Mengeja Indonesia

Dari Kritisime (Khusrin) ke Apresiatif (Washiyah) : Perubahan Paradigma Menuju Kehidupan Berkemajuan8 min read

Capaian-capaian yang berorientasi pada kondisi kehidupan yang lebih baik, maju dan sejahtera adalah merupakan harapan bahkan impian baik secara personal maupun secara kolektif dalam konteks kehidupan bangsa dan negara. Langkah menuju pada harapan atau impian hidup setiap diri maupun bangsa dan negara dibutuhkan sebuah etos yang bisa menggerakkan. Dan sebagai etos tentunya berlandaskan pada paradigma atau kerangka pemikiran yang dimiliki oleh individu, maupun bangsa secara kolektif.

Dalam kehidupan ini, kemajuan-kemajuan sulit dicapai bukan hanya karena perubahan terus terjadi dan kita tidak mampu mengejar laju perubahan tersebut. Kesulitan itu, faktor utamanya adalah karena kita tidak memiliki paradigma yang relevan dengan konteks zaman. Dan diri secara personal dan kolektif pun tidak mampu melakukan perubahan paradigma untuk mengiringi perubahan kehidupan secara universal.

Secara personal, jika saya menengok kembali dari jejak perjalanan kehidupan—ini hanya sekedar contoh dan refleksi—, sulit rasanya mengimajinasikan bahwa saya akan sampai pada kondisi kehidupan hari ini. Dari jejak itu, terutama dalam jejak-jejak awal apalagi jika barometer yang digunakan adalah dimensi materialistik dan pragmatis, tidak ada hal yang bisa menjadi energi kecuali sepercik motivasi dan imajinasi kehidupan dari orang tua untuk anaknya ini.

Sepercik motivasi dan imajinasi positif tersebut dan termasuk yang saya lahirkan sendiri dari hasil pergumulan dan pergulatan hidup. Saya yakin itulah yang menjadi modalitas, energi yang membawa diri ini sampai pada titik kehidupan hari ini. Saya akan kufur nikmat jika tidak mengakuinya sebagai sebuah “prestasi” dan “kesuksesan” yang besar. Apa yang saya miliki, lahirkan dan menjadikannya sebagai motivasi atau energi, ternyata sepuluh sampai tiga tahun terakhir saya baru memahami landasan teoritiknya, bahwa itu adalah Appreciative Inquiry dan spirit etos Al-Ashr.

Secara kolektif atau dalam konteks kehidupan yang lebih besar, saya mensinyalir berdasarkan sependek pengalaman, radius pergaulan dan pengetahuan yang saya miliki, ternyata bangsa ini mampu mewujudkan cita-cita besarnya untuk sampai ke depan pintu gerbang kemerdekaan Indonesia karena mempraktekkan spirit yang terkandung dalam kedua hal tersebut. Meskipun pada era perjuangan kemerdekaan teori Appreciative Inquiry belum dipahami oleh para founding fathers—bahkan buku Appreciative Inquiry saja karya Diana Whitnye & Amanda Trosten-Bloom, pertama kali terbit tahun 2003.

Begitupun teologi Al-Ashr, saya yakin belum dipahami secara baik oleh para founding fathers—karena di dalam tubuh Muhammadiyah saja, lebih kedengaran gaungnya Teologi Al-Ma’un. Padahal energi dan substansi etos dari kedua hal tersebut—Appreciative Inquiry dan Teologi Al-Ashr telah dipraktekkan tanpa kecuali dalam penyusunan rumusan Pancasila sebagai meja statis dan Leitstar dinamis bangsa dan negara Indonesia.

Apa maksud dari urain saya di atas? Akan bisa dipahami dengan baik setelah uraian di bawah ini yang menjelaskan tentang paradigma Appreciative Inquiry dan dielaborasi secara progresif dan diberikan landasan teologis oleh Azaki Khoiruddin (Sekjend PP. IPM Periode 2016-2018). Dan ternyata kedua hal ini merupakan modalitas yang sangat luar biasa untuk mencapai harapan-harapan besar baik secara personal maupun secara kolektif.

Sebelum membaca buku The Power of Appreciative Inquiry karya Diana Whitney & Amanda Trosten-Bloom (2007), saya memahami Appreciative Inquiry hanya di forum-forum kegiatan NGO yang bergerak di aktivisme pemberdayaan. Dan itu pun hanya sebatas sebagai metodologi untuk “menghidupkan” suasana forum agar mampu memantik gairah peserta bimtek, workshop dan lain-lain untuk merumuskan impian-impiannya yang selanjutnya dikapitalisasi menjadi sebuah perencanaan yang berwujud program dan kegiatan.

Ternyata setelah membaca buku tersebut, Appreciative Inquiry melampaui daripada sekedar metodologi pemantik suasana belajar dalam forum-forum bimtek dan workshop. Appreciative Inquiry bisa menjadi paradigma, cara pandang dan idealnya harus dijadikan sebagai sebuah paradigma dalam mengarungi kehidupan. Hal ini bertujuan agar apa yang menjadi impian dan harapan-harapan ideal dalam hidup bisa tercapai.

