Mengeja Indonesia

Angkringan dan Politik Wong Cilik5 min read

Di angkringan milik Kang Mirto malam itu menjadi lebih ramai. Angkringannya menjadi tempat bertemunya orang-orang kampong mulai dari para kawula muda, tengah baya sampai kaum tua dan lansia. Letak angkringan Kang Mirto memang sangat strategis, berada di pertigaan tengah kampungnya. Ramai memang malam itu, maklum lah, karena libur panjang, selain libur akhir pekan, Jumat adalah tanggal merah.

Tambahan fasilitas pelayanan angkringan berupa wifi, menambah angkringannya makin ramai, kelompok usia remaja anak sekolah pun memanfaatkan kesempatan untuk mengerjakan tugas sekolahnya. Mereka yang pemuda sampai setengah baya merasakan keasyikan tersendiri di tengah menunggu menu khas angkringan, bakwan bakar. Seolah angkringan Kang Mirto memiliki daya tarik tersendiri.

Kebetulan saat itu kok terasa pas dan cocok dengan wajah sumringah Kang Mirto dan para penjaja jajanan ala angkringan Kang Mirto. Mereka ngomongin apa saja, bebas namun jauh dari ceplas ceplos yang ngawur, ujung-ujungnya mereka membicarakan bangsanya, negaranya. Mereka yang jajan di angkringan kang Mirto pun seakan makin terlayani, merasa senang dan sangat senang kalau Kang Mirto ikut nimbrung urun bicara. Kebetulan ia adalah salah seorang pemuda kawakan lulusan sarjana di salah satu kampus swasta. Dulunya saat aktif kuliah juga sebagai aktivis mahasiswa. Jadi dengan latar belakang pendidikan Kang Mirto inilah menjadikan angkringan miliknya makin gayeng dengan suasana malam yang bicara bau-bau politik.

Bak mimbar bebas, mereka fasih bicara politik ngalor ngidul ala wong kampung. Mereka seakan memahami betul persoalan bangsanya. Mereka bicara Covid-19 dengan dampak yang makin meluas makin massif sampai ke utang Negara, dampak luasnya lagi adalah keterjedaan generasi karena anak-anak terkebiri dengan regulasi. Jeda dengan sekolahnya, jeda masa dan durasi meneladani guru-gurunya, jeda untuk meraih masa-masa emasnya.   

Seorang pemuda pelanggan setia angkringan pun seakan mengawali perbincangan memecah keheningan malam itu dengan bertanya ke pemilik angkringan, Kang Mirto.

 “Bagaimana kabare kang, Entuk bantuan UMKM po ra?’,

Kang Mirto pun tidak sungkan lugas menjawab pelanggannya, “Alhamdulillah entuk bro, nggo imbuh-imbuh rehab gledhek angkringan iki”. Tapi aku yo terus mikir, jan-jane negoro iki piye, kan duwe utang akeh, kok koyo dhal dhel gampang ngesok dhuwut maring rakyate nganti ngene iki

Kang Dul seorang paruh baya pun ikut nimbrung, “Sok tahu kowe Kang Mirto”

Penjaja yang lain pun sepertinya ngikut pendapatnya Kang Mirto, “Apa ndak malah semakin carut marut ya Negara iki, cepat atau lambat kampong ini akan bangkrut dirundung masalah besar sepertinya.. anehnya, sebagian besar masyarakat diam”.

Sambil melayani pelanggan, Kang Mirto pun masih terus menyampaikan pandangan pribadinya, dengan bahasa yang nyantai dan bahasa yang campur aduk.   

“Lha bagaimana ndak diam, lha wong mereka sudah mendapatkan suntikan berbagai macam bantuan kok, iya kan… ingat ndak? Ada bantuan Be-eL-Te, Be-eS-U bagi para guru, bantuan usaha kecil UMKM, yang pejabat pun ikut ambil bagian berani nyunat bantuan, mung nyunat sithik kan ya ra popo, mung sepuluh ewu.  Jadi mulai wong ngisoran nganti dhuwuran wis entuk suntikan dhuwit kabeh, tur padha wareg kabeh iya khan?” sahut Kang Marno dengan logat gadho-gadho.

Lha ngono kuwi dhuwite ko ngendi ya”, Uangnya dari mana kang? Seorang pemuda menimpali.

“Ya utang lah,…” sahut salah seorang pemuda yang ikut nimbrung pembicaraan mereka.

Wis mbuh, kono kepenakke, aku tak ndhisiki ya”, Salah seorang pelanggan undur diri.   

Sambil melayani pembeli Kang Mirto sesekali terlihat repot melayani. Tapi pandangannya terhadap negeri terus ia sampaikan pada pelanggan setianya.

“Negaraku, negaraku..”ketus kang Mirto dengan mengusap rambut ikalnya yang gondrong.

