Anak adalah Raja, Pembawa Obor dan Pemegang Kedaulatan Masa Depan

Tulisan ini idealnya dipersembahkan tepat pada Hari Anak Indonesia, namun karena lupa sehingga tidak mempersiapkan sebelumnya. Berbicara tentang anak adalah pembicaraan sepanjang masa, tidak terbatasi oleh ruang dan waktu. Pembahasan tentang anak akan senantiasa menemuka ruang relevansi dan signifikansinya, apalagi jika sedang menatap masa depan yang gemilang.

Menatap masa depan yang gemilang, baik untuk konteks keluarga, kehidupan sosial maupun yang lebih luas cakupannya ­(bangsa, negara dan bahkan peradaban) tidak hanya membutuhkan persiapan yang bersifat material, infrastruktur, finansial, ilmu dan teknologi mutakhir. Akan tetapi persiapan utama adalah bagaimana melahirkan anak yang kelak akan menjadi subjek bahkan objek daripada masa depan termasuk persiapan lainnya yang telah disebutkan.

Anak memiliki posisi strategis dan pemegang key word (kata kunci) bagi masa depan yang gemilang. Ada banyak nasihat bijak, pernyataan dan aksioma yang bisa menguatkan tesis tersebut. “Didiklah anakmu 25 tahun sebelum lahir”, nasihat bijak ini ada yang mengatakan berasal dari Ali bin Abi Thalib, ada pula yang mengatakan dari Imam Ghozali dan saya sendiri belum pernah menemukan referensi jelasnya selain dari secara lisan.

Aksioma John C. Maxwell “masa depan suatu bangsa 25 tahun yang akan datang ditentukan oleh sikap generasi mudanya”. Prof Dr. S.C. Utami Munandar (Guru Besar Psikologi UI) dalam pengantar buku Psikologi Belajar (2003) menjelaskan yang pada intinya bahwa tantangan pendidikan ialah menyiapkan anak untuk hidup dalam lingkungan millenium 3. Menyiapkan anak untuk bisa hidup dalam lingkungan yang sebagian besar belum dikenal disebabkan oleh adanya akselerasi yang luar biasa dari perubahan-perubahan yang terjadi.

Dari nasihat, pernyataan dan aksioma di atas pada intinya bagaimana posisi strategis anak untuk masa depan. Dan tentunya orang tua ­–terutama dan lebih awal orang tua dalam pengertian keluarga (ayah dan ibu)– harus memberikan porsi perhatian terhadap hal tersebut. Orang tua harus mampu memahami bahwa melahirkan di sini bukan hanya melahirkan dalam pengertian biologis, atau meneruskan gen dalam proses genetika dalam perspektif biologis. Melahirkan di sini harus mampu dipahami mencakup dalam pengertian atau perspektif intelektualitas, psikologis, emosional dan spiritualitas.

Orang tua harus mampu mendidik anak sejak dini, sejak dalam kandungan bahkan sejak sebelum lahir. Mendidik sejak sebelum lahir, tentunya orang tua yang harus mampu mempersiapkan diri secara matang berkenaan dengan pengetahuan, kesiapan mental bahkan mencakup aspek religious-spiritualitas. Melalui tulisan ini, sangat terbatas untuk menuangkan lebih dalam dan lebih luas terkait pemahaman mendidik sebelum anak lahir.

Orang tua harus memahami bahwa kebutuhan anak termasuk sejak dalam kandungan bukan hanya kebutuhan nutrisi karena –jika saya meminjam istilah Asratillah– anak tidak hanya hidup dalam konteks vegetatif (nutritive dan tumbuh) dan konteks animalia (instingtif, sensasional dan mobile). Namun tentunya anak juga hidup dalam konteks jaring-jaring makna, dialektika yang bertautan dengan aspek psikologi, emosional dan spiritualitas dan ini semua adalah entitas, elan vital anak dalam mengarungi kehidupannya kelak.

Atas kesadaran tersebut, orang tua harus mampu pula memahami apa yang disebut golden age sebagaimana perspektif Munif Chatib dalam buku karyanya Orangtuaya Manusia (2012). Ada tiga tingkatan golden age atau tiga fase dengan status yang berbeda-beda:, sebagai Raja, Pembantu dan Wazir. Fase pertama/tujuh tahun pertama (0-7 tahun), anak adalah Raja. Secara sederhana bisa dipahami bahwa fase ini, anak harus diperlakukan sebagai raja, orang tua harus mengikuti kemauan anak.

