Mengeja Indonesia

Karl Marx dan Filsafat Radikal12 min read

Biografi, Sebuah Pengantar

Marx lahir dan dibesarkan oleh keluarga kelas menengah. Nama aslinya adalah Karl Heinrich Marx, lahir pada 5 Mei 1818 di salah satu kota di Prusia- Jerman. Anak dari Heinrich dan Hendrita Marx. Ayahnya, Heinrich adalah seorang pengacara sekaligus aktivis reformasi Prusia.

Marx mulai menekuni filsafat saat masih berusia 17 tahun, ketika dia dipindah sekolahkan oleh ayahnya di universitas Berlin. Hegel adalah guru besar di Universitas itu. Marx banyak bergaul dengan kelompok pemuda hegelian, di kelompok tersebut ia bertemu dengan Ludwig Feuerbach. Proses belajar Marx dalam mendalami pengetahuan filsafat banyak dipengaruhi secara teori oleh orang-orang yang juga tekun mempelajari filsafat seperti Hegel, Feuerbach, Proudhon.

Pada saat berusia 23 tahun, Marx meraih gelar doktor dan gagal menjadi dosen. Ia kemudian bekerja sebagai editor dan aktif menulis.  Pada 1844 Marx menyelesaikan tulisan yang ditujukannya untuk mengkritik filsafat Hegel. Tulisan itu berjudul Introduction to A Contribution to the Critique of Hegel’s Philosophy of Right (Pendahuluan pada Sumbangan untuk Kritik terhadap Filsafat Hak Hegel). Karya ini berisikan kritik Marx terhadap idealism hegel. Dalam karya ini, ada satu penggalan kalimat Marx yang menyatakan “agama adalah candu”. Sejak Marxisme hadir dan dianggap sebagai sekte di dunia akademis, kalimat  tersebut sering dikutip dan dipakai untuk menyudutkan karl marx sekaligus marxisme.

Tahun berikutnya dalam musim semi 1845, Marx menulis tesis tentang Feuerbach. Tulisan itu berisi kritik Marx terhadap Materialisme Feuerbach. Materialisme yang menurut marx kaku dan hanya berkutat pada kebendaan.

Karya marx tentang kritik terhadap filsafat Hegel, membawanya bertemu dengan Friedrich Engels. Engels adalah anak dari pengusaha tekstil besar di inggris. Ia hidup dari keluarga pengusaha, meski demikian dia tidak lantas mewarisi ideologi keluarganya. Engels justru menulis sebuah karya dengan Analisa kelas yang berjudul, Condition of the Working Classes in England, (Kondisi kelas pekerja di Inggris).

Marx tertarik dengan karya Engels tersebut. Menurutnya itu adalah karya dengan Analisa kelas pertama dan mengagumkan. Bertemu di Paris, keduanya kemudian memulai karya mereka dengan mengkritik teori-teori kritis yang berkembang di Jerman. Karya yang atas usul Jeni, Istri Marx, diberi judul “Kritik atas Kritik yang Kritikal” dan oleh Marx secara sepihak, diberi judul besar “The Holy Family” (Keluarga Suci). Keluarga suci, adalah karya pertama yang membawa keduanya pada karya yang lebih serius dan menakjubkan di dunia filsafat. Ditahun yang sama mereka mengkritik tulisan Proudhon tentang “Filsafat kemiskinan”. Tulisan itu menjadi antitesa dari cara berpikir Proudhon tentang filsafat dan ekonomi politik. Karya itu diberi judul “Kemiskinan Filsafat”.

1846 Marx dan Engels Kembali menyelesaikan karya tentang Materialisme dialektika historis ekonomi-politik, sebuah karya yang memiliki muatan filsafat dengan metode pendekatan yang sangat kritis dan ilmiah. Karya tersebut baru diterbitkan pada tahun 1932, dengan judul German: Die deutsche Ideologie (Ideologi Jerman). Karya ini menjelaskan bagaimana perkembangan sejarah adalah cerminan dari setiap perubahan basis struktur atau hubungan ekonomi. Perubahan yang membentuk suprastruktur kehidupan manusia. Setiap kali perubahan basis struktur itu terjadi ia dengan demikian juga memproduksi ide yang disebarkan oleh elemen-elemen suprastruktur sebagai ideologi kelas yang berkuasa. Karya ini menyerang langsung kedua filsafat yang terus berseteru sepanjang sejarah, yakni Idealisme dan materialisme.

