Realitas sosial bukanlah entitas yang hadir begitu saja di luar sana. Ia dibentuk, dinegosiasikan, dan dipelihara oleh individu-individu dalam interaksinya. Inilah pandangan sosiologis radikal yang diajukan oleh Peter L. Berger dan Thomas Luckmann dalam karya klasik mereka, The Social Construction of Reality (1966). Dalam buku itu, mereka menegaskan bahwa dunia sosial adalah hasil konstruksi manusia melalui institusionalisasi dan internalisasi. Realitas bukanlah absolut, tetapi terbentuk lewat percakapan sehari-hari, kebiasaan, dan bahasa.
Dalam konteks itu, kemunculan kecerdasan buatan (AI) menimbulkan pertanyaan penting: apakah AI hanya alat bantu, ataukah ia juga ikut menyusun dan menstrukturkan realitas sosial manusia? Pertanyaan ini mengantar kita pada wilayah epistemologis sekaligus etis: bagaimana AI—melalui algoritma, rekomendasi, dan automasi—menggeser cara manusia memahami, menghayati, dan menilai realitas sosial mereka?
Hari ini, AI bukan hanya hadir sebagai teknologi netral. Ia menjadi bagian dari struktur sosial yang memediasi pengalaman manusia. Dari apa yang kita lihat di feed media sosial, hingga keputusan bank memberi kredit, bahkan sampai algoritma penentu kandidat pekerjaan—semuanya mengandalkan sistem AI. Artinya, pengalaman sosial kini tidak lepas dari konstruksi algoritmik yang tidak selalu transparan.
Melalui pendekatan Berger dan Luckmann, kita bisa mengurai peran AI dalam tiga tahapan pembentukan realitas: eksternalisasi (penciptaan), objektivasi (pengakuan sebagai kenyataan), dan internalisasi (penghayatan sebagai kenyataan personal). AI tidak hanya beroperasi dalam kerangka logis-teknis, tetapi juga simbolik-sosiologis. Ia ikut memproduksi makna, bukan sekadar data.
Dengan demikian, kita perlu memikirkan ulang posisi manusia dalam konstruksi realitas sosial baru ini. Apakah manusia masih menjadi pencipta makna utama, ataukah telah tergantikan oleh jaringan semi-otonom yang membuat keputusan atas nama “efisiensi”? Artikel ini akan membedah bagaimana AI menjadi aktor dalam konstruksi sosial zaman digital—bukan sekadar alat, melainkan institusi baru.
Maka dari itu, mari kita telusuri lebih dalam bagaimana AI bekerja dalam kerangka Berger dan Luckmann: bagaimana ia menciptakan institusi baru, menjadikan dirinya “nyata”, dan akhirnya ditelan sebagai kebenaran oleh masyarakat pengguna.
Eksternalisasi, menurut Berger dan Luckmann, adalah proses di mana manusia mengeluarkan pemikiran dan aktivitasnya ke luar dirinya dalam bentuk institusi, simbol, atau kebiasaan. Ini adalah tahap kreatif: manusia “memuntahkan” dunianya keluar. Dalam konteks AI, eksternalisasi terjadi ketika manusia menciptakan algoritma, model prediktif, dan sistem pembelajaran mesin yang meniru atau menggantikan perilaku manusia.
Awalnya, algoritma hanyalah rumus-rumus matematis. Tapi begitu diterapkan dalam sistem besar seperti media sosial, e-commerce, dan pemerintahan digital, ia menjadi cara baru manusia mengekspresikan kehendaknya atas dunia. Misalnya, keinginan agar konten relevan muncul cepat membuat kita menciptakan sistem rekomendasi. Di sinilah AI mulai menjadi ekstensi dari kehendak dan kebiasaan manusia.
Namun, eksternalisasi AI tidak berhenti pada penciptaan saja. Sistem ini terus-menerus diperbarui, dilatih, dan disesuaikan oleh pengguna dan penyedia layanan. Data yang dimasukkan oleh jutaan pengguna digunakan kembali untuk membentuk model AI yang lebih canggih. Dalam hal ini, AI tidak hanya diciptakan sekali; ia tumbuh, belajar, dan berevolusi melalui partisipasi manusia.
