Toleransi Dan Kearifan Tradisi4 min read

Sampai saat ini masalah toleransi di Indonesia masih menjadi masalah serius dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Masalah toleransi dalam masyarakat adalah penyimpangan perilaku yang mengklaim kelompok masing-masing adalah yang terbaik. Menurut laporan Forum Masyarakat  Katolik Indonesia (FMKI) Yulius Setiarto, terdapat kasus intoleran di awal tahun 2018, yaitu penyerangan terhadap pemuka agama Islam di Jawa barat (Andriani, 2019). Kasus pengrusakkan Masjid di Poso tahun 2020.

Menurut laporan media online tirto.id (2019) menyebutkan ada 32 Gereja dan 5 Masjid Ahmadiyah yang ditutup (Sihidi, 2020). Jadi sebagaimana yang disebutkan oleh Buya Hamka dalam (Gunawan) toleransi sejatinya adalah perilaku setiap manusia yang menghargai berbagai macam perbedaan yang ada disetiap manusia (Gunawan, 2015).  

Bangsa ini memiliki banyak suku, agama dan ras. Inilah kemudian yang membuat bangsa ini kokoh dan memiliki keunikan yang tidak dimiliki oleh bangsa lain. Dengan banyaknya perbedaan tersebut, membuat bangsa ini memiliki toleransi yang tinggi (baca: liputan6.com) dan tradisi yang begitu kompleks. Toleransi serta kearifan tradisi dimasing-masing kelompok masyarakat membuat perbedaan itu menjadi sebuah poin penting dalam kehidupan bermasyarakat. Biasanya dengannya banyaknya perbedaan tradisi di masing-masing kelompok masyarakat ini membuat rentan adanya konflik, namun di bangsa ini berbeda, banyaknya kearifan tradisi tersebut semakin mengkokohkan toleransi dan rasa kebersamaan bangsa ini.

Dalam sebuah buku yang di tuliskan oleh Yudi Latif dengan judul “Mata Air Keteladanan” buku itu menceritakan bagaiman pancasila menjadi dalam perbuatan mata air keteladanan atau menjadi sebuah kompas bangsa dalam menyatukan keberangaman serta perbedaan diantara anak bangsa. Salah satunya adalah seorang kiai membantu perbaikan dan membangun rumah seorang penganut agama Kristen (Latif, 2014).

Bukan hanya persoalan agama, di Provinsi Sulawesi tenggara salah satu Desa yang memiliki banyak suku memiliki toleransi akan kearifan tradisi ditunjukkan dengan kegiatan menolak bala dalam bahasa daerah dikatakan (mosehe wonua) dalam setiap kegiatan etnis masing-masing. Kearifan tradisi ini dijaga dan lestarikan sebagai eksperesi kebudayaan. Toleransi dan kearifan tradisi merupakan manisfestasi kepribadian suatu masyarakat yang menjadi pandangan hidup suatu masyarakat.

Penulis memikirkan bangsa yang sebesar ini dengan banyaknya kelompok etnis, agama serta paham-paham yang berbeda bisa bertahan sampai saat ini. Di Amerika persoalan yang timbul hanyalah soal perbedaan kasta antara kulit hitam dan kulit putih, ini yang selalu membuat konflik terjadi.

Tapi Indonesia bukanya hanya kulit hitam atau putih, melainkan masih banyak lagi tapi mampu bertahan dan kuat dengan ikatan toleransi dan di perkaya dengan kearifan tradisi. Sehingga dalam konsep toleransi adalah keberagaman sosial yang harus di lestarikan walaupun berbeda kelompok agama ataupun etnis (Casram, 2016). Maka tradisi-tradisi inilah yang sebenarnya memperkokoh dari toleransi di Indonesia.

