Zohranomics dan Ketakutan Lama Amerika: Ketika Sosialisme Menyapa Kota New York

Kepanikan terhadap sosialisme dan komunisme bukanlah hal baru dalam sejarah panjang paranoia Amerika Serikat. Sejak era Red Scare di awal abad ke-20 hingga Perang Dingin, wacana “bahaya merah” menjadi alat politik yang ampuh untuk menekan lawan ideologis. Dalam konteks itu, kemunculan figur seperti Zohran Mamdani, seorang anggota Democratic Socialists of America (DSA) dengan platform progresif radikal, kembali menyulut fobia lama. Kemenangan atau sekadar kemajuan Mamdani dalam pemilihan primer walikota New York telah memicu reaksi yang nyaring dari kalangan elit finansial dan politik arus utama.

Salah satu komentar paling gamblang datang dari Dan Loeb, seorang miliarder dana lindung nilai, yang menyebut musim panas ini sebagai “musim panas komunis.” Pernyataan tersebut tidak berdiri sendiri; ia mencerminkan rasa panik kolektif terhadap gagasan bahwa kota besar Amerika dapat dipimpin oleh seseorang yang secara terbuka mengadvokasi pembekuan sewa, transportasi gratis, toko grosir milik pemerintah, dan kenaikan pajak terhadap korporasi.

Mamdani, yang digambarkan sebagai sosialis demokratis, adalah perwujudan nyata dari kekhawatiran elite neoliberal: seorang politisi muda, energik, dan pandai berbicara yang tidak malu-malu menyebut akar masalah sebagai kapitalisme itu sendiri. Dalam lanskap politik Amerika yang masih terperangkap dalam dikotomi palsu antara Demokrat moderat dan Republik konservatif, posisi Mamdani terasa mengganggu — dan karena itu dianggap berbahaya.

Namun, yang lebih menarik adalah bagaimana wacana seputar “Zohranomics” — istilah yang muncul dari platform kampanyenya — mulai memancing diskusi publik yang substansial. Sebagian kalangan melihatnya sebagai ancaman, sebagian lain sebagai harapan. Pertanyaannya: seberapa realistis kebijakan Mamdani? Dan mengapa ia bisa membuat miliarder kehilangan tidur?

Mimpi Radikal atau Solusi Konkret?

Zohranomics, jika boleh disederhanakan, adalah manifesto kebijakan yang meredefinisi fungsi pemerintah kota: bukan sebagai manajer keuntungan, melainkan sebagai pelayan kebutuhan hidup dasar warganya. Platform ini menyerukan pembekuan harga sewa, transportasi publik gratis, perluasan toko grosir milik negara, serta perpajakan progresif atas kekayaan dan korporasi. Dalam narasi arus utama, kebijakan ini sering dilabeli “utopis” atau “populis.” Namun bagi banyak warga New York yang menghadapi krisis perumahan dan melonjaknya biaya hidup, Zohranomics adalah bentuk realisme baru.

Ekonom Larry Summers, mantan Menteri Keuangan di era Clinton, bahkan menyebut proposal Mamdani sebagai “kebijakan ekonomi Trotskyite” — semacam penghinaan halus yang membandingkan Zohran dengan ideolog revolusioner kiri. Namun justru dari kritik-kritik itulah kebijakan Zohran menemukan gaungnya. Pendukungnya menjadikan cibiran dari elite finansial sebagai bukti bahwa mereka sedang menyentuh titik rawan sistem ekonomi saat ini.

Isabella M. Weber, profesor ekonomi dari University of Massachusetts, adalah salah satu dari dua lusin ekonom progresif dunia yang menandatangani surat terbuka mendukung Zohran. Ia menyebut Zohranomics sebagai “cetak biru yang berani namun praktis” untuk menghadapi tantangan mendesak di kota seperti New York: biaya hidup yang melambung, krisis perumahan, dan kerapuhan sistem pendukung publik. Di saat politisi lain sibuk menjanjikan pertumbuhan ekonomi, Mamdani justru fokus pada redistribusi kekayaan dan akses dasar — sesuatu yang radikal di mata status quo, tapi sangat masuk akal di mata rakyat biasa.

