaan-pertanyaan tersebut dari diri Anda. Pertanyaan itu tak bisa diperintah begitu saja untuk pergi lain, dari pikiran Anda, baik oleh Anda sendiri oleh undnew orang meskipun ada beberapa ilmuwan dan filsuf yang mengatakan Anda tak perlu mengkhawatirkan pertanyaan-pertanyaan tersebut, karena itu bukanlah pertanyaan-pertanyaan ilmiah yang tepat, atau filsur lain mengatakan, pertanyaan-pertanyaan ini tak berarti, mereka menyimpangkan cara biasa di mana kita menggunakan bahasa Inggris; sementara itu yang lainnya memandang pertanyaan-pertanyaan ini terlalu berbahaya, terlalu mengganggu, selalu mengancam bagi sebagian besar orang yang memikirkannya.

Apakah yang nyata? Apa yang bisa kita ketahui? Apa maksud bermoral, hidup dalam kehidupan yang baik? Apa bedanya antara baik dan buruk? Apa pemerintah yang baik dan apa fungsi dalam hubungannya dengan warga negara? Apakah sejarah manusia memiliki makna, pola? Hal ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang telah ditanyakan oleh filsuf-filsuf besar Barat selama lebih dari dua ribu lima ratus tahun, sejak masa Athena kuno pada abad VI SM.

Menjadi manusia adalah untuk menanyakan pertanyaan-pertanyaan ini. Jika kita manusia hanya benda badaniah, jika kita hanyalah kumpulan atom yang tak berarti, meski begitu berarti kasusnya adalah bahwa kita ini merupakan satu-satunya kumpulan atom di semesta ini yang bisa berefleksi pada semesta dan bertanya, apa yang nyata dan apa artinya bermoral itu?

Bisakah Anda bayangkan sebuah dunia di mana tak ada lagi yang menanyakan pertanyaan-pertanyaan filosofis, tak ada seorang pun yang berfikir filosofis? Itu akan menjadi sebuah dunia di mana tak ada seorang pun yang menembus alam bawah nyata kehidupan sehari-hari untuk berpikir mengenai apa yang nyata, benar, bernilai, pasti, dan berarti dalam kehidupan manusia. Itu akan menjadi dunia yang berisi lelaki perempuan dan anak-anak mekanis yang bergerak di antara benda-benda fisik, sebuah dunia di mana kita akan menjadi manusia kosong, bergerak dalam gerakan tak berhati dan omongan kita akan jadi obrolan kosong.

Tak ada yang ditanyakan karena segala hal tidak lagi bermakna dan tak perlu ditanyakan lagi. Namun, para filsuf dunia Barat bukanlah orang-orang yang kosong mereka terisi dengan vitalitas yang mengagumkan dan keyakinan diri yang menjadi nilai dasar untuk mengemukakan pertanyaan-pertanyaan di atas dan menjawabnya dengan cara mereka sendiri.

 307 total views,  4 views today

Redaksi

Mengeja Indonesia adalah sebuah gerakan yang otonom dan nirlaba, mengangkat isu-isu fundamental bangsa.

Add comment

Highlight option

Turn on the "highlight" option for any widget, to get an alternative styling like this. You can change the colors for highlighted widgets in the theme options. See more examples below.

Flag Counter