Mengeja Indonesia

Jadi Organisator Kampus Kepentingan Siapa?3 min read

Di tahun ajaran baru setiap perguruan tinggi di seluruh Indonesia melakukan sebuah penerimaan mahasiswa baru, dimana tolak ukur keberhasilan kampus itu di lihat dari seberapa banyak peminat yang masuk kampus tersebut, hal tersebut adalah hal yang sangat wajar di lakukan setiap perguruan tinggi apakah kampus tesebut layak atau tidak hingga banyak peminatnya.

Tapi hal tersebut menurutku wajar-wajar saja, karna zaman sekarang  yang dilihat  dari almaternya bukan dari skill yang di miliki oleh mahasiswa nya jadi gak heran jika banyak lulusan perguruan tinggi terkenal itu mudah untuk mencari pekerjaan di banding kampus yang biasa-biasa saja, jadi orang wajarkan sehebat apapun dirimu jika tak punya orang dalam kau akan tetap disitu-situ.

Jadi kali ini saya akan beropini tentang organisasi yang ada di  kampus dimana di setiap perguruan tinggi itu memiliki berbagai macam organisasi baik extra maupun intra, tapi sebelum panjang lebaran saya akan sedikit menjelaskan tentang perbedaan organisasi intra dan extra agar kalian paham tentang perbedaanya.

Organisasi ekstra kampus atau eksternal kampus merupakan organisasi yang tidak berada dibawah naungan lembaga kampus, melainkan berada diluar kampus. Organisasi ini banyak beraktifitas diluar kampus, memiliki jaringan dan kepengurusan yang berjenjang atau bertingkat hingga pengurus nasional.

Tapi setelah Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 26/DIKTI/KEP/2002 tentang Pelarangan Organisasi Ekstra Kampus yang akhirnya organisasi extra tidak boleh melakukan kegiatan apapun didalam kampu, dimana organisasi extra tersebut yaitu PMII, GMNI, HMI, IMM dan organisasi lainya yang ada di luar kampus.

Selanjutnya yaitu organisasi intra yaitu suatu Organisasi intra kampus memiliki tugas pokok dan fungsi (tupoksi) untuk mengurus wilayah kemahasiswaan dalam bidang legislasi dan eksekutif.

Organisasi intra kampus meliputi : Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Senat Mahasiswa (SEMA), Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) dan lainnya. Yang disitu yang seharusnya sebagai perwakilan wakilan mahasiswa untuk menyampaikan aspirasinya.

Baik itulah sedikit pemahaman tentang organisasi yang ada dalam lingkungan kampus, selajutnya yaitu masukan kepada inti permasalahan yaitu organisasi itu menjadi kepentingan siapa, bagiku sndiri organisasi itu platform jebakan yang mengakumulasi kebebasan individu pada kepentingan kelompok.

Baca Juga:  IPM sebagai Laskar Zaman

 Oleh sebab itu, max stirner mengusulkan sebuah penyatuan sukarela dengan tendensi individualitas yang menjamin kemerdekaan tiap – tiap individu di dalamnya dengan membentuk union of egoist. Sederhananya penyatuan ini adalah sebuah kelompok yang tidak memiliki tujuan tersentral dan setiap hal dinegosiasikan dalam konsensus.

Contoh paling nyata yaitu berhasil dari union of egoist adalah swakelola. Disitu anggota yang tergabung memiliki hak penuh dalam mutualisme, sehingga tidak ada ahli, senioritas, atau “abang – abangan” yang sok maha tau segalanya dan spesialistik didalamnya.

Saya teringat kata-kata soe hoek gie “Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan, ormas, teman seideologi dan lain-lain. Setiap tahun datang adik-adik saya dari sekolah menengah. Mereka akan jadi korban-korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi”

Kata-kata soe hoek gie masih terjadi di zaman sekarang senior yang sok berkuasa dan beragapan selalu benar, ketika mencarinya anggota baru mereka beragama cara di lakukan hingga menjual nama agama yang penting dapat anggota dan memberikan asumsi-asumi yang menyakikan agar mereka mau bergabung tapi setelah bergabung mereka akan di biarkan begitu saja.

Organisasi hari ini di jadikan oleh senior untuk memperoleh jabatan-jabatan yang mereka inginkan, tapi setelah memperoleh mereka lupa dengan apa yang ada di bawahnya, tak ada bedanya dengan partai politik yang mengumbar  janj pada masa kampaye, yang janji tersebut tak pernah di kabulkan.

Tapi semua itu kembali pada diri masing-masing jangan jadikan organisasi mahasiswa yang sejatinya sebagai bentuk untuk pembelajaran bagi para mahasiswa baru yang ingin mengasah keorganisasian dan untuk menemukan jati diri mereka malah di jadikan ladang politik bagi-bagi senior-senior yang gila jabatan. Lalu organisasi itu buat siapa apakah buat kemajuan bersama atau buat senior yang ingin mendapatkan jabatab, jangan sok berkuasa mental mahasiswa tapi berlaga layaknya seorang dewan yang terhormat.

Akhmad Badruzzaman

Manusia yang selalu ingin belajar dan belajar.
Mahasiswa tingkat akhir di kampus Negeri di Salatiga.

4 comments

  • Ada hal yang kemudian harus kita pahami juga kenapa Kita harus bersenior atau dalam hal ini memiliki senior-senior.
    Disini kita akan berbicara persoalan Senior dalam Konteks positof dan negatif.
    Ketika Kita salah memilih senior “Negatif” maka itu imbasnya akan merembet dan berpengaruh terhadap proses kita di OKP baik ekstra maupun Intra kampus. Akan tetapi, Ketika kita memilih Senior yang “Positif” Maka hasilnya Juga akan Positif.

    Sehingga, Semua bergantung pada Individu masing-masing bagimana Bersenior dan memilih Senior dengan baik untuk Proses Beregenerasi yang Matang demi Terciptanya Leader-leader muda pemimpin Umat dan bangsa.

    #Salam Dari Anak Sulawesi tenggara

    • Semua memang tergantung pada di kita Masing-masing, makanya sejak awal harus di wanti” Dan di beri tahu apa itu organisasi

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.