Marx dan Engels membangun persekutuan kuat tempat mereka berkolaborasi menulis sejumlah buku dan artikel serta bekerja sama dalam organisasi radikal, dan bahkan Engels menopang Marx sepanjang hidupnya sehingga Marx mengabdikan diri untuk dan berpetualang di bidang ekonomi-politik dan intelektual. Karya besar lainya yang ditulis keduanya diantaranya adalah Manifesto Komunis, kapital I sampai 3. Marx lebih dulu meninggal, sebelum semua jilid das kapital selesai. Engels lah yang melanjutkan dan menyelesaikannya. Meskipun demikian menurut saya, keduanya adalah filsuf sekaligus ekonom paling berpengaruh di dunia intelektual. Karya-karyanya meresahkan bukan saja para filsuf tetapi juga dianggap sebagai sekte dalam dunia intelektual. Satu-satunya alasan atas itu adalah, karena keberpihakan mereka terhadap rakyat pekerja dan kemanusiaan. Karya-karya intelektual mereka atas filsafat, tentu sangat berarti karena, filsafat di tangan mereka tidak hanya dipakai untuk menjelaskan dunia, tetapi juga menyediakan syarat-syarat untuk merubahnya.

Idealisme Vs Materialisme

Sebenarnya, sejarah dan perkembangan filsafat pada dasarnya bermuara dari dua sudut pandang yang saling bertentangan. Jika kita bicara filsafat sebenarnya kita hanya bicara dua hal, Idealisme dan materialisme. Bentuk-bentuk yang muncul setelah sudut pandang ini, adalah bentuk-bentuk yang mengekspresikan kondisi material di mana kedua filsafat itu muncul dan berkembang.

Sudut pandang yang kita gunakan sangat mempengaruhi sikap-sikap kita. Baik dalam pergaulan hidup sehari-hari, hingga sikap serta tindakan kita terhadap realitas. Seorang yang konsisten belajar  filsafat Ketika melihat kemiskinan dengan sudut pandang yang berbeda akan memiliki sikap dan tindakan yang berbeda pula. Tetapi seorang yang tidak belajar filsafat Ketika melihat kemiskinan, bisa saja memiliki sudut pandang yang berbeda, tetapi memiliki sikap dan Tindakan yang sama.  Sebab orang yang tidak belajar filsafat akan mudah terombang ambing oleh keadaan. Disinilah pentingnya mempelajari filsafat. Agar sudut pandang dan sikap kita selaras. Meski demikian harus digarisbawahi, sebaik-baiknya filsafat adalah yang tidak hanya menjelaskan dunia, tetapi juga menyediakan landasan bagi syarat-syarat lebih lanjut untuk mengubahnya.

Sebagaimana kita ketahui, bahwa filsafat adalah cara kita menjelaskan dunia. Sudut pandang yang kita gunakan, untuk memahami dunia material. Sebagian orang atau filsuf memulai sudut pandang bahwa dunia materil diciptakan oleh roh yang ilahi. Atau sesuatu diluar alam dan manusia. Intinya, cara berpikir ini menilai bahwa ide-lah yang mengatur perkembangan dunia materil. Sejarah dunia dijelaskan sebagai sejarah pemikiran. Wujud dari sudut pandang ini salah satunya adalah Agama.

Para pendukung filsafat idealism melihat bahwa dunia ini hanyalah cerimanan dari ide, dan roh. Plato adalah pendukung filsafat ini sepanjang sejarah jaman kuno. Di Atena Idealisme plato sendiri hadir dan berkembang Ketika perbudakan sedang berada di puncak kejayaannya. Kerja-kerja fisik saat itu, secara harfiah dilihat sebagai perbudakan. Satu-satunya kerja yang dapat dihargai adalah kerja-kerja intelektual. Secara hakiki filsafat idealism adalah produk dari perbedaan yang ekstrim antara kerja-kerja fisik dan mental. Perihal ini jika boleh disimpulkan sebagai faktor-faktor penting tentang filsafat idealisme dari menyingsingnya fajar sejarah sampai hari ini.

