Mengeja Indonesia

Kado Penuh Gemintang untuk Bunda Bintang8 min read

Namanya Bintang Gemintang. 15 tahun. Namanya unik, seunik perangainya. Wajahnya pun menarik, membuat setiap orang yang berpapasan dengannya menoleh dan berkeinginan untuk menjadi temannya. Dan keunggulan paling luar biasa yang ia miliki adalah daya ingatnya. Deretan 20 angka mampu ia hapal dalam hitungan detik, kata per kata dari textbook mata pelajaran sejarahnya bisa ia ingat dengan sempurna. Anugerah luar biasa dari Tuhan untuknya.

Kehidupan Bintang sangat bahagia jika dilihat. Ayah Bundanya orang berada, sehingga Bintang bisa tinggal di kamar yang luas, dengan fasilitas yang mewah. Ia punya seorang kakak, yang namanya tak kalah unik, Cahaya Mentari. Kakak yang saat ini sedang berusaha menamatkan S2 nya di negeri kincir angin, Belanda. Kehidupan keluarga mereka sangat harmonis dan menyenangkan. Sayangnya, Bintang belum bisa paham akan kebahagiaannya. Butuh 15 tahun untuk membuatnya paham.


Bintang. 3 tahun. Ia demam tinggi. Setelah fase itu ia lewati, Bintang tak dapat mendengar dengan jelas lagi. Perkembangan kemampuan berbicaranya tak maju-maju, sehingga membuat Ayah Bunda khawatir, begitu juga dengan kak Mentari. Hal ini yang membawa Ayah Bunda berkonsultasi dengan dokter spesialis anak. Betapa hancurnya hati Bunda mengetahui bahwa putranya tak bisa mendengar dengan normal. Betapa sedihnya Bunda, merasa bersalah, karena bisa jadi itu semua karenanya.

Setelah itu, Bunda tak sanggup melihat Bintang. Mengurung diri di kamar, menangis, membiarkan Bintang dalam asuhan nenek, Ibu dari Bunda. Namun, 6 hari kemudian, Bunda dengan kekuatan penuh, berjanji bahwa akan membuat Bintang tetap seperti anak normal lainnya. Kemudian, setelah Bintang harus masuk sekolah, Bunda menyekolahkan di sekolah luar biasa. Ia tak bisa masuk ke taman kanak-kanak biasa karena keadaannya yang memang tidak biasa. Beruntung Ayah Bundanya adalah orang berada, sehingga Bunda bisa mendatangkan guru privat yang sangat bagus untuk menunjang kognitif Bintang. Pun demikian dengan mengajarkan Bintang bahasa isyarat, juga berbicara normal. Dan juga membelikannya alat bantu pendengaran, yang benar-benar membantu Bintang. Sayangnya alat ini tak bisa berguna setiap saat. Dan ini yang membuat Bintang, yang kemudian sudah berusia 7 tahun, menjadi frustasi, kemudian akhirnya membenci Bunda.


Bintang. 7 tahun. Hari ini pertama kali Bintang masuk sekolah dasar. Sekolah dasar formal. Guru taman kanak-kanaknya merekomendasikan Bintang bisa masuk ke sekolah formal dengan berbagai pertimbangan. Kemampuan bersosialisinya membaik karena Bintang dapat berbicara. Alat pendengarannya pun berfungsi dengan baik, hanya memang terkadang berdenging. Dan yang paling penting, kemampuan mengingat Bintang yang luar biasa. Dan guru-guru pun berpendapat, ia bisa sekolah di sekolah biasa.

Ini sekolah swasta yang mahal, yang muridnya adalah putra-putri orang berada. Mutunya sangat baik dan bisa dikatakan sekolah taraf internasional. Hari itu Bunda mengantar Bintang ke sekolah. Bintang senang sekali. Bunda pun tak kalah bahagianya. Selama ini Bintang adalah anak yang baik dan penurut, karena Bunda mengajarinya dengan teladan yang baik. Tak perlu memarahi, cukup menjadi teladan dari setiap tindakan yang harus dilakukan Bintang. Bunda juga sangat suka bercerita pada Bintang setiap malam, dengan buku-buku bergambar yang indah, yang penuh dengan kisah keteladanan. Bintang pun tumbuh jadi anak laki-laki yang berpikiran positif. Setiap tanggal 22 Desember, hari ulang tahunnya, Bunda selalu memberikan buku yang sangat indah, buatan Bunda, penuh dengan cerita bagaimana berperilaku baik pada semua orang, yang hingga saat ini sudah ada 7 buah.

Setelah Bunda pulang, Bintang bertemu dengan seorang Ibu yang menggandeng anak laki-lakinya juga. Ia merasa pernah bertemu Ibu itu. Ya, itu Tante Siska, teman Bunda yang suka berdandan. Yang pernah datang ke rumah kala acara ulang tahun pernikahan Ayah dan Bunda.

“Loh, ini Bintang kan?” sapa Tante itu. Bintang pun mengangguk.

