Perempuan dan Feminitasnya: Menggali Kekuatan, Kecerdasan, dan Keterampilan Untuk Mencapai Kesetaraan4 min read

Feminitas adalah konsep luas yang mencakup sifat-sifat, karakteristik, dan perilaku yang umumnya diidentifikasi atau diasosiasikan dengan perempuan atau dengan gagasan stereotip tentang apa yang dianggap “wanita”. Feminitas kita yang dipandang masyarakat sebagai sesuatu yang negatif, seperti stereotip perempuan yang menghindari konflik, dll, ternyata menjadi sesuatu yang nyata dan menguntungkan dalam peran kepemimpinan. Menjadi seorang perempuan merupakan suatu kebanggaan dan kebahagiaan bagi saya karena perempuan adalah sosok simbolik dengan 1000 tangan yang tak kasat mata.

Penentang Stereotip dan Perjuangan untuk Kesetaraan

Perempuan adalah entitas yang besar dan kompleks, perempuan memainkan banyak peran yang berbeda untuk individu yang berbeda. Menjadi seorang perempuan tentu merupakan sebuah kebanggaan tersendiri, karena perempuan bisa melakukan banyak pekerjaan dalam waktu yang bersamaan. Namun, terlepas dari kelebihan dan keunikannya, perempuan seringkali menghadapi stereotip dan diskriminasi yang menghambat kemajuan mereka. Salah satu argumentasi mengenai stereotip atau diskriminasi adalah perempuan seringkali dihadapkan pada pilihan yang dilematis antara memilih peran sebagai wanita karir atau peran sebagai ibu rumah tangga, seolah-olah perempuan tidak bisa menjalankan kedua peran tersebut secara bersamaan.

Upaya mencapai kesetaraan status tentu tidak akan mudah dan akan menghadapi banyak tantangan, diantaranya adalah kondisi budaya masyarakat yang masih didominasi oleh garis patrilineal atau garis dari jalur laki-laki yang melihat berbagai permasalahan dari sisi pandang laki laki (yang selalu diuntungkan). Selain itu, rendahnya tingkat pendidikan masyarakat menjadi faktor munculnya stereotip yang selalu menganggap perempuan sebagai orang belakang (dalam istilah jawa sering disebut konco wingking atau teman kasur, dapur, dan sumur). Hal ini membutuhkan kekuatan, kecerdasan, keberanian, dan keterampilan dari kita perempuan untuk mencapai kesetaraan yang kita inginkan. Dalam hal ini kesetaraan bukan berarti kami perempuan tidak menerima laki-laki, namun kami menuntut agar masyarakat bisa menerima perempuan sebagaimana masyarakat bisa menerima laki-laki tanpa kecuali.

Baca Juga:

Keterampilan Kepemimpinan dan Kolaborasi

Perempuan membawa keterampilan kepemimpinan yang unik ke meja perundingan. Mereka cenderung mampu memimpin dengan pendekatan yang inklusif, membangun konsensus, dan memperhatikan kebutuhan semua pihak. Banyak tokoh perempuan yang menduduki jabatan di dunia profesional, dimana kita bisa melihat bagaimana mereka memimpin di bidang politik, ekonomi, lingkungan, dan budaya dengan pendekatan tersebut. Salah satunya adalah Ibu Sri Mulyani, perempuan yang menjabat Menteri Keuangan pada priode panjang pertama dan kedua di Indonesia. Perannya berhasil memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 6,3% pada tahun 2007 dan kemampuannya diakui dunia internasional ketika ia ditunjuk sebagai Managing Director dan Chief Executive Officer oleh Bank Dunia pada tahun 2010. Najwa Shihab juga bisa dikatakan sebagai sosok wanita hebat, sebagai jurnalis yang kritis, dengan beberapa penghargaan yang diterimanya di PWI Awards Pusat tahun 2004 atas liputannya tentang bencana tsunami Aceh tahun 2004, masuk dalam top 5 Asian Television Awards dalam kategori Presenter Berita/Talk Show Terbaik. Hingga saat ini, ia telah banyak berkontribusi dalam meenyebarkan informasi melalui media yang ia kelola, NarasiTv.

