Waras Bernegara Berarti Menjaga Lingkungan

Harus kita akui bersama karya-karya manusia yang paling diminati adalah karya yang menjual berbagai macam isu yang menyentuh langsung secara pribadi pada diri para pembaca. Terkadang isu-isu tersebut diolah dengan sangat mendalam sampai-sampai terbawa keruang imajinasi yang dapat menyentuh sisi emosional setiap pembacanya. Kondisi ini berbanding terbalik dibanyak pembaca jika yang di sajikan adalah tulisan yang berkaitan dengan kata “Lingkungan Hidup” mungkin secara otomatis hanya segelintir orang saja yang tertarik untuk membaca tulisan tersebut, contohnya saja orang yang sedang studi di bidang lingkungan, pemerhati lingkungan, serta orang yang menggantungkan hidup secara langsung dari hasil yang diberikan oleh lingkungan hidup. Tanpa kita sadari keengganan untuk mengenal apa itu lingkungan hidup menyebabkan wawasan terkait lingkungan hidup sangat minim kita pahami, padahal pada kenyataannya kita selalu di hadapkan dengan isu “Lingkungan Hidup” dalam menjalani kehidupan di dunia.

Didalam kamus Ekologi, Lingkungan hidup memiliki pengertian sebagai sebuah keseluruhan yang saling berkaitan antar mahkluk hidup dan non hidup yang ada di wilayah bumi atau yang ada di sebagian wilayahnya. Menurut Undang-Undang No 32 Tahun 2009 lingkungan hidup memiliki pengertian sebagai sebuah kesatuan ruang semua benda, daya, keadaan, makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang dapat memberikan pengaruh terhadap alam dan kelangsungan perikehidupan serta kesejahteraan manusia dan makhluk hidup lainnya. Dari dua pengertian tersebut dapat diketahui bahwa lingkungan hidup adalah sebuah kesatuan yang meliputi berbagai hal yang ada di bumi yang saling memiliki pengaruh kepada keberlangsungan jalannya sebuah peradaban kehidupan.

Lingkungan hidup selalu dikelilingi dengan masalah yang dapat kita golongkan menjadi dua bagian. Pertama, masalah yang muncul dikarenakan alam itu sendiri, misalnya erupsi, gempa, tsunami, kemarau, dan lain-lain. Kedua, masalah lingkungan sebagai akibat campur tangan manusia. Isu lingkungan hidup menjadi sangat menarik ketika kita beririsan langsung dengan dampak-dampak yang kita terima tak kala Manusia di dunia memperlakukan wilayah sekitarnya dengan serampangan dan tanpa mengedepankan keberlanjutan. Pemahaman akan kehidupan yang dipenuhi dengan “glory” dalam persfektip penguasaan yang tak kenal batas, menyebabkan manusia tidak lagi memikirkan hakikat dasar dalam menjalani kehidupan yang harusnya dijalani dengan rasa “cukup” dan rasa “bersyukur” akan tetapi manusia malah terjerembab di jurang dalam kekufuran dan keserakahan.

Baca Juga:  Kaum Millenial: Asa Ditengah Pademi dan Visioner Bangsa

Kita tentu dapat melihat hamparan keberagaman lingkungan hidup terlihat jelas dengan wajah yang berbeda-beda di masing-masing Bangsa dan Negara yang ada di Bumi. Pada zaman dahulu keberagaman lingkungan hidup tersebut kemudian menjadi pembatas terhadap interaksi sosial dan pergerakan manusia di masing-masing wilayahnya, sehingga menyebabkan manusia tidak dapat hidup didalam situasi lingkungan baru yang berakibat manusia tersebut memilih untuk terus berada didalam lingkungan hidupnya sendiri yang telah dia diami sejak awal. Namun seiring berjalan dan berkembangnya peradaban manusia kehidupan manusia pun kini tidak dapat dibatasi oleh satu lingkungan hidup di suatu wilayah saja. Pergerakan mobilitas manusia didunia semakin tidak dapat terbendung dengan kemajuan teknologi transportasi dan gaya hidup manusia yang memiliki mobilitas yang sangat tinggi, sehingga kebutuhan akan suatu kondisi lingkungan hidup yang mendukung rasa “nyaman” bagi manusia menjadi hal yang prioritas. Hal ini pula lah yang menyebabkan maraknya terjadi akulturasi budaya disetiap bangsa di dunia, bahkan jika dilihat dari sisi lain hal ini pula lah yang menyebabkan terjadinya penyebaran suatu penyakit sehingga berujung pada wabah pandemi Covid-19 yang kita hadapi hari-hari ini.

Banyak kita jumpai keinginan pengembangan wilayah untuk mendukung aktifitas manusia yang didasari dengan sebuah dalih kemajuan dan pembangunan, malah diwujudkan dengan cara menyerobot hak-hak dalam pelestarian lingkungan hidup, padahal seperti yang kita ketahui bersama lingkungan hidup menjadi amat penting untuk selalu dijaga kelestariannya karena lingkungan hidup yang sehat merupakan titik awal lompatan kemajuan suatu bangsa dan negara. Daron Acemoglu dan James A. Robinson dalam bukunya Why Nations Fail: The Origins of Power, Prosperity, and Poverty menjelaskan salah satu penyebab mengapa negara-negara itu gagal dalam membangun kemakmuran bukan karena lingkungan hidup yang dia huni itu sudah tidak layak huni, memiliki kondisi geografis yang sulit, budaya yang tertinggal, atau bahkan tingginya angka kebodohan dinegara tersebut. Bukan, namun lebih kepada disebabkan karena peranan-peranan institusi politik dan ekonomi yang ada telah bersifat ekstraktif yang dengan sengaja hanya menempatkan kekuasaan-kekuasaan ditangan segelintir kecil kelompok elite dan pada akhirnya dibuatlah masyarakat negara tersebut hanya memiliki kontrol yang sangat lemah terhadap penggunaan kekuasaan oleh para elite tadi.

Baca Juga:  Persaingan Politik Bukan Hal Yang Baru Di Negeri Ini

Jika menyandingkan definsi tersebut dengan realitas kondisi negara hari ini, di mana banyak kita temui keganjilan dan keanehan dalam kebijakan yang dikeluarkan, dan dengan dibumbui drama-drama politik yang dimainkan. Tentu kita sudah paham ke mana arah pejabat-pejabat negara kita ini dalam memperjuangkan kondisi lingkungan hidup di Negara ini. Silakan disimpulkan, sudah ekstraktif kah politik dan ekonomi kita? Dan apa yang akan terjadi pada lingkungan hidup kita kedepan?.

Selamat hari Lingkungan Hidup, tetap jaga kewarasan dalam bernegara.

Master Government Affairs and Administration, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Salah satu peneliti di Mengeja Indonesia
Posts created 2

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pos Terkait

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.

kembali ke Atas