Sebagaimana dijelaskan oleh Diana & Amanda, Appreciative Inquiry (yang selanjutnya disingkat dan ditulis AI) merupakan antitesa dari pendekatan problem solving sebagai bagian dari ilmu psikologi yang ternyata memiliki banyak kelemahan, jauh dari harapan (baca: solusi) dan bahkan menghasilan problem baru. AI mengedepankan prinsip dan wacana apresiatif yang fokus pada potensi dan kelebihan yang dimiliki oleh seseorang atau sesuatu. Berbeda dengan AI jika kita perhatikan problem solving mengedepankan wacana defisit. Selalu berangkat dari identifikasi masalah—kekurangan, krisis, kerugian-kerugian atau dalam istilah Al-Qur’an disebut khursin.

Jika kita memperhatikan berbagai teori seperti bagaimana “mekanisme kerja pikiran” salah satunya oleh Dr. Ibrahim Elfiky (2009) dan “mekanisme kerja alam bawah sadar” salah satunya oleh Andri Hakim (2011) maka akan memperkuat tesis Diana & Amanda yang menyoroti kelemahan problem solving dan termasuk ilmu psikologi yang selama ini terkesan telah terjebak pada wacana defisit. Ini salah satu yang memantik kesadaran Diana & Amanda untuk merumuskan, menuliskan dan menawarkan apa yang dikenal dengan istilah AI.

AI sebagaimana yang dijelaskan oleh Azaki Khoiruddin dalam buku karyanya Teologi Al-‘Ashr (2015:233) “Asumsi dasarnya berpijak pada hipotesis heliotropic yaitu organisasi sebagaimana tumbuhan yang tumbuh berkembang mengarah kepada sesuatu yang memberi mereka kehidupan dan energi.” Kata organisasi sebagaimana saya kutip dari Azaki, bagi saya bisa juga dimaknai orang atau seseorang.

AI yang mengedepankan nalar apresiatif merupakan sebuah pendekatan yang sangat baru dalam khazanah pengembangan masyarakat dan juga pengentasan problem masyarakat (Azaki, 2015: 230). AI senantiasa fokus mencari hal-hal yang bisa menginspirasi, bisa memantik motivasi, hal positif darimana pun dan oleh siapa pun. Jika saya hubungkan dengan teori Quantum Learning yang saya pahami, khususnya bagaimana membangkitkan kedahsyatan otak, kata kuncinya adalah menjaga suasana hati agar bisa senantiasa senang, tenang dan bahagia. Dan ternyata yang bisa melahirkan suasana hati yang dimaksud adalah dengan senantiasa fokus pada hal-hal positif dan termasuk kelebihan-kelebihan yang dimiliki dalam diri. Inilah satu contoh daripada wacana apresiatif dalam paradigma AI.

Jadi sesungguhnya AI sangat relevan dengan ilmu-ilmu pengembangan diri yang fokus menemukan potensi (kelebihan dan hal positif dalam diri) dalam rangka mencapai harapan atau impian. Secara sederhana jika kita mau bergeser dari wacana defisit ke wacana apresiatif untuk mengikuti prinsip AI —sebagai salah satu contoh—maka idealnya gedung yang kita beri nama dengan “Rumah Sakit” sebaiknya diganti dengan nama “Rumah Sehat”. Dan menurut dugaan saya, relevan dengan wacana defisit dalam problem solving hal inilah yang menjadi faktor sehingga secara empirik, fakta yang kita temukan semakin banyak gedung “rumah sakit” yang dibangun, ternyata semakin banyak juga orang sakit.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Budi Setiawan Muhammad—seorang psikolog Universitas Airlangga—dalam kata pengantarnya pada buku The Power of Appreciative Inquiry (versi terjemahan) karya Diana & Amanda, “Kata-kata bukanlah sekedar penjelasan terhadap suatu realitas tetapi pembentuk realitas itu sendiri. Realitas diciptakan dalam komunikasi” (2007:xx). Hal ini relevan apa yang saya sarankan terkait nama “Rumah Sakit” menjadi “Rumah Sehat”. Dan ini adalah salah satu contoh prinsip atau wacana apresiatif dari AI.

Dari kesadaran dan prinsip/wacana apresiatif inilah yang membuat pidato Soekarno, Martin Luther King dan kata-kata Mahatma Gandhi sehingga bisa menggugah kesadaran rakyatnya untuk berjuang maksimal. Sebaliknya sebagai wacana defisit—antitesa dari wacana apresiatif—adalah “guru yang meyakini dan mengatakan murid-muridnya sebagai orang yang bodoh dan malas maka akan benar-benar mendapat nilai hasil belajar muridnya yang buruk”. (Budi, 2007:xx).

