Perkembang-biakan Rangkaian

Rangkaian peristiwa yang bagaimana bisa Anda bayangkan jika harus diungkap pergeseran dan perubahan situasi tertentu. Jejak pemikiran dan gagasan yang berkembang tidak dapat dipisahkan dari rangkaian peristiwa penting bagaimana mengungkapkan dirinya tanpa memusingkan pada rentang perjalanan panjang sejarah. Setiap rangkaian peristiwa dimana manusia berkaitan dengan perubahan tidak bergantung pada seberapa besar peranannya untuk berpikir tanpa bertindak atau bertindak tanpa berpikir. Tidak semua orang berpikir dan bertindak untuk perubahan, karena apa saja pikiran dan tindakan mereka selalu berkaitan dengan kondisi yang mengelilinginya, apalagi menyangkut peristiwa tidak terduga tanpa kausalitas dan fenomena yang sangat kompleks tanpa mematuhi lagi prosedur ilmiah.

Berpikir di luar peristiwa besar yang tidak terduga atau berpikir tentang fenomena yang ekstrim dan kompleks, seperti rangkaian peristiwa teror memperlihatkan faktor-faktor berhubungan dengan krisis keadilan global, atau pandemi dengan mata kita tertuju pada krisis kesehatan global. Hal ini tidak berarti kita hanya mampu memiripkan berpikir hanya pada ketunggalan kondisi kemakmuran atau kekayaan universal yang merata bagi umat manusia. Apa yang diwujudkan kemakmuran atau kekayaan diukur menurut nilai materi berkembang lebih banyak rahasia, sedikit demi sedikit terungkap melalui transformasi dan perubahan diri manusia dalam kondisi kebahagiaan dan kesempurnaan, sebaliknya perubahan yang kandas. Jika individu keluar dari krisis sepuluh tahun yang lalu, itu konsekuensi perubahan diri tanpa terbebani dengan kondisi pemulihan dirahi sekarang merupakan rahasia tersendiri. Lebih sedikit dari rahasia tidak membuat kita terbebas dari pengulangan, kecuali tindakan-tindakan tanpa tiruan lebih banyak daripada sekedar apa yang diucapkannya menentukan rangkaian peristiwa untuk perubahan demi perubahan disusun secara teratur.

Rangkaian perubahan tidak melalui pasang surutnya kehidupan tidak menunjukkan bagaimana cara berpikir baru kita dimulai titik terdekat dari diri. Bahwa kita terpaku untuk merahi kemakmuran, mengenang krisis, siklus dan perubahan seakan-akan muncul di depan kita merupakan bagian dari permasalahan tentang rangkaian paradoks, bagaimana orang makan roti hari daripada makan daging kambing guling dalam dunia mimpi. Kita ternyata tidak percaya dengan cara berpikir baru, yang memiripkan seseorang makan roti dan kambing guling dengan tanda kenikmatan dan kebebasan dijadikan ruang universal bagi manusia. Kemakmuran dan kebebasan lantas dikatakan memiliki batas-batas melalui batasan dirinya. Tetapi, rangkaian peristiwa menjelaskan pada kita tentang hari-hari yang dimainkan oleh manusia bagaimana tidak berpikir berdasarkan kriteria dan aturan pikiran.

Rangkaian perubahan tidak mendeskripsikan pada kita mengenai seseorang telah gembira hanya karena menulis sepucuk surat pada tokoh penting atau bukan main senangnya setelah makan apel di malam hari. Serangkaian tanda-tanda dan kata-kata datang dari kekuatan yang saling berinteraksi antara manusia, relasi dan adaptasi didalamnya. Rangkaian peristiwa tidak terbentuk dari syarat berpikir logis dan bertindak teratur, melainkan penampakan rangkaian benda-benda secara teracak dan terproses dalam kegilaan yang tersembunyi dibalik suksesi bersifat mekanis dan relasi-relasi lainnya yang bersifat alami.