Antara Oposisi Elite dan Dukungan Populer

Resistensi terhadap Mamdani tidak hanya datang dari Partai Republik, melainkan juga dari Demokrat moderat dan para donor besar. Kritik terhadapnya sering kali mengandung unsur ketakutan kelas — ketakutan bahwa jika platform seperti Zohranomics berhasil, maka hegemoni ekonomi akan mulai tergerus. Mamdani sendiri menyadari bahwa ia bukan sekadar bertarung dalam pemilihan, melainkan sedang mengusik paradigma dominan dalam tata kelola kota.

Uniknya, dukungan terhadap Mamdani justru menguat di kalangan pemilih muda, kelas pekerja, dan komunitas migran. Banyak dari mereka melihat Mamdani sebagai suara otentik yang memahami persoalan sehari-hari — bukan sekadar aktor panggung politik. Bagi mereka, Zohran bukanlah utopis. Ia adalah realis dalam lanskap yang selama ini menormalisasi penderitaan.

Momentum ini menandai pergeseran penting: bahwa politik progresif berbasis kelas dan kebutuhan nyata warga kota mulai mendapatkan tempat di sistem demokrasi Amerika. Meskipun menghadapi serangan sistematis dari berbagai pihak, Mamdani menunjukkan bahwa ada ruang bagi ide-ide berani untuk bertumbuh — jika disampaikan dengan keberanian dan konsistensi moral.

Melampaui Politik Simbolik

Apa yang membedakan Mamdani dari politisi “progresif palsu” adalah keberaniannya untuk tidak hanya mengkritik, tetapi juga merancang kebijakan alternatif yang terstruktur. Weber menyebut bahwa Zohran berhasil “menghadirkan dirinya sebagai seseorang yang membela ketersediaan hidup” — sesuatu yang bagi kebanyakan warga kota besar adalah pertarungan sehari-hari: rumah yang layak, makanan yang terjangkau, transportasi yang efisien, dan penitipan anak yang bisa diakses.

Politik Mamdani tidak berhenti pada retorika atau simbolisme; ia berakar pada pengalaman nyata warganya. Dalam konteks inilah, perdebatan tentang Zohranomics menjadi medan yang sangat penting. Ia memaksa kita mempertanyakan: apakah kita benar-benar puas dengan status quo? Apakah kita siap menerima bahwa pemerintah bisa — dan seharusnya — menjamin kehidupan dasar warganya, bukan menyerahkannya pada pasar?

Jika Mamdani kalah, ia tetap telah menang dalam hal mendefinisikan ulang batas diskusi publik. Jika ia menang, maka New York bisa menjadi laboratorium politik baru untuk mengeksplorasi tata kota berbasis keadilan sosial. Either way, diskusi tentang Zohran adalah diskusi tentang masa depan demokrasi itu sendiri.

Ketika Ketakutan Elite Menjadi Harapan Publik

Reaksi panik terhadap Mamdani dan Zohranomics sebenarnya adalah refleksi dari rasa bersalah struktural. Elite takut bukan karena Zohran salah, tapi karena dia benar. Mereka takut bukan karena kebijakannya tidak masuk akal, tapi karena kebijakan itu sangat masuk akal bagi mayoritas rakyat yang selama ini dikecualikan.

Di tengah inflasi, krisis iklim, dan stagnasi upah, proposal Mamdani menawarkan sebuah kerangka kerja yang radikal namun realistis. Ia menantang narasi bahwa politik harus tunduk pada logika pasar. Ia menawarkan versi lain dari demokrasi — demokrasi yang tidak berhenti di bilik suara, tapi menjangkau sampai ke ruang makan, halte bus, dan toko bahan makanan warga biasa.

Di era di mana politik sering kali menjadi sirkus kata-kata tanpa substansi, Zohran Mamdani mengingatkan kita bahwa keberpihakan bukanlah dosa. Bahwa berdiri bersama rakyat miskin, pekerja, dan marjinal bukanlah kelemahan, melainkan sumber kekuatan politik yang sejati.

Mengeja Indonesia adalah sebuah gerakan yang otonom dan nirlaba, mengangkat isu-isu fundamental bangsa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like