Mengeja Indonesia

Mampukah Vaksin Menyelamatkan Manusia dari COVID-194 min read

Angka COVID-19 di Indonesia semakin bertambah setiap harinya. Bahkan pada 12 Januari 2021, angka kasus positif sebanyak 10.047 orang dengan positivity rate mencapai 24,78%. Artinya, 1 dari 4 orang yang dites terinfeksi virus SARS-CoV-2. Angka ini jauh di atas standar WHO yang hanya 5%. Semakin banyak kasus positif, maka semakin banyak yang harus dirawat di rumah sakit, bahkan semakin tinggi kebutuhan ICU. Hal ini akan meningkatkan beban rumah sakit yang sudah berat. Sejalan dengan kabar kurang mengenakkan tersebut, ada angin segar dari dunia vaksin.

Sudah tersebar luas berita bahwa presiden, beberapa pejabat publik, publik figur, dan tokoh agama dijadwalkan mendapat dosis pertama vaksin COVID-19 dari Sinovac pada tanggal 13-15 Januari 2021. Hal ini akan disusul vaksinasi COVID-19 pada populasi yang terpapar paling sering, yaitu tenaga kesehatan dan petugas pelayanan publik. Vaksinasi sendiri bertujuan agar terbentuk herd immunity. Jadi, Herd immunity adalah upaya untuk menciptakan masyarakat yang kebal dari penyakit menular tertentu. Caranya adalah dengan memastikan sebagian besar populasi–sekitar 60-70 persen– kebal terhadap penyakit menular tertentu.

Sebenarnya ada dua cara pembentukan kekebalan tubuh manusia terhadap penyakit infeksi, yakni dilakukan secara alamiah melalui menderita langsung penyakit tersebut atau secara buatan melalui imunisasi. Herd immunity alami tidak hanya menyebabkan terjadinya sakit atau penyakit, tetapi individu yang terkena infeksi alami juga berpotensi menjadi agen penularan. Semakin banyak yang terinfeksi, maka akan semakin besar angka kasus yang harus dirawat, bahkan akan semakin besar kebutuhan ICU. Kondisi tersebut akan semakin memakan banyak korban jiwa sampai pada tahap penularan dapat berhenti setelah individu yang tersisa dapat bertahan hidup dan memiliki kekebalan.

Dulu, ketika Inggris dilanda epidemi cacar pada 1790-an, sebanyak 30 persen orang meninggal akibat penyakit menular ini, terutama anak-anak. Mereka yang sembuh harus rela kehilangan penglihatan, atau memiliki bekas luka di seluruh badan. Kondisi Inggris saat itu mungkin lebih buruk dari hari ini, ketika dunia menghadapi COVID-19. Kita sudah memiliki banyak sumber daya, baik teknologi, maupun kemampuan manusia dalam mendiagnosis dan menganalisis data-data tentang pandemi ini.

Baca Juga:  Terorisme Berbasis Agama, Kemanusiaan dan Literasi Agama

Herd immunity dengan imunisasi yang dipilih oleh pemerintah adalah dengan memberikan vaksin COVID-19 pada penduduk Indonesia. Setidaknya, harus ada 70% penduduk Indonesia menjalani vaksinasi agar terbentuk kekebalan kelompok tersebut. Vaksin adalah suatu produk yang bekerja menstimulasi sistem imun tubuh agar menghasilkan kekebalan terhadap penyakit tertentu, sehingga penerimanya dapat terlindungi dari penyakit tersebut. Sebagian besar vaksin dimasukkan ke dalam tubuh melalui suntikan, tapi ada juga yang melalui jalan lain seperti vaksin polio yang diteteskan ke dalam mulut anak.

Saat seseorang terkena penyakit, sistem kekebalan tubuhnya akan “berperang” untuk melawan penyakit tersebut, sehingga akan terbentuk antibodi. Hal serupa juga terjadi pada imunisasi aktif dengan vaksinasi. Setelah vaksinasi, maka komponen dari vaksin akan memicu sistem kekebalan tubuh untuk bersiap menghadapi penyakit tertentu. Dengan demikian, apabila di masa depan kita terinfeksi penyakit tersebut, sistem kekebalan tubuh sudah siap untuk melawan dan mengalahkannya, sehingga menjadi kebal atau tidak tertular. Atau, jika sakit, gejalanya tidak berat. Selain aktif, ada juga imunisasi pasif, yaitu berupa pemberian antibodi dari orang yang sudah pernah sakit kepada orang yang lainnya, atau misalnya secara alamiah dari ibu ke bayi yang sedang dikandungnya, namun biasanya kekebalan ini tidak berlangsung lama.

Khusus tentang herd immunity, kekebalan kelompok inilah yang akan memberikan perlindungan tidak langsung bagi orang-orang yang tidak kebal terhadap penyakit menular tersebut, juga pada orang-orang yang tidak bisa divaksin. Orang-orang yang alergi terhadap komponen vaksin, menderita penyakit penyerta sebelumnya, atau, pada program vaksinasi COVID-19 ini, anak-anak, lansia, dan ibu hamil, belum bisa mendapat vaksin baru ini. Namun penelitian ini masih berkembang. Sehingga, nantinya, orang-orang yang divaksin-lah yang melindungi saudara, kerabat, sahabat kita yang tidak bisa mendapat vaksin.

Semakin banyak orang-orang mendapatkan vaksin, penyebaran penyakit akan semakin sedikit. Kalaupun seseorang itu tetap terpapar dengan penyakit tersebut, dengan sudah mendapatkan vaksin paling tidak penyakit yang dideritanya tidak akan separah jika tidak mendapatkan vaksin.

Yang harus kita ingat saat ini, prinsip utama produksi vaksin sesuai arahan Presiden Joko Widodo, diantaranya memastikan pengadaan dan pelaksaanaan vaksinasi betul-betul aman dan efektif melalui dan mengikuti kaidah-kaidah ilmiah berdasarkan data sains dan standar kesehatan. Jadi, ketika vaksin sudah selesai uji klinis fase 3, dan BPOM pun sudah mengeluarkan izin edar untuk penggunaan darurat, maka vaksin ini terbukti efektif dan aman. Ini adalah usaha kita bersama untuk membentuk kekebalan kelompok.

Baca Juga:  Catatan Syawal: Banyak Menebang Hutan Banyakpula Penderitaan

Kami himbau, di samping vaksinasi, tetap lakukan adaptasi perilaku bersih dan sehat seperti menerapkan protokol kesehatan (pakai masker, jaga jarak dan hindari kerumunan, serta mencuci tangan),  yang diikuti juga olahraga yang cukup, makan makanan bergizi secara seimbang, serta tidak lupa menjaga kesehatan mental. Stay safe!

Dyah Anugrah Pratama

Seorang istri, putri, dan kakak, yang juga adalah Dokter Umum di DKI Jakarta. Penyuka diskusi (terutama dengan suami), pecinta harum buku baru, dan tertarik dengan dunia literasi. Saat ini sedang rindu dengan suara debur ombak dan lagu klasik di toko buku.

Add comment

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.