Proses ini menghasilkan semacam simbiosis antara manusia dan AI: manusia mengekspresikan dirinya lewat teknologi, dan teknologi kembali memengaruhi ekspresi manusia. Ini bukan hubungan satu arah, melainkan timbal balik yang dinamis dan kompleks. Di sinilah letak kekuatan AI dalam membentuk realitas sosial: ia menjadi cara baru manusia menyalurkan tindakan sosial.
Dalam kacamata Berger dan Luckmann, setiap ekspresi sosial yang terulang-ulang dapat berubah menjadi kebiasaan, lalu institusi. Maka ketika AI digunakan secara masif dan rutin—misalnya untuk menentukan rute tercepat, berita yang penting, atau pasangan hidup—maka sistem tersebut bukan hanya alat, tapi juga institusi baru dalam kehidupan sosial.
Artinya, eksternalisasi AI bukan sekadar soal teknologi, tetapi soal praksis sosial. Ia menjelma menjadi realitas yang dapat diakses, dirasakan, dan diterima, persis seperti lembaga agama, keluarga, atau pendidikan. Kita menciptakan AI, lalu hidup di dalamnya.
Objektivasi adalah tahap ketika hasil eksternalisasi manusia mulai dipandang sebagai sesuatu yang nyata dan berdiri sendiri, lepas dari penciptanya. AI yang tadinya hanya sekumpulan kode kini dianggap sebagai entitas dengan otoritas. Ketika AI membuat keputusan, kita cenderung menerimanya sebagai “netral”, “ilmiah”, atau bahkan “lebih pintar dari manusia”. Inilah bentuk objektivasi modern.
Sistem peringkat di aplikasi pinjaman online, skor kredit otomatis, dan sistem prediktif penegakan hukum adalah contoh bagaimana keputusan AI menjadi kenyataan yang memengaruhi hidup nyata seseorang. Orang bisa ditolak lamarannya karena AI menganggap dia tidak layak, bisa tidak mendapatkan kredit karena sistem menilainya berisiko. Keputusan-keputusan ini seolah obyektif, padahal dibentuk dari data yang dikumpulkan oleh manusia.
Masalahnya, proses objektivasi ini sering kali menutupi fakta bahwa sistem AI diprogram oleh manusia dengan bias, asumsi, dan keterbatasan tertentu. Namun karena ia membungkus dirinya dengan aura teknologi dan data besar, banyak orang tidak menggugat validitasnya. Inilah ironi zaman kita: semakin teknologi dianggap netral, semakin kita lupa bahwa ia hanyalah ekstensi dari subjektivitas kolektif manusia.
Objektivasi membuat kita lupa bahwa keputusan yang tampak otomatis sebenarnya telah didesain. Ini menciptakan ilusi determinisme teknologi, seolah-olah pilihan AI adalah satu-satunya jalan terbaik. Dalam praktiknya, ini bisa meminggirkan kelompok tertentu, mengulang ketimpangan lama, atau bahkan memperparah diskriminasi dengan cara yang lebih tersembunyi.
Ketika AI menjadi “kenyataan”, ia membentuk harapan dan norma. Orang mulai merasa harus mengikuti “rekomendasi algoritma” agar bisa relevan, diterima, atau bahkan disukai. Pilihan-pilihan menjadi sempit karena dibatasi oleh sistem yang telah diobjektivasi. Ini mirip dengan bagaimana institusi sosial tradisional bekerja: memberikan batas sekaligus makna.
Di titik ini, AI tidak lagi hanya sebagai teknologi, melainkan sebagai kekuatan sosial. Ia menjadi bagian dari struktur kenyataan yang dianggap wajar, padahal dibentuk oleh keputusan historis dan politis. Berger dan Luckmann mengingatkan: apa yang terlihat alami, sering kali adalah hasil konstruksi sosial yang telah dibekukan dalam bentuk institusi.
Internalisasi adalah proses terakhir dari konstruksi realitas: ketika individu menghayati kenyataan objektif sebagai bagian dari kesadarannya sendiri. Dalam konteks AI, ini terjadi ketika kita tidak lagi mempertanyakan keputusan sistem, melainkan menyesuaikan diri dengannya. Dunia yang dibentuk AI menjadi kerangka pikir kita sendiri.
Kita mulai berpikir dalam bahasa algoritma: menulis caption yang “SEO friendly”, memilih kata-kata agar “disukai sistem”, atau merancang hidup agar sesuai dengan apa yang “disukai mesin”. Ini adalah bentuk internalisasi paling dalam—ketika sistem eksternal telah menyusup ke dalam benak dan perilaku kita.
