Mengeja Indonesia

Apa Kesempurnaan Manusia sebagai Manusia?5 min read

Manusia adalah entitas tunggal dengan ragam dimensi. Sebab, manusia selain dilekatkan sebagai benda yang berjiwa tambang, berjiwa nabati dan benda yang berjiwa insani. Manusia sebagai makhluk ciptaan yang dianugrahkan akal sebagai instrumen dalam mencicipi nikmatnya pengetahuan. Dengan demikian, akal inilah yang menjadi jiwa insani manusia. Terlepas dari ragam dimensi manusia, yang menjadi persoalan yang hendak kita pecahkan, tentang kesempurnaan manusia sebagai manusia. Apa sebenaranya kesempurnaan manusia sebagai manusia?

Dari ranah esensi, hakikat manusia adalah terletak pada akalnya yang menjadi diferensiasi dengan makhluk lainnya. Atas dasar inilah akal sebagai diferentia dan forma manusia. Dari ranah eksistensi, hakikat manusia dikaji dari aspek wujud manusia itu sendiri. Dan salah satu klasifikasi awal wujud, yakni wujud wajib dan wujud mumkin. Secara sederhananya, wujud wajib sebagai sesempurnanya wujud yang tak dibatasi oleh apapun. Sebab, wujud inilah bukan hanya tidak bersandar pada wujud lain, bahkan wujud yang lain bersandar kepada-Nya. Kemudian wujud mumkin yang dikategorikan sebagai wujud terbatas. Mengapa wujud mumkin diistilahkan wujud terbatas?

Sebab wujud terbatas masih ada harapan yang hendak dimiliki dan ingin dimiliki. Dengan itulah, wujud independen sebagai penyebab utama atas keberadaan wujud selainnya. Sedangkan wujud defenden sebagai wujud yang bersandar pada wujud yang lain(wujud qoim bilghoir). Ilustrasinya secara sederhana bahwa lautan sebagai wujud independen, sedangkan buih sebagai wujud defenden. Dan keberadaan wujud buih sepenuhnya bergantung dan bersandar pada wujud lautan. Begitu pun dengan manusia berada pada wujud mumkin,wujud terbatas, wujud fakir. Mengapa manusia disebut sebagai wujud terbatas? Karena hadirnya manusia disatu tempat dan tidak hadinrya ia pada tempat yang lain yang menjadi kunci bahwa sebaik-baik bukti terbatasnya wujud manusia. Wujud manusia sebagai wujud defenden, wujud yang bergantung.

Menurut Mulla Sadra bahwa, wujud manusia dan wujud ciptaan akan senantiasa bergantung kepada wujud yang menciptakannya, yaitu wajibul wujud. Bahkan wujud manusia adalah kebergantungan dan kebutuhan itu sendiri. Dengan demikian, defendensitas adalah hakikat wujud manusia. Sebagai wujud yang mengalami kefakiran eksistensial, sudah sepatutnya manusia menghamba hanya kepada sesempurnanya wujud.

Dalam firman ilahi diungkapkan bahwa tidaklah kuciptakan jin dan manusia kecuali untuk mengabdi dan beribadah kepadaku(QS. Az-Zariyat ayat 56). Maka sudah seharusnya setiap gerak manusia mesti bernilai ibadah. sebab tujuan manusia diciptakan selain ingin memperoleh kebahagiaan juga untuk setiap gerak geriknya bernilai ibadah di sisi sang maha cinta. Dengan demikian, menempuh jalan penghambaan sebagai kesempurnaan manusia dari ranah eksistensi. Kesempurnaan eksistensial manusia adalah kesempurnaan ontologis yaitu menghamba hanya kepada wujud yang patutu untuk diperTuhan.

Sebagai kesimpulan, kesempurnaan manusia sebagai manusia ditilik dari dua ranah yaitu ranah esensi. Artinya manusia yang dibekali modal keistimewaan untuk mengaktualisasikan daya akal dengan meraih pengetahuan rasional baik dari segi teoritis maupun praktis. Dan ranah eksistensi kesempurnaan manusia sebagai manusia yaitu akan senantiasa berada di jalan penghambaan.

Perlu diketahui, kesempurnaan esensial manusia menentukan nilai kesempurnaan eksistensialnya, yaitu kadar pengetahuan menentukan nilai ibadah. Semakin menignkat pengetahuan, semakin bernilai pula penghambaan manusia. Sebab, apakah sama orang yang mengetahui dan orang yang tidak mengetahui. Apakah sama, seseorang yang menyembah Tuhan dengan pengetahuan, dengan mereka yang menyembah-Nya tanpa pengetahuan? tentu berbeda kan!. Bahkan teks suci Al-Qur’an mengangkat derajat bagi manusia yang memiliki ilmu pengetahuan (QS. Al-Mujadalah ayat 11).

Dalam diri manusia, terdapat ragam watak yang melandasi setiap gerak-geriknya. Katakanlah ada watak pengetahuan, kekuasan dan keindahan. Sebab semua itu serumpun pada satu kata untuk beroleh kesempurnaan. Akan tetapi, dari sekian keseluruhan watak tersebut masih dalam tataran sebagai watak sekunder. Bukankah watak sekunder merupakan turunan dari watak primer? Lantas apa watak primer tersebut bagi manusia?

