Mengeja Indonesia

Kritik Satra: Realisme Versus Subjektivisme6 min read

Selain sebagai pemikir dan aktivis politik Marxis, György Lukács adalah juga seorang kritikus sastra yang terkemuka dalam abad XX. Karya sastranya yang penting dalam kritik sastra dimulai lebih awal dari karier politiknya.

The Theory of the Novel merupakan karya seminal dalam teori sastra dan teori tentang jenis (genre) sastra. Buku ini merupakan teori tentang sejarah novel sebagai bentuk dan sebagai penelitian mengenai ciri-ciri yang membedakan. Lukács kemudian meninggalkan The Theory of the Novel dan menulis sebuah introduksi panjang yang diuraikan sebagai kekeliruan, tetapi berisi suatu antikapitalisme romantik yang nantinya dikembangkan menjadi Marxisme.

Kafka atau Thomas Mann?

Kritisisme sastra Lukács termasuk esainya yang terkenal dengan judul “Kafka atau Thomas Mann?”, yang di dalamnya Lukács berpendapat bahwa karya Thomas Mann merupakan suatu usaha yang superior terhadap karya Franz Kafka berhubungan dengan kondisi modernitas. Lukács mengkritik Kafka sebagai merek dari modernisme.

Lukács secara mantap melawan pembaruan bentuk-bentuk sastra yang dilakukan oleh penulis modern seperti Kafka, James Joyce, dan Samuel Beckett; sebaliknya ia lebih menyukai realisme estetik tradisional. Ia secara mengagumkan membela sifat-sifat revolusioner dari novel-novel Sir Walter Scott dan Honoré de Balzac.

Lukács merasa bahwa penulis nostalgik, pro-politik aristokratik membuat mereka akurat dan kritis, karena perlawanan mereka terhadap bangkitnya borjuasi. Pandangan ini dikembangkan lebih lanjut dalam bukunya The Historical Novel, sama baiknya dengan esainya tentang “Realism in the Balance” (1938).

Maksud awalnya dengan “Realism in the Balance” menunjukkan kesalahan klaim-klaim yang membela ekspresionisme sebagai gerakan sastra yang bermutu. Lukács menunjukkan ketidaksetujuannya dengan anggota masyarakat kritikus sastra modern yang dianggapnya tidak mampu memutuskan antara mana yang ekspresionisme dan mana yang bukan, dengan alasan bahwa tidak ada yang namanya ekspresionisme.

Kritik Menggunakan Esai

Akan tetapi, meskipun tujuannya adalah mengkritik apa yang dipahaminya sebagai penilaian berlebihan tentang sekolah-sekolah sastra modern pada waktu artikelnya dipublikasi, Lukács memakai esai sebagai peluang untuk mengajukan formulasinya tentang alternatif yang diinginkan bagi sekolah-sekolah tersebut. Ia menolak pandangan bahwa seni modern harus menampilkan dirinya sendiri sebagai sebuah litani mengenai untaian kemajuan, mulai dari naturalisme, melalui impresionisme dan ekspresionisme, dan berpuncak pada surealisme.

Bagi Lukács, isu penting yang harus menjadi perhatian bukanlah konflik yang dihasilkan modernisme berhadapan dengan bentuk-bentuk klasik sebagai lawan, melainkan lebih sebagai kemampuan seni berhadapan dengan realitas objektif yang ada di dunia, suatu kemampuan yang ia temukan hampir tidak ada dalam modernisme.

Lukács yakin bahwa alternatif yang dikehendaki untuk modernisme semacam itu harus mengambil bentuk realisme, dan ia membuat daftar mengenai penulis realis seperti Maxim Gorky, Thomas dan Heinrich Mann, dan Romain Rolland sebagai contoh. Untuk membatasi debat itu, Lukács memperkenalkan argumen kritik Ernst Bloch, seorang pembela ekspresionisme, dan penulis yang sangat direspons Lukács.

Ia mengatakan bahwa modernisme seperti Bloch adalah terlalu ingin untuk tidak peduli dengan tradisi realis, suatu ignoransia yang diyakini Lukács disimpulkan Bloch berdasarkan penolakan modernisme tentang kebenaran teori Marxis, suatu penolakan yang penuh rayuan. Kebenaran ini merupakan keyakinan bahwa sistem kapitalisme merupakan suatu totalitas objektif tentang relasi sosial, dan hal itu sangat fundamental bagi argumen Lukács dalam kaitan dengan realisme.

Lukács menjelaskan bahwa kapitalisme bersifat omnipresen dalam kesatuan teori dan ideologi ekonomi, dan pengaruhnya yang mendalam atas relasi sosial menjadi suatu “integrasi tertutup” atau “totalitas”, suatu keseluruhan objektif yang berfungsi independen atas kesadaran manusia.

Lukács mengutip Marx untuk memberdayakan pandangan-dunia materialisme historis: “relasi produksi dalam setiap masyarakat membentuk sebuah keseluruhan”. la lebih jauh menggunakan Marx untuk membangun alasan bahwa kekuatan perkembangan borjuasi yang tak terpatahkan dari pasar dunia begitu jauh meliputi dan memengaruhi penciptaan suatu totalitas (unified totality), dan menjelaskan bahwa karena perkembangan otonomi dari elemen-elemen sistem kapitalisme, (misalnya otonomi uang), dimengerti oleh masyarakat sebagai krisis, maka harus ada kesatuan yang mendasari dan mengikat semua elemen yang tampak otonom dalam sistem kapitalisme dan membuat keterpisahan mereka akan menimbulkan krisis.