Meski demikian sejarah filsafat barat, tidak dimulai dari idealism melainkan materialism. Filsafat materialism sendiri merupakan sudut pandang yang meletakkan bahwa dunia materil yang kita kenal dan kita pelajari dengan ilmu sains, nyata adanya. Bahwa pikiran, ide dan perasaan adalah materi yang terorganisasi dengan cara tertentu. Bahwa pikiran tidak dapat berdiri sendiri, tetapi hanya bisa timbul dari dunia objektif melalui indra-indra kita.

Di Zaman kuno, Aristoteles adalah pendukung filsafat ini. Meski tak sekonisten para pembela materialism sebelumnya, Aristoteles berhasil melahirkan berbagai penemuan-penemuan besar, yang menjadi prasyarat bagi ilmuwan dan filsuf yang lahir pada masa-masa setelahnya.

Ketika abad pertengahan lahir, yang menyusul runtuhnya zaman kuno. Idealisme mendapatkan tempat mulia sebagai sudut pandang yang mewakili ide-ide Gereja. Pada zaman ini, filsafat materialism hampir tidak punya tempat sedikitpun. Jaman ini adalah zaman dimana pemikiran-pemikiran ilmiah mandek selama berabad-abad, baik sebagai karikatur filsafat plato maupun, lebih parah lagi, penyimpangan atas filsafat Aristoteles.

Sains muncul kembali di zaman pencerahan atau renaisans. Kejayaan ini memaksa perang yang ganas terhadap pengaruh agama. Banyak martir yang harus membayar harga kebebasan ilmiah dengan nyawanya sendiri. Giordano Bruno, (1548-1600) seorang pendeta, filsuf, ahli matematika, ahli astronomi dari Italia, dituduh klenik dan dibakar di tiang hidup-hidup karena pemikiran ilmiahnya yang tidak sejalan dengan doktrin gereja. Galileo, dua kali diadili dipengadilan inkuisisi dan dipaksa dengan siksaan untuk menyangkal pandangan-pandangannya. Para martir tersebut, telah membuka jalan bebas hambatan, bagi perkembangan ilmu pengetahuan, sains dan teknologi.

Kecenderungan filosofis yang dominan di zaman pencerahan adalah filsafat materialism. Di Inggris materialisme berkembang dalam bentuk empirisme. Para pembela aliran ini diantaranya adalah Francis Bacon, Thomas Hobbes dan John Locke. Kelompok filsafat ini berpendapat bahwa semua pengetahuan bersumber dari pengamatan indrawi. Sementara itu, di Prancis Materialisme berkembang sebagai alat untuk mengkritik tatanan masyarakat yang ada. Para pemikir besar seperti Diderot, Rousseau, Holbach dan Helvetius menyiapkan jalan untuk penggulingan revolusioner atas monarki feodal di tahun 1789-1793.

Di bawah pengaruh revolusi prancis, Immanuel Kant seorang filsuf idealis jerman mendudukan filsafat yang hadir sebelum zamannya, di bawah hujan badai kritik. Critique   of   Pure Reason, adalah adikarya Kant, di bidang filsafat. Untuk pertama kalinya, bentuk-bentuk dari logika dianalisa kembali setelah sekian lama tidak berubah sejak dirumuskan oleh Aristoteles. Immanuel Kant, membuat penemuan-penemuan penting, bukan hanya dalam filsafat dan logika, tetapi juga dalam ilmu pengetahuan. Hipotesisnya tentang alam semesta, yang diperkirakannya berasal dari kabut asap nebula, sampai sekarang secara umum dipercaya sebagai kebenaran. Meski Kant berhasil menunjukan kontradiksi (pertentangan) yang terdapat dalam proposisi mendasar dalam filsafat, namun ia gagal menyelesaikan kontradiksi-kontradiksi itu. Kant berakhir dengan dualisme yang berujung pada kesimpulan bahwa, mustahil bagi kita untuk menemukan kebenaran sejati terhadap alam semesta. Walau kita mengetahui apa yang nampak, kita tidak pernah tahu apa yang ada pada dirinya sendiri.