Setiap rangkaian peristiwa akan mencapai tanda perubahan jika tidak tergantung atas sejarah ilmu pengetahuan, bahkan sekalipun sejarah filsafat dengan proses dan ritme pemikiran dianggap baru, yang dirahi pun masih beraneka ragam, tetapi tidak berkembang-biak.1 Menyangkut mutasi yang dilibatkan dalam rangkaian peristiwa, kekuatan yang homogen hanya terpisah sesuai jenis atau tingkatan, niscaya rangkaian heterogen tidak dibentuk oleh jenis dan tingkatan yang sama. Kadangkala kemunculan rangkaian peristiwa yang berbeda berada dalam sifat dasar perubahan, yang memiliki mekanisme perkembang-biakan di luar pengertian organisme muncul dibelakang hari (melintasi permukaan peristiwa tertentu tanpa harus memenuhi tahapan ilmiah, kecuali hal-hal sama sekali berbeda). Pergerakan rangkaian peristiwa ketemporalan2 memperlihatkan relasi-relasi yang mencirikannya bukan hanya sekedar sebagai jejak dan tanda bersama proses kegilaan yang terjadi sebelumnya. Kita berusaha untuk mencari rangkaian peristiwa kegilaan yang terjadi sesudahnya, yang melibatkan relasi-relasi lainnya dalam keadaan terus-menerus diperbaharui.

Dapat saja rangkaian relasi-relasi berkembang secara kausal, sirkular, antagonis, dan relasi saling menjalin antara berbagai peristiwa dan fakta yang terekam manusia. Untuk satu atau lebih rangkaian yang berulang mungkin saja terjadi secara berbeda-beda, tertuju pada multi-rangkaian. Perbedaan muncul dari rangkaian menjadi ‘multi-rangkaian’ karena perkembangan dirinya tidak dapat ditiru penampakan wujudnya. Satu rangkaian berkembang tidak berarti ditandai oleh multi-rangkaian. Krisis kesehatan global yang terjadi bukanlah rangkaian tunggal. Krisis muncul dari  rangkaian lain, yang saling mengiringi kasus kehidupan kolektif dan individual. Suatu rangkaian dibangun oleh alur dan jejak peristiwa diantara permukaan layar, terbungkus secara suksesif dan masuk akal, tetapi sesungguhnya berkecamuk dari dalam dirinya. Ada pula rangkaian peristiwa yang bersembunyi dibalik gerakan pasang surut, diskontinu dan dinamis. Jejak-jejak peristiwa menyingkap topeng siapa saja yang terlibat di bawah permukaan benda-benda yang terlihat dari dekat. Bahkan bentuk perhitungan manusia dalam kasus matematika menganggap dalam dirinya mengandung algoritma biokimia, di bawah jaringan komputer membuat kegilaan pemikiran atau berpikir secara logis. Terhadap kasus matematika mendapat tantangan tatkala diterapkan melalui rangkaian peristiwa mendadak di bidang politik, demografi, dan hukum terkadang menjadi jejak-jejak peristiwa yang ditinggalkan manusia bersifat multi-rangkaian. Lenyap satu rangkaian akan muncul rangkaian lainnya. Sebagaimana kita mengetahui, bahwa dalam ranah kasus matematika, bentuk pergerakannya menunjukkan ‘regresi linear’, bukan pula dicomot dari peristiwa-peristiwa suksesif yang bergerak secara linear. Sedangkan, dalam kehidupan yang hingar-hingar, peristiwa bergerak mangarungi dirinya melalui garis berkelok-kelok, saling menyilang dan seringkali tidak terduga darimana munculnya.

Terlepas dari rangkaian, kita dapat menuntut kembali sumber rangkaian peristiwa dan relasi-relasinya tidak bersifat suksesif, memasuki rangkaian benda-benda dengan mana kata-kata eksis atau tidak dapat ditangguhkan dalam proses diakronis. Lebih aneh, dalam pergerakan mendadak, rangkaian ungkapan dan rangkaian indera, rangkaian peristiwa dan rangkaian tanda-tanda tidak bisa memecahkan tingkat kecepatan perhitungan terakhir dari rangkaian perubahan. Karena kita cukup bergerak cepat untuk melacak jejak-jejak dan selaan-selaan muncul secara tersembunyi di balik jurang krisis. Anda sengaja berdiri persis di tepi jurang krisis bersama rangkaian-rangkaian relasi berbeda antara rangkaian peristiwa dan rangkaian tanda-tanda. Agar kita tidak mengingkari gerak lamban, kita menutup celah dalam ketunggalan penampakan wujud.