Tentunya watak manusia ingin merasakan bahkan merindukan kebahagiaan. Sebab, manusia hendak mencari kebahagiaan. Dalam istilah logika, kebahagiaan sebagai aksiden umum manusia. Atas dasar inilah, manusia hendak mencicipi nikmatnya kebahagiaan sebagai hal niscaya. Karena tidak ada satu pun manusia yang ingin hidup menderita kan?. Jika pun ada diantara segelintir orang yang tampak mengejar atau memilih hidup menderita, pastilah semua itu dilekatkan untuk meraih kebahagiaan yang lebih besar, yang terdapat di balik penderitaan.

Dengan kata lain, manusia secara fitrah menginginkan pengetahuan, keindahan dan kesempurnaan lantaran semua itu menawarkan kenikmatan. Dan kenikmatan yang pada akhirnya membuahkan kebahagiaan. Rumusnya, kesempurnaan mendatangkan kenikmatan, dan kenikmatan membuahkan kebahagiaan. Jadi, gerak dan tindakan manysia dilandasi oleh satu watak asli/fitrah primer, yaitu hasrat untuk bahagia.

Artinya, keseluruhan gerak dan tindakan manusia dimaksudkan untuk mencari kenikmatan. Lebih tepatnya, kebahagiaan. Seiramana dengan objek cinta yang teridir dari kesempurnaan, keindahan, kenikmatan dan kebahagiaan. Sebab cinta sebagai ketertarikan hati yang dianggap baik, indah, nikmat, sempurna yang dapat mendatangkan kebahagiaan. 

Setiap manusia menginginkan kenikmatan dan kebahagiaan. Lantas, apakah setiap manusia menginginkan kenikmatan dan kebahagiaan yang sama? Tentu tidak. Manusia memilih berdasarkan pengetahuannya. Kualitas pengetahuan akan menentukan nilai dan jenis kenikmatan yang akan dipilih. Misalnya sesuatu yang dianggap nikmat di usia remaja, tentu tidak lagi dianggap nikmat di usia dewasa. Mengapa demikian? Karena manusia memiliki pengetahuan yang berkembang dan dinamis. Maka jenis kenikmatan yang didambakan pun akan ikut berubah.

Secara sederhana, kenikmatan memiliki dua jenis diantaranya, kenikmatan materi dan kenikmatan non materi. Kenikmatan materi diperoleh dari kesempurnaan materi berupa harta, jabatan, tahta dan lain-lain. Sedangkan kenikmatan non materi diperoleh kesempurnaan non materi berupa pengetahuan dan penghambaan. Dalam Filsafat harmonisasi, kenikmatan level tinggi adlaah kenikmatan non materi. Mengapa bukan kenikmatan level tinggi adalah kenikmatan materi?. Karena semua kenikmatan materi apapun jenis dan bentuknya berada dalam level yang sama yaitu kenikmatan level materi.

Itulah mengapa tidak mengherankan, kita menyaksikan beberapa orang seperti para sufi yang bersedia hidup menderita. Karena mereka ingin mencicipi kebahagiaan level tinggi berupa kedekatan dengan Tuhan. Sebab, level cinta Tuhan kepada hamba-Nya bergantung pada level pengetahuan hamba terhadap Tuhan. Semakin hamba mengenal Tuhan, maka semakin cinta pula Tuhan kepadanya. Persis dengan level cinta hamba kepada Tuhan yang juga bergantung pada level pengetahuan hamba terhadap-Nya.

Semakin hamba mengenal Tuhan, maka semakin ia mencintai-Nya. Pada akhirnya, semakin ia mencintai Tuhan, semakin ikhlas pula ia untuk menyembah-Nya. Mereka rela mengorbankan nikmnatnya materi yang menawarkan kebahagiaan semu, temporal, demi meraih meraih kenikmatan non materi yang menawarkan kebahagiaan abadi.

Dalam hadis diungkapkan, man arofahu ahabbhu, barang siapa yang mengenal Tuhan, maka Tuhan akan mencintainya. Artinya, hamba yang mengenal Tuhan, niscaya mencintai-Nya. Dan sebagai balasannya, Tuhan pun akan mencintainya. Dengan itulah, tidaklah membenci Tuhan kecuali mereka yang tidak mengenal-Nya. Dan tidaklah mencintai Tuhan, kecuali mereka yang mengenalnya.

Walhasil, kesempurnaan manusia sebagai manusia dilihat dari kebahagiaan apa yang diinginkannya. Ingat! Kebahagiaan yang diharapkan ditentukan oleh tingkat pengetahuan. semakin tinggi pengetahuan, maka semakin tingi pula level kenikmatan dan kebahagiaan yang didambakan.

 154 total views,  9 views today

Mulfyan Agus

Mahasiswa STAI Sadra Jakarta,
Seorang diri yang diciptakan untuk memenuhi falsafah wujud penciptaan yaitu menyembah dengan pengetahuan kepada wujud yang pantas diperTuhankan dan bergerak atas dasar pengetahuan. Minat kajian yang bernuansa filsafat, sufistik dan tafsir Al-Qur'an. Seorang perindu kesempurnaan.

Add comment

Highlight option

Turn on the "highlight" option for any widget, to get an alternative styling like this. You can change the colors for highlighted widgets in the theme options. See more examples below.

Flag Counter