Teroristik Dalam Pandangan Genealogi Moral ala Nietzsche8 min read

Kawanan domba resah, marah dan benci kepada elang karena merasa selalu menjadi sasaran. Padahal disisi lain elang memandang domba hanyalah sebagai salah satu sasaran atau mangsanya (banyak hewan lainnya yang juga menjadi sasaran elang seperti tikus dan ayam) karena itu adalah tuntutan hidupnya dan tanpa dorongan permusuhan ketika menyerang musuhnya. Mental kawanan domba yang tak mampu menerima keadaan diri dan kenyataan diluar dirinya secara sadar melahirkan pandangan sinis dan jahat terhadap perbuatan elang.

Dendam kawanan domba yang tak terbalaskan ini (meskipun bersatu padu) kemudian dilampiaskan kepada diri sendiri dengan merumuskan nilai-nilai ideal dan penuh nuansa pengasingan diri (asketik). Kawanan domba mengalah dan “membiarkan Tuhan yang membalas” perbuatan buruk si elang jahat. Kawanan domba menemukan sikap penuh makna kepasrahan, kesabaran dan kerendahan hati dalam kenyataan hidup yang tak adil ini.

Bagi Nietzsche, demikianlah proses lahirnya fanatisme dalam diri kaum dekaden bermental gerombolan. Di hadapan realitas hidup yang serba bercampur atau kacau (chaos), ideal asketik menggambarkan kebekuan moral, doktrin sains, agama atau ideology yang diperlukan oleh kawanan domba. Para filosof, agamawan, orang-orang lemah dan sakit bahkan kaum ateis pun dalam pandangan Nietzsche adalah termasuk pengusung utama ideal asketik tersebut.

“Kegalauan identitas, kebingungan memaknai hidup yang memporakporandakannya, moral baik-jahat kawanan domba muncul dari reaksi pada kehidupan yang dianggap tidak adil. Saat moral ciptaannya memberi makna, dipegang erat dan diimani karena janji surga yang menyertainya, pada saat itulah kawanan domba siap merevolusi dunia untuk memaksakan moralnya” (Nietzsche, Beyond Good and Evil sebagaimana dikutip oleh A Setyo Wibowo dalam esainya Nietzsche: Genealogi Kaum Fanatik).

Dengan mengajukan pertanyaan esensial (herkunft dalam bahasa Jerman, sama dengan Origin dalam bahasa Inggris yang berarti asal-muasal dan menjadi salah satu alat analisis dalam Genealogi Moral Nietzsche) “apa yang sejatinya diinginkan seseorang ketika menghendaki sesuatu?”, Nietzsche mencoba menelisik motif-motif tersembunyi dibalik ujaran kebaikan, kebenaran, kesucian dan objektifikasi kemudian menemukan bahwa sikap hidup penuh “makna” yang dianut oleh kawanan domba tersebut sebenarnya diselubungi oleh hasrat membalas dendam sehingga sangat reaktif dan sangat bergantung pada elang (musuh) rekaan yang terus diciptakannya.

Semakin seseorang mengalami kegalauan dan kebingungan maka semakin tinggi pula kebutuhannya akan kebenaran. Pada saat dia menemukan “kebenaran” maka akan dia dekap mati-matian sehingga cenderung menegasikan “kebenaran” yang dianut orang lain dengan cara agresif, ekstrem dan konfrontatif. Jika ditelisik lebih dalam lagi, kondisi kejiwaan tersebut pada praktiknya akan mempertontonkan kebencian dan kebengisan dikarenakan absurditas dan nihilnya kebenaran itu sendiri. Perasaan benarnya secara otonom berbeda dan tegak berdiri diluar kebenaran itu sendiri, dia tunduk sepenuhnya pada persepsi kebenaran yang ditawarkan oleh sistem diluar dirinya (doktrin sains, agama atau ideologi).

