Mengeja Indonesia

The Power of Kepepet8 min read

Dua bulan terakhir, sependek pengamatan dan pengetahuan saya, jagat media sosial khususnya facebook, dipenuhi awan diksi “The Power of Kepepet”. Ini terasa, seakan sebagai mantra penting dan utama yang akan menyelematkan siapa saja, yang sedang terjebak dalam kondisi kehidupan yang memprihatinkan: ter-pojok, terjebak, terhimpit atau term lain yang memiliki makna yang sama.

Bagi saya, ini bisa dipastikan berawal dari buku karya The Power of Kepepet (Tobat Version) karya Jaya Setiabudi yang versi sebelumnya dengan judul yang sama terbit pada tahun 2008 dan hanya beberapa bulan kemudian, dipastikan menjadi best seller, karena berdasarkan informasi yang saya baca, peminatnya banyak dan mencapai puluhan ribu eksmplar yang tercetak dan terjual.

Buku ini, sama sekali, saya belum pernah membacanya. Hanya melihat foto sampul, lengkap dengan judul, nama penulis dan sedikit caption yang menjelaskan buku ini. Dan saya menilai (meskipun hanya dugaan) buku ini porsi orientasinya lebih difokuskan sebagai spirit bisnis. Dan saya pun menemukan fenomena kehidupan, “buku-buku yang ber-genre spirit bisnis” laris manis dibandingkan buku-buku keilmuan lainnya, filsafat dan agama.

Substansi pembahasan dalam tulisan ini adalah, apakah betul ada kebenaran dan/atau kedahsyatan the power of kepepet. Atau secara sederhana bisa dibahasakan, bahwa apakah dalam kondisi kepepet—terjebak, terhimpit—ada kekuatan atau subjeknya akan mampu melahirkan dan/atau meraih kekuatan.

Sebagaimana saya jelaskan di atas, bahwa saya belum pernah membaca buku tersebut, sehingga untuk memahami seperti apa The Power of Kepepet, maka saya menggunakan referensi lain, perspektif atau landasan teoritik lain yang di dalamnya sama sekali saya tidak menemukan term ataupun diksi tersebut. Tetapi berdasarkan pemahaman substansinya memiliki relevansi.

Dari hal tersebut, sebelum pembaca membaca lanjutan tulisan ini, sampai di sini, saya akan menegaskan kepada pembaca bahwa tulisan ini akan berupaya memberikan basis filosofis, landasan teoritik dan bahkan contoh pengalaman empirik baik yang dialami oleh penulis sendiri maupun dari subjek lainnya. Dan hal ini memiliki relevansi dan implikasi pada substansi the power of kepepet. Namun meskipun demikian, saya juga “merekomendasikan” bahwa jangan fokus pada the power of kepepet. Terutama term “kepepet”

Saya teringat pada usia seumuran kelas tiga tingkat Sekolah Dasar (SD), pernah suatu ketika bersama dengan teman-teman yang usianya lebih tua dan tingkatan pendidikannya lebih tinggi, berjalan-jalan ke sebuah kebun di atas gunung yang penuh dengan bebatuan. Meskipun niat awal tidak seperti apa yang kami lakukan, apalagi di antara kami ada anak si pemilik kebun, kami mengambil jambu di dalam kebun milik teman tersebut. Tiba-tiba si pekerja/penjaga kebun, mengejar kami dengan menggunakan parang.

Dalam kondisi darurat, terhimpit, atau bisa dimaknai “kepepet” sebagaimana judul tulisan ini, kami mengambil langkah seribu. Lalu power apa yang kami alami, dalam kondisi “kepepet” tersebut? Kami bisa berlari sangat kencang di tengah kebun yang penuh bebatuan ukuran besar. Melompat dari batu yang satu ke batu yang lainnya. Bagaikan manusia super. Dan yang lebih dahsyat lagi sebagai wujud lahirnya “power”, saya yang bertubuh kecil, sambil tangan saya digandeng/dipegang bahkan seakan “dijinjing” oleh dua teman kiri-kanan, mampu mengikuti irama dan kecepatan lari teman-teman yang lainnya.  

Saya pun teringat dalam sebua cerita, bahwa ada seekor “katak kurang sehat” terjatuh ke dalam sebuah lubang. Berkali-kali dirinya mengupayakan untuk melompat dan keluar dari lubang yang berada di tengah jalan raya tersebut, tetapi dirinya tidak berhasil. Dicoba lagi dan terus gagal. Meskipun dipahami katak memiliki kekutan dan kemampuan melompat yang jauh, tetapi katak yang satu ini adalah katak yang sedang sakit. Tiba-tiba katak melihat sebuah ban mobil akan menggilas dirinya dalam lubang tersebut, maka melompatlah kembali katak tersebut, dan ternyata dirinya berhasil. Cerita katak ini, sangat relevan dan menunjukkan tentang “The Power of Kepepet”.