“Kok bisa sekolah di sini?” tanya Tante Siska lagi. Bintang hanya menggeleng, mana Bintang tahu kenapa.

“Oiya Tante lupa kalau Bintang cacat. Kenalin ya ini Aldi, anak tante. Dia murid baru juga, sama seperti Bintang.” Lanjut Tante Siska. Bintang pun mengangguk, menjabat tangan Aldi dan tersenyum. Bintang sudah paham dengan cacatnya ia.

Bintang pun berbicara dengan lancar, “Senang mengenalmu, Aldi. Selamat jadi siswa sekolah dasar. Bintang ke kelas dulu ya, Tante.” Bintang pergi meninggalkan Tante Siska yang tak percaya bahwa ia bisa bicara. Bintang paham orang akan merendahkannya. Bunda sudah menceritakan kemungkinan itu di hadiah ulang tahunnya yang lalu. Bukan kisah ini yang membuat Bintang membenci Bunda.


Hari ini bagi rapor. Bintang menjadi yang terdepan dalam hal prestasi. Tentu membuat Ayah dan Bunda Bangga. Bunda pun langsung mengabari Kak Mentari, yang kemudian berjanji akan mengirimkan buku untuk Bintang langsung dari Belanda. Ya, Bintang sangat suka membaca. Setelah pembagian rapor, kelas Bintang mengadakan acara rekreasi ke gunung. Sayangnya kali ini, Bunda melarang Bintang untuk ikut. Bunda khawatir akan Bintang.

“Bunda tak boleh melarang Bintang. Bunda tak pernah melarang Bintang. Tapi untuk hal yang sangat Bintang inginkan, kenapa Bunda malah melarang?” Bintang berteriak, untuk pertama kali, kepada Bunda. Wajahnya memerah. Bintang sangat ingin ke gunung.

“Bunda sayang Bintang. Bunda khawatir dengan kondisi Bintang.” Jawab Bunda tenang.

“Apa Bunda tidak ingin mengubah larangan Bunda?” tanya Bintang, wajahnya tetap memerah.

“Bunda minta Bintang bersabar untuk tidak ikut.” Bunda menjawab tegas.

Bintang pun berlari ke kamar. Alat pendengarannya berdenging. Bintang tak suka ini terjadi. Seandainya ia normal. Kata Tante Siska, ia begini karena dulu demam, tak dirawat Bunda dengan baik. Bintang tau Tante Siska berkata demikian karena tak terima Bintang mengalahkan Aldi. Tapi Bintang jadi berpikir dengan jahat. Ini semua salah Bunda, Bintang pun dilarang Bunda. Larangan pertama dari Bunda membuat Bintang marah dengan Bunda. Membuatnya untuk pertama kali meratapi cacatnya. Bintang masih 7 tahun, namun ia membenci Bunda. Sangat benci dengan Bunda yang melarangnya.


Bintang. 15 tahun. Bunda tetap memberi hadiah ulang tahun setiap 22 Desember. Meskipun Bintang menjadi dingin semenjak marahnya ia di usia tujuh tahun. Saat ini Bintang sudah semakin tinggi. Semakin cemerlang, hanya saja masih tetap dingin terhadap Bunda.

Hingga hari itu, Bunda kecelakaan. Membuat Bintang panik tak karuan. Bintang sangat takut kehilangan Bunda. Bintang dingin terhadap Bunda, tapi Bintang selalu senang setiap 22 Desember, Bunda memberinya kado indah itu. Bintang hanya egois tak mau tau kenapa Bunda melarang, dan Bintang malu untuk meminta maaf. Padahal, dari buku yang Bunda beri saat ulang tahun Bintang ke-10, Bintang jadi tahu bahwa meminta maaf tak akan membuatmu menjadi hina. Bintang tetap tak mau meminta maaf.

Tapi saat ini, Bintang ingin sekali meminta maaf pada Bunda. Ayah dan Bintang segera menuju ke rumah sakit, Ayah kemudian menghubungi Kak Mentari. Memintanya untuk tidak terlalu khawatir, Bunda akan baik-baik saja. Hal menyedihkan yang terjadi selanjutnya adalah, Bunda kehilangan pendengarannya. Kecelakaan itu merusak gendang telinga Bunda. Betapa sedihnya Bintang, bahkan dengan alat bantu dengar, Bunda tetap tak bisa mendengar lagi.


Bintang terbangun karena ada elusan halus di puncak kepalanya. Bunda sudah sadar. Bintang menangis.

“Kenapa Bintang menangis?”, Bunda bertanya dengan lancar, terdiam. Sepertinya Bunda tahu dengan segera ada yang salah dengan pendengarannya.

“Maafkan Bintang, Bunda,” tangis Bintang tak berhenti. Bunda tak mendengar hal itu.

“Bunda tak bisa dengar, sayang. Bisa dikeraskan sedikit suara Bintang?”

Bintang semakin menangis, dan terbata mengucapkan hal ini. “Maafkan Bintang, Bunda. Bintang sayang Bunda.”

