Mengeja Indonesia

Perlukah Kita Belajar Pada Nabi Muhammad SAW?6 min read

Nabiyullah Muhammad SAW, dilahirkan di Mekah pada tanggal 17, atau menurut beberapa riwayat pada tanggal 12 Rabiul Awal pada tahun 571 Masehi, waktu itu bertepatan dengan tahun Gajah (ketika tentara Abessinia yang menyerbu Arabia dikalahkan). Untai perhiasan yang telah diciptakan ini juga dinamakan Ahmad, al-Musthafa ‘Abdullah dan Abu al-Qasim, serta dijuluki sebagai al-amin (orang yang dapat dipercayai). Nama dan dan julukannya masing-masing menyatakan sisi sifat dari hamba yang diridhoi-Nya. Muhammad SAW, diutus sebagai seru sekalian alam. (Alquran; 21:107).

Nabi yang dilahirkan di kota, tempat dimana berdirinya Masjidil Haram Ka’bah yang dibangun oleh Nabi Ibrahim AS. Kepala kaum penyembah Tuhan Yang Maha Esa (monoteisme) dan bapak segala bangsa Arab maupun bapak bangsa Yahudi. Pusat agama kuno itu menjadi arena utama peradaban umat manusia dan ajang pertikaian kekuatan-kekuatan besar dunia. Peristiwa-peristiwa besar yang berlangsung pada masa itu, penaklukan Babylon oleh Cyrus dan mendirikan kerajaan Persia (Iran sekarang), penaklukan Iskandar dan mendirikan kerajaan Roma, kelahiran dan penyaliban Yesus Kristus, tamatlah kebudayaan kuno Mesir, penghancuran masjid Jerusalem, pendirian kerajaan Byzantine dan peperangan yang terus-menerus dengan bangsa Turki sampai ke Timur, juga melewati Mekkah.

Nabi Muhammad SAW, dilahirkan dalam keluarga yang sangat ningrat dan berpengaruh Banu Kinanah, yaitu induk suku Quraysh yang merupakan suku Nabi langsung. Dalam impian itu Abdul Muthalib (kakek Nabi) memimpikan bahwa “Dari punggungku tumbuh sebatang pohon yang cabang atasnya mencapai langit dan cabang sampingnya merentang dari Timur sampai Barat, kemudian suatu cahaya yang lebih terang dari matahari bersinar dari pohon ini.” Para ahli tafsir (penakwil mimpi) mengatakan kepadanya (Abdul Muthalib) bahwa: “Seseorang akan dilahirkan dalam kelurganya yang suci, kelak akan menerangi Timur dan Barat dan akan menjadi Nabi bangsa Arab, Nabi bangsa Pasri dan Nabi untuk semesta alam.

Nabi yang lahir dari seorang perempuan suci (Aminah binti Wahab) dan dari seorang ayah mulia (Abdullah bin Abdul Muthalib) merupakan hadiah teristimewa bagi umat manusia dan semesta alam ini. Yang pada hari lahir di malam hari terang seketika bagai siang hari, dua imperium peradaban besar; Byzantium dan Persia yang berseteru damai seketika, api yang beribu tahun lamanya menyala di Persia padam seketika, air Zam-Zam yang mulai mengering, senantiasa mengalir dengan derasnya, dan Nabiyullah Muhammad SAW, sendiri tidak lahir diatas Kasur empuk yang yang serba kemewahan material, melainkan ia dilahirkan besarkan pelepah Kurma, itu menunjukkan bahwa dia (Muhammad SAW) adalah orang sederhana yang mengajarkan sikap kesederhanaan bagi kita sekalian.

Manusia yang paripurna dan mulia ini telah memperlihatkan sifat-sifat yang luar biasa pada masih kecil, pun beranjak pada usia mudanya ia lemah lembut halus mengasihi, dan mencintai perdamaian serta lebih suka menyendiri. Pada umur Sembilan tahun dia menjadi orang yang tafakur, berlama-lama menyendiri, merenung keindahan alam dan keajaiban ciptaan-Nya. Pada umur duabelas tahun, Nabi Muhammad SAW, dibawa oleh pamannya (Abu Thalib), ke Syiria dan Basrah yang biasanya menyusuri rute Kota Mekah dan kota-kota lain. Pada umur dua puluh tahun, Nabi Muhammad SAW, menyertai pamannya dalam berbagai kegiatan, tidak saja hanya dengan berdagang, melainkan pelbagai aktivitas lainnya.

Baca Juga:  Karl Marx: Dinamika Kapitalisme dari Segi Filsafat, Sosiologi dan Ekonomi

Berkat reputasi ketulusan, kejujuran, keobjektifan dan rasa keadilan inilah yang menyebabkan seorang saudagar kaya raya terkemuka dan mulia (Khadijah binti Khuwailid) meminta Nabi Muhammad Saw, sebagai pembendaharaan urusan-urusannya. Dan belakang Nabi Muhammad SAW, mempersunting Khadijah sebagai istrinya. Inilah awal mula gerakan peradaban dibangun mulai dari keluarganya.

Ketika Nabi Muhammad SAW, berumur 35 (tiga puluh lima) tahun ia dimintai oleh penduduk Mekah untuk meninggikan letak batu mulia (Ka’bah) yang pada waktu itu sedang dipugar. Andaikan beliau memintakan para anggota suku yang mana saja menolong meninggikan batu tersebut, maka suku-suku yang lain pasti akan berkeberatan dan akan pecah konflik atas pelbagai suku tersebut. Adalah suatu pertanda kebijaksanaan dan kemuliaannya, beliau menyuruh meletakkan batu itu di atas kain dan meminta tiap-tiap anggota suku untuk mengangkat kainnya serta menundukkan batu mulia itu di tempatnya.