Kita belum ingin pula membedakan mana peristiwa krisis dan siklus dan mana yang bukan. Termasuk, ketidakhadiran untuk memilih urutan kronologis, ketika diungkap tingkatan yang berbeda-beda. Sebagian ada peristiwa terlihat sangat jelas dan sebagian peristiwa lainnya nampak sangat kelabu. Perubahan alamiah ditandai lonjakan produks alat-alat komunikasi berbasis digital atau kebijakan peredaran mata uang. Sedangkan, rangkaian perubahan yang bersifat rekayasa melalui pemulihan ekonomi maupun  model pembelajaran sekolah yang efektif di tengah pandemi. Belum lagi kebijakan atas perubahan iklim dan perubahan kebijakan atas keseimbangan ekosistem lainnya. Khusus pilihan berdasarkan urutan kronologis bukan mustahil kembali pada perkembangan rangkaian peristiwa kecil terjadi di masa sekarang. Justeru lebih bergema di tempat lain, dibandingkan peristiwa yang kadang terulang dan sangat langkah terjadi di sekitar kita.

Baca Juga:  Tersiram Subur Dinasti Politik di Lahan Gembur Pandemi

Satu pihak, pengetahuan tertuju pada jaringan gerak, bentuk, ungkapan, dan indera sebagai ‘penanda’. Pada pihak lain, ia diarahkan pada makna, pesan, isi, dan suara sebagai ‘petanda’ bagi rangkaian benda-benda yang dihubungkan dengan kesatuan rangkaian peristiwa atau mengarungi dimensi waktu yang berbeda.

Kita menyebutkan ‘rangkaian benda-benda’ sebagai penanda yang menandai dalam dirinya. Sebaliknya, kita menyebutkan ‘rangkaian peristiwa’, dimana ia dihubungkan secara timbal-balik pada lapisan materi atau dimensi lahiriah. Pengetahuan diarahkan pada celah dan selaan yang muncul dimungkinkan untuk menunda ketunggalan peristiwa, ia menjadikannya rangkaian demi rangkaian yang ditandai dengan perbedaan gerak lamban. Rangkaian peristiwa selalu disela oleh pergeseran waktu dan rangkaian benda-benda memadatkan gerak, bentuk, ungkapan, dan indera sebagai proses perubahan tidak pernah berhenti. Hanya tanda-tanda perubahanlah dapat dijajaki kemungkinannya berinteraksi dengan jejak-jejak peristiwa, yang ditata kembali menjadi jalinan relasi antara kata-kata dan benda-benda yang membentuk ingatan kolektif melalui arsip, rekaman dan jejak-jejak materi lainnya.

Tatkala seseorang ingin melacak hal-hal yang kabur dari ingatan kolektif yang baru saja terlewatkan, termasuk masa lalu sebagai ruang peristiwa, yang disaksikan melalui arsip, rekaman gambar dan tertulis sejalan dengan dinamika zamannya (sekarang, dapat tersimpan dalam data digital terpadu). Meskipun demikian, sebuah arsip, rekaman atau catatan peristiwa yang mengiringi rangkaian perubahan berada jauh dibelakangnya tersusun dari bahasa ganda yang berinteraksi, yaitu teks-suara yang tidak terlihat (bahasa lisan) dan teks yang terlihat (bahasa tulisan dan seluruh penampakan wujud). Pada awalnya terbentuk obyek-obyek dan kata-kata bergerak dari rangkaian pesan sebagai petanda diubah ke rangkaian media sebagai penanda. Dari arsip dan kata-kata tertulis lainnya secara alamiah dan manual ke wujud tulisan dalam dunia virtual. Perubahan dan transformasi dengan rangkaian peristiwa tersembunyi diungkap sandinya terjadi di masa lalu dan masa kini, menyediakan keseluruhan dan sebagian dari ingatan kolektif. Peristiwa yang terjadi di masa kini kadangkala dibandingkan dengan jejak-jejak masa lalu.

