Mengeja Indonesia

Kuasa dalam Benak Nietzsche dan Bourdieu4 min read

Sejarah dunia adalah sejarah tentang dominansi, perebutan kekuasaan dan perampasan hak-hak yang liyan. Seberapa jauh roda takdir berputar atau garis takdir membentang, mereka akan kembali pada situasi tersebut. Betul kata nietzche bahwa sejatinya manusia adalah mereka yang haus akan kuasa (the will to power).

Tak bisa dipungkiri apabila manusia selalu berambisi untuk menjadi penguasa dimanapun tempatnya. Bagaimanapun juga ini adalah sifat dasar manusia sekaligus sifat alamiah bagi mahluk hidup. Jika tidak dapat menguasai yang lainnya, maka minimal mereka dapat menguasai dirinya sendiri.

Sejarah tentang kelemahan adalah awal mula dari sejarah dominansi. Mereka yang tahu betapa pahitnya masa itu, akan benar-benar haus untuk mencari rasa baru. Dimana mereka memiliki daya dan dapat melampiaskan perasaanya yang selama ini tertekan.

Apalagi jika yang kita bicarakan adalah manusia, mahluk multi dimensi yang tidak hanya bergerak berdasarkan insting semata. Dalam psikologi apabila manusia terus menekan perasaan mereka maka suatu hari perasaan itu akan meledak dan menyebabkan suatu hal yang tidak dapat diprediksi.

Dan itu adalah hal yang cukup menakutkan. Jika itu hanya seorang individu semata maka dampaknya tidak akan terlalu terasa, tetapi apabila itu berlaku dalam jumlah besar atau berupa sekumpulan massa, maka apa yang akan terjadi?

Fenomena dimana dua golongan atau lebih saling menjatuhkan adalah hal lumrah apabila kita berpacu pada teori ini. Bagaimanapun juga tak ada satupun orang atau kelompok yang menginginkan kekuasaannya diusik oleh pihak lain. Begitu mereka merasakan sedikit goncangan, maka sebuah langkah praktis akan segera dilancarkan.

Dark age ataupun renaissance adalah sama dalam hal ini. Aristokrasi maupun demokrasi pun juga tak jauh berbeda. Mereka sama-sama bergerak dengan dasar perebutan kekuasaan. Hanya saja keduanya memiliki wajah yang berbeda. Yang satu kejam dan bengis, sedangkan yang lain adalah culas dan arogan.

Narasi tentang perbudakan selalu terdengar ironis, tidak manusiawi dan terkesan benar-benar merendahkan manusia, namun narasi tentang kapitalis ataupun elite penguasa sebenarnya jauh lebih menjijikan daripada hal itu. Ini adalah kenyataan yang ada, ini adalah kenyataan yang tak berubah. Dan ini adalah kenyataan tentang kita sebagai manusia.

Baca Juga:  Otentisitas dan Inotentisitas Opini Publik

Jika pada zaman aristokrat dasarannya adalah darah dan mayat. Maka dalam demokrat dasarannya adalah waktu dan jiwa. Seorang raja sangat jarang berkuasa tanpa darah di kakinya, sedangkan seorang pemodal sangat jarang menggurita tanpa jiwa dalam genggamannya.

Fakta ini tidak dapat dibantah dengan mudah. Sejarah telah mencatatnya. Meski dengan reduksionis dan pemfilteran dalam beberapa bagian. Memang seperti itulah kita. Binatang buas yang bahkan lebih buas daripada binatang itu sendiri.

Beruntunglah orang-orang yang selama hidupnya dilanda kemiskinan, minimal kalian tidak memperkosa orang dengan jumlah banyak. Dan merugilah orang-orang yang selama hidupnya dilimpahi kekayaan, karena tanpa sadar kalian mengangkangi massa dalam jumlah besar.

Dalam teorinya bordeau menyebutkan bahwa sosial adalah panggung dimana banyak pihak saling bertarung. Siapa yang memiliki modal paling besar, adalah mereka yang paling berkuasa. Dan siapa yang paling berkuasa akan memiliki pengaruh paling besar untuk merubah struktur sosial yang ada. Ini adalah bukti bahwa manusia tidak dapat sedikitpun luput dari perebutan dominansi.

Modal yang digunakan manusia untuk bertarung bisa berupa apa saja. Mulai dari pengetahuan, status sosial sampai pada hal paling kongkrit yaitu ekonomi atau uang. Dan dari semua modal itulah manusia akan menentukan siapa pihak yang paling berkuasa.

Dalam beberapa kasus manusia tanpa sadar  akan melakukan suatu hal yang dinamakan dengan kekerasan simbolik. Sebuah tindakan dimana individu atau kelompok memperlihatkan suatu simbol kepada individu lainnya, yang dimana individu tersebut tidak memiliki atau memiliki simbol yang lebih lemah daripada individu pertama.

Contoh paling sederhana dari hal ini adalah pertarungan brand atau merek dari barang-barang pribadi. Seperti pertarungan antara ponsel iphone dan juga xiaomi. Ketika dua orang yang memiliki ponsel tersebut saling berinteraksi, maka kekerasan simbolik tidak dapat dihindarkan. Pemilik barang dengan nilai paling tinggi secara otomatis akan mendominasi mereka yang memiliki barang dengan nilai rendah.

Meskipun kekerasan ini bukanlah kekerasan fisik, namun orang yang menjadi korban akan menerima dampak cukup signifikan dalam aspek psikologisnya. Seperti minder, inferior, atau bahkan merasa tidak pantas dan merendahkan diri di hadapan pelaku kekerasan tersebut. Dan hal ini bukanlah hal yang dapat dihindari.

Baca Juga:  Mengapa Harus Belajar Filsafat?

Sejarah dunia adalah sejarah tentang dominansi, perebutan kekuasaan dan perampasan hak-hak yang liyan. Seberapa jauh roda takdir berputar atau garis takdir membentang mereka akan kembali pada situasi tersebut. Betul kata nietzche bahwa sejatinya manusia adalah mereka yang haus akan kuasa, oleh karena itulah manusia tidak akan pernah lepas darinya. Pertanyaannya adalah struktur seperti apa yang akan dikonstruksikan oleh pihak berkuasa? dan dimanakah posisi kita?

Fatkhul Ulum Nuzuly

Add comment

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.