Representasi Realitas sebagai Tujuan Utama Seni

Kembali ke bentuk modernis, Lukács menilai bahwa teori-teori semacam itu tidak peduli akan hubungan antara sastra dan realitas objektif, dalam hubungan dengan penggambaran pengalaman subjektif dan langsung, yang hanya sedikit menunjukkan dengan jelas eksistensi totalitas kapitalis yang mendasari.

Hal ini jelas bahwa Lukács memperhatikan representasi realitas sebagai tujuan utama seni-dalam hal ini ia barangkali tidak setuju dengan modernisme-tetapi menerima bahwa jika seorang penulis berusaha untuk menampilkan realitas sebagaimana adanya, yaitu jika dia seorang realis tulen, maka petanyaan mengenai totalitas akan memainkan peran utama. Realis tulen membuktikan pentingnya konteks sosial dan penelanjangan totalitas objektif itu merupakan elemen paling penting dalam ideologi Marxisnya Lukács.

Lukács lalu merencanakan suatu perlawanan dialektis antara dua elemen yang ia yakini inheren dalam pengalaman manusia. la mengatakan bahwa relasi dialektis ini berada di antara apa yang tampak (appearance) sebagai peristiwa subjektif dan esensi (essence) dari yang tampak, sebagaimana ditimbulkan oleh totalitas objektif kapitalisme. Lukács menjelaskan bahwa realis-realis yang baik, seperti halnya Thomas Mann, menciptakan kontras antara kesadaran dari tokoh-tokohnya (appearance) dan realitas yang independen dari tokoh-tokoh itu (essence).

Menurut Lukács, Mann berhasil sebab ia menciptakan kontras ini; sebaliknya, bagi Lukács, penulis modernis gagal karena mereka menampilkan realitas hanya sebagaimana tampak (appearance) pada mereka dan tokoh- tokohnya-secara subjektif-dan gagal menerobos permukaan dari pengalaman subjektif langsung untuk menyingkap esensi yang ada di dasarnya, yaitu faktor riil yang menghubungkan produksi mereka.

Menurut Lukács, ada banyak bahaya bila langsung bersandar pada pengalaman langsung. Karena, praduga yang dipaksakan oleh sistem kapitalis adalah bahaya karena kemudian tidak bisa dilepaskan tanpa menyingkirkan pengalaman subjektif dalam ranah sastra.

Praduga yang dipaksakan dalam sistem kapitalis dapat kadaluwarsa sehingga harus dicegah atau diatasi oleh penulis realis. Lukács menyarankan penggunaan dialektika Hegelian untuk menyingkapkan indoktrinasi yang ditimbulkan oleh sistem kapitalis, termasuk di dalamnya uang, pemahaman yang keliru mengenai uang sebagai realitas objektif.

Karya seni yang benar dapat dinilai sebagai sebuah keseluruhan yang menggambarkan jangkauan realitas objektif yang sama luasnya sebagaimana yang dikatakan ilmu pengetahuan tentang dunia nonfiksi. Karya seni realis dapat melaksanakan tugas ini, jika tidak, maka karya seni atau sastra akan merosot.

Tentang hal ini, Lukács mengutip Nietzsche yang mengatakan bahwa nilai setiap karya sastra merosot karena tidak berhasil membangun kehidupan dalam totalitas atau realitas objektif. Hal ini menjadi ancaman nyata terhadap sastra jika kiprahnya hanya menciptakan model dunia kontemporer yang terlepas dari konteks historisnya sebagai dunia subjektif.

Hal ini yang terjadi dan harus dilawan dalam sistem kapitalisme yang melakukan abstraksi (langsung) atas realitas sosial dan menggambarkannya sebagai “esensi” dari kenyataan. Itulah manifestasi dominasi kapitalis yang memisahkan seni dari konteksnya dan dalam suatu cara yang mengisolasi esensi seni dari totalitas objektif. Lukács percaya bahwa misi sosial dari sastra adalah menjelaskan pengalaman massa, dan pada gilirannya memperlihatkan pengalaman massa dipengaruhi oleh totalitas objektif kapitalisme.

Maka, kritik utama Lukács mengenai sekolah sastra modern adalah mereka gagal untuk mewujudkan tujuan sesungguhnya dan seni dari objektivitasnya kepada dimensi subjektif dan abstrak seakan-akan realitas fiktif yang buta terhadap kenyataan sesungguhnya di alam kapitalisme. Realisme, karena ia menciptakan pengalaman subjektif langsung yang membuktikan realitas sosial yang hakiki, bagi Lukács adalah satu-satunya sekolah sastra yang dapat dibela dan bernilai di awal abad XX.

 265 total views,  8 views today

Redaksi

Mengeja Indonesia adalah sebuah gerakan yang otonom dan nirlaba, mengangkat isu-isu fundamental bangsa.

Add comment

Highlight option

Turn on the "highlight" option for any widget, to get an alternative styling like this. You can change the colors for highlighted widgets in the theme options. See more examples below.

Flag Counter