Menjadi Penulis Pemula dan Dewasa

Beberapa waktu lalu, terdapat kawan sedang menghubungi saya. Dia tiba-tiba menghubungi dan menanyakan “apakah saya boleh menulis?”, saya jawab “tentu dan sangat baik”. Namun berselang beberapa lama, dia membalas “tetapi, tidak menarik sepertinya”. Saya balas “tulis saja sesuka mu, siapa tahu jadi penulis yang ciamik” pesan santai tersebut sebenarnya bertujuan dalam dua hal.

Pertama, menjadi penulis itu berdasarkan rasa suka. Jika kita menyukai sesuatu, tentu banyak hal akan mudah kita kerjakan. Kedua, kata “ciamik” sendiri bermakna banyak hal, bisa berhubungan dengan cara penulisan yang asik, enak, nyaman, top, bagus, dan sebagainya. Artinya rasa suka yang mendasari penulis tersebut bisa berbuah manis untuk penulisnya, karena akan berguna bagi pembaca, selain memaduserasikan perasaan penulis dan pembaca, juga mempertajam salinan akal satu dengan akal yang lainnya. Singkat kata, pada akhirnya dia akan mencoba menulis, bagus!.

Sekarang marilah kita coba menggambarkan maksud saya membuat judul yang sebenarnya sudah banyak (barangkali) ditulis oleh beberapa kawan. Entah, melalui blog pribadi atau melalui kanal mainstream lainnya.

Mengapa kita, iya (manusia) perlu menulis? Barangkali banyak yang memberikan tanggapan,”apakah peristiwa yang terjadi pada diriku penting dituliskan?”, ”ah, tanpa menulis pun aku tetap jadi diriku”, “menulis, itu bukan kebiasaanku”, “apa pentingnya menulis?”, dsb, sekian banyak pernyataan maupun pernyataan yang terlontar dimuka kita. Tidak apa, anggap saja semua itu adalah cara lain, agar kita tetap kokoh dan bangun dari peradaban, hihi seperti lagu ya.

Patut di ingat ya kawan-kawan, keberadaan manusia awal itu berasal dari ditemukannya tulisan atau artefak-artefak kuno yang ditemukan oleh ahli, sejak zaman batu tua (Palaeolitikum) hingga batu besar (Megalitikum), sejak saat itu diidentifikasi awal nenek moyang kita. Namun beberapa pendapat lainnya, mengemukakan kalau keberadaan awal manusia dilahirkan dari hasil kerja, yakni melepaskan keterikatan tangannya dari yang semula bergelantungan, hingga dapat berdiri tegak dan membuat perkakas dan produksi.

Namun, kalimat sebelumnya hanya sekadar mengingatkan saja ya kawan-kawan. Barangkali, kawan-kawan bisa menelisik kembali dan menemukan referensi lainnya, yang bisa dijadikan pembanding.

Menjadi penulis itu, sangat menarik loh kawan-kawan. Karena dari menulis, kita bisa mencegah kepikunan (lupa atau hilang akal sehat), merekam sejarah (masalu, hihi), menjaga ilmu, tempat keluh kesah atau berbagi, cara lain untuk belajar, membentuk pribadi, dapat menghasilkan ide baru, dan masih banyak lagi manfaatnya.

Baca Juga:  Elektabilitas Palsu akibat Sesat Pikir Metodologis

Penulis Pemula dan Dewasa

Pemula bisa bermakna “awal”, “menemukan”, “yang pertama” dan lainnya. Namun saya menempatkan kata pemula senada dengan seorang yang terus menerus melakukan usaha agar dapat mencapai kebaikan untuk diri dan lainnya. Artinya menjadi penulis pemula adalah orang yang tidak kenal kata menyerah untuk melakukan perbaikan demi perbaikan, agar kualitas tulisannya semakin berkembang dan berguna untuk banyak orang.

Penulis pemula, sebenarnya seperti yang telah saya singgung sebelumnya. Juga secara insani banyak memiliki peristiwa-peristiwa yang sebenarnya penting namun terkadang tidak dianggap penting. Misalnya saja, kawan-kawan pernah mengalami peristiwa buruk, tentu akan membuat trauma atau bahkan tidak akan mengulanginya kembali. Atau sebaliknya, terdapat peristiwa baik yang ingin dilakukan berulang-ulang agar bisa mendapatkan kenyamanan dan kebahagiaan. Dari dua peristiwa tersebut kawan-kawan sudah bisa menggambarkan atau mengingatnya, alangkah lebih baik di masa kecanggihan teknologi saat ini dapat dimanfaatkan hal-hal tersebut dengan merekam momen dengan menulis.

Namun, untuk menjadi “Pemula” saja tidak cukup kawan-kawan. Kita harus menjadi “Dewasa”. Dewasa bukan berarti diukur dari indikator umur semata, karena sebagian akan bermasalah. banyak kita temukan diluar sana yang sudah berumur namun belum juga memiliki kedewasaan.

Menjadi dewasa bermakna, sebagai penulis kita tidak boleh menjadi seorang yang “sedikit-sedikit tersinggung”. Apa maksudnya? Terkadang, setelah berhasil menulis orang tersebut cepat puas diri, padahal, setiap manusia berhak mendapat kesalahan, karena kesalahan merupakan cara hidup agar manusia dapat berkembang. Jangan pernah tersinggung jika tulisan yang kita buat mendapat komentar pedas/miring dari kawan kita sendiri, karena kritik sebenarnya merupakan bentuk apresiasi kawan untuk membuat kita terus tumbuh dan berkembang.