Pada umur empatpuluh tahun Nabi Muhammad SAW diangkat sebagai Nabi, oleh Allah SWT. Ketika suatu kejadian beliau tengah menyendiri dari kota Mekah untuk berkhalwat di pegunungan, wahyu turun kepadanya, ia berada dalam “Goa Hira” di Jabal al-Nur “Gunung Cahaya”, ketika wahyu itu muncul pada hatinya, beliau juga melihat malaikat utama Jibril AS, yang menutupi keluasan cakrawala. Malaikat utama itu memerintahkan Nabi Muhammad SAW, untuk melafadzkan “Iqra” perintah (membaca). Yang pada hari ini kita kenal dengan surah al-Alaq. Wahyu ketika turun menggema ke seluruh kosmos serta langit dan mengubah suasana di sekitar Nabi. Begitulah Firman-Nya, ketika hadir pada kedirian Sang Nabi agung.

Disitulah wahyu pertama hadir pada Nabi Muhammad SAW. Sastra Tuhan pertama yang sangat substansial –filosofis, wahyu itulah mula-mulanya diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW dengan seruan bacalah. Membaca realitas, bacalah manusia di sekitarmu, bacalah segala ciptaan-Nya, bacalah, bacalah dan bacalah. Di dalam ilmu Shorof  lafadz “Bacalah” merupakan fi’il Thulatsi Mujarrad Bab ke tiga, dan kata “Bacalah” merupakan fi’il amr yang berarti “Perintah”, perintah baca-membaca tersebut merupakan pondasi dasar dalam keberagamaan kita sebagai umat Muslim.

Terlepas dari wahyu kedua turun kepada Nabi Muhammad SAW, tentang al-Kalam (demi pena), yang dapat dimaknai sebagai “tulisan” oleh para mufassir (ahli tafsir), oleh sebab itulah, wahyu  yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW, adalah seruan tentang membaca menulis sebagai lukus penjemputan peradaban yang mencerahkan kepada umat manusia. Prinsip itulah Islam mengalami kejayaan pada masa klasik yang kita sebut sebagai “cahaya dari timur”.

Baca Juga:  Dramaturgi Penanganan Pandemi

Sekiranya Bayt al-Hikmah (Rumah Kebijaksanaan) pada masa itu tidak dibakar, maka kondisi dunia dan umat Muslim pada hari ini tidak kehilangan jati dirinya. Begitulah, masa lampaun adalah milik mereka yang menciptakan, bukan milik kita. Milik kita adalah semua yang kita ciptakan, sekalipun kita tidak mungkin melompat dari sebuah kekosongan. Di sinalah perlunya kita belajar sejarah secara cerdas, jujur dan kritikal.

Itulah potret dan contoh yang Nabi Muhammad SAW, ajarkan kepada kita sekalian, sekalipun kita hidup pada masa sekarang yang tidak sama sekali bertemu Nabi SAW secara lansung, minimal kita bisa belajar dari beberapa Sirahnya yang ditulis oleh para penulis yang jujur dalam menempatkan Nabi sebagai manusia yang autentik pada sisi Abdullah dan Khalifah. Dan hanya karena Nabi Muhammad SAW, sebagai hamba Allah yang sempurna, tidak hendak terkekang oleh kelemahan – kelemahan manusia yang remeh seperti rasa dendam. Berkat keluhuran budi dan kerahiman hati beliau menerima semua penentangnya ke dalam haribaan Islam.

Kiwari dini, sekalipun kita tidak menyaksikan sosok Nabiyullah Muhammad SAW, secara lansung, akan tetapi nilai-nilai autentik lagi orisinil yang telah beliau ajarkan kepada kita, semestinya kita teladani dengan sebaik mungkin. Dari model berpikir, berkata dan bertindaknya yang menjadikan hujjah kita dalam mendaras kehidupan keluarga dan kebermasyarakatan kita. Nabi telah mencontohkan dan kita-kitalah yang sekarang melanjutkannya.

Akhir – akhir ini, keberIslaman kita seakan-akan memiliki citra yang kurang elok dilihat, Islam yang diajarkan Nabi adalah Islam ramah, kini cenderung marah-marah. Islam yang diajarkan Nabi adalah merangkul, kini cenderung memukul. Islam yang diajarkan Nabi adalah Islam inklusif, kini cenderung tidak menghargai perbedaan. Islam yang dijarkan Nabi adalah mencintai sesama manusia, kini Islam cenderung memusuhi sesama kita. Benar kata guru saya: “Muslim yang tidak mewujudkan nilai-nilai Islam dalam dirinya, tak ubah seperti Kera bermahkota emas. Memiliki Islam, tetapi tidak menghiasi diri dengan nilai-nilai Islam, itu tidak ada artinya.” Yeah, begitulah barangkali.

Pengeksploitasi alam dan juga perempuan, merampok uang rakyat, penyelewangan amanah, jual beli profesi, melegalkan prostitusional, menyokong status quo, mengamini agenda peperangan, menolak perdamaian, mengintimindasi yang minoritas keagamaan, menghardik yang tidak sekeyakinan, serta membunuh atas nama agama. Sebenarnya Nabi siapa yang kita belajar? Nabi siapa yang kita jadikan teladan hidup kita? Sudahlah, itu tidaklah terlalu penting. Seketika saya teringat, FirmanNya dalam hadits qudsi “Hai Adam, seandainya tidak ada Muhammad SAW, niscaya aku tidak akan menciptakanmu ataupun bumi dan langit.” Allahumma Shalli Alaa Muhammad.

Ridwan Harun

Santri di Bagenda Ali Institute

Add comment

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.