Pada saat perbandingan terjadi di masa lalu, tidak serta merta perubahan akan menampilkan obyek-obyek atau wujud baru. Mungkin kita mencoba menemukan perbedaan-perbedaan teknik pengamatan dan diagnosis, indikator pemantauan, pelacakan mutasi dan sumber pandemi, faktor-faktor kemunculan krisis politik, ekonomi dan kesehatan beserta tanda-tanda siklusnya, termasuk bencana alam. Belum lagi kita melihat perbedaan jenis pernyataan dan penentuan strategi dan kebijakan yang tepat dan terpadu terhadap krisis, resesi dan bentuk kemunduran lainnya ke arah transformasi, dari ancaman kelaparan ke arah kondisi yang terbebas dari kelaparan. Kita lantas menggebu-gebu mengatakan, bahwa setiap obyek pembicaraan tentang penampakan suksesif dan retakannya lebih jelas sebagai rangkaian peristiwa. Transformasi tidak terbentuk hanya rutinitas makan roti atau gandum setelah mereka lapar di siang hari.

Perubahan dan transformasi datang dari alur dan tanda-tandanya sendiri. Penampakan wujud dilayani oleh alur dan tanda-tanda perubahan yang samar-samar, maka tidak ada lagi rangkaian kosa kata yang menerangi ruang kosong. Rangkaian kata-kata dan benda-benda terapung-apung di antara celah-celah kronologi, dibandingkan akar-akar peristiwa sejarah3 tercerabut dari lapisan materi atau dimensi lahiriah, selanjutnya tertanam kembali diantara perubahan dan transformasi. Wujud apa yang nampak? Bagaimana mereka saling berangkaian? Kita tidak bermaksud untuk membayangkan peristiwa tentang krisis, siklus atau resesi berubah menjadi drastis dalam sekian lama ke depan.

Seseorang mungkin dapat menelusuri perbedaan besar di balik perbedaan kecil yang jelas, bahkan melacak perbedaan paling kecil lagi yang terpilah, agar lebih jelas wujud dan batas-batas tercapai karena batasannya. Batas-batas penampakan wujud yang harus dilalui oleh rangkaian tanda-tanda, menjebak setiap langkah kita untuk menemukan rangkaian baru. Wabah penyakit menjangkiti kita, selanjutnya diisolasi, dicatat, didata, dan diberi proses penyembuhan. Setelah dinyatakan sembuh dari penyakit atau krisis ekologis menandai keseimbangan alamnya sendiri, mereka dibedakan statusnya sebagai orang sehat atau tanda kelestarian terpenuhi. Dalam relasi-relasi kausalitas dan perubahan dibalik level krisis, siklus atau kemunduran dari kehidupan lainnya sebagai rangkaian peristiwa tidak dapat diputar-balikkan nilai tanda yang telah terbentuk sebelumnya.

Apa yang nampak sebagai rangkaian peristiwa medis yang mengalami puncak krisis kesehatan global juga menjadi faktor yang mengantarkan pertumbuhan negatif (ekonomi merosot di bawah angka nol), yang terancam pada munculnya arus pergerakan spiral krisis, siklus bahkan resesi ekonomi yang kompleks. Semua rangkaian peristiwa hingga mengalami kemerosotan yang parah dan kehancuran yang fantastis akan menjadi titik tolak perubahan, jika dipersiapkan syarat untuk mengantisipasi adanya kemungkinan topeng tidak tersingkap akan memakan waktu yang tidak singkat proses pemulihannya. Akar-akar sejarah diantarkan ke rangkaian peristiwa melalui akar-akar bahasa menjadi diskursus pengetahuan.

Setelah terbentuk rangkaian yang berbeda, kita berkeinginan keluar dari permasalahan pelik, ketika kemungkinan tanda perubahan kebijakan ekonomi dan kebijakan lainnya dapat ditetapkan dengan proyeksi yang diungkap secara lebih dini. Sementara, pilihan kebijakan untuk mencegah terjadinya kemungkinan di luar perkiraan sebelumnya melalui penetapan pilihan kebijakan resmi menjadi lebih jelas dalam proses pemulihan krisis atau resesi, yang berdampak luas sebagai satu rangkaian peristiwa. Perubahan-perubahan yang ingin dicapai di tengah krisis, siklus atau resesi adalah perubahan di level dan jenis peristiwa paling berpengaruh dan mencuatkan jejak-jejak dan tanda-tanda yang lebih sulit dilupakan.

