Mengeja Indonesia

Setelah Pluralisme, Apa Lagi?

Membaca Cak Nur setelah 15 Tahun Kepergiannya

Book Cover: Setelah Pluralisme, Apa Lagi?
Editions:PDF
ISBN: GGKEY:SEZ26PKZ3K3
Size: 5,33 x 8,33 in

Dari pemaparan dalam buku ini, kita dapat melihat bahwa pluralisme sebagai bagian dari pandangan dan pengelolaan keragaman realitas harus didukung oleh sikap kritis. Ada banyak tipologi pengelolaan yang dapat dilakukan selain dari pendekatan sekular-liberal. Landskap kesejarahan yang mengakar dimasyarakat menemukan bahwa kearifan lokal mampu menjadi sarana pengelolaan keragaman namun seiring dengan perkembangan zaman, interaksi kebudayaan mapan, kebijakan publik dan stigma sosial membuat kearifan lokal tersingkirkan dan terancam punah.

Published:
Editors:
Illustrators:
Genres:
Tags:

Padli Ahmad

Pemuda kelahiran Samarinda 36 tahun silam. Disela-sela kesibukannya sebagai karyawan sebuah perusahaan milik pemerintah daerah Kalimantan Timur masih menyempatkan diri untuk menuliskan pandangan terutama menyangkut budaya, seni, sosiologi, politik, filsafat dan agama.

Penanggulangan Bencana di Era Disrupsi

Efektifkah dengan Memanfaatkan Media Sosial

Book Cover: Penanggulangan Bencana di Era Disrupsi
Editions:PDF

Kejadian bencana dapat terjadi setiap waktu, secara tiba-tiba dan bersifat unpredictable kemampuan manusia. Bencana yang terjadi di setiap wilayah memang tidak bisa dihilangkan, akan tetapi dengan tata pengelolaan kebencanaan yang baik potensi dari resiko bencana dapat diminamalkan. Daerah dengan potensi bencana yang besar tentu memiliki kerentanan yang tinggi atas resiko dari bencana tersebut. Media sosial sebagi salah satu bentuk dari berkembangnya teknologi komunikasi informasi yang semakin canggih dapat mendorong respon kepada masyarakat dalam melakukan penanggulangan dan meningkatkan pengetahuan mitigasi bencana masyarakat. Keberadaan social media diharapkan mampu meningkatkan efektifitas dalam penyebarluasan dan mobilisasi informasi kebencanaan sehingga akan mengurangi potensi resiko serta dampak kerugian yang ditimbulkan akibat bencana.

Published:
Editors:
Illustrators:
Genres:
Tags:

Al Fauzi Rahmat

Mahasiswa Magister Ilmu Pemerintahan, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Sains, Saintisme, dan Agama

Book Cover: Sains, Saintisme, dan Agama
Editions:PDF

Beberapa minggu ini jagat laman media sosial Facebook diramaikan dengan serentetan tulisan para “ahli”. Para penulis senior yang terkenal seperti AS Laksana, Goenawan Mohamad, dan Ulil Abshar Abdalla membuat Facebook menjadi lebih segar dan berbobot. Mereka menulis catatan panjang yang tema sains, saintisme, dan hubungan sains dan agama. Mengeja Indonsia merasa debat yang berbobot ini perlu di dokumentasikan sehingga tidak lengkang ditelan zaman, maka dengan segala kekuarangan kami persembahkan kepada penikmat perdebatan ini buku digital Sains, Saintisme, dan Agama.

Published:
Editors:
Illustrators:
Genres:
Tags:
Excerpt:
Reviews:Book 4 Review : Sain, Saintisme dan Agama on Hallo Gani wrote:

Sain dan agama. Satunya ilmu alam, satunya lagi tutorial mengenal tuhan dan tutorial menjalani kehidupan. Dua topik ini dikupas dengan bahasa yang paling mudah dicerna bagi semua kalangan dalam buku Sain, Saintisme dan Agama terbitan Mengeja Indonesia.