Sebagaimana David Hume dan George Berkeley, Immanuel Kant berujung pada sebuah kesimpulan yang tentu saja merujuk pada apa yang kita kenal dengan filsafat idealisme subjektif. Alan Woods dan Ted Grant, dalam Reason in Revolt (1995) menggambarkan argumen dasar dari filsafat tersebut sebagai berikut: “Saya menginterpretasikan dunia dengan indra saya. Dengan demikian, semua yang saya tahu benar-benar ada, adalah citra yang ditangkap oleh indra saya. Dapatkah saya bersumpah bahwa sebuah apel benar-benar ada? Tidak! Apa yang saya dapat katakan adalah, saya melihatnya, saya mendengarnya, saya merasakannya, saya menciumnya, saya mengecapnya. Dengan demikian saya tidak dapat menyatakan bahwa dunia material benar-benar ada.” Pada intinya Idealisme subjektif adalah sudut pandang yang meletakkan dunia materil hanya pada panca indra. Dunia diterjemahkan hanya pada dirinya sendiri, yang lain tidak ada.

Terobosan terbesar datang dalam dekade pertama abad ke-19 melalui George Wilhelm Hegel (1770-1831). Filsuf jerman tersebut, menunjukkan bahwa satu-satunya cara untuk mengatasi antinomi Kant adalah dengan menerima bahwa kontradiksi itu benar-benar ada, bukan hanya dalam pikiran, tetapi juga dalam dunia nyata. Menurut Hegel, bentuk-bentuk pikiran harus mencerminkan dunia objektif semirip mungkin. Proses pengetahuan telah semakin dalam menerobos realitas, maju dari yang abstrak ke yang konkrit, dari yang diketahui menuju yang tidak diketahui. Dari yang khusus menuju yang umum. Hegel dengan tepat meletakkan metode dialektika untuk mengatasi idealisme subjektif Kant.

Setelah berabad-abad lamanya logika Aristoteles digunakan sebagai dogma yang kaku dan mati oleh kelompok Gereja. Sebenarnya, Kant-lah yang membawa kembali metode berpikir dialektika ke tempat yang terhormat. Namun demikian, dalam filsafat Kant, dialektika tidak menerima perkembangan yang cukup. Tugas untuk membawa metode berpikir dialektika ke tingkat perkembangannya yang tertinggi, jatuh ketangan Hegel. Tidak diragukan lagi, Hegel adalah seorang yang kejeniusannya menjulang setinggi langit. Hegel telah membawa dialektika menjadi benar-benar sebagai metode berpikir yang ilmiah dan modern. Melalui dialektika, Hegel menjelaskan bagaimana dunia mesti dilihat sebagai proses, bukan sesuatu yang saling terisolasi satu sama lain. Dunia mesti dilihat dalam proses kehidupannya, bukan kematiannya. Sebagai kesaling terhubungannya, bukan dalam keterpisahannya.

Dialektika dan Filsafat Radikal

Hegel sebenarnya dalam banyak aspek telah melampaui zamannya. Ia telah menciptakan pencapaian gemilang dalam ilmu pengetahuan. Walau demikian, filsafat Hegel tidak mampu membawa dialektika sebagai metode berpikir yang ilmiah dan konsisten ke dalam dunia nyata. Satu-satunya alasan yang mendasari itu adalah, karena sudut pandangnya yang idealis. Bukannya menemukan dunia materil, kita malah menemukan dunia ide Absolut. Dimana dunia nyata, proses dan manusia, digantikan dengan bayang-bayang tak terbentuk. Mengutip Fredrick Engels, dialektika Hegelian adalah keguguran terbesar sepanjang sejarah. Ide-ide yang tepat berdiri diatas kepala mereka sendiri. Untuk menempatkan dialektika di atas fondasi yang kukuh, sangat penting memutar balikkan filsafat Hegel, untuk mengubah dialektika idealis, menjadi materialisme dialektik. Ini adalah pencapaian terbesar dari Karl Marx dan Fredrick Engels, selanjutnya di sebut Marxisme. .

Mahakarya Marx dan Engels dibidang filsafat telah melampaui fase-fase yang sepenuhnya ilmiah. Materialisme dialektika menurut mereka dimulai dengan ide bahwa materi adalah esensi dari semua realitas, dan bahwa materi membentuk akal, dan bukan sebaliknya. Dengan kata lain, pikiran dan segala sesuatu yang dikatakan berasal dari pikiran – misalnya ide-ide tentang seni, hukum, politik, moralitas, dan sebagainya – hal-hal ini pada kenyataannya berasal dari dunia material. ‘Akal’, yaitu pikiran dan proses berpikir, adalah sebuah produk dari otak; dan otak itu sendiri, yang berarti juga ide-ide, muncul pada suatu tahap tertentu dari perkembangan materi hidup.