“Negara kita piye kang” respon reaktif pelanggannya .  

Kang Mirto pun meneruskan pembicaraannya,

“Apalagi hari ini masih sangat hangat dengan “kudeta” sang Jenderal di PeDe.  Terus ono maneh isu utawa rumor, wacana tiga periode untuk sang presiden”, beberapa pelanggan pun makin melongo dan mengernyitkan kening mereka.

Sepertinya makin hangat saja malam itu dengan tema yang sangat menarik.  Sangat ramai dan antusias para mustami’ dan para pelanggan yang memang sudah mafhum dengan kapasitas kang Mirto. Pembicaraan Kang Mirto seperti sangat faham dengan politik gaya kampungannya.  Padahal sejatinya Kang Mirto dan sebagian mereka tidak tahu politik kecuali hanya sedikit saja.

Ada salah seorang yang dianggap bijaksana seakan memberikan petuah kepada para penjaja angkringan dengan kalimat yang bernada bijaksana, “kita ini wong cilik, wis to rak sah neko-neko, mengko nek ciloko ngadhepi penguwoso”.  Itulah kalimat akhir yang mengakhiri pembicaraan politik ala angkringan Kang Mirto malam itu.

Barangkali itulah angkringan politik Kang Mirto dan tentunya masih banyak lagi model-model angkringan serupa yang terus menerus menghangatkan tiap-tiap malam dengan ramai membicarakan bangsanya negerinya yang lagi ewuh. Lagi repot menghadapi ujian yang bertubi-tubi.

Bila dihubungkan dengan berita yang jauh dari hoax, memang terasa seperti benang ruwet kompleksnya masalah yang dihadapi bangsa ini. Dirundung berbagai masalah, seolah persoalan bangsa dampaknya merembet sampai ke masyarakat arus bawah. Masyarakat bawah, rakyat sangat merasakan dampak dari kompleksnya persoalan ini. Mobilitas dalam mengupayakan untuk normal kembali sepertinya masih jauh dari harapan. Kegiatan ekonomi seakan berjalan seret, kecuali pada titik-titik atau pusat ekonomi yang terdapat PMA (Penanaman Modal Asing)”.

Kita perlu menanyakan kinerja Para pemangku amanah di negeri ini? Mengapa ditengah-tengah persoalan yang sedang dihadapi masyarakat, di sisi lain mereka seakan memutuskan melangkah yang tidak populis?. Langkah menerbitkan SKB 3 Menteri terkait pelarangan busana muslimah dan upaya meraih keuntungan yang lebih besar dengan melegalisasi Miras, adalah dianggap sebagai langkah yang tidak kepentingan masyarakat yang lebih luas. 

“Apakah eksekutif tidak mempertimbangkan dampak yang jauh lebih besar ke depannya, ya? Apa karena mereka masuk ke dalam lingkaran setan?, Atau mereka telah terperosok masuk kedalam kubangan lumpur, tercebur dan terjebak sampai tangan mereka seakan penuh dengan lumpur kotor.

Mereka dianggap telah menggunakan tangannya yang penuh dengan kotoranuntuk memberikan sesuatu kepada warganya. Berbagai bantuan yang diberikan kepada masyarakat jelas menjadi bagian dari kewajiban, namun bila ada yang mengkritisi dari mana sumbernya?

Wabah belum usai, bantuan ke masyarakat terdampak Covid, mengharuskan pemerintah untuk mencari jalan pintas menyambung berjalannya roda pemerintahan dengan berhutang. Sampai diterbitkannya Undang-undang Covid-19 memberikan jalan lapang dan longgar untuk memanfaatkan seluas-luasnya, selonggar-longgarnya tanpa berkonsekwensi dengan persoalan hukum.Sungguh ini sangat ironis.

“Wis mbuh.. Sak karepmu..”. Inilah ungkapan bernada pesimis sebagian masyarakat di kampung. Kalau orang sudah kelewat batas dengan tanpa rasa malu, lupa akan pesan Rasulullah, “Kalau sudah tidak punya rasa malu, berbuatlah sesukamu…(Alhadits).   Pandangan-pandangan yang terlontar dalam “mimbar bebas” di angkringan politik Kang Mirto, sebagian besar dari mereka adalah wong kampung dari kalangan terpelajar sampai petani sudah sangat penat merasakan dampak dari luasnya problem bangsa ini.  Hal ini menandakan kalau mereka —walaupun orang kampung— mampu mengamati dan menganalisa perjalanan pemangku di pemerintahan ini sesuai dengan kacamata “kuda” mereka.

 90 total views,  2 views today

Akhmad Faozan

Add comment

Highlight option

Turn on the "highlight" option for any widget, to get an alternative styling like this. You can change the colors for highlighted widgets in the theme options. See more examples below.

Flag Counter