Saya pribadi selaku penulis, untuk fase pertama ini bukan hanya pemaham secara teoritik, tetapi di rumah, terimplementasi secara praksis. Anak saya Dhafitha yang berumur + 6 tahun, jika saya sedang di rumah, hampir semua yang dibutuhkan berada dalam kerangka kerja antara Raja dan pembantu. Hampir semua kebutuhannya, termasuk sampai pada persoalan minum, tidak boleh tidak harus Bapak (saya) yang mengambilkannya karena seperti itu maunya. Seakan dia mengerti tentang konsep ini, bahwa dirinya adala raja. Termasuk anak memiliki kerajaan bermain pada fase pertama ini.

Baca Juga:  Politik Dinasti? Gibran Harus Belajar Dari Uzumaki Boruto

Fase kedua, tujuh tahun kedua anak berstatus sebagai “Pembantu” yang dididik dan dibimbing dan fase ketiga, tujuh tahun ketiga anak sebagai “Wazir” sudah harus dibiasakan dan diajak ikut serta bermusyawarah dan bekerja sama dalam mengatasi segala macam masalah kehidupan.

Apa yang disampaikan oleh Munif Chatib dengan perspektif golden age-nya untuk fase pertama dan kedua (tujuh tahun pertama dan tujuh tahun kedua) –bagaimana orang tua memperlakukan anaknya relevan dengan filosofi mengajar yang disampaikan oleh Bobbi Deporter, dkk dalam buku karyanya Quantum Teaching– ”bawalah dunia anak, ke dalam dunia kita sebelum membawa dunia kita kita ke dalam dunia anak”. Atau saya sering menganalogikan ibarat bermain layang-layang, terhadap anak. Kita sebagai orang tua, tidak apa-apa mengalah terlebih dahulu sambil membujuk agar sesuai harapan selaku orang tua.

Setelah orang tua memahami tentang posisi anak pada masa yang disebut golden age, maka dalam upaya agar anak bisa membawa “obor” menuju dan kelak sebagai pemegang “kedaulatan” masa depannya maka orang tua pun idealnya perlu memahami dan menanamkan konsep diri yang baik kepada anaknya. Setelah itu memahami dan memberikan pemahaman tentang perspektif “busur dua derajat” Syahrir Syam termasuk “filosofi habits” Felix Y. Siauw dan “kekuatan memilih” dari Arvan Pradiansyah.

Konsep diri yang secara sederhana dipahami sebagai bentuk pandangan, persepsi, keyakinan terhadap diri, perlu ditanamkan secara langsung maupun tidak langsung kepada anak. Minimal diberikan pemahaman dan menjadikannya sebagai sebuah mindset tentang potensi-potensi yang luar biasa yang telah built dalam dirinya. Bisa jadi –sebagaimana cerita telur burung elang­– terlahir bersama ayam selamanya tidak pernah bisa terbang meskipun potensi dasarnya bisa terbang, hanya karena tidak menyadari dirinya, bahwa dia adalah elang, raja angkasa: bisa terbang. Bisa jadi kita lahir dari keluarga miskin, tetapi tetap harus memiliki cita-cita yang tinggi.

Konsep diri adalah sesuatu yang penting dan harus dipahami oleh orang tua dan selanjutnya ditanamkan kepada anak. Meskipun untuk membahas ini secara holistik dan komprehensif tidak cukup ruang, tetapi saya pribadi sudah melewati ratusan forum untuk membahas hal ini, termasuk telah saya buktikan kedahsyatannya dalam hidup. Bahkan visi misi hidup pun sesungguhnya memiliki korelasi positif dengan konsep diri yang dimiliki.

Adalah Syahril Syam dalam buku karyanya Change Limiting Beliefs (2016) memberikan makna progressif dan psikologis tentang perspektif busur dua derajat. Dimana Syahril Syam terinspirasi atas kejadian pergeseran satelit palapa sejauh dua derajat. Jika melihat dari pusat busur tentunya dua derajat itu amat dekat tetapi jika posisinya di luar angkasa maka pergeseran itu sangat jauh.

Sebagaimana saya pahami dari Syahril Syam, mungkin saja segala pemikiran, sikap dan tingkah laku yang kita lakukan kepada anak dan termasuk oleh anak itu sendiri, hari ini biasa-biasa saja. Dampaknya belum terasa, tetapi jika ditarik jauh dalam rentang waktu yang cukup lama, pada masa yang akan datang, bisa memberikan implikasi yang sangat signifikan, urgen atau krusial bagi masa depan anak. Apakah hal tersebut bersifat destruktif atau pun konstruktif tentunya di lihat dari awal, sejak dini sebagai titik pusat busur derajatnya.