Bunda tetap tak mendengar, namun mengerti bahwa pendengarannya sudah tak bisa berfungsi. Dan Bunda mengerti pula apa yang diucapkan Bintang sambil menangis. Bunda benar-benar mengerti. Budah sudah memaafkan Bintang segera setelah Bintang marah untuk pertama kali padanya. Bertahun silam.


Bintang. 18 tahun. Ini hari kelulusan Bintang dari sekolah menengah atas. Dengan mengagumkan, Bintang mendapat 10 di semua pelajaran. Hal itu benar-benar membuat keluarga mereka bahagia. Setelah kecelakaan, dunia keluarga mereka masih bisa kembali ceria dan hangat, walau pelan, meski perlahan. Dengan terapi selama tiga tahun, dan juga operasi, Bunda sudah bisa mendengar, meskipun tak sesempurna awalnya.

“Selamat ya Bintang sayang. Ayah dan Bunda sangat bangga.” Peluk Bunda di rumah.

“Ayah juga bangga dengan Bintang. Ayah sempat melihat Bintang memegang brosur ini saat tidur. Bintang juga ingin seperti Kak Mentari, melanjutkan sekolah di Belanda?” Tanya Ayah.

Bintang menggeleng. “Bintang ingin melanjutkan sekolah di sini saja.”

“Apa alasan Bintang?” tanya Ayah.

“Bintang ingin menjadi berguna dari ilmu yang Bintang dapat di negeri sendiri, jawab Bintang singkat, meski itu bukan yang ada di hatinya.

“Kalau alasan Bintang di sini hanya untuk menemani Bunda, itu akan sangat menyakiti Bunda. Merantaulah, nak. Jadi yang terbaik di sana. Bunda akan menunggu Bintang, putera Bunda, menjadi seperti bintang gemintang di langit. Bunda tau Bintang ingin ada di sekolah itu.” Bunda menjelaskan panjang lebar.

Bintang hanya bisa menangis. Memeluk Bunda. Merasa bersalah untuk beberapa tahun yang terlewat dengan bersikap dingin pada Bunda. Saat itulah Bintang semakin sadar, bahwa Bunda melakukan segalanya hanya untuk Bintang dan Kak Mentari. Bunda menyayangi mereka. Bintang yang salah.


Bintang. 24 tahun. Berkat cinta Bunda, Bintang Gemintang menjadi bintang. Yang memancarkan cahayanya sendiri. Peraih Nobel Termuda di Bidang Ilmu Teknologi. Nobel ini untuk Bunda. Akhirnya hari ini, tepat di usia 24nya, Bintang bisa memberi kado sempurna untuk Bunda. Setelah selama ini, Bunda selalu memberinya kado setiap hari, sebab bagi Bintang kehadiran Bunda adalah kado paling indah. Hal yang selama ini harusnya juga Bintang lakukan. Karena 22 Desember, juga adalah ulang tahun Bunda. Pun hari untuk Ibu sedunia, hari untuk Bunda juga.


Jemariku sudah cukup lelah menjelajahi keyboard laptop abu-abuku. Begitu juga punggungku. Namun aku puas. Inilah yang sangat aku sukai dari perjalanan menulis. Berada di akhir, dan mendapatkan pemahaman baru, pemahaman yang lebih baik. Ibu adalah sosok yang sangat istimewa, aku selalu tahu akan hal itu. Terlepas ada kekurangan dalam hidup mereka, mereka akan selalu berusaha menjadi sempurna, terutama untuk buah hati mereka.

Ya, kisah Bintang tadi mungkin hanya ada dalam cerita. Tapi, untuk Ibu yang selalu berusaha sempurna di hadapan kita, tak rugi jika kisah kita untuknya sesempurna cintanya.

Untuk mengistirahatkan punggung, aku berbaring. Teruntuk dua sosok wanita istimewa, kulangitkan selaksa doa. Untuk Mamak, semoga diberkahi umur panjang, sehat, dan bahagia. Untuk Ibu, doa itu sebelumnya juga selalu untuk Ibu. Namun, ketika takdir Allah berkata lain, untuk sekarang, semoga Allah anugerahkan tempat menunggu yang lapang dan terang, selapang sabar Ibu, seterang kasih Ibu kepada kami semua. Suatu saat nanti, kita semua berkumpul di syurga ya, Bu. Insya Allah. Dari jarak ribuan kilometer ke rumah Mamak. Dari jarak tak terhingga kepada Ibu. Aku membenak, sungguh, terima kasihku tak akan pernah cukup.

 220 total views,  4 views today

Dyah Anugrah Pratama

Seorang istri, putri, dan kakak, yang juga adalah Dokter Umum di DKI Jakarta. Penyuka diskusi (terutama dengan suami), pecinta harum buku baru, dan tertarik dengan dunia literasi. Saat ini sedang rindu dengan suara debur ombak dan lagu klasik di toko buku.

Add comment

Highlight option

Turn on the "highlight" option for any widget, to get an alternative styling like this. You can change the colors for highlighted widgets in the theme options. See more examples below.

Flag Counter