Mengeja Indonesia

Menjalin Wawasan dan Budaya Falak Indonesia6 min read

Ilmu astronomi atau falak adalah suatu ilmu yang empiris yang pengembangannya melalui berbagai macam disiplin ilmu. Ilmu astronomi adalah ilmu yang membutuhkan kecakapan dalam bidang ilmu-ilmu hitung matematika. Ilmu falak juga membutuhkan tinjauan hukum dari aspek agama (ilmu fiqh, tafsir, Al-Quran, hadis dan bahasa Arab).

Lebih lanjut, Ilmu falak membutuhkan aspek pengkajian dalam bidang tinjauan filosofis dan historis baik itu yang menyangkut masalah geografis maupun sosiologis. Dengan demikian, ilmu astronomi atau falak dapat dijadikan sebagai pintu gerbang untuk memasuki budaya Intelektual Islam yang telah lama hilang. Melalui ilmu falak ini umat Islam harapannya kembali bangkit untuk menguasai segala ilmu dan teknologi. Baik itu ilmu agama maupun ilmu alam.

Astronomi (falak) mungkin salah satu bahkan satu-satunya ilmu klasik yang keberadaannya hampir setua peradaban manusia itu sendiri. Lahir bersama dengan kekaguman dan rasa keingintahuan manusia akan dunia langit dan segala sesuatu yang ada disana. Kekaguman yang melahirkan pencarian panjang.

Tidak masalah apakah pencarian itu kemudian berbuah pada sebuah hasil yang saintifik ataukah ia hanya berhenti pada kaitan budaya dan kehidupan manusia. Membawa manusia pada kemajuan dan peradaban astronomi melintasi batas budaya dan kepercayaan, berkelanjutan menjadi ilmu pengetahuan yang membawa manusia menjelajah alam semesta yang mungkin di masa lampau tidaklah pernah terbayangkan.

Astronomi sebenarnya sudah dikenal luas oleh manusia sejak masa sebelum masehi, tepatnya abad 7 SM di kawasan Yunani kuno, namun dalam perkembanganya astronomi menjadi ilmu pengetahuan yang hanya diketahui dan dipahami oleh beberapa orang tertentu saja (esoteric science). Di Agama Islam sendiri, munculnya cendikiwian astronom muslim ditandai dengan penaklukan Alexandria pada tahun 642 M.

Beberapa nama seperti Abu Abdullah Muhammad ibn Jabir ibn Sinan Al-Battani atau Abu Utsman Amr ibn Bahr Al-Kinani Al-Fuqaimi Al-Bashri adalah salah satu dari sekian nama cendekiawan muslim yang meninggalkan catatan dan wawasan astronomi (falak). Terlihat dari Kitab Al-Zij karangan dari Al-Battani yang mengurai tentang alam semesta dan seisinya. Ia bahkan berhasil menemukan orbit Bulan dan planet, dan menetapkan teori baru untuk menentukan kemungkinan terlihatnya Bulan baru pada saat pergantian Bulan.

Abstrak Pragmatisme, barangkali itulah penyakit yang sedang mengrogoti umat muslim, khususnya muslim Indonesia. Tidak terkecuali para ilmuwannya, termasuk ilmuwan falak. Dasar-dasar fundamental yang sudah dibangun dan dikembangkan secara masif oleh ulama salafussalih seakan-akan sirna dan kita tidak bisa mewarisinya. Keterampilan-keterampilan baik yang sudah menjadi budaya dan akal budi seolah-olah tidak lagi pantas disebut sebagai tradisi. Seperti suatu bangsa yang tidak mau membungkukkan kepala dan badan, sungkem, serta duduk dengan penuh tabik sebagai rasa hormat dan adab kepada para leluhurnya. 

Baca Juga:  Urgensi Filsafat dalam Beragama

Demontrasi yang sudah menjadi budaya dari zaman dahulu sampai sekarang adalah salah satu buah hasil kajian dan pengamatan nenek moyang. Tergantung bagaimana generasi penerusnya dalam mewadahi, memahami dan mengembangkan sesuai kebutuhan masyarakat dan zaman. Tersebut misalnya Ilmu Falak yang membuahkan beberapa kemanfaatan bagi Umat Muslim, seperti mengenai awal sholat, arah kiblat, dan sebagainya.   

Ironisnya peristiwa-peristiwa tersebut masih jauh untuk bisa dikatakan dari koridor “al-maslahah al-ammah”. Sehingga seolah peranan Ilmu Falak dalam memberitahukan waktu sholat, arah kiblat, dan hilal hanya sebatas penyampaian belum sampai batas kemanfaatan. Ada banyak hal yang melatarbelakangi fenomena tersebut.

Di Indonesia misalnya, beberapa kepentingan kerap mewarnai isu-isu yang kalau dilihat dari kacamata masyarakat adalah suatu hal yang wajar. Wajar dalam artian karena mungkin tidak ada pengaruh dan dampak yang begitu serius dan tampak dalam jangka panjang. Tetapi kalau sedikit mau melihat secara lebih luas, banyak hal yang seharusnya tidak mungkin terjadi hanya karena perbedaan pendapat dan teori.

