Mengeja Indonesia

Mohammad Natsir, Kompas Demokrasi Indonesia5 min read

Banyak politisi hari ini, yang keliru mengambil jalan politik, disebabkan tidak adanya patron seorang tokoh dalam berpolitik. Sejatinya politik yang dilakukan dapat memberikan output yang besar kepada masyarakat sebagai realisasi dari penerapan demokrasi di Negara ini. Karena politik membutuhkan masyarakat sebagai basis dalam proses perpolitikan.

Namun hal ini, menjadi rancu di tengah pergolakan perpolitikan bangsa ini yang tidak mengalami kejelasan. Demokrasi Pancasila yang di selalu di kampanyekan dengan berasas kepada permusyawaratan hampir tidak menunjukkan hakikat dari musyawarah itu sendiri, sebagai tercantum dalam sila ke empat Pancasila. Kurangnya patron dan penghayatan terhadap tokoh-tokoh politik bangsa ini, menyebabkan arah dan konsep perpolitikan bangsa ini mengalami kebuntuan jalan. Sehingga perlunya patron tokoh untuk menerangi jalan politik bangsa ini mengarah lebih baik lagi.

Sebagai Negara yang mengakui agama sebagai basis religi dan setiap tindakan berbagsa dan bernegara sebagaimana tercantum dalam UUD 1945 dan Pancasila poin pertama. Menjadikan agama sebagai landasan dalam bernegara berdasarkan Pancasila dan NKRI. Tokoh bangsa seperti Muhammad Natsir telah banyak memberikan contoh dalam kehidupan politiknya. Tidak ada salahnya kita mencoba meniru dan menggali pemikiran beliau soal politik. Apalagi melihat demokrasi kita saat ini seakan kehilangan arah disebabkan oleh sistem yang membelenggu. Seperti kata Fahri Hamza sistem yang membuat bangsa ini menjadi carut marut. Ia mengatakan jika sisitem yang diterapkan oleh Negara baik, maka akan merubah orang buruk menjadi baik begitupun sebaliknya.

Dalam kumpulan tulisan yang di tulis oleh Amien Rais dan kemudian di penyunting menerbitkannya kembali di tahun 2004, setidaknya beliau telah memparkan bahwa Muhammad Natsir adalah tokoh bangsa yang peduli terhadap politik dan agama. Karena ketulusan beliau sehingga beliau dikenal di mancanegara. Amien Rais mengatakan beliau seorang tokoh politik yang sederhana dan jujur, kesederhanaan beliau menjadi salah satu daya tarik sehingga beliau banyak di kagumi oleh banyak orang, dan kesederhanaanya itu mengalir di darahnya dan bukan merupakan hasil rekayasa yang di buat-buat untuk mendapatkan ketenaran dan populerisasi. Yah jika melihat saat ini, banyak karena untuk popularitas.

Muhammad Natsir yang dikatakan Amien Rais perna suatu ketika seorang kawan lama Muhamamd Natsir ingin meminjam uang ke beliau untuk biaya pulang ke Banjarmasin. Saat itu Muhamamd Natsir sudah menajdi pejabat Perdana Menteri saat itu. Jawaban Muhammad Natsir “ia kalau mau pinjam uang pribadi, kebetulan saya tidak ada, tetapi saudara bisa pinjam uang dari majalah hikmah yang saya pimpin” (tulis Amein rais). Sekelas perdana Menteri saat itu tidak memiliki uang sepeserpun, bahkan ia mau jujur bahwa ia tidak memiliki uang sama sekali. Seorang tokoh politik yang memiliki kejujuran dan kesederhanaan yang mungkin saat ini para pejabat tidak memiliki itu. Jarang melihat pejabat hari ini yang mau menderita, kecuali mungkin hanya segelintir orang saja.

Baca Juga:  Penguatan Kultur Demokrasi di Indonesia

Banyak kemudian tokoh bangsa ini yang terjun ke dunia politik, yang tidak mau terlalu mencolok dalam soal harta. Mantan Presiden ke empat Abdurahman Wahid (Gusdur) memiliki kesederhanaan yang luar biasa, bahkan ia mencoba menjadikan pemerintahannya yang tidak banyak mempersulit manusia. Sehingga ia dikenal sebagai pencentus dari politik untuk kemanusiaan. Menjadikan politik sebagai persatuan umat, hidup bersama damai dan tentram, tidak saling bunuh membunuh dan sebagainya.