Salah satu corak kebenaran yang dianut secara radikal oleh manusia fanatik adalah intelenjensia matematis yang sangat hitam-putih tanpa opsi tawar-menawar. Jika ada beberapa pandangan kebenaran pada objek maka hanya ada 1 kebenaran yang benar dan lainnya salah, tidak mungkin semua benar tetapi mungkin saja semua salah. Dia menilai semua yang berbeda darinya sebagai salah dan tidak memperhitungkan kompleksitas nilai intrinsik yang menyelubungi ujaran kebenaran itu sendiri seperti tekanan psikologis, dominasi budaya, penyimpangan-penyimpangan dan lain sebagainya. Dengan demikian, sikap fanatik sebenarnya tidak memiliki hubungan secara langsung dengan tingkat pendidikan, tingkat ekonomi, agama, ideologi atau pun strata sosial (faktanya banyak dari kalangan berpendidikan, orang kaya, pemuka agama, ilmuwan ataupun petinggi partai politik yang menjadi teroris/radikal/ekstrimis) sehingga setiap orang bisa saja menjadi fanatik dan hal tersebut tidak mudah dijelaskan dengan pendekatan agama, politik ataupun eko-sosial (Nietzsche memilih menggunakan pendekatan sejarah, filologi, fisiologi dan psikologi secara bersamaan dan mendalam).

Mental domba dan elang dalam pandangan Nietzsche terdapat dalam kedirian manusia itu sendiri sebagai suatu kodrati sehingga sikap fanatik berhubungan dengan mengalahkan diri sendiri. Chaos tersebut menyebabkan seseorang mencari pegangan diluar dirinya untuk memaknai kehidupan dan keselamatan. Individu-individu fanatik itu kemudian bertemu dan saling menguatkan dalam komunitas/kelompok/kawanan/gerombolan dengan beragam latar belakang. Ketika komunitas tersebut menilai diri telah cukup kuat untuk mengubah dunia yang “salah” maka lahirlah tindakan terror (ada pula kelompok fanatik yang terkesan lembut, penuh perhatian, rapi, apolitis namun sebenarnya tidak kalah mengerikan). Jika dunia ini harus dihancurkan, mereka rela menjadi “martir” untuk melakukannya.

Gerombolan fanatik menilai bahwa aksi terror yang mereka lakukan adalah tindakan penyelamatan manusia apatis dan lemah sekaligus pembalasan bagi manusia jahat dan bersalah. Dalam melaksanakan aksinya mereka senantiasa membawa atribut identitas sebagai cara menyatakan dirinya adalah pahlawan yang membela kebenaran, hakim yang memvonis kesalahan sekaligus dokter yang menyembuhkan kesehatan. Cukupkah hingga disitu? Tidak, “perjuangan” mereka akan dinyatakan berhasil jika mampu menciptakan dunia baru berdasarkan nilai moral yang mereka anut dan menjadi raja didalamnya. Melalui analisis Entstethung (dalam bahasa Jerman berarti Kemunculan) Nietzsche sebagaimana menurut Foucault, menunjukkan bahwa nilai-nilai adalah alat dari kekuasaan yang sedang saling mendominasi untuk mengutuhkan dirinya.

Lalu apa yang dapat kita lakukan? Melalui genealogi moral Nietzsche, kita temukan bahwa akar masalah dari moral itu adalah manusia itu sendiri sehingga harus kita awali dengan membuka kembali cakrawala tentang manusia. Kita dapat meminjam pendekatan Foucault tentang Hermeneutika subjek dan dekonstruksi kemunafikan sebagaimana judul buku yang ditulis oleh Franz Magnis-Suseno tentang filsafat etika. Hermeneutika berasal dari bahasa Yunani yang berarti menafsirkan atau memaknai. Kata tersebut berkaitan dengan tindakan aktif sehingga dapat diartikan sebagai upaya aktif untuk menafsirkan sesuatu namun jika tafsir atas sesuatu bernilai final maka sesuatu itu tidak lagi berarti. Dalam hermeneutika subjek, Foucault menekankan pemeliharaan diri sendiri atau mawas diri daripada upaya pengenalan diri sendiri dikarenakan kompleksitas kedirian itu sendiri. Manusia sebagai subjek haruslah mampu memelihara kemampuannya untuk menafsirkan objek-objek termasuk dirinya sendiri dan tidak terjebak pada finalitas tafsir, ketika seseorang mencapai tafsir yang final maka ketika itu pula dia kehilangan makna kediriannya itu sendiri apalagi yang menafsirkan adalah yang diluar dari dirinya.