Fakta empirik yang luar biasa dan memiliki relevansi dengan apa yang dimaksud dengan substansi “The Power of Kepepet”, meskipun pada sisi lain untuk cerita ini sebenarnya kurang relevan jika ditautkan dengan term “kepepet”, tetapi lebih tepatnya adalah sebagai kekuatan dahsyat dari sikap tawakkal kepada Allah. Cerita yang ketiga ini, terkait kecelakaan pesawat Boeing 737-300 dengan nomor flight GA 421 yang terjadi pada tanggal 16 Januari 2002, 18 tahun yang lalu dengan Kapten pilot Abdul Rozak. (Ary Ginanjar Agustian, 2003:121-126).

Ringkasan ceritanya, sebagaimana saya baca dalam buku ESQ Power karya Ary Ginanjar tersebut dan saya meringkas sendiri, bahwa pesawat Boeing 737-300 terbang dengan rute Lombok-Yogyakarta dalam kondisi cuaca normal. Namun di atas kota Blora, pesawat tersebut tiba-tiba memasuki awan Comunilimbus (awan tebal yang berbahaya). Kedua mesin pesawat mati, berbagai upaya berdasarkan prosedur telah dilakukan oleh Kpaten pilot, Abdu Rozak tetapi tidak berhasil. Pesawat semakin meluncur ke bawah dan keadaan dalam pesawat sangat gelap. Dalam kondisi tersebut dirinya pasrah, bertawakkal kepada Allah. Rozak berteriak, “Allah-Akbar!”

Tiba-tiba pesasat keluar dari awan sehingga dirinya bisa melihat secara jelas semua yang terhampar di depannya. Di depannya ada dua pilihan sebagai “landasan pacu” untuk melakukan landing: sawah dan sungai. Pada umumnya, dalam kondisi darurat seperti ini, menimbulkan panik, putusan dan tindakan seringkali tidak terukur.

Namun apa yang terjadi, Abdul Rozak dengan co-pilotnya masih bisa berdiskusi menentukan pilihan untuk diputuskan sebagai sikap dan tindakan terbaik. Akhirnya mereka memilih sungai Bengawan Solo sebagai landasan pacu untuk landing. Dan dilakukanlah landing dan sebuah kedahsyatan/keajaiban terjadi, pesawat berhasil landing pada bagian sungai Begawan Solo yang dangkal. Semua penumpang yang berjumlah 56 orang selamat. Meskipun ada satu orang pramugari meninggal.

Kisah nyata di atas, menunjukkan bahwa dalam kondisi darurat yang dalam judul tulisan ini bisa dimaknai “kepepet” masih bisa menemukan power sehingga menghasilkan kedahsyatan sebuah peristiwa yang luar biasa dan jarang terjadi. Dan dari peristiwa ini, sekilas bisa dipahami bahwa tentunya apa yang dimaksud “kepepet” tidak serta merta mendapatkan power, namun ada hal yang harus dimiliki, diperhatikan, dilakukan dan di-aktivasi.

Kepepet dalam perspektif lain yang di dalamnya built-in sebuah hukum, mekanisme, power yang bisa menjadi kekuatan, penyelemat, pemenuhan harapan bahkan sebagai “impian” ada banyak hal: seperti fenomena kritis, pasrah dan/atau tawakkal, ikhlas dan “mestakung”. Maksudnya bahwa dalam beberapa term yang saya sebutkan, sesungguhnya di dalamnya ada dua hal: pertama yang relevan dengan term “kepepet” dan kedua di dalamnya ada “power”.

Prof. Yohanes Surya, Ph.D dalam bukunya, Mestakung (2011), menjelaskan bahwa “Dalam fisika, proses pengaturan diri pada kondisi kritis dikenal sebagai fenomena kritis (critical phenomena). Pada kondisi kritis, proses pengaturan diri tidak hanya terjadi dalam diri satu individu saja, tetapi juga diri individu-individu lain di sekitarnya. Individu-individu dalam sistem itu mengatur dirinya dan bekerja bersama menghasilkan sesuatu (emerge)” yang sangat berbeda dengan keadaan awal. Dan kondisi kritis sebagaimana dimaksud oleh Yohanes, faktor pendukung yang lebih kuat, sesungguhnya bukan faktor eksternal tetapi faktor internal, dari dalam diri sendiri.

Apa yang dijelaskan oleh Yohanes dan apa yang saya alami bersama teman-teman ketika dikejar pakai parang, sebagaimana cerita di atas, maka secara spontan terjadi pengaturan diri secara bersama-sama (kami memiliki kekuatan lari yang sama). Karena kami sedang mengalami kondisi kritis, terhimpit, terancam. Mungkin di antara kita pernah bermain pasir, membuat bukit pasir. Menuangkan pasir di atas lantai sedikit demi sedikit. Lalu apa yang terjadi, menurut Yohanes “Bukit pasir ini makin lama makin besar dan makin tinggi sampai pada ketinggian tertentu dan itu yang disebut ketinggian kritis. (Yohanes, 2011: 22). Pada ketinggian kritis, terjadi sebuah kedahsyatan atau power, pasir itu sudah mulai mengatur dirinya sendiri sedemikian rupa sehingga kemiringan bukit pasir tetap sama.

