IPM sebagai Laskar Zaman

Tulisan ini diniatkan sebagai Kado Milad ke-59 Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) 18 Juli 1961 – 18 Juli 2020. Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) telah melintasi tiga zaman: Orde Lama, Orde Baru dan Reformasi. IPM bukan hanya sekedar wadah berkumpul untuk memenuhi kecenderungan minimal manusia (pelajar) sebagai makhluk sosial. Di IPM para aktivisnya akan mencandra realitas yang mengitarinya, menafsirkan, memberikan sentuhan pemahaman filosofis untuk selanjutnya menawarkan paradigma gerakan yang relevan dan signifikan.

Untuk diketahui, IPM dalam perjalanannya pernah berubah menjadi Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM). 3 (tiga) dekade terakhir IRM kembali berubah nama menjadi IPM. Namun perlu diingat bahwa setiap perubahan ada dalam tubuh IPM, bukan hanya perubahan secara atributif, tetapi termasuk diiringi dengan perubahan paradigma yang relevan dan signifikan. 

IPM dengan keterbukaan dan kelenturannya terhadap berbagai multi-disiplin keilmuan yang ada membuat dirinya senantiasa memiliki pisau analisis yang tajam untuk mencandra realitas yang ada. Berdasarkan falsafah pergerakan IPM, eksistensi dirinya sangat memperhatikan 3 (tiga) hal yang juga merupakan unsur penting dari filsafat sejarah: ruang, waktu dan epistem sosial (realitas).

Terkait ruang, IPM sangat menyadari betul ruang lingkup pergerakannya memiliki batas dan karakter tertentu yakni : Pelajar. IPM harus mampu memahami konsep diri seperti apa itu pelajar. Untuk memenuhi kebutuhan ini maka sebagaimana pandangan Moh. Mudzakkir, IPM (tentunya pimpinan dan kader-kadernya) tidak bisa melepaskan diri dari filsafat sebagai alat baca.

Dibutuhkan pembacaan filosofis –sebelum IPM melangkah jauh– untuk memahami karakter yang menjadi ruang lingkup pergerakannya. Apalagi IPM identik dengan perkaderan, yang menjadi jantung peradabannya. Masih menurut Moh. Mudzakkir )Ketua Umum Pimpinan Pusat IRM Periode 2006-2008), bahwa “Perbincangan tentang perkaderan tidak bisa menafikan pemaknaan terhadap pendidikan. Membahas pendidikan tidak bisa melewatkan perdebatan tentang manusia (kemanusiaan), ketika mengupas manusia dengan segala dimensinya maka kita tidak bisa melepaskan filsafat sebagai alat baca.”

Tilikan filosofis ini penting karena akan mempengaruhi dasar gerakan, mengokohkan arah tujuan dan menjadi elan vital (daya hidup) untuk mempetajam visi, memperkuat misi. Dari kesadaran IPM sehingga awal pergerakannnya pernah menanamkan jargon 3 T (Tertib beribadah, Tertib belajar dan Tertib organisasi). Menurut saya jargon ini penting dan sangat fundamental, mengingat bahwa ruang lingkup pergerakannya adalah pelajar yang membutuhkan spirit dan keseimbangan antara beribadah, belajar dan organisasi. Terkait keseimbangan yang dimaksud, ini bisa dikaji lebih jauh dan lebih dalam lagi.  

Waktu sebagai unsur filsafat sejarah kedua sebagai derivasi dari falsafah pergerakan IPM sangat diperhatikan. Waktu dimaknai sebagai proses menuju. Tentunya proses menuju menjadi umat yang terbaik. Dari kesadaran ini, IPM telah menetapkan tujuan yang sangat mulia dan kokoh untuk yang bersifat magnetik (menarik) dan muara atas dinamika pergerakannya.

Tujuan IPM “Terbentuknya pelajar muslim yang berilmu, berakhlak mulia, dan terampil dalam rangka menegakkan dan menjunjung tinggi nilai-nilai ajaran Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenarbenarnya”. Sebagai sebuah tujuan, IPM paham betul, bahwa harus mampu dilihat secara jelas, sejak dari awal. Melihat melalui mata batin. Rhenald Kasali, salah satu penyebab kegagalan adalah failure to see (gagal melihat).

Dengan melihat melalui mata batin, maka IPM tidak hanya menjadi produsen gagasan, ide-ide, wacana, tetapi semua yang dilahirkan dijadikan paradigma, tilikan filosofis, dikontekstualisasikan dengan zaman yang ada dalam rangka mencapai tujuan mulia tersebut. Maka IPM semua itu oleh IPM diinkarnasikan dalam bentuk tubuh yang disebut gerakan. Ini relevan dengan pernyataan kedua Rhenald Kasali, penyebab kegagalan kedua adalah failure to move (gagal bergerak).

