Tidak Menjadikan Perempuan Termarjinalkan

Kemerdekaan bukan bicara tentang suatu bangsa saja, kemerdekaan juga layak ditempatkan  pada setiap liyan: kemerdekaan berpikir, berpendapat, dan kesempatan memperolah pendidikan. Ekspolitasi ketiganya ini yang justru terjadi selama bertahun-tahun pada perempuan masa dulu di Indonesia. Menjajah tubuh perempuan dengan cara memotong laju eksistensinya mengakibatkan perempuan selalu tersisih dari laju peran sosial.

Lalu, lahirlah sosok pembawa perubahan, pembawa angin segar bagi perempuan, ia adalah Raden ajeng Kartini. Perempuan kelahiran Rembang itu yang telah  berani  menerabas dan menyuarakan keadilan bagi perempuan. Menuntut persamaan hak antara laki-laki dan perempuan. Saat  itu beliau sangat prihatin sekali dengan keadaan perempuan Jawa pada masa dahulu. Perempuan selalu di I identikkan lebih lemah dari pada laki-laki. Stigma perempuan yang selalu menjadi unsur sekunder dalam kehidupan ini yang diperjuangkan oleh Kartini.

Simbol perjuangan Kartini bukan terletak pada pupur senjata melainkan  berperang melawan kebodohan dan ketidaktahuan juga diskriminasi terhadap kaum perempuan. Perempuan jaman dulu hanya digambarkan sebagai sosok pasif. Perempuan tidak boleh mengenyam Pendidikan apalagi menduduki tahta yang menjadi hak laki-laki. Perjuangan Kartini justru terletak pada hal itu.

Ada beberapa kredo yang Saya kira harus dilenyapkan dalam memandang perempuan. Hal yang dapat menjatuhkan perempuan itu Saya sebut dengan 3M (Masak, Macak, Manak). Hal pertama yang selalu melekat pada diri perempuan adalah “Memasak”, memang pekerjaan Memasak sangat melekat sekali pada diri perempuan, namun Laki-laki juga bisa memasak toh?. Yang kedua “Macak”, yang saya maksudkan Macak disini adalah statement bahwa perempuan itu hanya bisa bersolek dan diam didalam kamar. Selanjutnya yang ketiga adalah “Manak”, Perempuan masa dulu hanya didentikkan dengan mengurus anak.

Simbolisasi itulah yang membuat gusar perempuan yang akrab dipanggil dengan Kartini itu. Melalui gebrakan-gebrakan pemikiran ideologisnya beliau mulai menyuarakan dan memberikan Pendidikan terhadap kaum perempuan. Dan seiring berjalannya waktu, beliau bisa memberikan pendidikan terhadap kaum perempuan dibalut dengan pesannya yang sangat monumental sekali yaitu “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Kalimat yang sarat dengan nilai filosofis itu mengisyaratkan bahwa selayaknya perempuan disamaratakan dengan Laki-laki. Pemberdayaan perempuan melalaui jalan Pendidikan bermaksud mengantarkan kaum Perempuan ke gerbang kemerdekaan dirinya. Lalu, dimasa sekarang ini sudah merdekakah kaum Perempuan?

Baca Juga:  Pendidikan Multikultural: Alat Ikhtiar Mencegah Perpecahan

Berangkat dari wacana tersebut perempuan seyogianya harus menjadi inang bagidirinya sendiri. Adakalanya perempuan ditinggal oleh karena orang lain atau karena ditinggal mati suaminya. Hal inilah yang dirasa perlu oleh sosok Kartini. Tidak hanya itu, seorang perempuan juga bisa dituntut untuk mandiri dalam artian, perempuan sekarang jangan mau menjadi perempuan pasif yang bisanya Cuma di ranjang, di kasur,dan di sumur.

Perlunya faktor Pendidikan bukan hanya berguna bagi aspek kognitif seorang  perempuan, adahal lain yang saya kira lebih dari hal itu. Aspek mempunyai keturunan menjadi landasan primordial yang penting karena esensi manusia yang selalu beranak-pinak menjadikan si calon Ibu harus memiliki kecakapan dalam mendidik anaknya kelak.

Mengingat Pendidikan pertama ada dilingkungan keluarga menuntut perempuan harus lihai terutama dalam hal pendidikan. Perempuan harus jadi liyan bagi dirinya sendiri, memberikan pengajaran terbaik bagi anak-anaknya melalui jalan pendidikan. Karena pada dasarnya anak yang pintar terlahir dari ibu yang pintar pula. Jalan satu-satunya yang dapat memenuhi hal itu yaitu dengan jalan belajar.

Setelah melalui jalan yang suram kini para kaum perempuan telah menunjukkan eksistensinya melalui jalan pendidikan: jadi Kepala Desa, Bupati, Gubernur, bahkan ada yang sudah menduduki kursi Presiden. Hal ini membuktikan bahwa perempuan bukan lagi sosok yang termarjinalkan selama perempuan Pendidikan itu ditempuhnya.

Contoh kecil yang sangat kentara sekali adalah keberadaan dua perempuan. Yang pertama, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, melalui tangan dinginnya beliau mampu mengemban tugas yang telah dimandatkan oleh Presiden Indonesia, kinerja terbaiknya menurut Saya ialah tatkala beliau mampu mengurangi pencurian ikan dilaut Indonesia. Kebijakannya yang paling mencengangkan ketika beliau tanpa segan-segan mengebom kapal-kapal asing yang mencuri ikan di wilayah laut Indonesia. Perempuan kedua yang menyedot perhatian Saya adalah Walikota Surabaya Tri Risma Harini, melalui keteguhan ideologinya beliau mampu menata Kota Surabaya dengan baik serta mampu menutup lokasi prostitusi terbesar se-AsiaTenggara.

Berangkat dari premis diatas, jalur Pendidikan bagi perempuan bukan sebagai anomaly yang dapat meruntuhkan peran Laki-laki. Fenomena perempuan sebagai kaum yang lemah mesti dikesampingkan. Perempuan termarjinalkan harus diubah menjadi perempuan terberdayakan. Sistem Patriarki Konservatiflah yang Saya kira menjadikan perempuan tidak bisa menjadi dirinya sendiri. Apabila seorang perempuan mampu menjalankan peran yang ada untuk diemban kenapa harus membatasinya?.

Mahasiswa Universitas Madura Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia. Berasal dari Desa Kaduara Barat, Larangan.
Posts created 1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pos Terkait

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.

kembali ke Atas