Baca Juga:  Jalani Pancasila Seperti Air Mengalir

Sebagaimana yang saya lakukan, secara sederhana: koleksi buku, belajar/membaca depan anak-anak, “menghamburkan” –dalam defenisi positif– buku buku dekat anak, membisikkan di telinga anak-anak frase “senang membaca” mungkin belum berdampak signifikan hari ini. Namun saya yakin kelak, hal tersebut melahirkan dampak yang luar biasa dahsyat bagi anak-anak kami.

Perspektif busur dua derajat ini, relevan dengan “filosofi habits” Felix Y. Siauw tentang pentingnya apa yang disebut pembiasaan. Yang memiliki dua unsur utama yaitu practice (latihan) –untuk mengetahui apakah yang dilakukan sudah benar atau belum– dan repetition (pengulangan). Practice makes right, repetition makes perfect.

Pada substansinya, saya memahami bahwa apapun yang diulang-ulang (dibiasakan/menjadi kebiasaan) maka kelak akan bermuara menjadi sebuah karakter bahkan setelah itu akan menentukan nasib. Jadi jika hal-hal yang dibiasakan (diulang-ulang) itu adalah positif maka akan menghasilkan karakter positif sampai nasib positif, begitupun sebaliknya. Hal ini⸻dalam forum-forum perkaderan dan Latihan Dasar Kepemimpin (LDK) OSIS –sering saya menganalogikan sebagai jalan kebun yang terbentuk dengan sendirinya– sebagai petunjuk arah yang baik⸻hanya karena sering dijalani/dilewati.

Filosofi habits Siauw ini, jika kita pernah pembaca pernah membaca buku Quantum Ikhlas Erbe Sentanu, hal itu akan memberikan penguatan teori secara ilmiah bahwa apa yang dalam dimensi fisika quantum (berupa pikiran dan perasaan) memberikan dampak nyata dan dahsyat terhadap apa yang ada dalam dimensi fisika newton –kehidupan nyata– berupa: kata-kata, tindakan, kebiasaan, karakter dan nasib.

Hal ini saya menyebutnya dengan alur nasib. Taburlah pikiran positif, maka kamu akan menuai kata-kata positif; Taburlah kata-kata positif, maka kamu akan menuai tindakan positif; Taburlah tindakan positif, maka kamu akan menuai kebiasaan positif; Taburlah kebiasaan positif, maka kamu akan menuai karakter positif; Taburlah karakter positif, maka kamu akan menuai nasib positif. Begitupun sebaliknya akan terjadi: hal negatif.

Tidak kalah pentingnya dari apa yang telah diuraikan di atas adalah apa yang oleh Arvan Pradiansyah menyebutnya “kekuatan memilih”. Manusia memiliki The Power to Choose. Manusia oleh Allah diberikan kehendak bebas, meskipun kebebasan yang dimaksud tetap ada batas-batasnya dan memiliki konsekuensi logis yang tidak berdasarkan atas kehendak bebas manusia. Manusia bebas memilih dan Allah sudah menetapkan konsekuensi logisnya.

Apakah manusia akan memilih hal-hal yang positif atau yang negatif begitupun bagi orang tua atau anak apakah memilih hal positif atau negatif tergantung pada personal masing-masing orang tua dan anak. Tentunya sebagai orang tua dan anak yang ingin membawa obor dan menjadi pemegang kedaulatan masa depan harus memilih hal positif, produktif, konstruktif dan kontributif terhadap masa depan yang dimaksud. Karena the power to choose telah built dalam dirinya. Bahkan tiap-tiap dari diri kita adalah –sebagaimana dalam pandangan Arvan Pradiansya dalam bukunya You Are A Leader (2010)– sutrada atas kehidupannya, yang harus menyusun skenarionya dan melakoninya.

Orang tua yang baik idealnya harus menyiapkan sejak dini berbagai instrument dan skenario tentang masa depan anaknya. Jika orang tua tidak mampu melakukannya, maka anak tersebut yang harus tetap optimis menjadi sutrada tunggal, menyusun sendiri scenario hidupnya untuk kemudian dilakoni menuju masa depan yang gemilang.

Akhir tulisan ini tentunya, saya menyadari masih banyak hal yang belum bisa sepenuhnya saya tuangkan dalam tulisan ini karena keterbatasan ruang. Jika pembaca sampai pada poin ini dan masih banyak hal yang belum dan ingin dipahami, saya pribadi, selaku penulis senantiasa bersedia di ajak berdiskui lebih dalam dan lebih jauh.

Mantan Sekretaris PD. IPM 2004 -2006 dan sekarang sebagai Komisioner KPU Kabupaten Bantaeng Periode 2018 - 2023
Posts created 4

Satu tanggapan pada “Anak adalah Raja, Pembawa Obor dan Pemegang Kedaulatan Masa Depan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pos Terkait

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.

kembali ke Atas