Dua contoh di atas dan banyak tokoh perempuan lainnya dalam peran profesional menunjukkan bahwa perempuan dalam bidang profesional telah menobrak batasan-batasan yang sebelumnya dianggap mustahil. Keterampilan mereka sebagai pemimpin telah terbukti dengan prestasiprestasi yang didapatkan. Mereka menyangkal stereotip bahwa perempuan tidak kompeten dalam posisi kepemimpinan atau di bidang yang dianggap ‘maskulin’dengan kecerdasan yang mereka punya, stereotip bahwa perempuan lebih emosional, seolah-olah perempuan lebih mudah dipengaruhi oleh emosi dan tidak dapat memisahkan emosi dari emosi profesional. Faktanya, perempuan bisa mematahkan stereotip tersebut.

Keterampilan Mengasuh dan Membimbing

Peran perempuan dalam keluarga tidak bisa diabaikan. Kemampuan mereka dalam merawat, mendidik, dan membimbing generasi mendatang merupakan pondasi penting bagi pembangunan manusia seutuhnya. Memang benar bahwa perempuan yang juga berperan sebagai seorang ibu mempunyai tanggung jawab utama terhadap anak-anaknya, selain ayah. Ibu merupakan tokoh utama yang memegang peranan penting dalam keluarga. Ibu adalah super women yang bisa melakukan banyak hal. Dari saat dia bangun hingga tidur kembali, dia mulai memainkan perannya. Banyak sekali peran seorang ibu yang tidak bisa kita gambarkan betapa hebatnya seorang ibu. Tanggung jawab utama tumbuh kembang seorang anak adalah pendidikan yang diterimanya sejak dini, khususnya pendidikan yang diberikan oleh ibu. Peran penting seorang ibu rumah tangga tidak hanya sebatas membesarkan anak saja, namun juga berperan penting dalam kebahagiaan keluarga. Oleh karena itu, perempuan mempunyai pengaruh yang sangat berharga dalam membentuk karakter individu dan masyarakat secara keseluruhan.

Kecerdasan Multidimensi

Kecerdasan perempuan tidak terbatas pada ranah intelektual semata. Mereka juga menunjukkan kecerdasan emosional yang tinggi, memungkinkan mereka memahami dan mengelola emosinya, baik emosinya sendiri maupun emosi orang lain. Peran perempuan sangatlah beragam dan seringkali mencakup berbagai aspek kehidupan masyarakat, termasuk pemberdayaan ekonomi. melalui inovasi dan kreativitas perempuan, mereka dapat memberdayakan perekonomian, seperti koperasi perempuan, pelatihan keterampilan atau partisipasi di sektor ekonomi kreatif. Berpartisipasi dalam peran ini juga merupakan upaya untuk mencapai kesetaraan dalam masyarakat. Melalui kemandirian ekonomi, perempuan yang berpartisipasi dalam ekonomi kreatif ingin menunjukkan bahwa perempuan juga memiliki hak yang sama di masyarakat dan mampu berkontribusi dalam meningkatkan kebahagiaan keluarga. Hingga saat ini, stigma yang melekat pada perempuan harus tunduk terhadap lakilaki sebagai bagian dari budaya patriarki yang melekat di masyarakat. Kendati perempuan yang bekerja di sektor ekonomi kreatif menikmati kemandirian ekonomi, namun hal ini tidak serta merta melepaskan perempuan dari tanggung jawab mengurus keluarga (peran domestik). Peran perempuan juga terlihat jelas dalam melestarikan budaya dan tradisi, perempuan seringkali melestarikan dan mewariskan nilai-nilai budaya dan tradisi secara turun temurun.

Peran perempuan dalam kehidupan bahkan kurang diakui dan dihargai oleh masyarakat maupun laki-laki, mereka masih sering menghadapi banyak kendala dan diskriminasi namun, kemampuan mereka untuk bertahan hidup dan perjuangan mereka tetap menginspirasi. Perempuan dan pesonanya tidak akan pudar karena ketidaksempurnaan, begitu pula perempuan dan pengaruhnya tidak akan berkurang karena mitos keterbatasan.

Mahasiswa Administrasi Publik di Universitas Islam Malang yang hobi menulis dengan ketertarikan pada topik isu gender, kemiskinan, dan politik elektoral.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like