Ondel-Ondel dalam Pusaran Modernitas5 min read

Ditemukan mayat seorang bocah laki-laki di gorong-gorong pinggir jalan raya pada pagi hari. Mayat tersebut diperkirakan sudah berada disana sejak sore menjelang maghrib kemarin. Polisi dengan mudah mengidentifikasi mayat bocah tersebut karena sekitar teronggok ondel-ondel yang sudah rusak dengan tulisan “Sanggar Cakrakirana” beserta nomor teleponnya.

Sore harinya saat akan dimintai keterangan, ternyata sanggar tersebut juga sedang diliputi duka. Seorang bocah perempuan ditemukan gantung diri disanggar tersebut. Menurut keterangan dari orang yang menemukannya, bocah perempuan tersebut mengakhiri hidupnya lantaran tidak kuat menanggung beban bersalah pada temannya (bocah laki-laki yang meninggal sebelumnya) yang ditinggalkannya di jalan.

Bocah perempuan tersebut sempat berbicara pada pada salah satu saksi jika ia sempat berdebat dengan si bocah laki-laki untuk kembali ke sanggar karena waktu sudah menjelang maghrib, namun si bocah laki-laki bersikukuh untuk lanjut “mengamen” menggunakan ondel-ondelnya karena sanggar sedang memerlukan biaya. Si bocah perempuan akhirnya memilih untuk pulang sambil membawa gerobak kecil berisi sound system, sementara si bocah laki-laki melanjutkan ngamennya.

Sampai tengah malam, si bocah laki-laki belum juga menunjukkan batang hidungnya. Sampai pada suatu waktu sebelum shubuh, seorang remaja tanggung memberi tahu sanggar tersebut bahwa diperjalanan menuju pasar untuk berjualan ia menemukan ondel-ondel yang biasanya digunakan sanggar tersebut dipinggir jalan raya dalam kondisi rusak, namun ia tidak menemukan seseorang disana.

Baru kemudian, pagi harinya sekitar pukul 6 pagi, terdengar kabar bahwa si bocah laki-laki ditemukan dalam keadaan meninggal oleh seorang pemulung tua yang mengira bocah tersebut sebuah maneqin yang dibuang pemilik butik orang kaya yang berdiri sekitar 20-30 meter dari sana. Karena merasa bersalah, saat orang-orang hendak mengambil mayat bocah laki-laki tersebut, bocah perempuan itu mengakhiri hidupnya dengan gantung diri.

Berita fiksi diatas, dengan didukung imajinasi atas realitas ondel-ondel yang berkeliaran di pinggir jalan untuk mengamen, saya karang hanya sebagai gambaran kondisi ondel-ondel sebagai produk budaya betawi yang semakin terpinggirkan oleh laju modernitas ibukota dan kota-kota pinggirannya seperti Bekasi dan Tangerang. Gambaran tentang produk budaya lokal yang dipaksa “merendahkan diri” demi melanjutkan hidupnya di belantara gaduhnya Jakarta.

Laju modernitas yang semakin kencang oleh roda-roda yang tak mengenal lelah ini semakin sulit dikejar oleh kaki-kaki mungil para bocah, remaja serta orang tua yang membopong simbol kebanggan Betawi itu, dulu. Belum lagi, karena sifat nya “mengamen” serta bentuknya yang raksasa, kedua hal ini pasti akan dipersepsikan mengganggu oleh khalayak “modern” Jakarta. Karenanya, ondel-ondel yang apes acapkali “ditertibkan” oleh pemangku ketertiban alias Satpol PP.

Apalagi, dikutip dari Narasi newsroom, akan dilakukan perda untuk menertibkan ondel-ondel yang mengamen dijalanan. Padahal, apa yang membuat ondel-ondel sering muncul dipermukaan ibukota beberapa tahun belakangan ini patut dipertanyakan dan dikaji. Jangan-jangan, kegiatan “turun ke jalan” bukan semata-mata hanya mencari uang. Bisa jadi ia adalah bentuk resistensi budaya atas gencetan modernitas masyarakat yang mulai “menjauh” atau “membuangnya” ke dalam gorong-gorong pinggir jalan laiknya sampah.

