Jalani Pancasila Seperti Air Mengalir

Betapa bersyukurnya bangsa dan negara Indonesia sampai hari ini Pancasila abadi dalam Dasar Negara dan Falsafah hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Oleh penulis dimanifestasikan sebagai Jubelium 75 Tahun Pancasila, artinya perayaan ulang tahun suatu peristiwa pada bilangan tahun tertentu yang dirayakan secara khusus. Bagaimana bisa dikatakan Jubelium? Karena tercatat dalam sejarah pertama kali peringatan lahirnya Pancasila tidak ada satupun kaum terpelajar ikut dalam upacara bersejarah ini. Padahal kaum terpelajar merupakan elemen penting untuk menjaga dan merawat nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila.

Hal itu tidak terlepas dari dampak besar Pandemi Covid-19 yang membuat Indonesia sakit di berbagai sektor. Bahkan bangsa ini harus merasakan tidak dapat berinteraksi sosial seperti biasanya. Namun, tidak semua harus terperangkap dalam masalah ini. Pancasila sebagai falsafah kehidupan berbangsa dan bernegara justru membuat kita seharusnya punya aneka resep dan cara untuk tetap bertahan dan berkarya di tengah Pandemi Covid-19. Ini momentum penting dan langka direfleksikan karena ada banyak hal juga yang harusnya kita pahami tentang Pancasila seperti Air mengalir yang kini dituliskan.

36 butir-butir Pancasila sungguh jelas seperti Air mengalir di sungai yang jernih. Sungguh menghidupkan jiwa dan raga menggumuli dan mengedjawantahkannya dalam karya-karya yang masih bisa dilakukan dalam masa-masa Pandemi Covid-19 ini. Sudahlah, tiadak ada artinya kita habiskan waktu kita hanya untuk memikirkan kenyataan masalah yang ada di depan kita, sangat dekat.

Pancasila ini bagaikan air yang mengalir. Segar dirasakan oleh lidah, mata dan sekujur tubuh setiap manusia. Bukan sekedar berangan, tapi ini realitas yang ada. Sesekalilah memandang dan merasakan air jernih yang mengalir, dan sembari refleksikan kekuatan Pancasila yang membungkus bangsa ini menjadi satu adanya. Air mengalir itu berjalan seiring dengan berputarnnya waktu, persis seperti Pancasila yang masuk dalam usia 75 tahun. Coba ikuti kemana arah Pancasila dan air itu hingga kita temukan satu titik akhir yang membahagiakan. Dimana atau kapan hanya kita segenap bangsa Indonesia yang akan menjawabnya. Bukan saatnya lagi pesimis jika manifestasi Pancasila adalah air yang mengalir. Namun optimislah, negara tidak perlu takut tapi perlu waspada pada ancaman yang adalah tantangan perwujudnyataan nilai-nilai Pancasila itu sendiri.

Baca Juga:  Komunikasi Yang Tidak Efektif Menuju New Normal

Anak muda, kontribusimu semakin dipertanyakan oleh Negara. Apalah arti sebuah cita-cita besar tentang Pancasila menjadi air yang mengalir jika generasi penerusnya hidup layaknya bersandiwara. Memang tak ada sempurna, Pancasila pun sangat dinamis. Hanya bangsanyalah yang mampu menyempurnakannya lewat aktualisasi nilai-nilai Pancasila. Pandemi Covid-19 adalah kerikil kerikil yang ada pada sungai yang mengalirkan air, menyempurnakan perjalanan bangsa ini. Sekarang saatnya kita rasakan aliran Pancasila ini yang terus berjalan dalam nadi setiap anak muda maupun bangsa Indonesia. Tak ada pilihan lain selain mengikuti aliran ini, jangan pernah melawan karena justru akan berbahaya sampai menyeret kita pada lembah permasalahan yang memecahbelah persatuan kita. Semoga tulisan ini semakin menguatkan kita merefleksikan sejarah Pancasila juga menguatkan kita menghadapi situasi normal baru pasca Pandemi Covid-19.

Mahasiswa Pascasarjana Kebijakan Publik Universitas Mulawarman dan Duta Damai Kalimantan Timur
Posts created 1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pos Terkait

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.

kembali ke Atas