Mengeja Indonesia

Manifestasi Substantif Sosiologi Agama di Tengah Realitas Keberagaman4 min read

Secara umum sosiologi agama merupakan ilmu yang mempelajari fenomena agama menggunakan persepektif, pendekatan, dan kerangka penjelasan sosiologis. Studi soiologi agama memfokuskan pada kelompok-kelompok atau organisasi keagamaan, prilaku individual, dalam kelompok tersebut dan bagimana agama berkaitan dengan institusi soaial lain. Beberapa pertanyaan yang dikaji dalam sosiologi agama antara lain mengapa terjadi perbedaan religiousitas antar masyarakat yang menganut agama tertentu, faktor apa saja yang mempengaruhi terjadinya prubahan religiousitas, perubahan pilihan agama, dan fundamentalisme beragama, bagaimana hubungan agama dan institusi-instittusi lain di masyarakat.

Pertanyaan yang sering muncul adalah bagaimana wujud nyata atau eksistensi dari Sosiologi Agama itu sendiri di tengah masyarakat. Sosiologi dan agama merupakan dua hal yang berbeda, namun dalam konteks tertentu keduanya bisa dipadukan karena sama-sama bersinggungan langsung dengan masyarakat. Kemudian, bagaimana melihat posisi sosiologi dan agama di masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari, sosial dan agama termasuk dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Seperti yang dikatakan Dillon (sosiolog), dalam pandangannya sosiologi agama merupakan upaya sosiolog untuk mesdeskripsikan, memahami, serta menjelaskan bagaimana agama berlaku dalam masyarakat. Dengan begitu, benar adanya bahwa agama tidak bisa terlepas dari masyarakat (manusia) itu sendiri. Duduk perkara selanjutnya, tentu semua tahu bahwa di tengah masyarakat terdapat banyak keberagaman dan bagaiamana posisi agama di tengah keberagaman tersebut?

Agama dan masyarakat memiliki keeratan tersendiri yang saling dan sama-sama menghasilkan satu sama lain. Artinya, hadirnya agama di tengah masyarakat memberikan sumbangsih atau dampak yang besar karena di situ agama juga dijadikan sebagai kontrol sosial. Sedangkan agama tanpa keberadaan masyarakat juga menjadi satu hal yang ambigu, karena eksistensi dari agama itu bergantung terhadap masyarakat: jadi agama merupakan pedoman hidup manusia (masyarakat) yang diciptakan Tuhan. Namun, walau pun menjadi pedoman hidup setiap orang, masih ada sebagian orang yang belum mampu mengaplikasikan pedomannya tersebut terhadap realitas kehidupan nyata. Salah satu bukti nyata, yaitu masih adanya masyarakat yang tidak mampu menerima di tengah keberagaman yang ada di masyarakat hal tersebut dari budaya hingga agamanya. Artinya dalam wilayah-wilayah tertentu masih ada masyarakat yang tidak bisa hidup berdampingan damai dengan sekitarnya yang berbeda dari segi agama dan budayanya.

Dr. Muhamad Fajar Pramono, M.Si pernah menuliskan dalam bukunya, bahwa semua agama tidak hanya dipandang sebagai aset, namun juga menjadi pemelihara dan menjaga keharmonisan antar manusia untuk tetap saling rangkul dan saling gandeng satu sama lain. Sosiologi agama memiliki ruang lingkung dan memiliki cakupan luas dan universal, terlebih dalam ranah sosialnya. Max Weber pernah menuliskan dan mengatakan dalam tulisannya bahwa agama merupakan kepercayaan pada sesuatu yang tidak terlihat yang akhirnya muncul dan mempengaruhi kehidupan kelompok masyarakat yang ada, ia juga mengatakan agama bermacam-macam seperti Islam, Kristen, Hindu, Budha, dll. Salah satu pemikirannya yang muncul dari Max Weber adalah bahwa tindakan sosial masyarakat juga dikaitkan dengan motivasi batin.

Banyaknya konflik keagamaan yang terjadi di Indonesia, tentu masih jauh dari definisi dan tujuan sosioogi agama itu sendiri. Konflik sosial keagamaan memang bukan menjadi rahasia umum lagi dalam masyarakat umum. Di setiap daerah Indonesia ini, hampir selalu ditemukan konflik keagamaan dengan problem yang bermacam-macam. Hingga dapat saya pahami, bahwa hal-hal yang melibatkan agama di dalamnya, akan mudah menimbulkan konflik. Dalam hal ini apakah agama yang masih terkesan kaku dalam menyikapi hal-hal yang terjadi dan berbeda di masyarakat atau memang cara kerja sosial keagamaan sendiri yang masih bermaslah sehingga rawan menimbulkan konflik yang tidak diinginkan. Menelaah lebih jauh awal mula konflik Syiah di Sampang, Madura.

Asal muasal konflik ini terjadi juga melibatkan NU dan MUI sampang, bahwa pihak sunni merasa ustadz Tajul Muluk telah melanggar kesepakatan yang dibuatnya bersama NU dan MUI sampang pada tahun 2008. Dari situ konflik demi konflik terjadi antara sunni dan syiah hingga menimbulkan korban. Dalam konflik antar agama yang lain, bisa dilihat konflik poso antara umat islam dan umat nasrani terjadi cukup lama. Salah satu factor yang menjadikan konflik itu terjadi berkepanjangan, yaitu kurangnya peran pemerintah dalam mengembalikan situasi menjadi kondusif seperti semula. Konflik ini berawal dari tahun 1998 hiingga 2001, dalam rentang waktu kurang lebih tiga tahun itu banyak korban yang berjatuhan akibat konflik kekerasan yang juga terjadi di dalamnya.

Dari kejadian itu bisa dilihat bagaimana perbedaan kepercayaan dapat menyulut konflik antar pemeluknya. Dari situ juga bisa diambil kesimpulan bahwa substansi dari sosiologi agama itu sendiri belum berbicara banyak. Walau pun di daerah-daerah lain juga banyak yang bisa hidup berdampingan satu sama lain. Faktor lain dari terjadinya konflik tersebut setidaknya ada tiga hal. Pertama, bahwa sebagian masyarat yang terlibat tersebut belum paham betul dari ajaran agama yang dianutnya. Kedua, masyarakat lebih mementingkan ego diri sendiri dan menganggap kepercayaannya yang paling benar dari yang lain. Ketiga, masyarakat bertindak semaunya tanpa mau tahu bagaimana peraturannya. Ketika ketiga hal tersebut dilakukan maka mungkin sekali konflik antar agama itu terjadi.

 146 total views,  4 views today

Hendri Krisdiyanto

Add comment

Highlight option

Turn on the "highlight" option for any widget, to get an alternative styling like this. You can change the colors for highlighted widgets in the theme options. See more examples below.

Flag Counter