David L Cooperrider, Ph.D—Professor of Organizational Behavior Weatherhead School of Management Case Western Reserve University Cleveland, Ohio—menegaskan bahwa terori perubahan (dalam hal ini AI) yang dijelaskan oleh Diana dan Amanda memiliki kesejajaran dengan ilmu alam, yang memperkenalkan kita pada konsep energi fusi. “Fusi adalah sumber kekuatan bagi matahari dan bintang, yang dihasilkan ketika dua elemen bermuatan positif digabungkan menjadi satu”.

Jika memperhatikan perspektif David (2007:xv) dalam memahami AI dan energi fusi itu sendiri adalah betapa dahsyat efek yang dihasilkan jika “…kebahagiaan bertemu kebahagiaan; kelebihan bertemu kelebihan; kesehatan bertemu dengan kesehatan; dan inspirasi bertemu inspirasi…”. Dan jika memperhatikan pula perspektif Azaki tentang AI dan tafsir progressifnya terhadap surah Al-Ashr merupakan wa tawashau bil haq, wa tawashau bil ashabr). Bagi Azaki AI adalah sharing dan kolaboratif berbasis kekuatan untuk pengembangan kualitas individu dan masyarakat sebagai modal pembangunan peradaban yang berkemajuan.

Jika kita ingin meraih impian dalam hidup maka berdasarkan paradigma AI, harus senantiasa fokus pada potensi positif dalam diri dan termasuk hal positif dari realitas yang mengitari diri dan yang akan dilewati. Begitupun bangsa dan negara Indonesia, jika ingin mencapai kemajuan yang telah menjadi impian dan yang menjadi cita-cita dan tujuan nasional para founding fathers—sebagaimana termaktub dalam pembukaan UUD NRI Tahun 1945—maka harus fokus pada hal-hal positif yang dimiliki oleh bangsa dan negara ini.

Pancasila jika memperhatikan sejarah perumusannya merupakan akumulasi energi, potensi dan kekuatan positif bangsa atau dikenal “digali dari genius nusantara”. Selain daripada itu, meskipun pemantik kesadaran kebangsaan dan spirit nasionalisme—sebagai jalan menuju kemerdekaan—dikatakan sebagai buah dari “adanya penderitaan bersama” yang terkesan ini mengikuti wacana defesit sebagai antitesa dari AI. Namun sesungguhnya yang lebih dominan karena anak bangsa pada saat itu memiliki “harapan bersama yang besar” dan ini mengikuti prinsip/wacana apresiatif dalam AI.

AI dan surah Al-Ashr oleh Azaki—jika meminjam istilah Amin Abdullah—telah diintegrasi-interkoneksikan. Dan ternyata sebagaimana Zakiyuddin & Azaki (2017: 46-72) mengutip berbagai perspektif baik dari Imam Syafii dan Hamka (dalam tafsir al-Azhar) maka kedua hal ini bisa membawa manusia ke arah kehidupan dunia dan akhirat yang berkemajuan dan berperadaban tinggi.

Hamka dalam Zakiyuddin & Azaki, Allah menyebutkan martabat umat manusia itu terdiri empat unsur, yaitu iman, amal saleh, tausiah kebenaran dan tausiah kesabaran. Jika empat syarat itu tidak terpenuhi, rugilah seluruh masa hidup. Dan ternyata saya mencoba memahami hal ini relevan dengan wacana apresiatif dalam paradigma AI.

Jadi secara substansial saya ingin menyampaikan kepada pembaca, bahwa Appreciative Inquiry harus dipahami secara filosofis dan paradigmatik agar bisa menjadi modal mencapai kemajuan dalam kehidupan ini. Ini bermanfaat baik bagi personal, diri seseorang maupun secara kolektif, bangsa dan negara.

Bagi Diana dan Amanda AI memiliki siklus 4-D yaitu Discovery, Dream, Design dan Destiny dan bagi Azaki AI memiliki siklus 5-D yaitu Defenition, Discovery, Dream, Design dan Destiny. Dan saya sendiri lebih sepakat dengan Azaki karena idealnya sebelum siklus 4-D perspektif Diana & Amanda idealnya sebagaimana perspektif Azaki harus diawali dengan Defenition. Karena idealnya langkah awal yang harus kita lakukan adalah memilih sebuah topic yang akan dieksplorasi. Untuk 4-D yang lainnya, pembaca mungkin bisa searching di google atau membaca minimal kedua buku yang saya sebutkan di atas.

Kesadaran atas keterbatasan ruang untuk tulisan ini, sehingga masih banyak hal yang belum bisa dijelaskan dalam tulisan ini. Namun jika pembaca ingin sharing, diskusi secara mendalam penulis senantiasa terbuka dan punya waktu untuk hal-hal kebaikan seperti ini.

 64 total views,  2 views today

Agusliadi Massere

Eks Ketua PD. Pemuda Muhammadiyah Bantaeng yang sekarang menjabat sebagai Komisioner KPU Kabupaten Bantaeng Periode 2018 - 2023

Add comment

Highlight option

Turn on the "highlight" option for any widget, to get an alternative styling like this. You can change the colors for highlighted widgets in the theme options. See more examples below.

Flag Counter