Benarkah Kita Bangsa Yang Merdeka Dan Besar?

Saya teringat dua kata bijak dari Presiden pertama Republik Indonesia Sang Proklamator yaitu Pak Soekarno, beliau berkata “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa para pahlawannya.” Dan “Bangsa yang tidak percaya pada kekuatan dirinya sebagai suatu bangsa, tidak dapat berdiri sebagai suatu bangsa yang merdeka.”, kedua kata bijak tersebut jika direnungkan dengan hati yang dalam, pasti akan menyentuh sanubari kita. Kita akan bertanya-tanya apakah kita adalah bangsa yang besar, bangsa yang merdeka. Karena pada kenyataannya banyak rakyat kita yang melupakan sejarah bangsanya sendiri, kita tidak percaya pada kekuatan bangsa sendiri, kita masih diperbudak di negeri sendiri.

Tujuh puluh empat tahun sudah bangsa ini merdeka terbebas dari belenggu penjajahan, pemimpin pun silih berganti tapi pada kenyataannya negara kita masih saja menjadi negera berkembang. Kemiskinan tak kunjung usai, yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin. Korupsi, kolusi nepotisme masih mengakar di negeri ini. Akankah kita bisa menjadi bangsa yang besar dan merdeka, merdeka dalam artian percaya pada kekuatan bangsa sendiri.

Indonesia sendiri mempunyai impian besar yaitu Indonesia emas di tahun 2045 apakah impian besar tersebut bisa terwujud. Generasi Indonesia yang diharapkan mewujudkan Indonesia Emas di tahun 2045 adalah mereka yang lahir setelah reformasi 1998. Tetapi generasi yang lahir sebelum tahun 1998 wajib mendidik generasi yang lahir setelah reformasi 1998, untuk mempersiapkan Indonesia emas 2045. Caranya bagaimana? Caranya adalah melalui pendidikan, tetapi pada faktanya pendidikan di negeri ini begitu diskriminasi, daerah-daerah terpencil tidak diperhatikan akses pendidikannya, program Bidikmisi misalnya banyak juga yang salah sasaran. Pemerintah agaknya kurang memperhatikan hal ini atau bahkan mungkin tidak sama sekali.

Selain itu juga perlu adanya upaya untuk menanamkan nilai-nilai nasionalisme dan cinta tanah air kepada generasi emas Indonesia. Mereka juga perlu untuk mengingat sejarah bangsa ini, karena sejarah dapat menentukan apa yang terjadi di masa depan. Namun sayang nilai-nilai nasionalisme dan sejarah pada generasi emas ini semakin luntur, mereka lebih menggandrungi dan bangga dengan budaya luar. Kurikulum mengenai nilai-nilai nasonalisme dan sejarah harus ditingkatkan, dengan cara demikianlah semangat patriotisme dan cinta tanah air akan semakin terpupuk.

Lihatlah sejarah bangsa ini, lihatlah kejayaan Majapahit, lihatlah kejayaan Sriwajaya. Kedua kerajaan besar nusantara tersebut berhasil menyatukan seluruh wilayah nusantara sehingga seperti sekarang ini dan disegani oleh manca-negara, tirulah semangat patriotisme mahapatih Gajah Mada dengan sumpah palapanya untuk menyatukan wilayah nusantara.

Baca Juga:  Pluralisme Budaya Nasional: Aset Bangsa Untuk Menjaga Persatuan Indonesia di Masa Depan

Kita perlu belajar banyak dari para pendahulu dan leluhur negeri ini, lihatlah keberanian dari Pati Unus memimpin armada Demak melawan Portugis di Malaka, lihatlah keberanian Sultan Iskandar Muda dari Aceh,  Kapitan Patimura dari Maluku, Fatahilah dengan berani merebut Sunda Kelapa, Sultan Agung dengan gagah berani menyerang Batavia, Kartini dengan emansipasi wanitanya, Budi Utomo dengan pergerakannya, pertempuran 10 November di Surabaya untuk melawan penjajah yang ingin menancapkan kukunya lagi di bumi pertiwi dan masih banyak lagi yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

Bangsa ini telah banyak mengalami manis dan pahitnya perjuangan, dimulai dari kejayaan kerajaan-kerajaan di Nusantara, penjajahan oleh bangsa-bangsa asing seperti Portugis, Spanyol, Inggris, Belanda. Diadu domba dengan sesama bangsa sendiri oleh penjajah, mengalami penjajahan Belanda selama 350 tahun, penjajahan Jepang selam 3,5 tahun.

Setelah melalui perjalanan panjang akhirnya bangsa ini bisa memproklamirkan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus, namun itu belum usai  berbagai pemberontakan, penghianatan, dan disintegrasi masih menghantu negeri ini, belum lagi soal kolusi korupsi dan nepotisme yang sudah begitu kuat mengakar, sumber daya alam negeri ini dikeruk besar besaran rakyat tidak menikmatinya.

