Kaum Millenial: Asa Ditengah Pademi dan Visioner Bangsa

Covid-19 merupakan salah satu jenis penyakit baru yang disebabkan oleh virus Corona yang muncul pertama kali di Kota Wuhan Provinsi Hubei Tiongkok. Penyebaran yang bergitu cepat dari daerah asal virus tersebut menyebabkan World Health Organization (WHO) selaku badan otoritas resmi kesehatan dunia menyatakan sebagai pademi global terhadap Covid-19. Akibatnya banyak negara di dunia berjuang menghadapi virus ini dengan menerapkan Lockdown atau penguncian sementara guna menurunkan intensitas gerak publik yang dinilai sebagai salah satu pendukung penyebaran Covid-19 melalui kontak langsung.

Sementara kondisi serupa pun melanda Indonesia sejak ditemukannya dua orang pasien pertama Covid-19, Pemerintah mengambil beberapa tindakan salah satunya ialah dengan menutup sementara segala macam bentuk aktivitas pada institusi pendidikan hingga segala macam kegiatan layanan publik dialihkan dengan cara daring atau sistem online. Tidak hanya sampai disitu saja pemerintah indonesia juga merumuskan langkah subsider kebijakan Lockdown yang berbentuk Peraturan Pemerintah No. 21 Tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), kemudian diikuti dengan Permenkes No. 9 Tahun 2020 tentang Pedoman PSBB dalam rangka percepatan penanggulangan Covid-19.

Aturan PSBB tersebut praktis diadopsi diberbagai daerah terutama instansi pelayanan publik sehingga segala macam bentuk kegiatan ataupun aktivitas harian yang mengharuskan tatap muka diminimalisir dan diubah dengan metode daring. Adapun aktivitas pelayanan publik yang tidak bisa dipindahkan dengan cara daring tetap diperbolehkan berlangsung tetapi harus menerapkan protokol kesehatan yang berupa: pemakaian masker, imbauan cuci tangan, dan pengukuran suhu tubuh. Penerapan PSBB diklaim mampu menekan peningkatan kasus Covid-19 serta dapat mengendalikan laju Covid-19 di Indonesia.

Hingga saat ini angka pasien positif Covid-19 berada pada angka 45.891 jiwa diikuti dengan jumlah pasien sembuh sebanyak 18.040 jiwa dan pasien meninggal sebesar 2.465 jiwa (Kementerian Kesehatan RI, 21 Juni 2020). Sisi lain dari penerapan PSBB  ialah timbul dampak-dampak sosial-ekonomi yang membuat sebagian besar masyarakat khawatir. Selah satunya adalah hampir 60 persen sektor industri harus gulung tikar sebagaimana yang diungkapan oleh Kementerian Industri RI terdapat 3,05 juta orang harus dirumahkan atau di-PHK (Detik.com). Selain itu  Kementerian Perekonomian RI per 2 juni kemarin kehilangan pemasukan dari industri penerbangan sebesar 207 milyar (Kontan.co.id).

Lesunya sektor pariwisata dan perhotelan yang diperkirakan kehilangan omzet okupansi sebesar 40 persen diperkirakan setara dengan 10 milyar perbulan. Selain itu Covid-19 juga menimbulkan problem sosial lainnya seperti pelarangan aktivitas ibadah di ruang publik, pemberlakuan larangan mudik, hingga tidak meratanya aksebilitas internet yang menghambat proses belajar mengajar secara daring.

Berbagai fenomena di atas merupakan efek domino atau turunan dari Covid-19 yang tidak bisa dibiarkan saja, oleh karenanya perlu diambil satu upaya untuk menanganinya agar tidak menimbulkan gejolak sosial yang lebih besar di masyarakat. Secara sederhana langkah yang mesti dibangun ialah meningkatkan semangat berbagi dan pola hidup gotong-royong agar setiap orang dapat bertahan di kondisi pademi ini.

Baca Juga:  Perempuan Tidak Terbatas Pada Selaput Dara

Pola hidup gotong rotong bukan merupakan hal baru pada masyarakat Indonesia, sebab sejak negara ini mulai ditegakkan hingga mencapai kata berdaulat telah dipupuk dengan rasa kebersamaan dan semangat gotong royong. Hanya saja pola gotong royong mulai ditinggalkan secara perlahan semenjak masyarakat dilanda demam globalisasi.

Efek globalisasi telah menumbuhkan jiwa kompetitif dan meningkatkan rasa indivualis, tak heran dengan adanya pademi Covid-19 merupakan momentum bagi kita untuk kembali pada semangat akan kebiasan bergotong royong dan saling membantu. Secara sederhana langkah awal memulainya dengan merawat kesadaran dan menjaga nalar kepedulian kita terhadap sesama.

Salah satu kelompok masyarakat yang memiliki kemampuan yang adaptif terhadap perubahan, peka pada kondisi sekitar, dan berpikiran terbuka ialah pemuda atau yang sekarang lebih dikenal dengan sebutan kelompok Millenial. Millenial merupakan sebuah pengistilahan bagi generasi yang lahir antara tahun 1980an hingga 2000an. Generasi tersebut akan mencapai usia matang saat era pergantian millenium atau abad 21 awal.

