Mengeja Indonesia

Marx Tua Pemikiran/Filsafat Ekonomi dan Sosial5 min read

Marx Tua adalah periode pemikiran Marx antara tahun 1858 dan tahun 1883, yakni pemikiran tentang dialektika materialisme historis yang merupakan pokok pemikiran Marx tentang hubungan antara teori ekonomi dan teori sosial. Hubungan antara teori ekonomi dan teori sosial bersifat objektif (bukan moral atau agama) sehingga dapat dijelaskan secara ilmiah dan bukan secara ideologis. Periode Marx Tua disebut juga sebagai periode sosialisme ilmiah.

Sosialisme llmiah

Menurut Marx, sosialisme akan datang sendiri sebagai konsekuensi logis dari sejarah yang bersifat materialistis dan objektif. Tahapan perkembangan materialisme tersebut secara historis dan objektif berlangsung dialektis menghasilkan kapitalisme, sosialisme, dan komunisme.

Kapitalisme

Kapitalisme sebagai sistem ekonomi berkembang dan mencapai puncaknya dalam sistem sosial yang ditentukan oleh kekuasaan politik. Karena pengelolaan sistem ekonomi dilakukan secara politik, kapitalisme menghasilkan pembedaan kelas ekonomi dengan menciptakan hubungan-hubungan dalam proses produksi menurut konsep pemilik modal (kapitalis) dan pekerja (buruh). Hubungan-hubungan dalam proses produksi yang demikian menjadikan kekuasaan politik basis (infrastruktur) sistem ekonomi. Alhasil, pemilik modal (kapitalis) dengan kekuasaannya yang besar atas modal menentukan sistem perburuhan yang meliputi kebijakan produksi, upah, dan investasi.

Penjelasan mengenai hubungan-hubungan yang demikian dalam sistem ekonomi kapitalis didasarkan pada sebuah ideologi kekuasaan yang dilegitimasikan secara moral dan politik dalam sistem hukum yang dibuat oleh kelas sosial ekonomi Ideologi kekuasaan politik yang dijadikan tumpuan sistem ekonomi kapitalis menimbulkan kesengsaraan bagi kelas sosial ekonomi pekerja (buruh) yang semakin lama semakin buruk.

Akumulasi kesengsaraan buruh merupakan kondisi objektif dan rasional bagi lahirnya perubahan sistem ekonomi yang sesuai dengan apa yang yang berkuasa. seharusnya sebagai prinsip keadilan, yang secara ilmiah dapat dijelaskan menurut proses sejarah yang bersifat materialistis dan objektif.

Perubahan itu dapat terjadi sebagai hasil objektif dari dialektika sejarah materialistis. Jadi, revolusi proletar untuk mengoreksi kapitalisme menjadi sosialisme tidak terjadi secara kebetulan, tetapi secara niscaya sebagai hasil dari dialektika materialisme historis. Marx menyebut revolusi tersebut sebagai antitesis dalam dinamika sejarah, yakni lahirnya sosialisme yang dapat dijelaskan secara objektif dan ilmiah.

Sosialisme Menurut Marx

Menurut Marx, sosialisme lahir bukan karena sosialisme itu lebih baik daripada kapitalisme, melainkan karena terpenuhinya syarat-syarat objektif dalam masyarakat berupa pemelaratan yang terus-menerus terhadap kaum buruh akan melahirkan perlawanan yang mendasarkan praksis (revolusi) perlawanan itu pada penciptaan keadilan yang berkembang dari kapitalisme ke sosialisme ilmiah, lalu ke komunisme. Jadi, sosialisme adalah pemikiran yang menjadi sarana yang digunakan mendahului atau interludium bagi lahirnya komunisme. Hal itu tidak terjadi karena alasan moral bahwa keadilan sosial itu baik, tetapi karena alasan objektif/ilmiah bahwa situasi aktual secara rasional mengharuskan itu terjadi.

Baca Juga:  Kajian Historis Filsafat Barat dan Timur dari Klasik hingga Kontemporer

Marx dengan sengaja menolak alasan moral dan agama untuk menghindari pencapaian revolusi, sebagai penyusupan ideologi kelas penguasa. Dalam pemikirannya mengenai sosialisme ilmiah ini, Marx membahas hukum objektif dari sejarah sebagai dialektika materialisme historis. Pemikiran sosialisme ini berbeda dengan sosialisme lainya karena Marx mendasarkan pandangannya tentang sosialisme pada penelitian mengenai syarat-syarat objektif mengenai perkembangan masyarakat, yang tidak lain adalah perkembangan materialisme historis.

Kematian Kapitalisme

Dalam perspektif itu, Marx berpendapat bahwa kapitalisme akan mati dengan sendirinya sebagai konsekuensi logis dari perwujudan sosialisme berdasarkan alasan-alasan yang secara objektif memiliki dasar ilmiah yang mencukupi. Kapitalisme akan dilampaui dengan terciptanya sistem (politik) ekonomi yang berdasarkan kenyataan objektif tersebut.