            Oleh karena itu momentum Indonesia emas ditahun 2045 harus benar-benar dimanfaatkan dengan baik, sebagai suatu kesempatan kita bangsa Indonesia untuk maju dan merdeka sepenuhnya, percaya pada kekuatan bangsa sendiri. Meskipun banyak rintangan serta halangan baik dari dalam dan luar, jangan sampai kita diadu domba oleh pihak lain. Oleh karena itu kita wajib menanamkan nilai-nilai Nasionalisme, patriotisme, nilai-nilai sejarah bangsa ini dapat ditanamkan pada generasi emas. Agar cita-cita Indonesia emas di tahun 2045 bisa terwujud.

            Kita sebagai suatu bangsa yang berdiri sendiri harus mempunyai karakter. Tidak perlu menjilat kepada siapapun, mengawal segala kebijakan pemerintah, berani mengkritik bukan mencaci, berani berkarya jangan menghina. Bangunlah wahai rakyat Indonesia. Indonesia negeri yang gemah ripah loh jinawi, negeri yang telah lama diperbudak oleh bangsa lain. Tapi nyatanya meskipun negeri ini sudah merdeka, rakyatnya masih diperbudak di negeri sendiri. Para elite politik tidak memperhatikan nasib wong cilik, mereka menggadaikan negeri dan seisinya hanya untuk kepentingan golongan dan keluarganya, mereka yang duduk menjadi wakil rakyat sibuk bertengkar atau bahkan tidur saat sidang tahunan.

Baca Juga:  Kritik Marx Terhadap Sistem Ekonomi Kapitalis

            Kita sebagai rakyat harus pintar, jangan sampai hanya demi uang seratus ribu kita menjadi bodoh dengan mengorbankan hati nurani hanya demi uang seratus ribu. Ya itulah politik uang di negeri ini entah sampai kapan bisa teratasi. Permasalahan lainnya adalah kita mudah diadu domba hanya soal beda pilihan dalam pemilihan umum. Selain itu juga rakyat terlalu fanatik terhadap dukungannya tanpa berani mengkritik.

            Permasalahan yang harus diatasi, bahkan dihapuskan adalah kebejatan dari para mereka elite politik yang menyengsarakan para rakyat kecil. Tapi agaknya itu adalah hal yang sulit, mereka gesit dan bisa berkamuflase bahkan menjilat. Marilah kita belajar dari sejarah bagaimana para elite politik yang berlaku demikian merusak tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara.

            Kita sebagai rakyat harus bisa berfikir, mengapa kita masih miskin, kesenjangan sosial tinggi, mengapa para elite politik bisa makan enak, tidur enak. Salah siapakah ini, apakah ini salah rakyat, apakah kita ini terlalu bodoh? Saya pun tidak tahu jawabannya, kuncinya adalah kita harus berfikir. Saya teringat ungkapan seorang filsuf Prancis yaitu Descartes “Cogito ergo sum” yang berarti Aku berfikir maka Aku ada.

            Ya begitulah negeri ini, salah siapakah negeri ini bernasib begini. Yah negeri ini memang kaya katanya, tapi itu hanyalah sebuah ilusi semata, berjuta juta sumber daya alamnya bahkan lebih dari itu dikeruk diangkut ke negeri orang. Dari zaman kolonial bahkan hingga detik ini. Harus menyalahkan siapakah kita ini, apakah ini adalah salah para elite politik? ataukah ini salah kita sebagai rakyat yang terlalu bodoh?. Kunci untuk memajukan negeri ini adalah kita semua sebagai rakyat harus merasa memiliki negeri ini, dan juga harus mendukung dan mengawal kebijakan pemerintah yang baik bagi kepentingan rakyat, dan juga  harus berani mengkritik kebijakan yang menyengsarakan rakyat. Dan kita buktikan kepada seluruh dunia bahwa kita bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar dan merdeka dengan cara kemajuan.

Malik lahir pada tanggal 14 Desember 2001 di Tegal, Jawa Tengah, hobi membaca, menulis, berpetualang, menggombal, pintar dalam segala hal namun kurang pintar dalam soal percintaan
Posts created 5

5 tanggapan pada “Benarkah Kita Bangsa Yang Merdeka Dan Besar?

  1. Pernyataan “harus menyalahkan siapakah kita ini, apakah ini adalah salah para elite politik? ataukah ini salah kita sebagai rakyat yang terlalu bodoh?” ini menjadi menarik pun dengan jawabanya, namun jika kita menyelam ke dasar-dasar ilmu politik maka kita akan mendapatkan fakta bahwa rakyat diibaratkan seperti petani dimana petani dalam bekerja membawa arit (sabit) dan cangkul, maka untuk menjaga supaya dalam bertani itu aman mereka membayar orang yang membawa pedang, orang membawa pedang yang bertugas mengamankan petani ini adalah pemerintah, pemerintah digaji oleh rakyat diupah oleh rakyat maka harus melindungi rakyat bukan menindas rakyat, lah wong yang bayar pemerintah kan rakyat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pos Terkait

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.

kembali ke Atas