Tuntas membaca buku ini, saya lega. Badan menjadi ringan, pikiran pun tenang. Entah apa yang merasuki-ku. Tapi, ini jelas, kegamangan saya selama ini, memikirkan tentang perdebatan alot agama dan sain: mana yang baik, terjawab sudah.

Ada tujuh belas tokoh yang membahas topik tersebut. Mulai dari kalangan kontroversi seperti Ulil Absar, sampai dari kalangan tokoh liberal terbuka seperti Gunawan Muhammad. Masing-masing dari mereka menyumbangkan pemikiran yang mendalam dalam memahami benturan sain dan agama selama ini. Semua orang bebas berfikir tapi pikiran mereka dalam buku ini mewakili mereka yang berfikir bebas dan bijaksana.

Dari tulisan Gunawan Muhammad sebagai contoh. tuntas dan jelas sekali dalam menjelaskan fungsi sain dan kaitannya dengan kasus saat ini, Covid-19. Dia mengutip perkataan Karl Popper untuk mengawali tulisan ” Tujuan ilmu adalah kebenaran, bukan kepastian”. Bagai mendapat kuliah 7 menit, tulisannya mampu menyadarkan para saintisme, orang-orang pro sain tapi bukan ilmuwan, bahwa selama ini mereka salah, salah meyakini, meyakini ilmu “pasti”, padahal dia berkembang dari satu teori ke teori. Tapi Gunawan juga tidak membela agama. Malah dalam tulisan ini dia juga menjelaskan tentang agama pernah menjadi solusi buruk dimasa silam ketika wabah menjadi-jadi di benua eropa.

Atau dari tulisan A.S Laksana. Tulisannya berjudul sain dan hal-hal baiknya. Dia mampu menguraikan tentang ilmu secara… benar-benar meyakinkan. Dan, juga mampu membawa pembaca pelan-pelan masuk ke diskusi inti. Contoh saja, diawal dia menguraikan bagaimana agawaman dari masa ke masa selalu tampil didepan menjawab semua masalah kehidupan, tapi saat corona diam. Diamnya agama menumbuhkan rasa percaya diri para ilmuwan untuk tampil kedepan. tampil menjadi jawaban disaat agama tidak mampu melakukan.

Atau tulisannya Ulil Absar Abdalla. Tokoh Islam Liberal. Tulisannya begitu sederhana, hingga sekali baca kita tahu apa itu pongah. Bagaimana pongah dalam memegang sebuah pendapat malah menjerumuskan pada sikap merasa paling benar sendiri. Ceritanya dekat sekali dengan pengalaman Ulil. Bagaimana dia pernah pongah dalam beragama, taubat, tidak mengkafir-kafirkan orang lagi, tapi malah hampir terjerumus kedalam kepongahan baru, saintisme.

Atau juga tulisannya Hasanuddin Abdurahman. Kritik terhadap saintisme. Ini juga tidak kalah seru. Blak-blakan mengulas kesalahan para budak saintisme yang sombong. Misal dia menyadur prilaku stephen Hawking yang terlalu PeDe pada science untuk diulas. kritik pedas dia sematkan karena stephen berani berbicara diluar wilayah science. Contohnya merendahkan para filsuf, karena sering salah ambil kesimpulan, sedangkan sain tidak.

Atau tulisan bombardir Jamil Masa ke para follower fanatik ilmu pengetahun. Heboh dan pedas. Dia mengulas kesalahan orang yang mempercai sain sebagai agama dan kafir pada nikmat tuhan. Mereka dibantai dengan menyimpulkan ilmuwan saja tidak menganggap adanya mereka pendukung scientisme.

