Mengeja Indonesia

Karya Opus Magnum: Sejarah dan Kesadaran Kelas3 min read

Karya Lukács yang berjudul History and Class Consciousness ditulis antara tahun 1919-1922 dan diterbitkan tahun 1923. Buku ini merupakan bacaan yang oleh kaum Kiri Baru telah dianggap sebagai “kitab suci” mereka untuk memahami Marxisme sebagai lawan kapitalisme, sekaligus sebagai lawan terhadap Marxisme vulgar. Apa yang kemudian dipahami sebagai Marxisme Barat adalah isi pemikiran Lukács tentang Marxisme dalam bukunya itu.

History and Class Consciousness

Perlawanan terhadap kapitalisme dirumuskan dalam teori Marxisme mengenai ideologi, kesadaran palsu, reifikasi, dan kesadaran kelas. Perlawanan terhadap Marxisme vulgar diuraikan dalam pemurnian pemahaman Marxisme tentang sejarah, kesadaran kelas, dan revolusi. Mengenai penolakan terhadap keduanya diuraikan dalam pemikirannya tentang Marxisme ortodoks.

Lukács mendefinisikan pengertian Marxisme ortodoks sebagai pemikiran yang setia pada metode Marxis, bukan pada dogma-dogma. Dengan kata lain, Marxisme ortodoks menekankan aspek kritis dari pemikiran Marx. Marxisme tidak menyatakan sebuah sistem kepercayaan terhadap suatu ajaran, dan bukan eksegese mengenai sebuah kitab suci.

Sebaliknya, ortodoksi mengacu secara eksklusif pada metode. Marxisme merupakan sebuah pemahaman ilmiah bahwa materialisme dialektis merupakan jalan kepada kebenaran, yang metodenya dapat dikembangkan dan diperdalam, menurut konsep-konsep dasar yang sudah dikemukakan para pendirinya.[1]

Lukács mengkritik usaha-usaha mengubah Marxisme ke tujuan lain, dengan tetap menekankan kesetiaan pada metode Marxis, yakni dialektika materialisme historis. Lukács menerima “revisionisme” sejauh hal itu secara inheren ada dalam teori Marxis, sejauh sebagai sebuah materialisme historis, yang mengakibatkan perjuangan kelas.

Menurut Lukács, gagasan untuk mempertahankan Marxisme ortodoks untuk menempatkan kesejatian Marxisme sebagai dialektika materialisme tetap menempati posisinya yang di atas revisionisme dan utopianisme, yang menghancurkan Marxisme yang otentik dengan mengajukan sesuatu yang palsu. Marxisme selalu membarui dirinya sendiri sebagai perjuangan melawan unsur-unsur yang menjadi akibat ideologi borjuis terhadap pemikiran kaum proletariat.

Ortodoksi Marxisme tidak menyangkut sesuatu yang harus diterima karena (bimbingan) tradisi, tetapi sesuatu yang diterima berdasarkan kesadaran kritis. Bagi Lukács, Marxisme dapat dipahami sebagai sebuah tugas kenabian yang selalu waspada untuk secara kritis dan konsisten menyatakan hubungan antara tugas-tugas mengenai masa kini dan yang harus dilakukan dalam keseluruhan proses historis sebagai perwujudan dialektika materialisme.[2]

Menurut Lukács, premis dialektika materialisme bukanlah kesadaran manusia yang menentukan eksistensinya, tetapi sebaliknya eksistensi sosial mereka yang menentukan kesadaran mereka. Hanya apabila inti eksistensi menampakkan diri sebagai sebuah proses sosial, maka eksistensi pribadi bisa kelihatan sebagai sebuah produk. Sejalan dengan pemikiran Marx, Lukács mengkritik filsafat borjuis individualistis yang hanya menekankan subjek yang bebas dan sadar. Ideologi kesadaran subjek dilawan oleh Lukács dengan menekankan pentingnya relasi sosial di atas kepentingan individu belaka.

Eksistensi—dan dengan demikian dunia—merupakan aktivitas manusiawi; tetapi hal ini dapat dilihat hanya jika proses sosial di atas kesadaran individual (yang adalah akibat mistifikasi ideologis) diterima. Ini tidak berarti bahwa Lukács membatasi kebebasan manusia atas nama suatu jenis determinisme sosiologis, sebaliknya, produksi eksistensi ini dilihat sebagai kemungkinan dari praksis.

Dengan demikian, masalahnya ada dalam relasi antara teori dan praksis. Lukács mengutip perkataan Marx bahwa tidak cukup pikiran harus merealisasikan dirinya sendiri. Realitas harus juga berjuang ke arah pikiran. Bagaimana pemikiran intelektual dihubungkan dengan perjuangan kelas jika teori hanya mau ketinggalan di belakang sejarah sebagaimana hal itu ada dalam filsafat sejarah Hegel (“Minerva selalu muncul dalam kabut malam.”)? Lukács juga mengkritik karya Engels yang berjudul Anti-Dühring, yang dinilainya tidak berhasil mengungkap interaksi paling vital, yang disebutnya “relasi dialektis” antara subjek dan objek dalam proses sejarah, terlepas dari nilai yang dibawakan oleh buku itu. Relasi dialektis antara subjek dan objek menjadi basis kritik Lukács atas epistemologi Kant, dengan subjek dipahami eksterior, universal, dan yang lepas dari objek.


[1] G. Lukács, History and Class Consciousness, Bab I, paragraf 1.

[2] lbid, paragraf 5 akhir. 72

 220 total views,  2 views today

Redaksi

Mengeja Indonesia adalah sebuah gerakan yang otonom dan nirlaba, mengangkat isu-isu fundamental bangsa.

Add comment

Highlight option

Turn on the "highlight" option for any widget, to get an alternative styling like this. You can change the colors for highlighted widgets in the theme options. See more examples below.

Flag Counter