Ekonomi pada tahap ini berlangsung tidak selaras dengan apa yang digagas oleh sistem kapitalisme, tetapi berlangsung menurut alasan objektif-sosiologis yang dinamai Marx sosialisme ilmiah. Dengan kata lain, sosialisme ilmiah adalah kritik atas ideologi uang dalam masyarakat kapitalis (Das Kapital, Vol.1.) yang sering terabaikan, tetapi kini saatnya harus dilakukan untuk mewujudkan keadilan sosial dalam masyarakat komunis[1].

Analisis Marx mengenai sistem (politik) ekonomi yang sesuai struktur masyarakat komunis harus berangkat dari pemikiran tentang materialisme historis. Menurut analisis atas konsep materialisme historis, Marx menemukan hubungan antara relasi dalam proses produksi sebagai infrastruktur (“basis” atau dasar nyata, yakni struktur ekonomis masyarakat) dan bentuk-bentuk kesadaran sosial sebagai “suprastruktur” (misalnya struktur yuridis-politis masyarakat).

Pada basis, ada tenaga-tenaga produktif yang terlibat dalam hubungan-hubungan produksi, sedangkan pada bangunan atasnya, ada kesadaran kolektif sebagai ideologi. Basis dan bangunan atas itu ditentukan oleh struktur kekuasaan ekonomi, sedangkan struktur politis-ideologis di atasnya ditentukan oleh kekuasaan ekonomi.

Perubahan sosial ditentukan oleh basis ekonomi. Oleh sebab itu, negara sebagai struktur yuridis-politis di bangunan atas tidak boleh menjadi motor perubahan. Hanya perubahan yang ditentukan oleh basis ekonomi dapat bersifat revolusioner, dan dengan cepat mengubah struktur politik yang sudah mapan di atas, dan cenderung mempertahankan status quo. Untuk itu, sosialisme ilmiah merupakan analisis mengenai perkuatan basis ekonomi untuk melakukan revolusi karena perubahan yang cepat mengenai struktur kekuasaan yang baru dalam masyarakat hanya bisa diharapkan dari bawah[2].

Baca Juga:  Ateisme dalam Masyarakat Modern

Komunisme

Bagi Marx, sosialisme adalah transisi dari masyarakat kapitalis ke masyarakat komunis secara objektif. Untuk itu, obsesi Marx Tua adalah membuktikan bahwa sosialisme secara ilmiah merupakan hasil integrasi atau sintesis dalam proses dialektika materialisme historis. Praksis revolusi yang mengakhiri kapitalisme tidak timbul dari kebencian brutal, tetapi akibat logis dari suatu kondisi objektif masyarakat. Keberhasilan revolusi ditentukan oleh situasi objektif adanya kelas-kelas proletariat yang militan, yang mengawal revolusi mencapai hasilnya.

Apabila pemilik modal tetap menumpuk modal dan komoditas, sedangkan kondisi objektif buruh tidak mampu untuk memperoleh komoditas yang dibutuhkannya, karena tidak memiliki daya beli, maka revolusi sosialis harus terjadi. Revolusi itu adalah pemberontakan buruh merebut kekuasaan negara dan mendirikan kediktatoran proletariat menggantikan kekuasan negara yang berada dalam tangan kelas penguasa kapitalis.

Kediktatoran proletariat diperlukan untuk menjaga hasil revolusi dan akan berakhir ketika semua orang sudah berada pada taraf yang sama, di tangan individu-individu yang berasosiasi. Dengan merebut kekuasaan kapitalis melalui revolusi, maka milik pribadi dihapus dan proletariat akan menciptakan masyarakat tanpa kelas, yaitu masyarakat komunis, komunisme. Di sini, Marx memberikan gambaran tentang komunisme sebagai loncatan manusia dari kerajaan keniscayaan ke dalam kerajaan kebebasan. Itulah masyarakat massa dalam bayangan Marx[3].

Pembahasan terkait dengan Marx Muda dapat dilihat dalam tautan berikut:

  1. Proses Pembentukan Pemikiran Karl Marx
  2. Marx Muda Pemikiran/Filsafat Tentang Humanisme
  3. Karl Marx: Pembebasan Manusia Secara Radikal Melalui Kerja

[1] Elmar Alvater et. al., “The World Market Unbound” dalam Review of International Political Economy, Vol. 4, No. 3 (Autumn, 1997), hlm. 460 dalam The Direction of Contemporary Capitalism oleh Taylor & Francis Ltd. Stable URL: http://www.jstor.org/stable/4177234.

[2] Franz Magnis-Suseno, Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme Jakarta: PT Gramedia, 2005), hlm. 137-158.

[3] Magnis-Suseno, op, cit., hlm. 159-06.

Redaksi

Mengeja Indonesia adalah sebuah gerakan yang otonom dan nirlaba, mengangkat isu-isu fundamental bangsa.

Add comment

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.