Atau kritikan Lukas Luwarso terhadap gugatan Gunawan Muhammad terhadap science diatas. Katanya GM lupa, dia hanya fokus pada fenomenology tapi lupa unsur lain. Lukas bilang, gugatan GM terhadap Science bersifat nostalgic, perdebatan masa kuno. Harusnya bersifat anakronistik. Dia pun menambahkan GM menuliskan tulisan itu sebagai bentuk kekecewaan dirinya terhadap ketidakmampuan science memberi kepastian terhadap masalah covid-19. Hal ini seolah GM, katanya, mengajak science beristirahat dari prosesnya. Lukas tidak setuju.

Atau pembelaannya Aziz Anwar Fachruddin terhadap makna scientisme. Katanya scientisme tidak mengandung makna peyoratif dan pemakaiannya murni dalam koridor diskusi akademik. Tidak seperti yang orang pikirkan, bahwa dia adalah sebuah paham kepercayaan.

Itu baru tujuh dari sekian artikel menarik dalam buku serial diskusi sain, saintisme dan agama. Artikel-artikel dalam buku ini, menurut pengalaman saya sendiri selesai membaca, cukup memuaskan. Direkomendasikan terutama bagi para pecinta diskusi. Selain menambah sudut pandang, juga bisa membuat kita mawas diri. Tidak mudah terpeleset maupun terpancing pada retorika yang hanya mendefinisikan sebuah makna kata.


Redaksi

Mengeja Indonesia adalah sebuah gerakan yang otonom dan nirlaba, mengangkat isu-isu fundamental bangsa.

Policy Paper: RUU Haluan Ideologi Pancasila (HIP) Dalam Prespektif Kebijakan Publik

Book Cover: Policy Paper: RUU Haluan Ideologi Pancasila (HIP) Dalam Prespektif Kebijakan Publik
Editions:PDF - Edisi Pertama

Sebagai sebuah kebijakan, tentunya RUU HIP tersebut mempunyai permasalahan-permasalahan yang harus ditampung atas berbagai kritik maupun tanggapan dari banyak pihak. Hal tersebut dikarenakan sebuah kebijakan publik akan dianggap berhasil dilaksanakan maupun dibatalkan, jika terdapat berbagai elemen yang memberikan argumentasinya untuk mempertanyakan maupun menguraikan sebuah kebijakan tersebut layak dipertahankan ataupun tidak.

Persoalan konsepsi kebijakan publik sebelumnya telah dikemukakan sebelumnya, berkenaan dengan tahapan proses pembuatan kebijakan. Sebagai sebuah policy paper tulisan ini bertujuan untuk mengadvokasi kebijakan yang digulirkan oleh pemangku kebijakan, untuk mempertimbangkan secara cermat dan tepat.

Published:
Editors:
Illustrators:
Genres:
Tags:
Excerpt:

Muhammad Rizqi Rahmani

Mahasiswa Magister Administrasi Publik FISIP Universitas Mulawarman

Melacak Jati Diri Bangsa

Persfektif Mitologi Tradisional

Book Cover: Melacak Jati Diri Bangsa
Editions:PDF - Edisi Pertama

Edisi khusus buku elektronik Mengeja Indonesia 1 Juni 2020 kado spesial bagi para pembaca setia mengeja.id. Sebuah refleksi momentum Hari Lahir Pancasila. Buku berjudul Melacak Jati Diri Bangsa dalam Perspektif Mitologi Tradisional, ditulis untuk lebih memahamkan kita mengenai jati diri bangsa melalui budaya yang telah lama ada namun terkadang luput dari perenungan dalam berbangsa. Saktikan Kembali Pancasila, menggugah hati atas jati diri bangsa sejati, untuk Indonesia berdikari.

Published:
Editors:
Illustrators:
Genres:
Tags:

Padli Ahmad

Pemuda kelahiran Samarinda 36 tahun silam. Disela-sela kesibukannya sebagai karyawan sebuah perusahaan milik pemerintah daerah Kalimantan Timur masih menyempatkan diri untuk menuliskan pandangan terutama menyangkut budaya, seni, sosiologi, politik, filsafat dan agama.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.