Mengeja Indonesia

Determinisme Ekonomi4 min read

Relevansi pandangan Gramsci dikaitkan dengan ekonomi, politik, dan ideologi yang terjadi di banyak tempat. Gramsci mengantisipasi beberapa pertanyaan baru, seperti hegemoni, dan membicarakan beberapa masalah lama, seperti civil society yang dibiayai pemerintah dan seterusnya.[1]

V. Anji Reddy mendiskusikan analisis Gramsci mengenai kaum intelektual. Menurut Anji Reddy, Gramsci mendefinisikan kaum intelektual sebagai anggota aktif yang memimpin dengan kualitas dalam profesi apa pun. Kaum intelektual, dengan demikian, menjadi pemimpin kaum pekerja dalam ekonomi, politik, dan budaya. Mereka adalah teknokrat ilmu pengetahuan. Kaum intelektual bisa tidak menyadari peran kelasnya. Mereka bisa berpikir bahwa ide-ide mereka sebagai netral dan universal. Jelasnya, posisi mereka menjadi partisipan dan mempromosikan hegemoni dari kelas tertentu.

Menurut Gramsci, kata Anji Reddy, ada banyak tipe intelektual: tradisional dan organik. Pemimpin agama, guru, pejabat pemerintah membela tatanan sosial tradisional, kendati masyarakat berubah. Intelektual organik harus dibentuk oleh partai komunis untuk menyiasati perubahan dalam masyarakat, yang secara hegemonik dikuasai oleh kelas sosial tertentu. Hegemoni tidak otomatis buruk, maka harus dibedakan hegemoni yang didasari persetujuan dengan hegemoni yang dominatif.

Dari sudut ini, Gramsci sering kali disalahpahami sebagai “teoretikus struktur atas” (super-structure), yakni politik; sebaliknya Marx adalah “teoretikus struktur bawah”, yakni ekonomi. Bagi Gramsci, hegemoni harus dipahami artinya sebagai “dominasi plus” (konsensus). Hegemoni tidak sama dengan kekuasaan, tetapi berkaitan dengan tiga jenis kekuasaan dalam masyarakat, yakni ekonomi, civil society, dan negara.

Menurut M. Vijaya Kumar, konsep Gramsci mengenai hegemoni terdapat dalam industri. Konsep hegemoni tidak bisa dipahami di luar industri. Ini merupakan sebuah pandangan yang salah, meskipun benar bahwa Gramsci menempatkan ekonomi di atas proses pekerjaan. Baginya, usahawan harus juga mengorganisasi sebuah sistem hubungan di luar bisnis itu sendiri.

Hegemoni termasuk di dalamnya kemampuan modal untuk menerjemahkan kepentingan sempit yang bersifat sektoral, profesional, atau lokal menurut kepentingan yang lebih luas berkaitan dengan etika politik, baik dalam proses kerja maupun di luar, meskipun fungsi etis berbeda di ranah ekonomi, civil society, dan negara. Vijaya Kumar berpendapat, untuk memahami hegemoni di pabrik, kita harus melihat dalam nilai, diskursus, bentuk bahasa, dan kepercayaan masyarakat dalam membentuk pembagian kerja secara teknis dan sosial. Vijaya Kumar sudah membuktikan hal ini dalam menganalisis situasi di India. Ini merupakan salah satu cara untuk menghargai teori hegemoni Gramsci.

Secara umum dalam teori hubungan internasional, perhatian utama diarahkan pada konsep dan kategori historis, yakni masalah- masalah yang kurang diberi perhatian dalam interpretasi historis. Hal ini mengaitkan kembali pemikiran Gramsci dengan masalah reifikasi (Walker, 1993). Di mana-mana masalah epistemologi sejarah sudah menjadi perhatian utama politik ekonomi internasional mengenai bagaimana menangani masalah tersebut melalui tindakan-tindakan sosial dalam iklim ekonomi global (Amin dan Palan, 1996: Amoore et, al, 2000).

Hal-hal ini melahirkan pandangan neo-Gramscian yang kompleks mengenai masalah ontologis, epistemologis, dan metodologis (lihat eg. Augelli dan Murphy, 1988; Cox, 1983,1987; Gill, 1993a; Rupert, 1995). Hal ini mengatakan bahwa untuk memahami Gramsci secara tepat harus bertolak dari tulisan Gramsci sendiri, dan bahwa interpretasi atas Gramsci hanya membantu memperjelas apa yang dikatakannya.

Hal ini tidak berarti bahwa memahami Gramsci secara harfiah sudah cukup, tetapi bahwa membaca Gramsci secara tepat hanya berarti kalau kita membacanya sebagaimana apa yang diajarkannya dalam tulisannya. Artinya, memahami Gramsci mengandaikan pendekatan ganda, yaitu mempelajari sejarah yang melatarbelakangi makna teorinya, dan memiliki kemampuan menginterpretasikan teorinya.

“Certainly, ‘appropriating Gramsci’ has never licensed us to read him any way that suits us, uncontrolled by a respect for the distinctive grain and formation of his thought. Our ‘reading’ is neither willful nor arbitrary-precisely because that would be contrary to the very lessons we learned from him. It is, after all, Gramsci himself who first taught us how to ‘read Gramsci’.”[2]

Meminjam Stuart Hall (1988: 161-162), berpikir dalam konteks Gramscian mengenai sejarah ide dan persoalan dunia dewasa ini tidak sekadar meyakini bahwa Gramsci memiliki kunci untuk menjawab semua persoalan masa kini, melainkan mengusahakan secara kreatif jawaban itu dari pelbagai sudut pandang atas persoalan yang dihadapi dalam kondisi sosial yang berbeda-beda. Dengan kata lain, memahami Gramsci tidak terlepas dari mengintegrasikan dua bacaan mengenai otobiografi dan catatan reflektif mengenai politik dalam the Prison Notebooks.

Otobiografi dalam garis besarnya memuat perkembangan pemikiran Gramsci sampai tahap matang. Gramsci sendiri menginterpretasi tragedi Shakespeare seperti yang dilakoni Pirandello, memberi pelbagai penafsiran teatrikal, tetapi tetaplah itu sebuah buku yang berbeda dengan performa theatrical (Gramsci, 1985: 140-142). Oleh karena itu, pembaca dalam konteks yang berbeda-beda menghasilkan pemahaman yang berbeda-beda atas buku yang sama. Pada titik inilah Gramsci menilai sosiologi positivistik gagal dalam memahami Marxisme.


[1] Arun Kumar Patnaik, “Granacd Today” dalam Economic and Political Weekly, Vol. 39, Na. 11 (13-19 Maret 2004), him. 1120-1123 Diterbitkan oleh Economic and Political Weekly. Stable URL bttp://www.jstor.org/stable/4414759

[2] Adam David Morton, “Historicizing Gramsct Situating Ideas in and beyond Their Context dalam Review of International Political Economy, Vol 10, No. 1 (Februari 2003), hlm. 119-120. Diterbitkan oleh Taylor & Francis Lud Stable URL http://www.jstor.org/stable/4177453

 174 total views,  2 views today

Redaksi

Mengeja Indonesia adalah sebuah gerakan yang otonom dan nirlaba, mengangkat isu-isu fundamental bangsa.

Add comment

Highlight option

Turn on the "highlight" option for any widget, to get an alternative styling like this. You can change the colors for highlighted widgets in the theme options. See more examples below.

Flag Counter