Penulis pemula dan dewasa dapat tercermin dari usaha yang terus menerus melakukan pencarian, melalui pengalaman, pembelajaran, hingga perdebatan sengit!, serta merefleksikan usaha tersebut dengan rendah hati dan santun.

Selain itu, selalu setiap kita mempunyai karakter dalam sebuah tulisan, dari hal itu kita jangan malu, namun hargai itu, karena karakter adalah bagian yang menjadi penyempurna tulisan kawan-kawan.

Trik Menjadi Penulis Pemula dan Dewasa

Terkadang, kesukaran awal penulis yang kebanyakan diungkapkan oleh orang-orang adalah memulai “kalimat, paragraf, hingga kata”. Menurut saya, hal itu benar, namun kurang lengkap. Menulis seperti berseni, kita harus punya materi, komponen, gagasan, hingga peristiwa yang dapat dijadikan bahan tulisan. Sama seperti pelukis, pelukis harus mempunyai kuas, kanvas, tinta warna, dsb. Begitupun penulis, alat-alat harus tersedia.

Baca Juga:  Benarkah Kita Bangsa Yang Merdeka Dan Besar?

Saya akan ajukan beberapa trik menjadi penulis pemula dan dewasa, namun ingat ya kawan-kawan, trik ini bukan mutlak tidak dapat di ganggu-gugat. Trik ini hanya sarana untuk memudahkan untuk siap menjadi penulis, lebih lanjut bisa berkembang dengan kenyamanan dan kesukaan kawan-kawan masing-masing.

Berikut beberapa trik yang dapat dilakukan;

Pertama luangkan waktu untuk mengingat kejadian, peristiwa, atau buku yang pernah dibaca. Dari mengingat tersebut kawan-kawan dapat memulai untuk menjajaki hal yang akan dituliskan. Kedua fokuskan pada apa yang ingin dituliskan, kawan-kawan diharapkan dapat menaruh perhatian lebih terhadap gagasan yang ingin disampaikan.

Ketiga, mencari sumber-sumber yang relevan, dari pencarian tersebut isi tulisan akan dapat berkembang dan bagus. Keempat batasi maksud tulisan, maksudnya bukan berarti membatasi lembar halaman tulisan, tetapi membatasi agar nilai-nilai dalam tulisan dapat mudah dipahami pembaca.

Kelima maknai penulis sebagai pembaca, terkadang tulisan amat sukar dipahami, karena penulis memaknai tulisannya sendiri tanpa memahami pembaca, penulis harus bisa menjadi pembaca tulisannya sendiri. Keenam meminta bantuan kawan, kawan yang baik adalah kawan yang mampu memberi kritik agar dapat maju dan berkembang, termasuk dalam hal ini karya tulisannya. Ketujuh jangan membatasi diri dari berbagai ilmu pengetahuan yang ada, namun pelajari dengan sungguh-sungguh.

Terakhir kudapan, minuman, atau hal lainnya yang dapat membuat kita lebih rileks untuk menulis. Kawan-kawan dapat luangkan waktu beberapa saat untuk menyantap hal tersebut, atau mendengarkan musik yang menyenangkan untuk merileksasi otak agar performa menulis dapat dilanjutkan. Selanjutnya, saya ingin menyampaikan bahwa menjadi penulis pemula dan dewasa juga harus selaras atau seimbang dengan perilakunya sehari-hari. Karena menjadi penulis tidak akan cukup hanya menuangkan gagasan, namun juga dapat dipraktikan dalam kehidupan sehari-hari. Penulis pemula dan dewasa selalu menjadikan tulisannya sebagai pedoman untuk berlaku baik dan bermanfaat, selalu mawas (berhati-hati) diri dalam melakukan apapun, dan tidak menghindari kritik, serta yang pada akhirnya menyatunya gagasan penulis tersebut sebagai perilaku aktif untuk mewarnai kehidupan.

Mahasiswa Magister Administrasi Publik FISIP Universitas Mulawarman
Posts created 4

8 tanggapan pada “Menjadi Penulis Pemula dan Dewasa

  1. Sherman, L., Gottfredson, D., MacKenzie, D., Eck, J., Reuter, P., and Bushway, S.
    Preventing Crime: What Works, What Doesn’t,
    What’s Promising. Washington, DC: U.S. Department of
    Justice, Office of Justice Programs, 1997. http://viagetpill.com/ Sherman, L., Gottfredson, D., MacKenzie, D., Eck,
    J., Reuter, P., and Bushway, S. Preventing Crime:
    What Works, What Doesn’t, What’s Promising.
    Washington, DC: U.S. Department of Justice, Office of Justice Programs, 1997.

  2. Educate Yourself Watch a Webcast Search Our Educational Resources Find a Doctor
    Talk with a Specialist Order and Download Free Brochures 733 Third Avenue, Suite
    510, New York, NY 10017 800-932-2423 info ccfa.
    buygenericviarga.com Educate
    Yourself Watch a Webcast Search Our Educational Resources Find a Doctor Talk with a Specialist
    Order and Download Free Brochures 733 Third Avenue, Suite 510, New
    York, NY 10017 800-932-2423 info ccfa.

  3. Late-stage Primary Hypertension Primary hypertension not only
    has no symptoms in the early stages but has no cause that we can determine.
    viagra vs cialis Late-stage Primary Hypertension Primary hypertension not
    only has no symptoms in the early stages but has no cause that we can determine.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pos Terkait

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.

kembali ke Atas