Pilihan untuk perubahan ditetapkan mesti bukan lagi atas  pertimbangan interval seimbang, melainkan cara untuk menentukan fase dan tahapan antisipasi penanganan titik krisis, siklus atau resesi tertentu berdasarkan peristiwa yang sama sekali tidak pernah terjadi sebelumnya. Dalam kasus yang berbeda, peristiwa yang tidak jarang berulang, kita hanya menyetel dan menyesuaikan level dan jenis peristiwa dalam dirinya. Akhirnya, kita secara cermat menerapkan metodologi paling tepat, agar seluruh rangkaian perubahan tidak terhambur-hambur di tengah jalannya proses dinamika dan titik temu pemikiran dan ide. Ada kemungkinan terjadi ketidaktepatan capaian target perubahan yang ditetapkan dibalik rangkaian peristiwa yang berbeda menurut level dan jenisnya, maka setiap orang terlibat didalamnya tidak perlu menyesal untuk menyesuaikan dan melompati salah satu proses dan tahapan perubahan yang diinginkan.

Dari segi proses dan tahapan, level dan jenis, kadangkala rangkaian peristiwa dimungkinkan tidak memiliki relasi-relasi yang membuktikan terjadi perubahan. Kembali pada hukum-hukum dan hal-hal penting yang menjadi tanda-tanda perubahan dalam periode tertentu tidak seluruhnya dapat diartikulasikan. Karena itu, pembentukan proses, perbedaan taraf dan pergeseran tahapan mengiringi rangkaian peristiwa dengan relasi-relasi yang melebihi pengaruh kritisisme sosial, kepentingan politik, kesejahteraan ekonomi, dan keterbukaan publik. Pada bagian lain, mereka menyaksikan permasalahan aktual muncul ke permukaan, tatkala perincian kronologis terungkap melalui sebuah jaringan kausalitas dan penanganan kembali relasi-relasi yang pernah ditelan oleh level dan jenis peristiwa tertentu.4 Suatu hal cukup menarik, bahwa kemungkinan terjadinya titik perbedaan prediksi tentang level angka ambang batas resesi tidak dapat dihindari dari masing-masing institusi. Di luar perhitungan institusi di masa yang sedang berjalan, tidak jarang tempat dimana peristiwa disaksikan berbeda antara rangkaian alfabetik (a, b, c, d)5 yang bergerak secara linear dengan rangkaian penampakan wujud sesungguhnya di hadapan kita..

Baca Juga:  Bangkitnya Gerakan Sosial-Keumatan di Tengah Krisis Ideologi

Tetapi, perbedaan prediksi terhadap apa-apa yang akan terjadi dalam kurun waktu kedepan menemukan jejak-jejak peristiwa, yang memberikan peringatan lebih dini tentang ancaman krisis atau resesi yang berulang dan jangkauan dampaknya berbeda. Penanganan kembali atas ancaman resesi karena kita melihat hilangnya ketunggalan faktor yang memengaruhi rangkaian peristiwa kelambanan perubahan. Lantas, kita tidak lagi berdiri tegak di sisi faktor yang satu dan roboh di sisi faktor yang lain. Justeru perbedaan prediksi dari masing-masing institusi tidak membuat larut dengan kondisi yang terjadi. Ia malahan akan menggerakkan perubahan, dimana institusi publik melalui pertemuan pemikiran dan ide pemulihan kondisi di tengah krisis tetap masih menyusun sebuah skenario.6 Bagaimana mereka (dunia yang terancam dan sedang dilanda krisis atau resesi) menggambarkan relasi antara satu rangkaian dengan rangkaian lainnya dan menentukan bentuk relasi apa yang dapat menandakan perubahan yang akan memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi sebuah perjalanan panjang kita yang baru.