Karakteristik generasi Millenial ialah adaptif terhadap teknologi, senang bersosial secara daring, menyukai kebaruan, dan fleksibilitas yang tinggi. Berangkat dari hal itu maka ditengah pademi Covid-19 tak jarang suatu asa muncul atas gagasan para Millenial untuk merespon kondisi masyarakat hari ini yang sedang tidak baik-baik saja. Respon tersebut dengan menggagas gerakan sosial atas dasar kemanusian dan kepedulian ditengah pademi Covid-19.

Salah satu contohnya ialah Aliansi Masyarakat Samarinda Peduli Covid-19, dimana gerakan sosial ini merupakan sebuah buah pikir dan kerja awal yang digagas oleh Kaum Millenial Kota Samarinda. Gerakan sosial tersebut sudah melakukan berbagai kegiatan yang berupa kampenye membangun pola hidup berbasis protokol kesehatan pada sosial media sebagai bentuk pencegahan Covid-19 terhadap masyarakat Kota Samarinda, penggalangan dana maupun penyaluran donasi bagi masyarakat yang terdampak langsung Covid-19 di Kota Samarinda (lihat kanal instagram @pedulicovi19.smr).

Gerakan sosial yang dibangun oleh kaum Millenial Samarinda bisa jadi hanya satu dari contoh gerakan yang dibangun oleh kaum Millenial Indonesia diberbagai daerah dengan maksud untuk membantu Pemerintah Indonesia melawan Covid-19. Maka tak heran bila salah satu pendapat dari dari Bung Karno terhadap Kaum Muda mampu merubah dunia dapat terefleksikan dengan rekam gerakan sosial yang dibangun kaum Millenial saat ini sebagai bentuk guncangan bagi Pemerintah atas kelambanan dalam memastikan kesejahteraan masyarakat ditengah pademi.

Baca Juga:  Ancaman terhadap Kebebasan Pers Menciderai "Soko Guru" Demokrasi

Kaum Millenial sekarang merupakan tumpuan kedepan bagi Indonesia dalam menghadapi wabah maupun modernitas, sebab kaum Millenial identik dengan kemampua yang kaya akan ide, punya kemauan berkolaborasi, dan punya mimpi untuk membangun negeri. Pemerintah harus terus mendorong geliat semangat yang dimiliki kaum Millenial dan keunggulan yang dimiliki kaum Millenial melalui kolaborasi, membentuk kebijakan yang mendukung pengembangan kapasitas kaum Millenial, menyiapkan sarana dan prasana penunjang pendikan kaum millenial, serta langkah terakhir memberdayakan kaum Millenial itu sendiri.

Walaupun karakter kaum Millenial bersifat fleksibel namun harus dilatih agar memiliki jiwa profesional dan berdedikasi terhadap perannya agar semangat Millenial yang dimiliki tidak hanya terpenjara dalam tangkapan usia saat ini saja, namun dapat menjadi sebuah perilaku baru atau New Habit yang mendorong perbaikan tata masyarakat Indonesia kedepannya menjadi lebih mutakhir layaknya secanggih telepon pintar atau kecerdasan buatan masa kini, sehingga optimisme dan nilai jual bangsa di dunia internasional menjadi jauh lebih ternilai dari pada sekarang.

Millenial harus tetap menjaga kesadaran dan kepekaannya sehingga potensi yang dimiliki tidak pudar akibat kecanduan teknologi yang berkonotasi negatif sehingga produktifitas menjadi menurun dan menimbulkan perilaku Toxic seperti budaya mageran, mencari sensasi di media sosial, nongkrong tidak hasilnya, dan tidak percaya pada diri sendiri. Semua hal itu merupakan salah satu bentuk ancaman laten yang bisa meningfeksi secara umum generasi Millenial.

Oleh sebab itu kaum Millenial harus melakukan aktivitas dan upaya positif yang berorientasi pada peningkatan kapasitas dan pengembangan diri agar kaum Millenial bisa memaksimalkan peluang yang ada dalam dirinya sebagai bonus demografi Indonesia dan bukan sebagai musibah demografi. Kedepannya kaum Millenial dapat berperan menjadi Agent Of Change ditengah masyarakat dimasa krisis serta dizaman serba virtual.

Upaya sederhana yang bisa dilakukan oleh kaum Millenial dalam kehidupan sehari-hari yaitu: bijak menggunakan sosial media, perbanyak wawasan dengan literasi, menjaga semangat untuk berkolaborasi dalam menciptakan karya, dan tangguh ketika menghadapi tantangan terhadap perubahan. Kaum Millenial dimanapun anda berada saatnya harus bergerak dan memulai perubahan pada diri anda sendiri, jangan takut dalam mewujudkan sekecil apapun sebuah ide yang anda miliki, dan berani menjadi pelopor kebaikan bukan menjadi pengekor kebaikan sebab hari ini atau esok masa depan bangsa Indonesia berada pada genggam tangan anda.

Kaum Millenial Indonesia (KAMI) Wilayah Kalimantan Timur
Posts created 1

Satu tanggapan pada “Kaum Millenial: Asa Ditengah Pademi dan Visioner Bangsa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pos Terkait

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.

kembali ke Atas