Dalam kondisi tawakkal kepada Allah sebagaimana dilakukan oleh Abdul Rozak, Kapten pilot pesawat Boeing 737-300 sesungguhnya dirinya melakukan—apa yang oleh Ary Ginanjar menyebutnya Zero Mind Process (ZMP) yang disimbolkan angka (0)—kepasrahan, tulus menerima apa yang akan terjadi pada dirinya dan Abdul Rozak pun menguatkan kepasrahannya kepada Allah sang penguasa alam semesta.

Dalam perspektif Ary Ginanjar ini, kepasrahan kepada Allah disimbolkan dengan angka (1). Dalam rumus matematika satu dibagi nol hasilnya tak terhingga dan atau tak terbatas. Jadi karena Abdul Rozak melakukan dua hal pasrah dan memusatkan kepasrahan kepada Allah maka lahirlah sebuah potensi dan/atau keajaiban yang luar biasa. Dirinya dan puluhan penumpang lainnya selamat. Sebuah peristiwa yang dalam sejarah penerbangan tidak pernah terjadi.

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Tuhan kami ialah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan), ‘janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surge yang telah dijanjikan Allah kepadamu.”

(QS. Fushshilat, 41:30).

Ternyata firman Allah yang cukup indah di atas, secara substansial mengajarkan kekuatan tawakkal dan efek dahsywat dari sebuah tawakkal. Abdul Rozak, jika memperhatikan cerita di atas yang masih mampu melakukan diskusi dengan co-pilotnya, itu berarti tidak takut, melainkan hatinya penuh dengan ketenangan sehingga otak neo-cortex-nya masih bisa melahirkan pilihan dan putusan cemerlang. Dalam teori Quantum Learning, pada substansinya saya memahami bahwa suasana hati yang sering saya istilahkan STB (Senang, Tenang dan Bahagia) bisa memantik kedahsyatan otak. Dan saya pun meyakini bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan STB.

Dari berbagai perspektif tersebut di atas, saya pribadi—dan berdasarkan ilmu appreciative inquiry, mekanisme kerja alam bawah sadar dan pikiran yang saya pahami—merekomendasikan bahwa sebaiknya jangan fokus pada kata “kepepet”, pilih term dan diksi yang lebih positif, afirmatif, apresiatif dan optimistik. apalagi dalam hal “kepepet” sesungguhnya tidak selamanya melahirkan power. Meskipun sebagaimana cerita pertama yang kami alami sendiri dan cerita kedua terkait katak, terkesan benar bahwa kepepet serta merta melahirkan power, namun sesungguhnya ini tidak bisa digeneralisir.

Saya khawatir jika fokus pada diksi “The Power of Kepepet”, bisa jadi orang-orang akan salah memahami dan melakukan hal-hal untuk memiliki orientasi kepepet, karena akan meyakini bahwa jika sudah kepepet maka otomatis akan mendapatkan power seagaimana judul buku dan judul tulisan ini. Selain daripada itu bentuk dan standarisasi kepepet itu sendiri pasti berbeda-beda, tergantung siapa yang merasakannya.

Saya lebih merekomendasikan pada diksi “The Power of Ikhlas”, “The Power of Tawakkal”, “Dahsyatnya Sikap Pasrah kepada Allah”, “Zona Ikhlas”, “Quantum Ikhlas” daripada “The Power of Kepepet”. Karena berdasarkan kajian multi disipliner, justru ini akan membuat diri kita akan senantiasa berada dalam kondisi kepepet dan belum pasti selamanya akan menghasilkan power. Selain daripada itu, setiap diri diharapkan untuk memaksimal usaha dan do’a dalam rangka mencapai kesuksesan-kesuksesan yang relevan tujuan daripada yang oleh penulis buku tersebut yang kini diksi itu semakin viral.

Saya menyadari tulisan ini, belum memenuhi harapan saya sendiri apalagi harapan pembaca untuk memahami lebih dalam, akan tetapi keterbatasan ruang menjadi keniscayaan dalam tulisan ini. Apalagi masih banyak perspektif dan referensi yang bisa menjadi pijakan atau landasan teoritik. Oleh karena itu, saya akan senantiasa terbuka atas tanggapan, pertanyaan bahkan kritik sekalipun.

 78 total views,  4 views today

Agusliadi Massere

Eks Ketua PD. Pemuda Muhammadiyah Bantaeng yang sekarang menjabat sebagai Komisioner KPU Kabupaten Bantaeng Periode 2018 - 2023

Add comment

Highlight option

Turn on the "highlight" option for any widget, to get an alternative styling like this. You can change the colors for highlighted widgets in the theme options. See more examples below.

Flag Counter