Memaknai Kembali Politik Akar Rumput4 min read

Politik akar rumput, lebih tepatnya disebut sebagai politik masyarakat kelas bawah, pada hakikatnya merupakan politik yang dibentuk dari kondisi sehari-hari atas apa yang mereka alami dalam kehidupan sosial, ekonomi, politik dan pembangunan. Dalam konteks ini, saya tidak saja menempatkan pemaknaan politik akar rumput hanya pada urusan-urusan politik yang sifatnya elektoral. Melainkan lebih luas dari itu, yakni seperti saya katakan, dibentuk melalui corak prilaku mereka atas apa yang dialami.

Sebelum lebih jauh membahas dan menjangkar analisis-argumentasi saya terhadap politik akar rumput, saya ingin menegaskan dua poin dari tulisan ini. Pertama, tulisan ini hendak menegaskan bahwa, politik akar rumput harus berdiri dan merangkul elemen-elemen masyarakat yang termarjinalkan akibat dari agenda kepentingan elit yang menggerus kepentingan kelompok masyarakat kelas bawah.

Kedua, saya membuka ruang perdebatan kritis-konstruktif bila hendak menyanggah argumen dalam tulisan ini, dengan argumen utama saya, bahwa, agenda politik dan pembangunan di daerah hari ini telah terseret kedalam kepentingan ekonomi-politik dari aktor-aktor yang memiliki koneksi politik dengan kekuasaan dengan tujuan utamanya mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya. Bahkan disamping itu, mereka membangun strategi yang kuat dalam rangka meminggirkan dan menumbangkan kekuatan dari bawah yakni dari gerakkan politik akar rumput yang mencoba membendung agenda ekonomi-politik mereka.

Jadi, menurut saya, ditengah agenda politik dan pembangunan yang mulai dikuasai oleh aktor-aktor dominan yang memiliki relasi dengan kekuasaan, pemaknaan terhadap politik akar rumput menjadi penting. Dalam kerangka yang lebih sederhana, politik akar rumput akan membantu kita memotret lebih dekat bagaimana kelompok masyarakat kelas bawah mesti diorganisasikan serta dirangkul agar kekuatan perlawanan mereka semakin kuat, mandiri, massif dan terorganisasi dengan baik. Tujuannya, hendak menghancurkan tatanan politik, ekonomi, pembangunan dan institusi yang selama ini dtersandera dan ikuasai oleh kepentingan aktor-aktor yang pada intinya hanya mementingkan kepentingan parsial semata.

Pada tingkat seperti ini, jika kita amati beberapa peristiwa politik, ekonomi dan pembangunan di daerah, hampir pasti kita akan sepakat dan mencapai satu kesimpulan paling umum, bahwa, agenda kepentingan politik, ekonomi, dan pembangunan telah dicengkram oleh kepentingan aktor-aktor tertentu yang punya jaringan politik dengan kekuasaan. Jaringan politik seperti ini tidak dibentuk begitu saja, melainkan ada akumulasi politik yang membentuknya, seperti misalnya, karena menjadi sponsor politik atau penyedia modal dalam Pemilu, Pilkada, Pileg dan Pilkades serta memiliki hubungan kekerabatan (kekeluargaan) dengan kekuasaan.

Di sinilah pentingnya mengapa politik akar rumput perlu ditinjau kembali melalui usaha pengorganisasian, agar memiliki satu konsep perlawanan yang sama dengan tujuan menghancurkan tatanan yang korup di daerah. Hal ini perlu dillakukan, karena jika dibiarkan, menurut saya, kehadiran aktor-aktor yang ambisius, korup dan munafik semakin merajalela dan semakin mengontrol agenda kebijakan. Politik akar rumput, harus mampu merangkul dan memiliki satu kesadaran politik yang sama, bahwa mereka telah tersandera dan dibajak oleh kepentingan dan agenda dari aktor-aktor yang sedang merampas kesejahteraan mereka.

Perlawanan

Perlu diingat, politik akar rumput tidak berhenti pada bagaimana mereka ditata dan dikonsepkan untuk memahami kondisi mereka. Mereka harus berani mengambil posisi dan aksi nyata dalam rangka melakukan perlawanan. Pada tingkat demikian, sebagaimana merujuk pada kondisi di Spanyol kontemporer, misalnya, kaum miskin di desa masih menganggap bahwa adalah hak mereka untuk mencuri hak milik kaum kaya, dengan alasan bahwa kelimpahan beberapa orang tidak bisa dibenarkan ketika orang lain masih amat kekurangan (sebagaimana dikutip dari James. C. Scott, 1993:147).

Jika dirujuk pada kondisi di Spanyol kontemporer, sebenarnya hari ini masyarakat akar rumput harus berani melihat realitas sosial, ekonomi, pendidikan, kesehatan yang telah mulai dikomersialisasikan. Dalam konteks yang lebih sederhana, kita melihat bagaimana sebetulnya akses untuk mendapatkan pendidikan yang layak hari ini masih didominasi oleh kelompok-kelompok dari kalangan kaya. Sementara, negara dituntut harus memfasilitasi semua warga negara untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Artinya, jika dibaca, sebenarnya kita sedang dirantai oleh kepentingan-kepentingan yang sangat besar yang memiliki agenda kepentingan ekonomi dan politik yang besar.

Kondisi seperti ini tidak banyak dipahami oleh masyarakat kita terutama masyarakat akar rumput. Sementara itu, politik akar rumput tidak mampu membaca hal ini sebagai satu praktik ekonomi-politik yang telah mencengkram kehidupan kita. Harus diakui bersama, pada tempat lain, politik akar rumput bahkan kehilangan modal sosial yang menjadi alat perlawanan, yakni solidaritas sebagai satu kelompok yang selama ini rentan dibajak oleh kekuatan yang super besar. Sialnya, politik akar rumput malah tersandera pada perpecahan yang menyebkan sulit untuk membangun kekuatan bersama melawan praktik demikian.

Kondisi inilah yang saya amati, bahwa, politik akar rumput harus dibangkitkan kembali serta diorganisasikan agar mereka memahami bagaimana mereka menghadapi kekuatan dari aktor-aktor yang korup. Pada tingkat seperti ini, perlawanan harus terus digaungkan serta terus dikampanyekan, baik melalui media sosial, opini publik, dan bentuk perlawanan lain. Hal ini sangat penting untuk tetap memposisikan politik akar rumput sebagai satu kekuatan yang memiliki nilai tawar.

Saya percaya, politik akar rumput bila terus dimaksimalkan serta didiskusikan ditingkat masyarakat bawah, hal ini akan cukup memberikan efek yang berpengaruh terhadap pemahaman atas kondisi yang sedang mereka hadapi dan intensitas perlawanan mereka. Hal ini harus dilakukan lebih serius dengan skala yang lebih luas, bahwa hari ini kita sebenarnya sedang dirantai oleh agenda kepentingan aktor-aktor yang munafik, korup dan memiliki naluri ingin menguasai semua sumber daya.

Anggota PMKRI Cabang Malang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like