Dalam penentuan bentuk relasi bagaimana rangkaian-rangkaian yang berbeda digambarkan? Perinciaan kronologis sejenis apa yang perlu diciptakan, sehingga rangkaian peristiwa dan tanda-tanda memiliki faktor-faktor yang memiliki korelasi dengan rangkaian-rangkaian lainnya? Kita perlu mengingat, bahwa seluruh rangkaian indikasi numerik dan rangkaian variabel menjadi satu pertimbangan untuk melacak jejak-jejak peristiwa yang terjadi sebelumnya, agar kita menikmati totalitas rangkaian dan membuat kesempatan kedua kalinya setelah penanganan krisis atau resesi. Melalui rangkaian-rangkaian yang berbeda bukanlah bentuk relasi yang ditentukan oleh alat-alat pengukuran dengan unit umum yang dibentuk.7 Kesimultanan dan rangkaian peristiwa dijadikan perbandingan terburu-buru bagi peristiwa lainnya akan memunculkan permasalahan metodologis yang baru. Selain menghadapi permasalahan metodologis, kita juga menghadapi faktor dampak perkembangan kerasionalan suatu kondisi sudah ada jauh sebelum rangkaian peristiwa mutakhir muncul.

Rangkaian-rangkaian yang berbeda dimaksud untuk menggambarkan dan menentukan yang mana perbedaan berlipat-ganda menandai relasi antara level dan jenis, taraf dan durasi, antara intelegensi dan insting, alami dan rekayasa. Suatu hal yang tidak terhindarkan adalah ‘rangkaian  yang berbeda secara aktual dan mendadak’. Bagaimana menentukan pilihan tindakan dan praktik yang tepat dengan menggunakan metode analisis (entah itu kuantitatif ataukah kualitatif), yang kenyataannya sering berbeda hasilnya di lapangan. Karena itu, rangkaian kondisi yang terberi dan berbeda ditandai oleh kelahiran dan kemunduran kesadaran atas peristiwa, maka sebetulnya mereka tersimpan dalam jejak dan sinyal yang tersembunyi, selanjutnya muncul kembali dalam rentang waktu yang belum jelas berlakunya. Perbedaan akan terjadi dalam rangkaian peristiwa, ketika berlaku juga rangkaian perbedaan8 periode, wilayah, dampak, dan proses keberlangsungan pemulihan atau perubahan yang dinginkan. Serangkaian peristiwa yang dimaksudkan bukanlah benda-benda atau obyek yang lama menggumpal tiba-tiba meledak. Singkatnya, perbedaan hasil juga bukanlah permasalahan bagi rangkaian-rangkaian yang berbeda.

Tindakan penanganan untuk perubahan dan transformasi yang mengiringi peristiwa tertentu bukanlah semacam salinan atau sebuah reduplikasi. Rangkaian menunjukkan penerimaan, bukan keengganan menerima ‘perbedaan, keacakan dan kesaling-silangan yang kreatif’, yang mungkin boleh saja terjadi. Bukankah ‘metode analisis’ dan ‘pilihan tindakan’ penanganan atas krisis atau resesi menuju perubahan yang diharapkan merupakan salah satu sistem pemikiran, yang dicoba diterapkan oleh institusi?  Bukanlah permasalahan jika kita mengurutkan kembali kesimultanan, perincian kronologis, perbedaan-perbedaan, batasan-batasan, jalinan sebab, dan asal-usul salinan yang terpisah, melainkan satu atau lebih serangkaian peristiwa dan tanda-tanda yang sama. Suatu rangkaian yang pertama bukanlah sebagai penyebab rangkaian yang kedua dan seterusnya.

Titik tolak rangkaian yang satu bukanlah sebuah jalinan kausalitas dan gerak linear bagi rangkaian lain yang berbeda taraf dan durasinya. Karena semuanya bergerak dari sebuah relasi. Kita tidak perlu mengeja ulang pernyataan, jika terdapat rangkaian peristiwa yang sama, kecuali kita bisa melalui ambang batas relasi yang menggambarkan dan menentukan perubahan, melampaui setiap faktor kemunculan peristiwa yang menyangkut dirinya sendiri. Suatu rangkaian perubahan yang keluar dari rangkaian yang berbeda, karena diambil dari keadaan terkantuk-kantuk menurut relasi antara tertidur dan terjaga. Tidak menjadi permasalahan apakah penampakan wujud berbeda atau mirip akan terjadi bisa dihubungkan dengan rangkaian peristiwa lainnya, karena boleh saja dipengaruhi oleh faktor kemungkinan pengulangannya.