Dengan hermeneutika kita diajak untuk menjadi individu berdaulat yang memiliki kekuatan untuk mendominasi dan memerintah masa depannya sendiri. Individu berdaulat adalah tuan bagi dirinya sendiri dan tidak mengijinkan yang lain untuk memerintah dirinya secara serampangan. Individu berdaulat adalah individu dengan tingkat intelejensia emosional yang matang dalam memahami realitas kehidupan yang serba kontradiktif. Demikian pula dalam pandangan Nietzsche, kodrat internal subjek yang kuat seperti itulah yang mampu menerima kehidupan apa adanya, menerima yang datang dengan tangan terbuka, mengubah, memberinya bentuk yang lebih spiritual, mentransformasi diri dan bermetamorfosis.

Sedangkan dalam pendekatan dekonstruksi kemunafikan, Nietzsche mengajarkan kepada kita untuk bersikap kritis baik pada diri sendiri apalagi pada orang lain. Dekonstruksi kemunafikan merupakan refleksi pembacaan terhadap diri sendiri, apa yang sebenarnya ingin kita gapai. Sebagaimana hermeneutika, dekonstruksi bermaksud menyatakan bahwa ketersingkapan kebenaran adalah anggapan-anggapan yang belum bersifat final dan merupakan kontruksi kontekstual sehingga perlu hati-hati dicermati dan dibongkar untuk menemukan relasinya dengan kebenaran itu sendiri.

Apakah hermeneutika dan dekonstruksi tidak akan membawa kita pada lembah kebingungan yang lebih dalam ataupun nihilisme? Dalam pandangan Nietzsche, kebenaran itu bagaikan lautan tak bertepi yang menawarkan kengerian sekaligus keindahan sehingga hanya manusia kuatlah yang mau dan mampu menjadi pelaut dalam kehidupannya (siapa yang ingin melihat keindahan harus siap menghadapi kengerian atau siapa yang siap menghadapi kengerian maka dia akan melihat keindahan). Jika lautan dan pelaut itu ada dalam diri maka Nietzsche seakan mengajak kita berkontemplasi dan merenungi ke dalam diri kita sendiri. Memang Nietzsche secara tegas mewartakan nihilisme sebagai tahapan menggugat kemapanan namun nihilisme menurutnya memiliki 2 tipe yakni aktif dan pasif. Nihilisme pasif berarti peniadaan yang bersumber dari kelemahan seseorang sehingga tak mampu memberi makna/nilai pada realitas, sedangkan nihilisme aktif adalah kesadaran akan kekosongan yang memiliki kesempatan untuk memberikan nilai pada realitas meskipun nilai tersebut tidak bersifat final. Pada arti ini, Nietzsche mengajarkan cara baru untuk merasa (new way of feeling) sebagaimana asumsi Alphonso Lingis atau asumsi Henri de Lubac yang menyatakan Nietzsche sebagai seorang mistikus. Meskipun demikian, banyak pemikir lain yang keberatan bila Nietzsche diletakkan dalam bingkai tertentu mengingat kompleksitas pandangannya.

Apakah dengan demikian Nietzsche ingin membawa kita pada sikap individualis dan relativis? Jika individu berdaulat saling bertemu maka akan saling menyadari kepluralan realitas sehingga masing-masing individu akan saling mendukung, terbuka, dialogis dan toleran tanpa ada tendensi dominasi. Dengan kesadaran demikian maka relasi manusia dengan kebenaran/realitas menjadi sangat dinamis. Menurut Nietzsche, manusia harus menjadi “penafsir orisinal” terhadap kebingungannya jika tidak ingin ditelan oleh zamannya.