Adapun kasus-kasus intoleransi di bangsa ini, penulis menganggap bahwa itu adalah suplemen terbaik dalam menjaga tolerensi baik beragama maupun etnis dll. Keberangaman bangsa ini yang plural memang harus selalu di uji coba ketahanannya agar kita mampu memprediksi kemungkinan buruk yang akan terjadi. Maka dengan toleransi dan kearifan tersebut menjadi satu kesatuan yang harus selalu dijaga satu sama lain.

Karena jika kearifan tradisi ini selalu di permasalahkan, maka toleransi tidak akan tercipta, begitupun sebaliknya. Kearifan tradisi ini, jika selalu ditanamkan sejak dini kepada generasi bangsa ini, maka merek akan menjadi generasi yang kuat dan  berbudaya. Perkembangan zaman membuat tradisi-tradisi tidak lagi di ketahui oleh banyak orang sehingga ini bisa menjadi pemantik dari adanya intoleransi. Maka penguatan di kearifan tradisi ini diperlukan melihat keadaan zaman saat ini.

Indonesia Sebagai Contoh Toleransi Dunia

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar, dengan memiliki banyak suku, bahasa, agama dan Ras membuat dikenal sebagai Negara toleransi yang tinggi. Namun semua itu tidak akan tercapai jika kearifan tradisi-tradisi itu tidak dipertahankan dan dilaksanakan, sebagai control sosial di masyarakat. Dalam seminar “tolerance of Islam in pluricultural societies” yang dilaksanakan di Jerman pada 29 Mei 2019 Kemenlu Jerman mengatakan banyaknya agama di Indonesia membuat sebuah konsep keberagamaan yang dipraktekkan masyarakat Indonesia (www.kemlu.go.id).

Sehingga perbedaan ini bukanlah suatu masalah melainkan adalah sebuah anugrah dari sang pencipta Allah SWT, bagaimana dalam firmannya ia menjelaskan “Hai manusia, sesungguhnya kami jadikan kamu laki-laki dan perempuan, dan kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal (Q.S. Al-Hujurat : 13)”.

Maka penulis menganggap perbedaan dan kearifan tradisi ini, adalah anugrah dari sang pencipta, yang memang harus dirawat dan dijaga keberlangsungannya. Barang siapa yang tidak memiliki rasa toleransi sesama manusia maka ia telah kufur atas nikmat Allah yang telah diberikan. Dengan menjaga itu semua sama saja bahwa kita telah berdakwah dijalan Tuhan sehingga muara akhir dari toleransi dan kearifan tradisi tersebut adalah mengharapkan ridha Allah Swt sebagai manifestasi dari keberagaman dalam bangsa ini.

Maka perlu di didik etika masyarakat Indonesia untuk melatih mental dan fisik sehingga menghasilkan manusia yang berbudaya tinggi dan bertanggung jawab (Rohma : 2). Kita mengharapkan toleransi dan kearifan tradisi ini, bisa mendarah daging ke semua sendi-sendi kehidupan sehingga tidak ada lagi yang bisa membuat bangsa ini cerai berai. Karena para founding father kita sudah memulai dengan keberangaman dalam toleransi.


Referensi

Sahidi, Iradhad, Taqwa. Negara dan Paradigma Intoleransi Di Indonesia. Malang Post. 2020.

Gunawan, Hendri. Toleransi Beragama Menurut Pandangan Hamka dan Nurcholis Majid. Skripsi Naskah Publikasi. 2015

Latif, Yudi. Mata Air Keteladanan, Pancasila Dalam Perbuatan. Bandung: Mizan. 2014

Casram. Membangun Sikap Toleransi Beragama Dalam Masyarakat Plural. Artikel UIN Sunan Gunung Djati Bandung. 2016

Rohma, Noer. Pendidikan Etika Perspektif Al-Quran Telaah kritis Konsep Pendidikan Etika Dalam Surat Al-Isra Ayat 23-24. Jurnal

www.kemlu.go.id. Diakses pada tanggal 3 Januari 2020. Pukul 09:12 WITA.

Asman Dari Kota Kendari Sultra. Saat ini sedang mempersiapkan diri untuk lebih baik lagi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like