Mengeja Indonesia

Diet Ala Filsuf Yunani6 min read

Salah satu pendidikan untuk calon pemimpin negara yang ditawarkan oleh Plato dalam karyanya Politeia (The Republic) adalah pendidikan gymnastik pada usia dini. Namun sebelum menjalani pendidikan gymnastik, anak-anak menurut Plato harus terlebih dahulu menjalani pendidikan seni dan musik. Kedua pendidikan usia dini tersebut (seni-musik dan gymnastik) dirancang bukan dalam rangka melahirkan atlet gymnastik ataupun seniman handal namun sangat penting untuk mengoptimalkan sensibilitas pra-rasional sebagai kecakapan dasar yang wajib dimiliki oleh pemimpin masyarakat.

Dalam Politeia, pendidikan gymnastik bukan ditujukan untuk memperkuat otot saja atau body building karena pendidikan manusia sejatinya adalah dalam rangka merawat jiwanya, jati diri manusia. Pendidikan bukan sekedar memindahkan pengetahuan, pendidikan utamanya adalah upaya untuk menghidupkan jiwa anak manusia yang mungkin saja mati oleh karena obsesi orang tua ataupun lembaga pendidiknya. Bagi Plato, mendidik adalah mencetakkan tatanan tertentu pada jiwa seseorang supaya memiliki disposisi yang terbuka pada hidup mulia, sedini mungkin. Kegagalan membentuk disposisi sensibilitas pra-rasional akan melahirkan generasi yang dirundung kegalauan identitas dan kebingungan dalam menghadapi realitas hidup yang serba bercampur. Generasi, yang menurut Nietzsche, bermental kawanan domba, yang takut, resah dan mendendam hingga akhirnya menjadi fanatik, merasa benar sendiri. Lewat pendidikan gymnastik, jiwa mencari cara dan sarana untuk menyempurnakan dirinya. “A good soul by its virtue renders the body the best that is possible” pungkas Plato\.

Pendidikan gymnastik tersebut dimulai Plato dengan membicarakan pola makan, sedininya anak-anak (tentu juga termasuk kita yang saat ini berada ditengah kehidupan serba praktis) dididik untuk menghindari dari apa-apa yang meracuni diri (seperti junk food, soft drink dan juga minuman beralkohol) agar memiliki kesiapsediaan, ketangkasan, penglihatan dan pendengaran yang tajam.

Sebagai prajurit, misalnya, mereka dididik untuk tidak mengadakan pesta pora makan ikan saat menjalani ekspedisi militer. Begitu pula, para pemimpin harus membiasakan diri untuk tidak memakan daging rebus dan menggantinya dengan ikan atau daging panggang. Hal demikian untuk mengajarkan kepraktisan dan kesederhanaan. Dengan memanggang, mereka tidak direpotkan dengan segala bumbu-bumbu dan peralatan penunjang memasak, mereka hanya perlu menyiapkan kayu bakar. Para prajurit dan juga negarawan harus menjauhkan diri dari kemewahan meja makan yang saat itu, dizaman Plato hidup, seringkali menyuguhkan anggur dan wanita penghibur.

Para prajurit dan negarawan juga diberi pantangan berupa makanan dan minuman yang manis-manis karena cenderung membuat mengantuk. Selain itu, mereka juga dididik untuk tidak memperbanyak tidur namun juga bukan diperkenankan bergadang. Banyak tidur disinyalir dapat mengakibatkan seseorang menjadi pemalas, lamban bahkan bodoh. Sedangkan kurang tidur mengakibatkan seseorang menjadi kurang bersemangat, mudah lelah dan sulit berkonsentrasi. Sebagaimana para prajurit dan negarawan, anak-anak haruslah dibiasakan untuk tidak tidur dialas kasur yang tebal agar ia tidak mudah terlena dan lekat dengan kemewahan ragawi saja. Pendidikan demikian, meskipun bercita rasa militer tidak dapat disamaartikan dengan kekejaman. Sebagaimana dawuh, Emha Ainun Nadjib, budayawan Indonesia, pendidikan yang keras dapat dimaknai sebagai proses penempaan diri (pendisiplinan) sedangkan kekejaman adalah upaya penghilangan kemanusiaan.

Baca Juga:  Bangkitnya Gerakan Sosial-Keumatan di Tengah Krisis Ideologi

Setelah berbicara tentang pola makan dan aktivitas harian, Plato menekankan pentingnya perhatian yang tepat dan terkendali terhadap tubuh tanpa berlebih-lebihan. Misalnya ketika tubuh kita sakit, Plato berpendapat bahwa obat yang tepat adalah yang sewajarnya. Memikirkan sakit yang didera dengan berlebihan bukan saja menghabiskan waktu namun juga menghabiskan energi diri dan menghambat aktivitas sehari-hari.

Banyak orang yang pada akhirnya mengalami komplikasi penyakit bermula dari kelelahan psikis karena terlalu khawatir dengan penyakit yang dideritanya. Disisi lain, banyak pula orang yang berhasil survive dari penyakit berbahaya karena memiliki mentalitas yang baik. Pola makan sederhana dan perhatian sewajarnya pada tubuh adalah kunci untuk mengoptimalkan aktivitas belajar (mathesis), refleksi (ennoeseis) dan konsentrasi diri (meletas pros heauton). Berenang dan memanah atau menembak dapat diajukan sebagai sarana olah fisik dan mental yang tepat.