Memang, semakin kaburnya kepedulian akan budaya merupakan dampak yang tak bisa dihindari dari globalisasi. Budaya lokal dipaksa parkir di pinggir, mengalah oleh kecepatan serta ketepatan arus modern, apalagi di ibukota yang segala nya terpusat. Ondel-ondel, salah satu nya, termarjinalkan oleh masyarakatnya sendiri, entah asli atau “pendatang”. Semua hal yang termajinalisasi atau tersubordinasi, memungkinkan dirinya untuk melakukan resistensi. 

Turun ke jalannya seniman-seniman Ondel-ondel, sebagai simbol tradisi budaya kelas yang tersubordinasi, merupakan representasi dari kemarahan dan upaya “mempertunjukkan” budaya lokal ondel-ondel ini menggambarkan kebenaran pahit bahwa budaya local sedang dipaksa untuk “parkir” oleh masyarakat “kota” Jakarta yang telah gandrung oleh hal-hal berbau “modern”. Secara jelas James C. Scott (Scott, J. C. (1989 : 54) menulis “…The tradition of lower classes wearing disguises in order to speak bitter truths to their superiors is, of course, firmly institutionalized in carnival and a variety of other rituals of folk culture”.

Bentuk resistensi budaya pertunjukkan, tak lain dan tak bukan, ialah dengan menunjukkan eksistensinya. Berpentas melalui, apa yang disebut oleh James C. Scott sebagai “veiled cultural performance”. Scott dalam Everyday forms of resistance (Scott, J. C. (1989) mengatakan “…there are likely to be hidden transcripts of what subordinates actually think that can be recovered in off-stage conversation in slave quarters”. Hidden transcript ini, menurut penulis, dapat dikatakan sebagai simbol-simbol perlawanan yang dirancang di balik layar oleh para seniman ondel-ondel yang turun ke jalan untuk berpentas.

Bukan hanya untuk berpentas biasa, namun juga sebagai suara dan bentuk upaya subversif untuk keluar dari subordinasi yang terdapat dalam masyarakat itu sendiri, melalui seni budaya lokal. Scott juga menuturkan jika upaya-upaya pertunjukkan ini sebagai bentuk resistensi atas apa yang menjadi garis batas sebuah pertunjukkan. Bentuk resistensi ini meniscayakan kontinuitas gerakannya.

Resistensi budaya yang dilakukan seniman ondel-ondel ini, semakin banyak dilakukan beberapa tahun belakangan karena, salah satunya, para pemangku ketertiban belum menilai hal ini sebagai upaya menggangu. Namun belakangan, sudah terdapat wacana “penggusuran” ondel-ondel yang melakukan pentas dijalanan, yang dikategorikan sebagai “mengamen”, oleh pemerintah daerah Jakarta.

Perda yang akan digunakan untuk menertibkan ondel-ondel ini, bisa dikatagorikan sebagai bentuk pembungkaman budaya lokal. Opini bahwa hanya karena budaya ini mengganggu tatanan jalan yang serba teratur (ciri khas modernitas) maka ia harus dilenyapkan dari jalanan selain bentuk pembungkaman, juga merupakan upaya menghapuskan lingkungan berkebudayaan betawi sebagai akar masyarakat Jakarta.

Hal-hal ini seharusnya dapat menjadi concern pemerintah Jakarta, Bekasi dan sekitarnya melalui Dinas Pendidikan serta Kebudayaan yang terdapat pada instansi tersebut. Pemerintah Jakarta, Bekasi dan sekitarnya sekiranya dapat berkerja sama dengan memberikan naungan pada budaya lokal Betawi ini. Agar kelak dan seterusnya ditengah geliat modernitas Ibukota, anak-anak Jakarta mengetahui jika Jakarta bukan hanya hutan beton bertingkat. Di dalamnya, terdapat akar kuat manusia yang berkebudayaan, manusia Betawi seutuhnya.


Referensi:

  1. https://www.youtube.com/watch?v=P7Kl-FP6hNg
  2. Scott, J. C. (1989). Everyday forms of resistance. The Copenhagen journal of Asian studies4, 33-33.

Mahasiswa Sastra Inggris UIN Malang yang berdomilisi di Bekasi, Jawa Barat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like