Baca Juga:  Merajut Partisipasi Pengawasan Pemilu

Unsur ketiga adalah epistem sosial (realitas sosial). Terkait ini IPM dengan keterbukaannya dengan berbagai mutli-disiplin keilmuan, maka IPM kaya akan ilmu yang bisa menjadi pisau analisis untuk membaca realitas sosialnya. Agar gerakan yang dilakukan sesuai dengan kebutuhan dan tantangan zaman.

Memahami realitas adalah sesuatu yang sangat penting karena salah memahami realitas yang sedang mengitari kehidupan bisa menimbulkan malapetaka sebagaimana kisah katak yang seringkali saya sampaikan dalam forum –forum perkaderan. Katak binasa karena terlambat menyadari bahwa diri sedang berada dalam panci yang air akan dan sedang direbus di atas kompor yang apinya menyala. Apalagi hari ini kita sedang berada dalam era yang bisa disebut hyper-realitas membutuhkan sebuah ketajaman analisis.

Terutama dalam konteks epistem sosial inilah sebagai unsur ketiga yang penting dalam filsafat sejarah, maka IPM harus mampu senantiasa menjadi “Laskar Zaman”. Laskar secara sederhana bisa dimaknai, “pejuang”, “pasukan” atau bahkan “tentara”. Terkait ini, IPM senantiasa menghadirkan paradigma gerakan yang sesuai dengan konteks zamannya.

Dalam perjalanannya IPM setelah memiliki paradigma gerakan dengan jargon 3 T-nya sebagaimana telah disebutkan di atas, pernah pulah merumuskan dan menjadi spirit pergerakannya pada saat itu yaitu “Gerakan Kritis Transformatif” dengan jargon 3 P-nya (Penyadaran, Pembelaan dan Pemberdayaan). Sebagaimana dalam pandangan Azaki Khoiruddin (Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat IPM 2014-2016) Paradigma ini sangat dipengaruhi oleh teori sosial kritis, terutama Jurgen Habermas Madzhab Frankfurt dan lebih lebih Pendidikan Kritis Paulo Freire yang dipopulerkan oleh Mansour Fakih. Pada saat itu, paradigma ini dinilai relevan dan sangat signifikan dengan kontek zamannya.

Pelajar pada saat itu dinilai, membutuhkan kesadaran kritis transformatif memahami realitas yang ada yang penuh dehumanisasi, kesadaran palsu, struktur yang menghegemoni, mendominasi dan menindas. Pelajar diharapkan tidak terkungkung dalam kesadaran magic dan kesadaran naif.

Kemudian setelah paradigma dengan munculnya realitas baru yang perlu disikapi dengan baik dan benar, maka lahirlah paradigma yang menjadi spirit sampai hari ini yaitu “Gerakan Pelajar Berkemajuan” dengan jargonnya 3 P Baru (Pencerdasan, Pemberdayaan dan Pembebasan). Paradigma ini tentunya merupakan jawaban atas tafsir dari realitas yang ada.

Ikatan Pelajar Muhammadiyah sebagai “Laskar Zaman”, harus senantiasa eksis menjadi solusi dan membentengi pelajar agar tidak terseret di tengah arus globalisasi hari ini. Harus mampu menyelematkan pelajar di tengah ruang dan waktu yang kini sudah ditaklukkan oleh kekuatan elektromagnetik, sehingga terjadi lenyapnya batas-batas kehidupan.

Akibat arus globaliasi dengan kecanggihan teknologi digital sebagai determinannya, bukan hanya batas geografis yang terasa hilang, bahkan batas sosialpun telah hilang (sulit lagi membedakan yang mana mainan yang layak untuk anak, dan mana untuk orang dewasa. Tulus dan riya’ pun sulit dibedakan, begitupun antara negarawan dan pecundang semakin kabur hari ini.

Bahkan hari ini, sebagaimana dalam pandangan Yasraf Amir Piliang (2004) bahwa “Layaknya organisme hidup, panorama kebudayaan yang kita saksikan seakan –akan tubuh yang tanpa organ, atau setidak-tidaknya tubuh yang mengalami kekacauan organisme. Inilah organisme kebudayaan yang di dalamnya organ kepala telah berubah menjadi dengkul, sehingga kini orang lebih banyak bertindak daripada berpikir; organ mata telah menjelma menjadi otak, sehingga kini orang lebih banyak menonton ketimbang merenung; organ mulut telah mengambil alih hati, sehinga orang kini lebih gandrum melepas hasrat, ketimbang mengasah hati. Dan masih banyak lagi bentuk –bentuk kekacauan organisme yang dianologikan seperti ini.

