Sejauh Mana Kritik Agama Feuerbach Mengena?

Feuerbach adalah orang pertama yang mencoba memberikan dasar ilmiah kepada ateisme. Kritik agamanya menjadi pola sebagian besar kritik agama di kemudian hari: terutama Nietzsche, Freud dan tentu Marx mengartikan agama sebagai proyeksi manusia.

Feuerbach adalah wakil pertama sebuah gaya berpikir yang dapat disebut “filsafat tak lain daripada” atau “filsafat penelanjangan”. Gaya itu mempunyai obsesi untuk mencari di belakang gagasan-gagasan dan cita-cita luhur suatu keburukan atau kepentingan: agama adalah tak lain daripada.. (Feuerbach cs), moralitas itu tak lain daripada… (menurut hedonisme: usaha mencari nikmat), cita-cita luhur tak lain daripada… (Freud: sublimasi nafsu seksual).

Mereka bernafsu untuk menelanjangi sesuatu yang secara spontan dihayati sebagai luhur dan baik, sebagai sesuatu yang buruk dan rendah. Siapa yang berfilsafat menurut kerangka itu, cenderung untuk tidak menghiraukan kenyataan yang ada, melainkan langsung mencari “artinya” atau “kenyataan” atau “dasar yang sebenarnya” yang disangkanya ada di belakang kenyataan itu.

Dengan cara itu, pertanyaan sulit mengenai apakah sebuah kenyataan sendiri benar atau baik dapat dihindari. Misalnya, bukannya bertanya apakah kita harus jujur, tetapi cukup dikatakan bahwa pertanyaan itu adalah tanda bahwa jiwa kita tidak beres. Metode ini dalam filsafat disebut reduksionisme. 

Pengartian agama sebagai proyeksi manusia semata-mata adalah contoh “filsafat tak lain daripada” itu. Kepercayaan yang bagi orang beragama bernilai tinggi, “ditelanjangai” sebagai “tidak lebih daripada” keterasingan manusia dari dirinya sendiri. 

Tetapi apakah Feuerbach benar? Apakah agama lebih dari sebuah proyeksi manusia? Tidak ada ruginya kalau kita mengakui bahwa dalam agama-agama ada banyak unsur manusiawi. Banyak yang dipercayai dan dilakukan atas nama agama sebenarnya tidak ditemukan dalam wahyu asli, melainkan merupakan interpretasi yang miring dan/atau tambahan kontekstual selanjutnya.

Banyak institusionalisasi dalam agama-agama berkembang kemudian. Semua unsur manusiawi itu memang proyeksi manusia. Jadi Feuerbach ada benarnya. Banyak kenyataan dalam hidup umat-umat beragama tidak berdasarkan wahyu dari Tuhan, melainkan merupakan hasil kreatifkas maupun kepicíkan umat yang bersangkutan. Mengakui kenyataan itu sangat baik bagi pembaharuan dan pemurnian agama-agama. 

Baca Juga:  Ancaman terhadap Kebebasan Pers Menciderai "Soko Guru" Demokrasi

Akan tetapi, apakah agama hanyalah proyeksi manusia? Itulah yang tidak pernah dibuktikan Feuerbach. Bahwa dalam agama-agama terdapat proyeksi manusia, tidak berarti bahwa agama-agama itu tidak lebih dari 

proyeksi. Feuerbach tidak pernah membahas pertanyaan tentang kebenaran agama pada dirinya sendiri. Ia hanya membahas fungsi agama (fungsi dalam usaha manusia untuk menjadi diri sendiri). Pertanyaan apakah ada Allah dan malaikat tidak pernah dibahas oleh Feuerbach. Andaikata sebuah agama seluruhnya merupakan proyeksi manusia, pertanyaan apakah ada Allah atau tidak tetap belum tersentuh. 

Tetapi, lebih dari itu: dalam teori Feuerbach sendiri ada unsur sisipan yang tidak dapat dijelaskannya. Seandainya seluruh ciri realitas adidunia yang dipercayai dalam agama-agama, seperti bahwa Tuhan itu mahakuasa, mahabaik, berupa hakim dan penyelamat itu seluruhnya hanya proyeksi (anggapan ini pun tidak terbukti dan ada alasan-alasan baik untuk menolaknya), jadi andaikata unsur kuasa, baik, hakim dan sebagainya itu hanya proyeksi hakikat manusia, dari mana Feuerbach mengambil unsur “maha” yang ditambahkan dalam agama? “Maha” itu tidak hanya berarti “Iebih dari manusia”, melainkan “tak terhingga”. Kekhasan Allah yang dipercayai oleh orang beragama adalah bahwa Allah bukan hanya “lebih daripada manusia”, melainkan “lain daripada manusia”, yaitu “tak terhingga” (hal mana dalam teologi negatif India dan abad pertengahan Eropa, dalam sufisme dan dalam ibadat para rabbi Yahudi sudah disadari sepenuhnya sejak ratusan, bahkan ribuan tahun).

Unsur “tak terhingga” itu tidak terdapat sedikit pun dalam pengalaman indrawi manusia.  Jadi unsur itu tidak mungkin merupakan proyeksi karena tak ada yang dapat diproyeksikan (dari ilmu kita pasti tahu bahwa penjumlahan angka-angka terhingga tidak pernah menghasilkan angka tak terhingga). Kalau ciri-ciri seperti kuasa, baik, kasih, adil kita ibaratkan dengan pakaian dan “pengada tak terhingga” (Pengada yang mahakuasa, mahabaik, mahakasih, mahaadil) dengan kapstok padanya pakaian itu digantungkan dalam proyeksi, maka unsur yang tidak dijelaskan oleh Feuerbach adalah kapstok itu. Tetapi tanpa kapstok itu seluruh teori proyeksi runtuh.

Sebetulnya Feuerbach dan penganut teori proyeksi lainnya pun dapat bertanya: apakah mungkin manusia merentangkan hati dan pikiran ke arah Yang tak terhingga andai- kata ia tidak mempunyai suatu pengalaman sungguh-sungguh tentang Yang Tak Terhingga itu? Apakah Tuhan hanya dapat dipikirkan karena kita secara nyata tersentuh oleh realitasNya? Jadi teori proyeksi justru gagal menjelaskan yang paling hakiki dalam pengalaman agama: bahwa manusia berhadapan dengan realitas tak terhingga (Uraian lebih mendalam tentang ateisme dapat ditemukan dalam buku Prof. Louis Leahy 1985, Aliran-aliran Besar Ateisme: Tinjauan Kritis, Yogyakarta: Kanisius).

Mengeja Indonesia adalah sebuah gerakan yang otonom dan nirlaba, mengangkat isu-isu fundamental bangsa.
Situs Web https://mengeja.id
Posts created 16

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pos Terkait

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.

kembali ke Atas