Sedut pandang dan metode berpikir tersebut, jelas sepenuhnya berbeda dengan Materialisme feuerbach yang statis dan masih terjebak pada kebendaan. Sebagaimana yang disampaikan Marx dalam “Tesis Tentang Feuerbach” : Kekurangan utama dari semua materialisme yang ada sampai sekarang-termasuk materialisme Feuerbach-ialah bahwa hal ihwal (Gegenstand), kenyataan, kepancainderaan, digambarkan hanya dalam bentuk benda (Objekt) atau renungan (Anschauung), tetapi tidak sebagai aktivitet pancaindera manusia, praktek, tidak secara subyektif. Karena itu terjadilah bahwa segi aktif, bertentangan dengan materialisme, dikembangkan oleh idealisme-tetapi hanya secara abstrak, karena, sudah barang tentu, idealisme tidak tahu akan aktivitet pancaindera yang nyata sebagai hal yang sedemikian itu. Feuerbach membutuhkan benda-benda kepancainderaan, yang benar-benar dibedakan dari benda-benda pikiran, tetapi dia tidak mengartikan aktivitet manusia itu sendiri sebagai aktivitet obyektif (gegenständliche). Oleh karena itu, dalam Hakekat Agama Kristen, dia memandang sikap teoritis sebagai Satu-satunya sikap manusia yang sejati, sedang praktek digambarkan dan ditetapkan hanya dalam bentuk pemunculannya yang keyahudian dan kotor. Karena itu dia tidak menangkap arti penting aktivitet “revolusioner”, aktivitet “kritis-praktis”.

Jadi, dengan demikian pikiran adalah produk dari dunia material. Aktivitas sehari-hari manusia adalah objek yang lahir atas pertemuan sekaligus kontradiksi antara  panca Indra dan objek/subjek di luar manusia.  Itulah mengapa, faktor-faktor sosial-ekonomi-politik-budaya dan elemen-elemen suprastruktur lainnya, sangat berperan besar dalam mempengaruhi kesadaran kita sebagai makhluk sosial.

Lebih lanjut, suprastruktur sosial-politik ini sangat amat ditentukan basis struk ekonomi masyarakat. Siapa yang berkuasa dan memiliki kendali atas faktor-faktor ekonomi, dengan demikian niscaya akan mengendalikan dan menguasai suprastruktur sosial-politik kehidupan. Itulah mengapa, untuk menghapuskan sepenuhnya korupsi, kerusakan lingkungan, penindasan kaum perempuan, perampasan lahan, upah murah, dan berbagai penindasan terhadap rakyat pekerja yang terjadi hari ini, terlebih dahulu harus menguasai sepenuhnya basis struktur dalam hal ini, alat-alat dan sarana produksi.

Karena itu, untuk memahami sifat sesungguhnya dari kesadaran dan masyarakat manusia, sebagaimana diungkapkan oleh Marx sendiri, persoalannya adalah “bukan berangkat dari apa yang dikatakan, dikhayalkan, atau dibayangkan oleh manusia… agar sampai pada yang namanya manusia dengan bentuk seperti sekarang; melainkan berangkat dari manusia riil (nyata) dan aktif, dan berdasarkan basis proses-kehidupan riil manusia yang menunjukkan perkembangan ideologis dari proses kehidupan ini.

Pada akhirnya, Marxisme sebagai ilmu pengetahuan berdiri diatas pondasi yang kokoh. Tiang-tiang yang menjadi pondasi marxisme berdiri tegak dan tak lekang oleh zaman. Pondasi itu diantaranya adalah Materialisme Dialektika, Materialisme Historis, dan teori ekonomi politik yang berbasis pada analisa kelas. Selama kelas-kelas sosial masih ada, selama itu pula marxisme akan terus menemukan relevansinya. Catatan pentingnya adalah, Marxisme sebagai ilmu pengetahuan menuntut keberpihakan terhadap rakyat pekerja, dan karena itu ia akan menjadi panduan bagi revolusi sosialis hingga terwujudnya masyarakat tanpa kelas.

Referensi;

 90 total views,  2 views today

Jamaluddin

jamal000002@gmail.com

Add comment

Highlight option

Turn on the "highlight" option for any widget, to get an alternative styling like this. You can change the colors for highlighted widgets in the theme options. See more examples below.

Flag Counter