Suatu peristiwa yang belum terjadi sekarang saja masih berkesan sebagai teori kemungkinan menurut hasil dan dampak yang ditimbulkannya. Sementara, perubahan hanya menurut perkiraan dan antisipasi terhadap apa yang akan terjadi kedepan belumlah cukup memadai, sekalipun telah ditemukan serangkaian variabel, jejak-jejak dan sinyal-sinyal peristiwa yang pernah terjadi. Satu perubahan dicampur-tangani oleh serangkaian relasi perangkat verifikasi atas obyek yang dapat diamati, relasi antara ukuran-ukuran yang dapat dinalar dan dialami, relasi antara sebuah wilayah penempatan secara spasial, titik koordinat dan jarak, relasi antara keterlibatan dan keadaan. Dari rangkaian permasalahan sosial, ekonomi, kesehatan, politik, demografi, alam, ilmu pengetahuan hingga bahasa dikaitkan dengan peristiwa sejarah, ditulis melalui relasi-relasi menuju permukaan ruang dimana pengetahuan dibentuk.

Nanti terbetik dalam ingatan dan hasrat, menanam atau berkebun dahulu bukanlah rangkaian peristiwa, melainkan mengikuti jejak dan tanda masa manusia sebelumnya beserta penyesuaian-penyesuaian tercakup didalamnya. Suatu proses yang berjalan dimaksudkan bukanlah rangkaian perubahan: bangun dari tidur, mandi, sarapan, dan berangkat bekerja. Mungkin, patut dikatakan, rangkaian adalah tidak lebih dari totalitas permainan kreatif. Rangkaian yang berkembang adalah teater peristiwa.   

Catatan:

  1. Foucault, Michel, The Order of Things,  Routledge, London and New York, 2002, hlm. xi dan 400, Heidegger, Martin,  Being and Time,  Harper and Row, Publishers, Inc., New York, 1962, hlm. 434.
  2. “Semua adalah pengulangan dalam rangkaian temporal …“ (All is repetition in the temporal series, …) (Lihat Deleuze, Gilles,  Difference and Repetition,  Colombia University Press, New York, 1994, hlm. 90.
  3. “Penyejarahan sejarah adalah penyejarahan dalam Ada-dalam-dunia” (The historizing of history is the historizing of Being-in-the-world) (Lihat Heidegger, Martin,  Being and Time, Harper and Row, Publishers, Inc., New York, 1962, hlm. 440.
  4. CNN Indonesia. Tanda-tanda Resesi Mengintai Ekonomi RI, disalin pada tanggal 23/7/2020 dalam https”//cnnindonesia.com/ekonomi/20200718195044-536-526251/tanda-tanda-resesi-mengintai-ekonomi-ri
  5. Foucault, Michel, The Order of Things,  Routledge, London and New York, 2002, hlm. Xvii; dan CNN Indonesia. Tanda-tanda Resesi Mengintai Ekonomi RI, disalin pada tanggal 23/7/2020 dalam https”//cnnindonesia.com/ekonomi/202007182437-532-527295/pengamat-ramai-indonesia-masuk-jurang-resesi-tahun-ini menunjukkan ‘rangkaian’ secara periodik, yaitu kuartal pertama, kuartal kedua, kuartal ketiga (Q1® Q2®Q3).
  6. CNN Indonesia. Corona, Pemerintah Tetap Kejar Jadi Negara Maju disalin pada tanggal 23/7/2020 dalam https”//cnnindonesia.com/ekonomi/20200720124512-532-526655/corona-pemerintah-tetap-kejar-target-jadi-negara-maju; dan CNN Indonesia. Uni Eropa Kucurkan Paket Stimulus Pemulihan Corona Rp 12.600 T disalin pada tanggal 7/23/2020 dalam https”//cnnindonesia.com/ekonomi/20200721150842-532-527182/uni-eropa-kucurkan-paket-stimulus-pemulihan-corona-rp12600-t
  7. Foucault, Michel, The Order of Things,  Routledge, London and New York, 2002, hlm. 61.
  8. Deleuze, Gilles, Desert Islands and Other Texts 1953-1974, Semiotext(e), Los Angeles-New York, 2004, hlm. 97.
ASN/PNS Bappeda Kabupaten Jeneponto/ Aktivis Masyarakat Pengetahuan
Posts created 3

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pos Terkait

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.

kembali ke Atas