Dari Plato kita dapat pelajaran bahwa pembatasan konsumsi dan perubahan kebiasaan sejatinya bukan hanya persoalan menurunkan berat badan atau weight loss dan body building atau membentuk tubuh fisik. Hal demikian bertujuan untuk mendidik thumos yakni aspek jiwa manusia yang berada diantara nafsu survival biologis atau epithumia (nafsu makan, minum, berketurunan, menumpuk harta dan lainnya) dan rasio atau intelektual. Jika thumos dididik hanya untuk memenuhi hasrat epithumia semata maka ia akan menjadi manusia rakus, arogan, pemuja tubuh, pemarah dan agresif. Sedangkan jika thumos hanya dididik dengan aspek intelektual maka ia akan tumbuh menjadi pribadi cerdas namun culas, malas, pengecut dan loyo. Keseimbangan thumos, bagi Plato, hanya dapat dicapai dengan pendidikan yang berorientasi pada jiwa manusia. Inilah yang kemudian kita kenal dengan Diet. Diet berasal dari kata diaeta yang berarti the manner of living, cara hidup atau makna hidup.

Dengan pengertian diatas, diet dapat disepadankan dengan istilah puasa dalam bahasa Indonesia. Puasa berasal dari bahasa Sanskerta “upavasa“, upa berarti near-dekat; hold-menahan; above-diatas sedangkan vasa berarti fat-lemak; dwelling-tetap; living-hidup; staying-diam. Puasa pada makna dasarnya dapat diartikan menahan diri, diam diatas, bertahan hidup atau berdiam diri. Kesemuanya tampak jelas berhubungan dengan pengendalian diri yang dalam budaya Nusantara mewujud pada makna integral olah raga, olah sukma, olah pikir dan olah karsa. Dalam tradisi kita mengenal praktik pasa (puasa) mutih, pasa ngableng, pasa pati geni, pasa ngeluwang dan lain sebagainya.

Baca Juga:  Ngobrol Saja juga Berpotensi Menularkan COVID-19

Kesemua puasa tersebut kebanyakan dijalankan oleh para ksatria (berasal dari bahasa Sanskerta, ksatra yang berarti kewenangan; ksatria bermakna orang yang diberi wewenang untuk menegakkan hukum), para raja dan juga para agamawan atau Rsi. Puasa tersebut biasanya dilakukan sembari meditasi atau bertapa di tempat yang jauh dari keramaian agar mencapai kerjernihan pikiran, hati dan tindakan. Para pelaku puasa bukan hanya berhasil menundukkan dirinya sendiri namun juga siap untuk membentuk tatanan masyarakat baru yang lebih baik, lebih religius dan berkeadilan. Puasa juga dilakukan bagi mereka yang ingin memproduksi peralatan tertentu seperti senjata, alat musik atau pun perlengkapan rumah tangga dengan harapan senjata ataupun alat musik yang dihasilkan memiliki aspek spiritual.  Dengan puasa, lahirlah orang-orang yang “sudah selesai dengan dirinya sendiri” sehingga tidak akan lagi mencari-cari keuntungan dari orang lain. Orientasinya jelas untuk membangun masyarakat yang adil dan beradab dalam hikmat/kebijaksanaan.

Dengan puasa, setiap orang dapat pelajaran mengenai harmonisasi kehidupan pribadi dan sosialnya. Bagi dirinya pribadi, puasa adalah upaya menjadi pribadi merdeka, berdaulat dan mandiri. Sedangkan bagi kehidupan sosialnya, puasa bukan hanya mengajarkan arti pembatasan konsumsi namun juga pendidikan mengenai pendistribusian kekayaan, pengelolaan SDA, jaminan sosial dan kegotongroyongan. Dengan puasa maka Paripurnalah pribadi, paripurna pula masyarakat.

Dari uraian diatas, utamanya keberhasilan diet berpangkal pada perubahan paradigma mengenai nilai diri sendiri dan makna kehidupan. Diet adalah pendidikan atau upaya mengenali jati diri dan memaksimalkan potensi diri karena sejatinya manusia tidak dikenal dari berat badan atau keelokan tubuhnya namun ia akan dikenang atas pengabdian dan pengorbanannya. Jika kemudian dalam perjalanannya diet menuntut pembatasan konsumsi dan perubahan kebiasaan, itu harus diartikan sebagai pengorbanan untuk menggapai nilai hakikat diri itu sendiri. Sedangkan “keidealan” yang kemudian diperoleh dari program diet haruslah menjadi sarana bagi optimalnya pengabdian diri bagi sesama.

Perubahan paradigma nilai diri dan makna kehidupan tersebut, hakikatnya adalah upaya menjawab 3 pertanyaan esensial yang menyertai eksistensi manusia, darimana kita berasal, untuk apa kita berada di dunia dan akan kemana kita berakhir sehingga ultimate goal dari program diet bermakna perjalanan panjang akan kesadaran eksistensi diri atau fitrah. Sebagai perjalanan panjang tentulah dipenuhi rintangan yang menuntut kesabaran dan sikap optimis. Setiap capaian-capaian dalam program diet merupakan terminal-terminal peristirahatan yang harus dinikmati dan disyukuri.

Padli Ahmad

Pemuda kelahiran Samarinda 36 tahun silam. Disela-sela kesibukannya sebagai karyawan sebuah perusahaan milik pemerintah daerah Kalimantan Timur masih menyempatkan diri untuk menuliskan pandangan terutama menyangkut budaya, seni, sosiologi, politik, filsafat dan agama.

Add comment

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.