Hanya saja, kebuntuan jalan yang di dapatkan dalam realitas demokrasi dan perpolitikan bangsa ini, tidak perna mau menoleh ke belakang melihat jalan yang sudah dirintis oleh para pendahulu. Padahal jalan yang mereka rintis dulu itu lebih rimbun dari pada saat ini. Namun sepertinya, karena jalan yang begitu bersih dan tidak ada halangan, maka demokrasi dan perpolitikan bangsa ini menajdi tersesat di dalam kemulusan jalan demokrasi politik bangsa ini.

Menelisik Realitas Demokrasi Saat Ini

Herbert Feith pernah mengatakan bahwa Natsir adalah democrat dan administrator atau problem solver dalam masalah-masalah kenegaraan seperti halnya Moh. Hatta dan syahrir, namun sifat demokratik Muhammad Natsir itu tercermin dalam sikap kehidupan sehari-hari (Rais, 2004). Sifat demokratis Natsir di ceritakan oleh Amien Rais beliau adalah orang yang tidak pernah membeda-bedakan tamunya, bahkan suatu ketika ada tamu pak Natsir dari pelosok Jawa Timur urusannya ternyata ia ingin bertemu Natsir hanya karena kekurangan uang untuk menyelesaikan pembangunan Masjid, walupun bagi warga Desa itu adalah urusan penting.

Tapi apakah hari ini sekelas perdana menteri saat itu mau menerima seorang tamu Dario Desa terpencil untuk mengadu soal kurangnya biaya untuk pembangunan masjid.? Mungkin beda zaman yah waktu itu, tapi seharusnya bukannya para pejabat hari ini di angkat dan mengatasnamakan rakyat.? Maka sudah tentunya harus memberikan kontribusi banyak terhadap rakyat, apalagi sudah menjadi wakil dari rakyat, katanya!

Muhammad Natsir juga sang at demokratik dalam hal perbedaan pendapat, beliau sangat menghargai pendapat lain bahkan yang kemudian menentang beliau. Bahkan di ceritakan perna suatu ketika ia berbeda pendapat dengan H. Agus Salim, namun dengan cara yang etis. Jika melihat jejak-jejak demokrasi yang dijalankan di zaman ini, banyak di temukan perbedaan pendapat berujung politisasi (menggunakan kekausaan untuk merekayasa kesalahan) apalagi yang intens mengkritik, sang senator yang didalamnya terdapat banyak orang terpelajar, ketika beda pendapat membanting meja, melempar kursi dan sebagainya.

Baca Juga:  Jebakkan Elit dan Pentingnya Perlawanan

Demokrasi yang mengambil kepemimpinan seseorang, bahkan lembaga-lembaga ataupun ormas kemudian mulai di guncang dari dalam agar tujuan politik praktis tercapai. Para pendahulu kita banyak kemudian yang tidak mau menggunakan cara seperti itu, walaupun juga dulu banyak. Namun jika kita ingin mengambil pelajaran yang buruk di masa lalu itu akan menajadi bias di masa depan.

Bahkan pendahulu kita seperti Mohamamd Natsir, Muhammad Roem, Sukiman Wiryosandjoyo mampu memberikan contoh sang demokrat-demokrat terbaik, bahkan mereka banyak berteman dengan para petinggi partai Katolik, partai Nasionalis dan sebagainya. Padahal mereka sering berbeda pendapat, tapi tidak sampai saling pukul memukul. Maka perlunya banyak belajar kepada pendahulu-pendahulu kita, sebab mereka banyak mendapatkan tantangan yang luar biasa, bukan hanya dari internal tapi dari luar Negara mereka dapatkan.

Sehingga kita semua berharap, masyarakat jangan dijadikan sebagai alat demokrasi yang hanya menjadi pelengkap. Tapi kita kembalikan demokrasi yang sesungguhnya yaitu di mana rakyat menjadi pemegang kedaulatan tertinggi di Negara ini. Sehingga asasnya adalah dari rakyat, dan untuk rakyat. Jangan di jadikan sebagai dari rakyat, untuk kepentingan golongan. Karena itu sudah menyalahi kodrat dari demokrasi bangsa ini.

Asman

Asman asal Sulawesi Tenggara saat ini terdaftar menjadi seorang mahasiswa

Add comment

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.