Dalam dunia seperti ini, AI bukan hanya mengatur pilihan kita, tapi juga membentuk identitas kita. Siapa kita di internet—apa yang kita sukai, siapa yang kita ikuti, bahkan bagaimana kita memandang diri sendiri—dibentuk oleh interaksi dengan sistem cerdas yang tak terlihat namun selalu hadir.
Sebagaimana dalam teori Berger dan Luckmann, proses internalisasi memperkuat institusi sosial karena individu percaya dan bertindak berdasarkan kenyataan yang telah ditanamkan. Maka dalam konteks AI, internalisasi menjadikan algoritma sebagai kebenaran batiniah yang tak lagi dipertanyakan.
Ini tentu menimbulkan konsekuensi serius. Ketika manusia mulai percaya bahwa AI tahu lebih baik tentang dirinya—apa yang ia mau, apa yang ia butuh, siapa yang cocok dengannya—maka kita memasuki wilayah etis yang rawan. Realitas sosial yang dulu dibentuk bersama, kini didikte oleh sistem yang tidak bisa diajak berdialog secara setara.
Namun, tidak semua internalisasi buruk. Kesadaran tentang bagaimana sistem bekerja bisa menjadi titik balik. Ketika individu mulai merefleksikan pengaruh AI dalam hidupnya, di situlah kebebasan bisa muncul kembali. Berger dan Luckmann menekankan pentingnya kesadaran sosiologis untuk membebaskan diri dari jebakan realitas yang semu.
Maka, internalisasi bisa menjadi akhir dari konstruksi atau awal dari dekonstruksi—tergantung pada kesadaran kita. Di sinilah peran pendidikan kritis dan literasi teknologi menjadi penting untuk mengimbangi penetrasi AI dalam kehidupan sosial.
Kunci dari pemikiran Berger dan Luckmann adalah kesadaran bahwa realitas bisa dikonstruksi—dan karenanya bisa juga dikritisi. Dalam konteks AI, kita perlu menyadari bahwa sistem ini tidak netral, tidak otonom sepenuhnya, dan tidak selalu adil. Ia bisa membentuk realitas sosial yang bias, eksklusif, atau bahkan opresif.
Kita butuh cara berpikir baru yang tidak hanya menerima teknologi, tetapi juga memahaminya secara sosiologis. Apa yang tampak sebagai “kemajuan” bisa jadi adalah bentuk baru kontrol sosial. Ketika algoritma menentukan siapa yang terlihat dan siapa yang dilupakan, siapa yang sukses dan siapa yang tertinggal, maka pertanyaan etika dan keadilan menjadi sangat mendesak.
Kesadaran kritis juga berarti menyadari bahwa kita adalah bagian dari proses itu. Kita bukan sekadar korban, tapi juga pelaku. Dengan cara kita berinteraksi dengan teknologi, kita ikut mengukuhkan atau menggugat struktur realitas yang ada. Maka, perlu ada gerakan kolektif untuk merebut kembali otonomi manusia dalam membentuk realitas sosial.
Ini tidak berarti kita harus menolak AI. Sebaliknya, kita harus mengembangkan AI yang reflektif, inklusif, dan etis. AI yang mendukung keberagaman pandangan, bukan menyeragamkan. AI yang memperluas kemungkinan hidup manusia, bukan mempersempit. AI yang bisa diajak berdialog, bukan sekadar memberi perintah.
Berger dan Luckmann mengajarkan bahwa realitas sosial adalah proyek bersama. Dalam era AI, proyek itu menjadi semakin kompleks, tetapi juga semakin penting. Kita harus berani menggugat kenyataan yang dibentuk mesin dan menawarkan alternatif yang lebih manusiawi.
Akhirnya, pertanyaannya bukan hanya bagaimana AI membentuk realitas sosial, tetapi bagaimana kita bisa ikut serta membentuk AI dan realitas itu sendiri. Karena dunia yang kita tinggali bukanlah dunia yang ditemukan, melainkan dunia yang terus-menerus dibentuk—oleh kita semua.
Mengeja Indonesia adalah sebuah gerakan yang otonom dan nirlaba, mengangkat isu-isu fundamental bangsa.