Kematian Sebuah Ideologi Politik

Pada akhir abad ke-20, pemikiran komunisme tampak kehilangan wahyunya. Kiranya pukulan pertama yang diderita oleh komunisme internasional, pada masa kejayaannya, adalah kehancuran Partai Komunis Indonesia sebagai buntut kudeta Gerakan 30 September. Sepuluh tahun kemudian, 1975, komunisme mencapai kemenangannya yang terakhir di Vietnam. Namun, itu juga merupakan saat kemunduran kekuatan komunisme tidak dapat disembunyikan lagi. Di Eropa Barat, beberapa partai komunis, didahului oleh Partai Komunis Italia, membuang Leninisme, inti sari komunisme, dan menggantikannya dengan sesuatu yang mereka sebut Euro-komunisme. Pada tahun 80-an komunisme dan Marxisme mulai semakin kelihatan sebagai kekuatan masa lampau yang ketinggalan zaman. Buku-buku Marx, Lenin, dan Mao Tse-dong yang selama tahun 60-an dan 70-an memenuhi toko-toko buku di sekitar universitas-universitas di Barat, sudah lama masuk kembali ke gudang. Sementara di Asia dan Afrika, sukuisme, regionalisme, dan fundamentalisme agama semakin menyingkirkan Marxisme dan komunisme sebagai ideologi pelbagai perjuangan revolusioner.

Akhir sistem kekuasaan komunis datang dengan sangat cepat. Pada tahun 1989, selama hanya beberapa bulan, satu demi satu rezim-rezim komunis di Eropa Timur runtuh: pada awalnya Polandia, lalu Bulgaria, Jerman Timur, Cekoslovakia, dan akhirnya Rumania. Pakta Warsawa bubar dalam sekejap. Dua tahun kemudian, Partai Komunis di Uni Soviet harus melepaskan monopoli kekuasaan yang menjadi ciri khasnya selama 73 tahun kekuasaannya. Pada akhir tahun 1991, Uni Soviet, negara adikuasa kedua, pecah menjadi 14 Republik independen. Hanya di Cina, Korea Utara, Vietnam, Laos, dan Kuba rezim-rezim komunis masih berhasil berpegang pada kekuasaan. Namun, mereka pun berhadapan dengan pilihan dilematis: mengubah perekonomian menjadi ekonomi pasar dan dengan demikian melepaskan sosialisme, atau semakin ketinggalan zaman mirip fosil dari Jurassic Park.

Pemikiran Marx Tetap Menantang

Meskipun kekuatan komunisme sudah pudar dan pancaran tantangan intelektual pemikiran Marx telah redup, pemikiran yang pernah sedemikian terasa di sebagian besar dunia ini tetap menuntut perhatian. Ketika tantangannya tidak lagi langsung terasa, pemikiran-pemikiran yang masuk ke dalam Marxisme dan komunisme justru perlu diteliti kembali mengapa sampai dapat sedemikian berpengaruh.

Baca Juga:  Karl Marx: Dinamika Kapitalisme dari Segi Filsafat, Sosiologi dan Ekonomi

Hal itu lebih-lebih berlaku bagi pemikiran Karl Marx sendiri. Pemikiran ini bukan saja menjadi inspirasi dasar “Marxisme” sebagai ideologi perjuangan kaum buruh, bukan saja menjadi komponen inti dalam ideologi komunisme. Pemikiran Marx juga menjadi salah satu rangsangan besar bagi perkembangan sosiologi, ilmu ekonomi, dan filsafat kritis. Yang terakhir, filsafat kritis, berinspirasi dari pemikiran Karl Marx, menjadi salah satu aliran utama dalam filsafat abad ke-20. Sementara itu, banyak kategori pemikiran Marx sudah memasuki kawasan filsafat dan ilmu-ilmu sosial lain, bahkan dalam diskursus politik, sosial, ekonomis, dan budaya kaum intelektual hampir di seluruh dunia.

Ada satu unsur yang khas bagi pemikiran Karl Marx: pemikirannya tidak tinggal dalam wilayah teori, melainkan, sebagai ideologi Marxisme dan komunisme, menjadi sebuah kekuatan sosial dan bahkan politik. Marx, dan hanya Marx, mengembangkan sebuah pemikiran yang pada dasarnya filosofis namun kemudian menjadi teori perjuangan sekian banyak generasi pelbagai gerakan pembebasan. Nama Immanuel Kant misalnya, filosof paling berpengaruh dalam 500 tahun terakhir, hanya dikenal oleh para filosof dan segelintir orang intelektual lain. Namun, nama Marx pernah dikenal di mana-mana dan dalam semua lapisan masyarakat serta menjadi simbol perjuangan sekurang-kurangnya bagi dua miliar orang. Marx sendiri memang tidak pernah memahami pemikirannya sebagai usaha teoretis-intelektual semata-mata, melainkan sebagai usaha nyata dan praktis untuk menciptakan kondisi-kondisi kehidupan yang lebih baik. Marx selalu menuntut agar filsafat menjadi praktis, maksudnya, agar filsafat menjadi pendorong perubahan sosial. Marx merumuskan “programnya” itu dalam “tesis no. 11 tentang Feuerbach” yang termasyhur: “Para filosof hanya memberikan interpretasi yang berbeda kepada dunia. Yang perlu ialah mengubahnya!” [TF, MEW 3,7] Karena itu, pemikiran Marx tetap merupakan tantangan bagi filsafat yang perlu dikaji secara kritis dan dijadikan bahan diskursus.

Mengeja Indonesia adalah sebuah gerakan yang otonom dan nirlaba, mengangkat isu-isu fundamental bangsa.
Situs Web https://mengeja.id
Posts created 16

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pos Terkait

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.

kembali ke Atas