Salah satu kewajaran yang kerap terjadi di Indonesia adalah berbedanya awal masuk Ramadhan. Apalagi disinyalir dengan berbedanya golongan (ormas). Lebih parah lagi yang terjadi adalah sebuah metode bisa berubah menjadi aliran yang menjadi penciri dari organisasi kemasyarakatan. Sehingga peluang terjadi gesekan antara ormas semakin melebar. Hanya karena beda metode yang dipakai, ormas A memakai metode rukyatul hilal sedangkan ormas B memakai metode hisab.

Jika melihat hadist Nabi, jelas himbauannya berupa rukyah dulu baru hisab. Jika melihat dari sudut benar atau salah, tentu ormas A yang benar karena selama ini memakai metode rukyatul hilal. Bukan berarti ormas B salah lantaran tidak mengikuti perintah Nabi. Tentunya diantara kedua ormas punya jawaban dan alasan masing-masing di dalam memilih dan menggunakan metode tersebut. Merupakan suatu kebebasan di dalam mengambil dan mengadopsi pendapat dari ulama salafussalih dengan tetap memperhatikan kriteria dan etika.

Lantas, bagaimana kita menyikapi perbedaan tersebut. Memimalisir atmosfer fanatik dan geliat benci. Juga menanamkan dan memperbaiki ukhuwah antara sesama makhluk ilahi. Sudah sepatutnya sebagai warga muslim menumbuhkan kesadaran budaya falak secara rapi dan terpuji. Mengaplikasikan apa yang sudah termaktub dalam catatan pengetahuan ulama salaf dengan laik dan baik, tentunya juga sesuai dengan keadaan dan kebutuhan zaman.

Baca Juga:  Implementasi Budaya Astronomi Indonesia

Beberapa tahun lalu, pemerintah (Menag KH. Lukman Hakim Saifuddin) memberikan solusi di dalam menyikapi perbedaan. Dengan mengumpulkam para Menag dari berbagai negara tetangga, tepanya Brunei Darussalam, Singapura, dan Malaysia disepakatai dengan nama MABIMS. Merupakan suatu harapan bahwa tatanan semangat konsensus harus dibangun, melihat berbeda-bedanya metode yang dipakai, ada hilal, hisab ataupun usaha menggabungkan keduanya, imkanur rukyah.

Walaupun akhir-akhir ini tidak ada kabar mengenai konvergensi metode dan teori dalam pengaplikasian ilmu falak secara profesional. Setidaknya hal tersebut bisa menjadi pelajaran dan semangat dalam menyemarakkan Unity of Sciences. Bisa terlihat dengan mengintregasikan antara metode rukyah dan hisab, setidaknya bisa terjadi fusi antara dua sisi yang berbeda. Pembauran antara cara tradisional yaitu rukyah (melihat hilal setelah matahari terbenam) dengan semi modern (hisab menggunakan komputer dengan tingkat presisi dan akurasi yang tinggi).

Fenomena-fenomena diatas cukup menggambarkan bagaimana kehidupan manusia tidak bisa lepas dari peranan ilmu astronomi (falak). Di zaman sekarang, era revolusi industri 4.0 yang hampir semuanya berbasis IoT (Internet of Thing) tidak sedikit dari masyarakat kita yang mulai meninggalkan catatan (warisan) kebudayaan yang telah turun temurun dari nenek moyang. Adanya pengikisan dan pergeseran tersebut disebabkan karena semakin gencar-gencarnya perkembangan tekhnologi. Juga perubahan dalam diri manusianya yang menginginkan apa-apa serba praktis.

Dengan mengalkuturasi kebiaasan baru tanpa meninggalkan budaya lama, tentunya bisa menjadi peluang di dalam menyemarakkan Unity of Science. Apa-apa yang sudah diwariskan secara turun temurun dari nenek moyang bisa dimanfaatkan dengan baik dan laik supaya tidak hilang dari permukaan. Mengonvergensikan antara dua titik secara masif sehingga terciptalah suatu keaadan baru yang adaptif dan inklusif dengan keadaan.

Sebagai manusia generasi millenial kiranya mampu berperilaku ­balance (seimbang) dan justice (adil). Dalam artian tidak semuanya di-gebyah uyah. Tidak bisa dikatakan budaya salaf sudah tidak relevan untuk zaman sekarang ataupun terlalu kekinian (canggih) dinilai kebarat-baratan. Justru antara keduanya bisa menjadi kausalitas munculnya peradaban baru dan pembaharuan. Memahami tentang Unity of Sciences juga meliputi tentang sebuah hal bahwa setiap ilmu yang ada tidak dapat berdiri dengan sendirinya.

Ada keterikatan dan keterkaitan ilmu satu dengan ilmu lainnya. Dalam artian lain bahwa setiap ilmu bersifat multidimensional dimana dalam penulisan dan kajian sebuah cabang ilmu membutuhkan keterlibatan dan bantuan dari ilmu bantu lainnya.

Muhammad Lutfi Nanang Setiawan

Mahasiswa UIN Walinsongo Semarang

Add comment

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.