Baca Juga:  Dua Pertanyaan Ulang tentang Narkoba

Pergeseran kehidupan ini, termasuk hoax, post truth, making fun, anti grand narration, ekstasi kecepatan tidak sedikir pelajar yang menjadi korban di dalamnya. Maka IPM dengan paradigma “Gerakan Pelajar Berkemajuannya” harus menjadi garda terdepan untuk menyelematkan pelajar. Bukan hanya pelajar dalam lingkup pendidikan formal Muhammadiyah saja, tetapi siapa saja yang berstatus pelajar.

Dalam pandangan Azaki, Gerakan Pelajar Berkemajuan (GPB) adalah yang memiliki pondasi dari Gerakan Sosial Baru (New Sosial Movement) dengan konteks menuju peradaban post –modern, yakni pergeseran dari gelombang industri ke ilmu pengetahuan dan teknologi informasi melalui media, dari paguyuban ke “jejaraing social”.

Sebagaimana saya pahami dari buku Mercusuar Peradaban Manifesto Gerakan Pelajar Berkemajuan karya Azaki Khoiruddin, bahwa GPB ini menyadari bahwa hari terjadi pergeseran, ika dahulu orang yang menguasai informasi dan pengetahuan adalah yang berkuasa. Tetapi hari ini bagi IPM kuasa adalah informasi. Mereka yang berkuasa adalah yang memegang kendali informasi melalui media dan membentuk opini bahkan ideologi masyarakat.

GPB juga merupakan derivasi dari pandangan Islam Berkemajuan Muhammadiyah sebagai organisasi induknya. Spirit berkemajuan dalam pandangan Amin Abdullah dalam pemikiran Islam Kontemporer bisa disejajarkan dengan Islam Progresif. Spirit Islam yang senantiasa mengedepan etos ijtihad agar Islam bisa eksis dan menjadi solusi dalam setiap peradaban yang ada. Membawa spirit Islam yang Shalih Lukulli Zaman Wa Makan. Dan secara implisit Islam Berkemajuan juga mengsyaratkan integrasi-interkoneksi multi-disiplin keilmuan.

Dari kesadaran ini maka tentunya IPM, Pimpinan dan kader-kadernya harus mampu memassifkan gerakan melalui media dengan konten, opini –opini yang relevan dengan tujuan mulia IPM. Ini bukan berarti karena niat untuk menjadi yang berkuasa. Tetapi ingin menyelamatkan dan membentengi generasi muda terutama dari arus globalisasi yang bisa menyeretnya dalam lumpur peradaban.

IPM juga memiliki nilai-nilai perjuangan yang diarahkan dan diaksentuasikan pada: ketauhidan, keilmuan, kemandirian dan kekaderan. Memperhatikan ini maka IPM sebagai Laskar Zaman memiliki posisi strategis untuk menyelamatkan pelajar. Pelajar adalah subjek yang memiliki elan vital untuk masa depan peradaban, sebagaimana Erich Fromm, menyimpulkan bahwa gambaran suatu bangsa dan Negara pada masa yang akan datang tercermin dari sikap dan pikiran generasi mudanya. Berbicara generasi muda, maka pelajarlah yang memiliki posisi strategis.

Apa yang dimiliki oleh IPM tidak diragukan sebagai Laskar Zaman: pikir dan dzikir, iman dan ilmu adalah berada dalam satu nafas perjuangan dan pergerakannya. Dan sebagaimana hasil temuan Arnold Toynbee setelah melakukan penelitian atas ratusan peradaban yang bertahan adalah peradaban bisa bertahan adalah peradaban yang dalam lapisan terdalamnya, jantung peradabannya memiliki visi dan nilai spiritual. IPM memiliki ini. Lanjut penjelasan Toynbee, bahwa peradaban yang bisa mempengaruhi peradaban lainnya adalah yang unggul pada lapisan keempat lapisan terluarnya itu “sains-teknologi”, IPM dan Muhammadiyah sedang memassifkan ini dan bahkan telah memiliki rumusan dan seperangkat sistem dakwa virtual sebagai salah satu tafsiran era digital hari ini.

IPM tetaplah menjadi Laskar Zaman, dengan tetap komitmen dan konsisten dengan gerakan ilmunya dalam bingkat spirit ISLAM BERKEMAJUAN.

Mantan Sekretaris PD. IPM 2004 -2006 dan sekarang sebagai Komisioner KPU Kabupaten Bantaeng Periode 2018 - 2023
Posts created 4

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pos Terkait

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.

kembali ke Atas