Apa urgentisitas pandangan Nietzsche dalam konteks kekinian? Saat ini kita berada di zaman di mana ilmu pengetahuan dan teknologi modern berkelindan dengan kapitalisme korup yang mengakibatkan tersitanya waktu dan perhatian manusia hanya sebagai objek komersial (sumber daya ekonomi) sehingga masing-masing individu “dipaksa” untuk mengabdi untuk kesendiriannya. Manusia modern kemudian melakukan spesialisasi atau pengkategorian (jika tidak dapat disebut pragmentasi, yang sebelumnya menyatu dalam kaidah pemikiran filsafat) seluruh lini kehidupan masyarakat, mulai dari ekonomi, sosial, politik, seni hingga sains demi menunjang penggalian potensinya dan pengetahuan alam. Manusia modern kemudian terobsesi pada intelektualnya dan secara tersembunyi memiliki hasrat mengganti “tuhan” dengan dirinya sendiri. Sikap individual-liberalis ala manusia modern juga mengganggu kehidupan sosial sehingga kawanan domba bermunculan bak jamur dimusim hujan.

Masyarakat cenderung labil dan mudah tersulut emosi, patronage dan kultus menjadi semacam syarat wajib untuk dapat diterima sebagai anggota masyarakat sehingga ujaran kebenaran (saya memilih istilah ujuran kebenaran ketimbang ujaran kebencian karena memang ujaran yang terlontar selalu dianggap sebagai kebenaran) seorang tokoh diterima tanpa ada filterisasi sedikit pun. Kita lihat betapa mudahnya mengumpulkan massa melalui media sosial (WA, FB, TW dll) dengan isu yang menggugah emosional masyarakatnya seperti pelecehan agama, diskriminasi pemberitaan dan perbedaan pandangan politik.

Pada kesempatan situasi itu pula, berseliweran “gembala” yang pandai memahami perilaku kawanan domba tersebut dan memanfaatkannya secara oportunis untuk keuntungan sesaatnya. Masyarakat sengaja dibagi menjadi kekuatan yang saling berseberangan dan saling lempar opini sambil berusaha saling menegasikan/menihilkan sedangkan masyarakat yang bukan salah satu di antara kedua belah pihak akan digolongkan sebagai kawan dari musuhnya. Nietzsche meramalkan, ada saatnya nanti kawanan domba ini menang dan menjadi kawanan serigala yang merongrong kebenaran, mempertontonkan kekerasan dengan pembenaran teologis dan cenderung eksklusif.  

Dengan seluruh kenyataan yang gaduh ini, pandangan kritis Nietzsche menjadi relevan dan urgent untuk mengidentifikasi akar masalah dan mencurigai setiap motivasi terselubung yang mengiringi setiap ujaran kebenaran yang terlontarkan.

Refrensi:

  1. Aan Solehah, Skripsi: Genealogi Humanisme Nurcholish Madjid, Uin Syarif Hidayatullah, Jakarta: 2018
  2. Genealogi Moral Menurut Foucault dan Nietzsche: Beberapa Catatan, Artikel Melintas, Jakarta: 2016
  3. Logika Intertekstual, Dekonstruksi dan Simulasi Dalam Karya Seni Rupa Postmodern, Jurnal Imajinasi Unnes, Semarang: 2016
  4. Majalah Basis, edisi Khusus Nietzsche. No 11-12, Yogyakarta: 2000
  5. Majalah Basis, edisi 03-04, Yogyakarta: 2016
  6. Majalah Basis, edisi 01-02, Yogyakarta: 2019

Pemuda kelahiran Samarinda 36 tahun silam. Disela-sela kesibukannya sebagai karyawan sebuah perusahaan milik pemerintah daerah Kalimantan Timur masih menyempatkan diri untuk menuliskan pandangan terutama menyangkut budaya, seni, sosiologi, politik, filsafat dan agama.

One thought on “Teroristik Dalam Pandangan Genealogi Moral ala Nietzsche

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like