Mengeja Indonesia

Pola Berfikir Sempit dalam Menghadapi Wabah3 min read

Masalah terbesar di dunia kita saat ini bukanlah pandemi. Korupsi, ketidaksetaraan sosial global atau kerusakan lingkungan tidak. Akar dari semua masalah ini adalah kurangnya pemikiran. Semua masalah lain berasal dari masalah ini.

Karena pemikiran sempit sekelompok orang di China, pandemi muncul dan menyebar. Korupsi dan ketimpangan sosial global terjadi karena pemikiran sempit sekelompok orang yang tamak dan tidak beradab. Diskriminasi, aktivisme dan terorisme juga terjadi karena kurangnya pemikiran. Hal yang sama terjadi dalam hal kerusakan lingkungan.

Kesempitan Pikir

Apakah pemikiran sempit itu? Orang cenderung melepaskan pendapatnya sendiri dan menolak untuk melihatnya dari sudut pandang orang lain. Pemikiran sempit dan kurangnya empati, yaitu kemampuan untuk memahami perasaan orang lain. Akibatnya, orang tersebut tidak dapat mempertimbangkan pendapat orang lain. Meskipun dia tidak benar-benar berdasarkan akal sehat atau fakta yang ada, dia selalu merasa benar.

Orang dengan pemikiran sempit tidak mau berubah. Itu tidak membuka kemungkinan baru yang muncul. Ia penuh prasangka terhadap gaya hidup yang berbeda atau perbedaan pendapat. Masalah terbesar adalah ketika orang-orang yang berpikiran sempit sedang berkuasa.

Kebijakannya akan merusak kepentingan bersama. Perbedaan gaya hidup dan opini akan terancam. Masyarakat luas berpeluang mengalami kekacauan politik dan menjadi masyarakat yang takut akan perilaku otoriter. Pemikiran sempit telah menjadi cara hidup baru yang layak diikuti.

Jika orang-orang sempit berpikir bahwa mereka adalah mayoritas, masyarakat dalam bahaya dihancurkan. Hukum dan keadilan menjadi tidak berdaya. Diskriminasi terhadap orang-orang dengan gaya hidup dan opini yang berbeda akan menjadi hal yang biasa. Kekerasan dan ketidaktahuan akan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Kurangnya pemikiran menjadi masalah. Banyak orang tertular wabah. Pendidikan tinggi dan status ekonomi tidak menjamin masyarakat terhindar dari penyakit ini. Banyak juga orang sederhana dengan tingkat pendidikan sedang, yang justru bisa menghindari pola pikir sempit.

Akar Kesempitan Berpikir

Mengapa orang berpikir sempit? Akar tersebut dapat dipecah menjadi tiga akar yaitu akar sosiologis, akar epistemologis dan akar antropologis. Akar sosiologis mengacu pada lingkungan sosial seseorang. Ini juga mengacu pada pola siswa, contoh keluarga dan masyarakat sekitar.

Baca Juga:  Kita Terlalu Malu Mengakui Bahwa Kita Adalah Bangsa yang Besar

Keluarga yang berpikiran sempit akan mengajari anak-anak mereka pikiran yang tertutup. Secara umum, budaya dan agama merupakan standar mutlak yang tidak dapat dipertanyakan. Absolutisme kuno ini adalah sifat dari pemikiran sempit. Dalam masyarakat terbelakang, dengan cara berpikir yang tidak rasional dan akal sehat yang minim, pemikiran sempit adalah satu-satunya hal yang dapat diterima.

Asal epistemologis mengacu pada cara berpikir orang. Ketika orang tidak memiliki pengetahuan dan informasi yang cukup, mereka akan berpikir secara sempit. Itu tidak membaca. Dia menolak untuk melihat budaya lain yang lebih maju.

Namun, ada paradoks di sini. Di satu sisi, kita hidup di era informasi. Segala macam informasi mudah didapat dan murah. Tapi, di sisi lain, seringkali kita terjerumus ke dalam informasi yang salah dan akhirnya salah paham.

Banjir informasi juga membuat kita kekurangan waktu dan tenaga untuk berefleksi. Informasi hanyalah kumpulan fakta dan tidak memiliki arti. Pengetahuan yang kaya. Namun, kebijaksanaan hampir punah.

Akar antropologi mengacu pada pemikiran sempit manusia. Nietzsche adalah seorang pemikir Jerman yang telah lama memperingatkan masyarakat bahwa mereka harus percaya pada hal-hal tertentu dalam hidup. Dalam ketidakpastian kehidupan, doktrin moral budaya dan agama tampaknya menjadi penting. Ketakutan akan ketidakpastian dan keinginan untuk percaya membuat orang mempersempit pikiran mereka.

Tingkat pendidikannya mungkin tinggi. Kondisi ekonomi sedang bagus. Tetapi jika orang hidup dalam ketakutan yang tidak masuk akal, mereka akan melakukan kekerasan. Pikirannya menjadi sempit.

Melatih Keterbukaan

Ketiga akar di atas bisa menjadi pemetaan perubahan. Model siswa harus terbuka terhadap perbedaan pendapat. Masalah kritis harus didorong dan tidak dapat dijajah. Ini berlaku dari membesarkan anak dalam keluarga hingga pemerintahan politik sehari-hari.

Informasi yang disebarluaskan di masyarakat juga harus dikelola dengan baik. Berita palsu dan ujaran kebencian harus diberantas. Masyarakat juga diajak mencari informasi yang mendalam. Hanya dengan cara inilah informasi dapat menjadi pengetahuan dan membentuk kebijaksanaan hidup.

Musuh dari pemikiran sempit adalah keterbukaan. Hanya ketika orang belajar ketidakpastian dalam hidup, maka keterbukaan bisa dimungkinkan. Ketidakpastian tidak akan dihancurkan oleh kepastian palsu, tetapi sebagai kemungkinan penciptaan. Orang memuji perbedaan pendapat dan gaya hidup dengan warna kehidupan itu sendiri.

Baca Juga:  Merajut Partisipasi Pengawasan Pemilu

Masa depan umat manusia bergantung pada keterbukaan pemikiran manusia itu sendiri. Akankah dia menjaga pikirannya tetap sempit dan menyebabkan konflik dan kekacauan dalam hidup bersama? Akankah pikirannya tetap sempit dan membiarkan kerusakan lingkungan terus meningkat? Inilah yang benar-benar harus kita pertimbangkan.

Add comment

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.